Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)


Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)

Bintaro, Jakarta, February 21, 2004


Water is the source of life.

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.

If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.

According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banten. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Mei 2010

Berkaca pada Kejadian Luar Biasa di Banten: Tulisan Terakhir Marissa Haque Tahun 2006 di Radar Banten


Berdegup kencang rasa hati ini, saat menyimak kasus gizi buruk di negeri zamrud katulistiwa ini. Dari data Pertemuan Nasional Penanggulangan Gizi Buruk, yang dilakukan Kementerian Koordinator Kesra. Lebak memiliki posisi istimewa 4 besar nasional, ditemukan 248 kasus gizi buruk pada tahun 2005. Pada 2006 angka ini tentu bertambah banyak. Membuat hati ini trenyuh saja, 60 tahun kita merdeka ternyata belum juga membebaskan diri dari penyakit zaman penjajahan dulu. Kabut suram ini tentu mengancam masa depan Banten yang berniat mengubah diri, menjadi provinsi maju sejahtera di masa depan, lantaran gcnerasi anaknya, kini terancam suram akibat kesalahan fokus pembangunan yang hanya mengejar fisik saja. Melupakan aspek kesehatan jasmani dan ruhani penduduk.
Di Lebak, juga ditemukan "Kejadian Luar Biasa" (KLB) merebaknya penyakit polio. Sementara di Kabupaten Tangerang, tahun berselang ada KLB muntaber, penderita mencapai angka 382, yang meninggal 13 orang. Sungguh ujian dari penguasa semesta jagad. Tenryata bila ditelusur pangkal musababnya, hanya karena penduduk yang tinggal di pantura ini tidak mampu, atau tidak memiliki budaya, jamban dalam rumah. Mereka yang memiliki jamban hanya 8,6 % saja dari total penduduk. Di sini telihat bahwa peran Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi amat lemah. Padahal tentu saga dana sosialiasi sanitasi rumah sehat ada, tetapi menguap entah ke mana. Perilaku korupsi tercium nyata di sini, dengan dampak yang luar biasa. Lalu, demi urusan per-jamban-an, pemerintah kabupaten menguyur dana sebesar Rp 5 milyar, khusus untuk urusan bilik hajat sehat. Terlambat memang, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali

Tentu saja, ke.jadian ini tidak melulu kesalahan Bupati dan jajarannya, tetapi pemprov juga memiliki andil yang amat besar. Sebagai pemegang otoritas Dati I, mestinya di dalam cetak biru pembangunan mengutamakan skctor kesehatan masyarakat. Demi lahirnya generasi andalan Banten. Intensifikasi Program Kota dan Kabupaten Sehat, harus segera dilakukan demi penyelamatan Banten ke depan..

Pangkal sebab musabab, ternyata berakar dari taraf hidup yang rendah, akibat kemiskinan, tingkat pendlidlikan yang rendah (rata-rata tamatan SD), rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, dan kurangnya penyuluhan kesehatan khususnya pentingnya nilai kecukupan gizi bagi anak. Banyak sebab; tidak cuci tangan sebelurn makan, buang sampan dan ludah sembarangan, kebiasaan buang air besar di sungai yang juga tempat mandi dan cuci juga sumber air minum, kebiasaan minum air yang belum dimasak. .Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Tentu saja akibat minim atau tak adanya penyuluhan kesehatan bagi masyarakat.

Tak ada jalan lain, demi menghindari terjadinya KLB-KLB lain di belahan bumi Banten ini, pada tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya, penting kiranya, Pemprov/Dati I secara terpadu dan terencana, bersinerji dengan elemen birokrasi di Dati II untuk membuat sistem early warning system, sistem kewaspadaan isyarat dini, yang dapat melacak adanya gizi buruk atau polio dan penyakit lainnya melalui penimbangan massal anak. Program-program yang di masa lalu eksis, dan terbukti memiliki korceasi dengan masa kini, seperti Posyandu, Polindes, PPKBD, BKB, UPPKS dan SKPG. Juga PMT (Peniberian Makanan Tambahan) dan suplemen di TK dan SD, mendesak dilakukan. Harus ada upaya nyata yang dapat dirasakan jutaan anak Banten hari ini. Sekali lagi bukan dengan spanduk dlan baliho yang hanya membuang uang rakyat saja, dengan kemaslahatan umum yang tidak jelas pertanggungajawaban.

Agar tidak logo, kader Posyandu, harus memiliki honor yang memadai, sehingga kaum ibu yang secara pribadi memiliki kepentingan menyelamatkan anak dan lingkungannya, mereka dapat diandalkan menjadi ,garda terkahir, benteng penjaga Banten dari KLB-KLB yang menyeramkan, sekaligus mempermalukan di pergaulan nasional. Lebih-lebih internasional. Wajah bening, pecahan mutiara Indonesia harus bersinar dari bumi yang berakhlakul karimah ini.

Mulai sekarang pesan-pesan pejabat jabat yang memiliki kewenangan dan kompetensi di ranah kesehatan harus benar-benar fokus untuk mengusir KLB dari Banten. Pesan ringan soal gizi seimbang "4 sehat 5 sempurna", bahwa ketika makan, sebaiknya menu, terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur mayur dan buah-buahan, plus susu. Harus disiramkan di benak 9 juta warga. Demi generasi Banten yang bernas, berbobot, dan tentu saja sehat. Semua bisa bcrjalan melalui revitalisasi Posyandu, program, kader, dan sistematika gerakannya hendaknya dilakukan secara terpadu, terarah, tepat sasaran dan efisien. Tidak melulu seremonial pejabat, tetapi benar-benar gerkan akar rumput yang global dan serentak.persoalan KLB-KLB ini sungguh amat mendesak dituntaskan.

Intensifikasi Program Kola dan Kabuapten Sehat dapat dilakukan, melalui sinergi dan pcningkatan ekonomi keluarga dalam rangka ketahanan pangan di tingkat keluarga dengan peningkatan kewirausahaan. Lalu menggalakkan kembali kegiatan kesatuan gerak PKK KB Kesehatan, manunggal TNI KB Kessehatan, Bulan Bhakti Bhayangkara, program Jum'at Bersih dan sebagainya. Perlu juga dilakukan penelitian dan pengembangan terhadap pola serang dan mewabahnya penyakit.

Selain itu sesuai tuntutan otonomi daerah, Pemda, Propinsi maupun Kabupaten/Kota menyediakan anggaran untuk menunjang kegiatan Posyandu dan PMT (melalui APBD), perlu komitmen politis instansi terkait kesehatan di semua tingkatan, harus ada insentif dan bantuan modal untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Pemprov juga harus rajin menilai dan memberi apresiasi kepala daerah yang berhasil membina Posyandu di wilayahnya. Dipersiapkan kader penggerak kesehatan terlatih yang didukung dana operasional cukup. Mengembangkan system deteksi dini KLB Kesehatan. Memasukkan Posyandu ke dalam system kesehatan desa. Adanya jaminan ketersediaan pangan tingkat keluarga. Pendidikan dasar tentang gizi seimbang di masyarakat baik melalui jalur formal dan informal . Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Perlu dana untuk penelitian penyakit. Pekan Kesehatan Provinsi. Juga peningkatan program samijaga/MCK melalui Departemen PU. Serta Pengembangan pola anak asuh bagi anak keluarga tak mampu

Sesungguhnya di provinsi terkaya nomer 6 se-Indonesia ini, bila tak ada Korupsi! Baik itu korupsi data (gizi buruk, polio, demam berdarah, d1l), korupsi kewenangan para pemutus kebijakan, korupsi waktu bagi para penggerak di lapangan. Generasi Banten yang sehat, unggul, bijak lestari, Insya Allah ngejawantah. Korupsi telah menjadi virus mental yang menggerogoti anak negeri, di belahan bumi yang elok dan cantik. Mari kita sikat korupsi, secara bersama, elegan, melalui mekanisme hukum agar tak ada KLB-KLB yang mengiris hati ini lagi. Penderitaan wong cilik sudah cukup sampai di sini. Bila tak ada rasa takut di hati lagi, entah azab Allah apa lagi yang akan turun di bumi yang kita cintai ini.

Merdeka!

Banten dalam Global Climate Change: Marissa Haque Fawzi dalam Radar Banten 2006

25 NOVEMBER 2005
RADAR BANTEN

Setiap awan mulai pekat menjadi mendung kehitaman, saat guruh mulai sahut menyahut dan silau kilap petir saling menyambung, saat itu juga ketengadah kepala kea rah langit seraya mengucap mohon ampun serta doa tolak bala untuk seluruh eilayah penjuru Banten dan Indonesia, akan kemungkinan terjadinya bencana alam lagi di wilayah ini. Melalui sebuah kontemplasi yang dalam ketika membaca QS Ali Imran ayat 190-191, di dalamnya diberi penjelasan tentang penegasn terhadap fenomena alam sebagai aspek yang harus dimaknai manusia secara bijak. Surat dalam Al Quran ini m’menyentil’ pikiran kritis dan hati saya. Rasanya seakan menjadi sia-sia menjadi mahasiswa kelas Doktor (S3) pada Program Studi Lingkungan (PSL) di Institut Pertanian Bogor (IPB) bilamana saya tak mampu untuk turut nyaring menggaungkan peran besar seluruh warga Banten dan Indonesia untuk mau dan mampu terlibat di dalam pembangunan sekaligus mengawasi kondisi lingkungan hidup di wilayah kita tercinta dengan berbasis pada konsep sustainable development (Pembangunan Berkelanjutan/Berwawasan Lingkungan Hidup) dan Early Warning System yang wajib diketahui oleh seluruh warga Negara Indonesia, khususnya Banten

Lebak bagian selatan hari ini masih terus menangis. Saat pertama terjadinya bencana angin puting beliung yang saya baca melalui internet di Kampung Cigalempong, Desa Nameng Kecamatan Rangkasbitung. Dan mengetahui tiga pesantren di daerah itu – Ponpes Al Alifiah, Ponses Al Bayan, dan Ponpes Al Irfan – hancur diterjang angina putting beliung dan hujan deras. Langsung terbayang di benak wajah Bupati Lebak Pak Mulyadi Jayabaya, istri beliau dan Vi Jayabaya – sang gadius yang baru saja lulus sebagai Master dari Fakultas Pasca Sarjana bidang akuntansi dari Universitas Trisakti Jakarta. Walau kejadian ini tiba-tiba sempat menghambat arus lalu lintas ruas jalan raya Rangkasbitung-Cikande dan alur Kereta api Rangkasbitung, Jakrta, saya masih bersyukur bahwa tidak ada korban jatuh dalam cobaan ini Juga ketika warga setempat sempat dibuat panic dan prihatin akan bencana tersebut. Ada catatan kecil di benak ketika menelepon Pak Bupati Jayabaya dan mendengar aura suara yang walau berintonsasi sangat berat-prihatin namun beraura tegar-cerdas-tangkas. Ada setitik rasa lega dan kagum atas inisiatif spontan yang beliau lakukan. Langkah strategis awal telah dilakukan dengan baik. Bantuan logistic dan Pemprov langsung diturunkan. Publikasi dibuat sangat informative serta baik terkemas. Sebagai upaya antara, kita semua boleh menarik nafas lega. Tapi ibarat memangkas pohon pisang tanpa membuang akarnya, permasalahan sesungguhnya belumlah akan selesai. Wajib banyak yang harus kita pelajari secara holistic (menyeluruh), yaitu Global Cimmlate Chane (Perubahan Iklim Global) yang di Indonesia belum bergaung keras, apalagi di Banten. Padahal dunia di luar Indonesia, sudah diberikan pembelajaran gratis bagi seluruh warga negaranya terhadap Early Warning System (sistem peringatan dini) atas kemungkinan terjadinya perihal bencana serupa di seluruh sudut wilayah pantai di seluruh dunia dan pembangunan yang berbasis sustainable development. Dan wilayah Banten yang memiliki panjang total pantai hampir mencapai 573 kilometer wilayah panjang pantai yang sangat signifikan berpotensi terhadap bencana angin putting beliung – harus memiliki antisipasi dan kesiap-siagaan dalam menghadapi beribu bencana yang sangat mungkin mampir dalam kehidupan kita. Cobalah perhatikan curah hujan tinggi yang setiap hari belakangan mulai terus terjadi.

Pelajari musim yang mulai bergeser dari jadwal tahunan normal seperti yang biasa kita kenal. Maka bila kita semua tidak segera bertindak dengan cepat dan cerdas mengantisipasi kemungkinan ini semua saya khawatir hanya pennyesalan yang akan kita dapatkan - oleh karena tak serius melakukan persiapan.

Angin puling beliung dan debit curah hujan yang tak normal tidaklah terjadi dengan sendirinya. la adalah buah dari perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia yang menghasilkan lubang besar di lapisan ozon, di samping juga karena efek gas rumah kaca, meningkatnya emisi gas-gas beracun (antara lain yang paling banyak CO2/70%), pembabatan hutan secara massif di Amerika Latin dan Indonesia (penebangan liar /illegal logging yang mengabaikan sustainable development). Emisi yang diproduksi kawasan industri dunia ini juga berkurangnya pusat paru¬-paru dunia di kantong hutan-hutan tropis dunia, mencairnya es dikutub utara yang lelehannya membuat level air laut dunia meninggi, ketika industri maju dan manusia berkembang sesuai dengan zamannya, maka manusia dan dunia bermetamorphosa seperti kupu-kupu – berjalan berkembang dari awal zaman batu dengan hidup di goa-goa menuju zaman besi yang hanya mampu berburu hewan liar, melewati zaman pertanian dengan memasak memakai api dan membuat tembikar, terhenti sejenak di zaman industri, dan belakangan sampailah pada zaman teknologi informasi.

Hubungan manusia dcngan lingkungannya berbanding tegak lurus di dalam Kuva Kuznets -antara kerusakan dan pendapatan dalam nilai ekonomi. Simbiosis dengan alam, periode "mastery" terhadap alam, menuju material growth (output dan growth/efisiensi ekonomi). Dampak material growth ini adalah terhadap negara industri maju dan negara berkembang. Terjadi eksploitasi besar-besaran di tahun 1980-an yang biasa disebut sebagai the Lost Decade. Krisis hutan di Amerika Latin, peningkatan arus pengungsi, peningkatan jumlah penduduk, penipisan lapisan ozon, serta bencana Bhopal, Chernobil, dan Minamata di Jepang. Maka pada tahun 1983 WCED (Komisi Brundtland) memberikan respon terhadap degradasi lingkungan dan ekonomi ini, sehingga pada tahun 1987 terciptalah sebuah konsensus yang mengusung jargon Our Common Future dan Sustainable Development yang bermaknakan development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs. Pembangunan berkelanjutan mewajibkan: 1. Peningkatan kualitas hidup secara kontinyu, 2. Penggunaan sumberdaya alam pada intensitas rendah, 3. Meninggalkan sumberdaya alam yang baik bagi generasi yang akan datang.

Beberapa teknik pendekatan (approaches) Sustuinable Develeopment ada tiga. Pertama, pengenalan Pendekatan Lingkungan Hidup kepada masyarakat dimulai dengan pertama: a). Mengajarkan mereka untuk menjaga kelenturan sistem biology dan fisik terhadap perubahan yang mungkin terjadi, b). Mengajak masyarakat menjaga kelenturan dan kapasitas dinamis sistem Ekologi untuk beradaptasi terhadap perubahan bukan konservasi yang statis. Kedua, pendekatan ekonomi yang dapat dilakukan dengan cara mengajarkan: a). Konsep aliran pendapatan dengan modal terjaga, b). Kriteria optimal dan efisiensi ekonomi, c). Masalah valuasi ekonomi terhadap sumberdaya ekologi. Terakhir, Pendekatan Sosial yang dapat diajarkan melalui cara: a). People oriented (partisipasi dan keragaman), b). Menjaga kelenturan sistim dan budaya, c). Keadilan (equty), d). Pencegahan konflik, e). Mengakomodasi keragaman dan partisipasi dalam pembuatan keputusan.

Jangan terlambat melakukan antisipasi. Kita semua tanpa terkecuali jangan pernah mau terjebak dalam aliran konflik horizontal semisal melakukan intrik politik hanya untuk politik belaka, berfikir sekedar jegal-menjegal dalam kaitan merebut kekuasaan dengan cara tidak halal, sehingga melupakan hal yang paling esensil dalam memberikan pembekalan kepada rakyat Banten dalam mempertahankan hidupnya dari ancaman bencana alam dan lingkungan hidup. Banyak hal yang harus dipikirkan secara kontemplatif, yang tak cukup hanya sekedar bagi-bagi beras dan obat-obatan setelah bencana datang dan menganggap setelah itu, masalah menjadi beres dengan sendirinya. Berpikir serta bertindak secara parsial seperti masa lalu itu, per hari ini suclah menjadi obsolete (usang). Sudah wajib ditinggalkan. Harus pro-aktif melakukan terobosan modern. Tak cukup rasanya bila kita semua bersemunyi di balik kata: "Biasanya dulu..." Lakukan terobosan yang cerdas, dekati teknologi mutakhir yang tak selamanya berharga mahal. Mencegah terjadinya bencana alam adalah lebih baik dan juga lebih murah. Buka buku, buka internet, baca ... dan baca ... ber-iqro-lah kita semua. Jangan malu bertanya kepada ahlinya. Bergurulah dengan para scholars (ilmuwan/akademisi). Bangun masyarakat yang berbasis pada Knowlede Base Society. Rakyat akan menjadi scmakin cerdas, kritis, yang pada akhimya mampu menunjang kinerja positif Pemda setempat, karea pada dasarnya setiap manusia dikaruniai Allah kemamuan bertahan diri dan sekaligus beradaptasi. Banyak hal di sekeliling Banten yang sesungguhnya telah berahad usia menjadi guru kearifan tradisional yang sekarang mulal terpinggirkan/terlupakan. Tengokkan wajah kita pada kearifan tradisonal masyarakat Baduy-Dalam. Pelajari filosofi kearifan lokal mereka yang sangat indah itu. bukalah Al. Quran Surat Ar Ra’d (Guruh) ayat I I yang bercerita tentang kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa yang tergantung pada sikap dan tindakan mereka sendiri. Dikatan di dalamnya: "... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri..."

Karena itu bangkitlah para saudara dan saudari Bantenku. Jadilah peserta aktif dalam penyelamatan lingkungan hidup dlan masyarakat di Banten ini. Pelajari sekaligus kearifan lokal masyarakat asli Baduy-Dalam. Ambil inisiatif pembelajaran klasik mereka di dalamnya. Bukalah kitab suci anda semua, temui kebenaran di dalamnya. Maka ketika ‘anak-anak pohon pisang' bencana tadi datang, is segera tumbuh lagi dengan cepat, tak semakn banyak dan subur, tak memakan korban yang banyak, karena kita semua telah siap menghadapinya berdasarkan ilmu Allah yang telah kita serap sehagian untuk menghalaunya. Jadilah bangsa yang mau bela.jar dari kesalahan masa lampau. Bacalah kisah-kisah para sahabat para rasul dan bersegeralah terapkan di tanah Banton kita tercinta ini. Mari kita buktikan bersama apa yang tertulis di dalam QS Ar¬ Ra'ad ayat 11. Jadilah para Kekasih Allah sejati.

Allahu Akbar, Merdeka!

Satu Hari Sebelum Lebaran (dalam Marissa Haque Fawzi)


29 Oktober 2005

Serang, Banten


Ketika beduk bertalu-talu, nada irama suara takbir terdengar sambung menyambung, ada getar tak tertahan menyelimuti aura hati. Timbul pertanyaan dalam hati, “...sudahkah kita lulus dalam ujian menjadi kekasih-Nya?" Per hari ini, masih ada satu hari tersisa sebelum fajar menyingsing, di mana kita kehilangan kesempatan mendapatkan malam seribu bulan. Yah, satu hari sebelum kita semua bersegera menuju tempat sholat Ied berjamaah, di mana pun tempat pilihan kita.

Dikatakan di dalam salah situ hadits bahwa malam lailatul qodar dimungkinkan turun di malam ke dua puluh sembilan berpuasa (di hari-hari ganjil yang dijanjikan). Pada saat itu justru biasanya saat ummat sedang sibuk terjebak dengan seribu satu macam urusan duniawinya - dari persiapan sajian di meja makan sampai dengan busana apa yang esok akan dikenakan.

Lebaran kali ini kita semua fahami bukan sebagai Lebaran tempat luapan ekspresi dengan segala kemewahan duniawi semata. Tekanan harga minyak dunia membuat banyak dari kita yang dulunya telah mulai mengencangkan ikat pinggang harus semakin lagi mengencangkan ikat pinggangnya. Kita semua memang harus tetap sabar dan tak terpancing oleh krisis ekonomi yang sedang melanda. Ada pepatah yang selalu tengiang di telinga saya warisan dari para leluhur: "Jangan pernah sudi menari di atas genderang perang orang lain." Kita tidak sendirian dalam penderitaan kali ini. Tetangga kita di Asean bahkan sebagian besar wilayah negara dunia mengalami krisis yang mirip dengan apa yang kita rasakan sekarang.

Sebenarnya bulan Ramadhan yang suci ini adalah saat yang paling tepat untuk memohon bantuan 'Tangan Allah' melalui arah yang tak terduga, persis seperti cerita Siti Hajar setelah sangat lelah berlari-lari kecil sebanyak enam kali dari bukit Safa ke bukit Marwah, sambil berharap ada kafilah yang lewat yang dapat dimintainya pertolongan. Ketika ia sudah mulai berputus asa di putaran ke tujuh dan benar-benar setelah berusaha mati-matian sembari berharap bantuan dari manusia lain, dan ketika tiada lagi kemampuan yang tersisa, saat itulah keajaiban 'Tangan Allah' turun dari arah yang tak terduga. Dari injakan kaki mungil anak Siti Hajar yang kemudian menjadi kakek buyut dari Rasulullah Muhammad SAW, keluar mata air sumber kehidupan yang tak pernah kering hingga kini — air Zam-zam. Allah senang memberikan kejutan manis bagi ummatnya yang berserah diri total (kaffah) pada.jalanNya. Krisis ekonomi yang melanda ini wajib kita hadapi bersarna. Kuncinya adalah sabar plus kerja cerdas serta berserah diri total pada Allah, wajib kita semua lakukan.

Khusus di Banten, sudah terlihat aura masa depan yang menjanjikan melalui tangan para perempuan masyarakat yang sedikit termarjinalkan. Yaitu di wilayah Mauk, Kabupaten Tangerang, wilayah berdampingan dengan pelabuhan udara Soekarno-Hatta. Kemegahan pelabuhan udara di sana tampak bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat setempat tersebut. Tapi di luar itu saya melihat masa. depan Banten yang lebih cerah melalui mata para perempuan marginal dis ana.

Mendampingi Bapak Khairil PhD, Wakil Dekan IPB (Institut Pertanian Bogor) - beliau adalah Ketua Penguji Bapak RI-1 saat ujian doktoralnya kemarin dulu, saya menyaksikan sendiri hampir seluruh aktivitas masyarakat di sana berkaitan dengan dilaksanakannya program UMKM (Usaha Kecil Mikro dan Menengah)/Micro Credits. Yang merupakan adopsi dari sistem yang dikembangkan o1eh Prof. Mohammad Yunus PhD asal Bangladesh yang saat setelah lulus program Doktoralnya merasakan bahwa sistem ekonomi ala neo-liberal yang dipelajarinya di AS tak terasa cocok untuk dikembangkan di negeri kelahirannya.

Awal berdirinya Grameen Bank ini sendiri sebenarnya lebih ditujukan sebagai Ladies Bank (Banknya Kaum Perempuan), yang ternyata sangat efektif bahkan berkembang besar dan menjadi sistem perbankan normal seperti bank-bank pada umumnya. Di Mauk, Pak Camat, Pak Lurah, Civitas Academica IPB dan seluruh partisipasi masyarakat ini terlihat sangat sabar serta sigap di dalam pendampingan program yang ternyata telah berjalan selama tiga tahun. Bapak Ismet sang Bupati Kabupaten Tangerang, termasuk yang boleh berbesar hati bahwa dana penjamin yang tadinya sebesar `hanya' dua milyar dalam rupiah, per hari ini telah berkembang pesat menjadi hampir lima milyar dalarn rupiah, berkat kegigihan seluruh stake holder di sana. Transparansi yang terjaga, publikasi dari mulu ke mulut ternyata sama efektifnya dengan siaran TV commercial di televisi bagi masyarakat marginal ini.

Para perempuan memang biasanya secara kodrati sangat takut terkucil secara sosial. Sehingga pembayaran kembali pokok modal yang diberikan bermula dari sebesar dua ratus ribu rupiah kemudian setelah setahun dan setelah dievaluasi konditenya baik, boleh mengajukan tambahan modal dengan jumlah yang lebih banyak. Kredit ini tanpa agunan, dengan penjami dana taktis bupati setempat . Saya langsung membayangkan bila Bupati Tangerang, tempat di mana saya bertempat tinggaldi Banten ini mampu dan berhasil sampai hari ini tanpa carat, kenapa tidak juga diterapkan di lima wilayah Banten lainnya? Saya telah mulai mengetuk hati beberapa Bupati yang saya temui saat kunjungan kerja Komisi VIII DPR-Rl yang lalu, salah satunya adalah Bapak Jayabaya, Bupati Lebak. Beliau terlihat antusiastik, dan berencana untuk memulainya di awal tahun depan. Saat kita sadari bahwa kita bangsa Indonesia tidak sendirian di dalam menghadapi krisis ekonomi di dunia ini, maka tiada kata lain selain, mengetuk hati kita semua warga Banten tercinta untuk membulatkan tekad secara bersama-sama, seluruh komponen bangsa melampaui perbedaan agama, ras, dan gender, untuk bersama-sama bersegera membangun ekonomi bangsa, melalui usaha micro credits ini untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Kalau bangsa di Bangladesh yang kondisinya lebih parah dari Indonesia mampu menanggulangi permasalahannya melalui sistem ini, kenapa bangsa Indonesia yang kondisinya secara umum masih jauh di atas mereka tidak bisa? Mumpung masih ada satu hari yang tersisa di bulan suci Rarnadhan ini, mari kita tengadahkan tangan menuju langit mohon petunjuk di dalam menjemput rizki yang memang sebnarnya telah disediakan oleh Allah SWT untuk kita. Kita mulai hari-hari kerja kita dengan hati bersih saat usai libur lebaran dan masuk ke suasana penat hari-hari kerja kita selama ini. Mari kita mulai untuk membiasakan diri bekerja cerdas, dan fokus. Harus yakin bahwa kita mampu – dengan seizin Allah SWT tentunya. Allahu Akbar, Merdeka!

Senandung Sendu Satu Sore (Marissa Haque Fawzi)

Serang, Banten, 5 Novemver 2005

Masjid Agung Lebak dan Istiqomh binti Haji Didi asal Rangaks – teman kuliahku semasa di Ohio University, Athens, Amerika Serikt – mewarnai salah satu dari tiga puluh hri bulan Ramadhanku yang baru saja berlalu. Buku dan Perpustakaan Keliling adalh tema besar acara yang kmi usung bersam abagi warga kaum duafa Kabupaten Lebak.

Di tengah maraknya bantuan PKPS-BBM dari pemerintah serta ramainya bantuan sembako dari warga yang masih lapang rizkinya untuk warga yang belum beruntung, kami tak melihat ada sedikit pun kepeduliaan pada aspek ‘gizi’ yaitu faktor kognisi bangsa. Tak perlu saling menyalahkan memaang, karena sesuai dengan hirarki kebutuhan dasar manusia berdasarkan Abraham Maslow, kebutuhan akan pangan/sandang/papan, panganlah yang paling utama harus dipenuhi. Baru kemudian kebutuhan lain mengikuti seperti rasa aman, aktualisasi diri (yang menyangkut unsur kognisi di dalamnya dan lain sebagainya.

Banten dan dunia perbukuan memang terlihat belum ada sinergi yang harmoni. Pernah satu hari hati ini terasa sangat miris, saat membaca sebuah tulisan pendek dari seorang manajer Kedai Buku Jawara Rumah Dunia dari Kampung Cilang, Serang Banten bernama Aji Setiakarya yang mengungkapkan alsana kuat dibukanya rumah baca Bernama Rumah Dunia di serang Banten. Keprihatinan sang pemilik beserta jajaran pengelolanya membentuk sebuah energi besar yang memicu mereka untuk menularkan kebiasaan baca yang boleh dibilang masih sangat minim semangat, ‘Suka Baca, Melek Ilmu, dan Dunia dalam Genggaman,’ mirip dengan moto yang diusung oleh Rumah Dunia milik salah seorang penulis favorit keluarga kami bernama Gola Gong itu. Ya, Amerika Serikat memang bukanlah surga. Akan tetapi di negeri maju yang berjarak separuh perjalanan bumi dari Indonesia itu banyak memberi pelajaran hidup serta kearifan bagi siswa dan sisiw manca Negara yang belajar di sana. Bahkan secara mengejutkan banyak sikap hidup islami yang ternyata dapat juga dipetik. Beberapa di antaranya seperti membaca, etos belajar, etos kehidupan social, etos kerja professional, serta etos menjai pemenang dalam persaingan ‘sehat’ layak untuk kita tiru. Yang tak kalah menarik adalah kemampuan mereka dalam cara pengelolaan sampah rumah tangga dan juga kepedulian pada masalah social welfare yang luar biasa. Keberpihakan bagi warga yang kurang beruntung/masyarakat penyandang cacat, orangtua, perempuan hamil, anak kecil, dan lainnya pun rasanya harus kita bedah dan pelajari secara serius.

Buku untuk sebagian besar wilayah di Banten, belumlah di rasa sebagai sarana kebutuhan primer semisal untuk transfer informasi dan ilmu pengetahuan. Perpustakaan sebagai sarana awal berkembangnya dunia pustaka, di Banten masih terhitung oleh jari. Hanya perpustakaan milik Pemda yang berlokasi di Jalan Saleh Baimin, Serang yang koleksnya agak lumayan lengkap. Namun agak disayangkan tidak sedikit koleksinya yang ternyata telah out of date, alias sudah agak kadaluwarsa, tanggal, bulan serta tahun terbitnya. Sementara demi ekbernasan sebuah jurnal, artikel ilmiah, lima tahun berselang dari tanggal penerbitan sudah dapat dikatakan ketinggalan zaman atau usang (obsolete). Faktor kenyamanan ruangan di di Perpustakaan Pemda itu pun terasa harus perlu ditingkatkan lagi. Sampai hari ini diskusi-diskusi ilmiah serta kebiasaan intelektual terlihat masih hanya beredar di sekitar suasana kampus dan taklim di masjid belaka. Sementara secara luas budaya mengkaji belum terasa menjadi bagian dari kegaitan masyarakat. Bahkan penerbit besar seperti PT. Gramedia, selama lebih dari lima puluh tahun Indonesia merdeka, dan hamper lima tahun Banten menjadi provinsi, belum terlihat membuka cabangnya di Banten.

Allah SWT pernah berfirman tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, keculai bangsa itu berusaha mengubah sendiri nasibnya. Maka membaca buku menjadi salah satu kewajiban atau harga mati yang tak dapat ditawar lagi bagi siapapun di dunia yang meninginkan perubahan. Untuk Banten, di bulan yang suci kemarin ini, kami mencoba menjawab tantangan zaman tersebut. Medium Perpustakaan Keliling dengan menggunakan satu unit mobil keliling menjadi alternative yang kami tawarkan kepada warga di Lebak. Kami mengajak bekerjasama salah satu penerbit buku-buku islami kelas menengah dari Bandung – PT. Mizan. Dengan pertimbangan bahwa produksi buku-buku serta range harga yang mereka produksi cukup beragam. Inovasi tim penulisan cerita anaknya sangat aktif berkarya. Dan mereka cukup dapat diyakinkan bahwa ‘pasar’ di manapun lokasinya, dapat diciptakan sesuai dengan keinginan sang produsen, asalkan diriringi dengan strategi yang bernas, cerdas, simpatik, serta ikhlas. Maka selain penerbit besar semcam Gramedia yang sudah mulai merasakan suasana/atmosfer masyarakat Banten telah mulai tumbuh – terbukti dengan suksesnya acara bersama Rumah Dunia dan berhasil mengumpulkan empat puluhan juta rupiah lebih di acara tersebut – perlu pula ditambah-tumbuhkan keyakinan ini pada beberapa pengusaha penerbitan di level bawah mereka secara umum dan demi percepatan kemajuan minat baca masyarakat Banten secara khusus.

Minat baca seseorang dapat ditimbulkan, lalu kemudian diasah, di lingkungan tempat para pembaca buku aktif berada. Karena pada dasarnya, setiap anuisa itu scara alamiah akan mencari role-modelnya masing-masing. Maka untuk membuat lingkungan kita cit abaca buku harus kita mulai dari diri masing-masing dulu. Misalnya bila kita ingin anak—anak beserta seluruh isi rumah gemar membaca , maka letakkan pada setiap sudut rumah tumpukan majalah/buku-buku tips/resep makanan. Manajemen praktis/novel-novel/fiksi atau nonfiksi /cergam anak, dan lain-lain. Bahkan akan menjadi sangat indah bila saat lebaran lalu kita mengirimkan parcel dalam bentuk susunan buku dalam keranjang mini yang peruntukkannya disesuaikan dengan isi anggota rumah tangga tempat tujuan parcel tersebut. Bagi seoran theologist seperti Bapak Frans Magnis Suseno, buku adalah surga. Karena dengan membaca buku kita bukan saja sekedar memperluas cakrawala, akan tetapi juga melepas emosional dan membatu mengatasi kesulitan-kesulitan hidup. Bagi seorang Islamic scholar seperti Cak Nur, buku adalah jembatan antara dunia dan akhirat, krena dengan membaca mansuia dapat meningkatkan derajat dirinya menjadi manusia dijaya yang pada akhirnya mandiri secara ekonomi serta menjauhkan diri dari kekufuran. Ada beberapa hadits Rasulullah Muhammad SAW yang merujuk pada kalimat bahwa kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Lebih jauh menurut beliau, membaca adalah ‘melihat’ dunia, dan menumbuhkan semangat untuk melakukan sesuatu. Hampir semua perubahan berawal dari buku. Kita dapat bercermin kepada Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia sertaThailan. Mereka mampu berlari secara kemajuan intelektual, teknologi serta bisnis karena diawali sebagai bangsa pembaca buku. Dengan mencintai buku manusia dapat membaca pikiran-pikiran para ilmuwan besar yang telah teruji oleh khalayak publik dunia. Melalui buku sejarah peradaban dunia kita dapat menyerap ilmu kehidupan untuk kemudian diadopsi sebagaian lalu disesuaikan dengan kultur setempat. Malaysia tetangga Melayu kita pun mampu melakukannya dengan sebuah ‘lompatan ajaib’ yang mampu bermetamorphosis menjadi the center of excellence pesaing utama Singapura Negara tetangganya. Saat itu dimulai ketika Malaysia dengan kesadaran tinggi memberikan perhatian luar biasa terhadap penerjemahan buku-buku asing serta dukungan penuh bagi sistem pendidikan beberapa belas tahun silam. Per hari ini di dunia internasional, Malaysia telah mampu masuk dalam jajaran hitungan percaturan dunia, sementara Indonesia Negara tetangga terdekatnya masih berjalan di tempat.

Tapi khusus untuk Banten, tidak boleh ada kata menyerah! Kita harus mampu melakukan terobosan yang cerdas dan simpatik. Tak perlu menengadahkan tangan berperan sebaik mustahik, tak perlu menjadi ‘pengemis’ untuk sebuahkemajuan. Dengan segala daya yang masih tersisa, kita harus mampu bangkit melakukan upaya. Di tengah miskinnya respons dan perhatian pemerintah dalam perkembangan dunia buku dan ancaman dari pesaing teknologi audio-visual yang terlihat lebih disukai banyak orang, tidaklah suasana ini benar-benar mematikan minat baca masyarakat Indonesia. Karena sejak awal diciptakannya Gutenberg, buku tidak ada cerita mati. Peminat buku akan selamanya ada. Khususnya di Banten, secara nyata di acara Lebak kemarin terlihat bahwa pada masayarakat duafa pun tampak aura kebahagiaan ketika di satu tangan mereka mampu membeli sembakio dengan harga murah yang disediakan oleh pengurus masjid Agung, dan di tangan lainnya memegang sebuah buku cergam islami anak terbitan PT. Mizan. Sebagian dari mereka tampak benar-benar berusaha mengeja kata demi kata untuk dibacakan kembali satu per satu pada balitanya. Tak ada rasa haru yang melebihi saat itu ketika Istiqomah dan saya menyadari, bahwa di wilayah Banten hari ini, masih ada asa untuk membangun kultur baca masyarakatnya. Artinya, ada masa depan cerah bagi Banten untuk mengejar ketertinggannya dalam waktu dekat ini. Sekali lagi,…. Masih ada asa! Dan ini adalah lebih dari cukup sebagai pompa semangat bagi awal perjuangan kami dalam pengabdian untuk masyarakat Banten.

Allahu Akbar, Merdeka!

Titipan Do’a Fatah dan Omah: Marissa Haque Fawzi (IPB)

Serang, Banten 12 Desember, 2005


Selamat menjalankan ibadah Haji, sahabat. Semoga pulang menjadi haji dan hajah yang mabrur. Di masjid Al Ikhlas Serang ini saya memberikan sedikit tausiyah serta iringan doa iklas bagi suami-istri Fatah Sulaeman dan Omah Rakhmawati. Sang suami adalah Ketua Harian FSPP (Forum Silaturahmi Pondok Pesantren), Wakil Dekan Untirta, yang kebetulan teman sekelas di Program Doktor (S3) Pasca Sarjana PSL-IPB, sementara sang istri adalah seorang Guru SMP di wilayah Petir yang memiliki keahlian mendidik anak serta memasak dengan sangat baik. Pasangan ini memiliki dua anak putrid yang manis-mains. Mereka berdua akan berangkat haji minggu ini. Dan saya diminta turut hadir untuk sedikit memberikan tausiyah bagi kerabat dan tetangga yang dating.

Alunan suara pengajian yang langsung terdengar saat kendaraan memasuki jalan mungil kea rah rumah mereka, terasa mengundang ribuan malaikat turun ke lapangan masjid. Anak-anak yang sumringah berlarian, ibu-ibu pengajian yang berhias cantik, beberapa gubung makanan prasmanan, serta senyum ramah dari sang tuan rumah membasuh penat yang menempel di wajah. Walau tubuh terasa seakan patah-tujuh kelelahan setelah pulang dari sidak di pelabuhan Ciwandan-Cilegon, Banten bersama beberapa anggota dan wakil Ketua Komisi IV DPR-RI untuk mencari kebenaran tentang impor beras illegal dari Vietnam, tapi begitu sampai di depan masjid yang terletak pas di depan rumah pasangan ini, rasa lelah yang menempel seperti menguap hilang ke udara. Entah dating kekuatan dari mana hingga tak terasa waktu berlalu hingga acara selesai.

Mas Fatah dan Mbak Omah – begitu saya biasa memanggil – kami seluruh warga Banten enam wilayah kabupaten dan kota titi doa di depan Multazam, Masjidil Haram. Doa bagi kesembuhan Banten yang sedang sakit parah. Mohon diberikan resep yang ‘cespleng’ agar Banten “si anak balita’ ini dapat kembali tumbuh normal dengankondisi bebas dari lumpuh layu polio, busung lapar, serta dari korupsi lahir dan batin di berbagai lini. Rasanya belum afgol kami rakyat Banten berdoa di rumah kami masing-masing. Bilamana toh ada yang sudah terkabulkan oleh Allah melalui tangan hamba-Nya yang telah terketuk hatinya adalah ketika berita dua malam yang lalu saat menonton televisi Metro TV pada film yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryo Steep, terbaca di running text (tulisan yang berjalan dari kiri ke kanan): “Kapolda Banten Kombes Badrodin Haiti (yang baru saja diganti dua hari yang lalu dengan Kombes Timur Pradop) mengungkapkan ditemukannya indicator penyelewengan dana sebesar 15 miliar rupiah untuk pembangunan jalan lingkungan Pasar Rau Serang yang melibatkan Bapak Chasan Shochib (ayah dari Plt Gubernur sekara), Ketua Pendekar Banten. Ternganga saya membacanya. Rasanya seperti mimpi di siang bolong tak percaya. Apakah ini jawaban awal dari doa mayoritas warga Banten yang selama ini merasa terzolimi? Kita seluruh warga Negara Indonesia wajib mendukung upaya pemerintah tanpa terkecuali di dalam membongkar air kroupsi ini – incumbent maupun oposisi. Yusuf Rizal sang Presiden Lira membacakan langsung sepuluh tuntutan rakyat ini dan mendesak pemerintah agar sungguh-sungguh menjalankan pemberantasan korupsi. Delapan dari sepuluh Sepultura tersebut adalah: 1) membersihkan Istana Negara dari korupsi, 2) mencegah penyimpangan dan korupsi pengadaan barang yang menimbulkan kerugian Negara, 3) mencegah penyimpangan dalam tender proyek rekonstruksi Aceh selama empat tahuhn, 4) cegah penyimpangan tender infrastruktur lima tahun ke depan, 5) pemerinah akan melakukan langkah hukum atas bukti permulaan dan dugaan kuat aytas penyimpangan dan korupsi di berbagai lembaga pemerintah dan swasta, 6) kemudian mencari dan menemukan terpidana yang telah dijatuhi hukuman atau yang sedang menjalani proses hukum yang diduga kuat berada di luar negeri, 7) melakukan peningkatan intensitas pemberantasa penebangan liar atau illegal loging, 8) melakukan penelitian terhadap pembayar pajak dan cukai. Dalam kaitan itulah Rizal mengatakan gerakan ini mendesak KPK, BPK, Komisi Ombudsman Nasional, PPATKJ, Komisi Judisial dan Komisi Kejaksaan, agar segera merevitalisasi diri untuk menjawab tantangan dalam pemberantasan korupsi di berbagai jajaran pemerintah. Mendorong KPK segera pula membentuk KPK Daerah (KPKD), terkait dengan makin tingginya ekspektasi masyarakat terhadap peran KPK mengingat tindakan korupsi di daerah sangat tinggi namun penanganannya jauh dari maksimal.

Jaksa Agung Abdurrahman Saleh mengatakan bahwa kejaksaan pun mendesak Kapolri (Jenderal Polisi Sutanto), MA, BPKP, dan BPK agar melakukan pembersihan di jajarannya yang turut berperan dalam dugaan praktik korupsi. Ini seiring dengan semangat pemberantasan korupsi yang sedang digalakkan pemerintah SBY-JK. Ketika Sepultura (Sepuluh Tuntutan Rakyat) tersebut pada tanggal 9 Desember yang lalu dideklarasikannya di Gedung pola, Jalan Proklamasi Jakarta Pusat dalam memperingati Hari Anti-Korupsi se Dunia. Program ini membuat saya bertanya dalam hati apakah gaungnya akan sampai ke tanah Banten? Lira (Lumbung Informasi Rakyat) menggerakkan deklarasi ini sebagai paying program bagi “Gerakan Rakyat Ganyang Korupsi.” Seram memang terdengarnya, tapi tidak bagi banyak ‘Burung Ababli Allah ‘ yang ingin berjihad fisabilillah dalam menegakkan kebenaran.

Ketika kali kedua pabrik shabu-shabu ditemukan di tanah Banten tepatnya di kompleks Ruko Pinagsia blok A, No. 20, Lippo Karawaci, dan menyita 4,5 ton cairan pembuat sabu, maka tak ada kata lain bagi kita semua kecuali keharusan untuk bangkit dari tidur panjang selama ini meluruskan semua yang berantakan yang berada tepat di depan mata. Kepolisian Metro Tangerang patut diacungi jempol, walau sang bos pemilik sabu yang masih buron menyisakan pekerjaan rumah besar.

Banten yang islami menggantungkan sepenuhnya kepada masayrakatnya yang dekat spiritual ilahi Robbi. Jika di dunia masayrakat Islam terus menerus mencoba mengelaborasi apa itu yang disebut sebagai “good Muslims,” besar harapan kita suatu saat orang tidak perlu harus menjulurkan leher jauh-jauh mencari di Mekah, Madinah, Kairo, Karachi, Nairobi ataupun Timbuku, tapi orang akan melihatnya ada di Tangerang Kota, Tangerang Kabupaten, Serang, Cilegon, Lebak, dan Pandeglang. Orang muslim yang baik-baik ada di mana-mana di seluruh pelosok Banten – orang muslim yang taat beribadah, setia pada ajaran yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW, yang tidak mau mengkorupsi dana masyarakat dan pemerintahnya, serta yang hanya ingin menjadi Kekasih-Nya semata. Apakah doa panjang ini dapat kita semua titipkan kepada Fatah dan Omah sepasang suami isttri Kekasih Allah ini? Rasanya mereka berdua tidak akan keberatan. Dan semoga udara yang semakin dingin yang akan menyambut mereka berdua nanti di sana semakin akan mengkhusukkan doa mereka di bawah Multazam bagi kemajuan segera warga Banten, tanah tumpah darah mereka berdua, dan tanah titipan anak cucu kita semua yang tinggal di ‘Serambi Madinah’ ini. Semoga lancar perjalanan ibadahnya sahabat, dan pulang menjadi Haji dan Hajjah yang mabrur. Allahu Akbar, Merdeka!

Entri Populer