Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)


Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)

Bintaro, Jakarta, February 21, 2004


Water is the source of life.

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.

If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.

According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
Tampilkan postingan dengan label Radar Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Radar Banten. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 November 2011

"Waddduuuh... No Commet Deh!"

MK Menangkan Ratu Atut-Rano Karno

Ratu Atut dan Rano Karno tetap dikukuhkan sebagai Gubernur-Wagub Banten terpilih.

Selasa, 22 November 2011, 18:31 WIB
Arry Anggadha, Nur Eka Sukmawati
VIVAnews - Mahkamah Konstitusi akhirnya memenangkan pasangan Gubernur Banten terpilih Ratu Atut Chosiyah dan Rano Karno atas sengketa Pemilihan Kepala Daerah Banten.

"Menolak permohonan untuk seluruhnya," ujar Ketua Majelis Konstitusi, Mahfud MD di Gedung MK, Jakarta, Selasa 22 November 2011.

Dalam pertimbangannya, Mahkamah menyatakan bahwa tuduhan penggelembungan suara melalui software sudah dibantah KPU Banten. Karena KPU Banten dalam menghitung surat suara menggunakan cara manual.
"Adapun penggunaan software program excel hanya untuk memudahkan penghitungan, tidak sampai menambah suara pasangan Ratu Atut-Rano Karno," ujar anggota Majelis Konstitusi, Akil Mochtar.

Menurut Akil, tudingan itu tidak relevan, sebab Mahkamah sudah melakukan penghitungan ulang dan tidak menemukan perbedaan seperti yang dituduhkan pemohon. “Dalil pemohon tidak terbukti menurut hukum,” ujarnya.

Dengan putusan itu, MK mengukuhkan pasangan Ratu Atut-Rano Karno yang sebelumnya dimenangkan KPU Banten.

Sebelumnya, kemenangan Ratu Atut Chosiyah dan Rano Karno digugat tiga pihak ke Mahkamah Konstitusi. Para pemohon di antaranya adalah dua pasangan yang kalah pada Pemilukada Banten yaitu Wahidin Halim dan Irna Narulita, serta Jazuli Juwaini dan Makmun Muzakki. Satu pemohon lainnya adalah calon yang sempat maju namun tak lolos verifikasi, Dwi Jatmiko dan Tjejep Mulyadinata.

Beberapa pelanggaran dituduh dilakukan Atut dan Rano antara lain: penghilangan jumlah pemilih, duplikasi pemilih, manipulasi surat suara form C-1, penggunaan software untuk menambah suara, penggelembungan suara ketika pemungutan suara, pengerahan birokrasi pemerintah, kampanye hitam, mobilisasi "pemilih siluman", politik uang, dan intimidasi terhadap pendukung calon tertentu.

• VIVAnews

"Waddduuuh... No Commet Deh!"

Jumat, 21 Januari 2011

Sebagian Oknum Radar Banten Perlu Diwaspadai Kejahatan Cyber-nya: Marissa Haque & Ikang Fawzi

Beri Hadiah ke Ikang, Marissa Haque Malah Dikasih Surprise
Sumber: Hendra, kapanlagi.com, Jan 2011

Marissa HaqueAtas kelulusan sang suami dengan hasil sempurna ketika menyelesaikan studi S2 pada bulan Desember 2010 lalu, Marissa Haque merasa perlu memberikan hadiah. Keberhasilan Ikang Fawzi itu pun ditandai dengan pemberian kado kepada sang suami yang disesuaikan dengan kebutuhannya, yakni sebuah laptop.

“Aku tahu Ikang butuh alat yang canggih dan simple dan bisa juga untuk otak-atik lagu. Dia kan orangnya suka bikin lagu terus mengaransemen sendiri. Dengan laptop itu Ikang bisa kerjakan dalam satu tempat,” cerita pemilik nama lengkap Marissa Grace Haque ini di kediamannya di kawasan Bintaro, Tangerang, Selasa (17/1).

Tapi tanpa diketahui Marissa Haque, Ikang pun sudah menyiapkan hadiah untuk dirinya. Dan hadiah yang diberikan juga sama seperti yang diberikan Marissa ke Ikang.

“Jadi aku mau memberikan hadiah laptop ke dia, nggak tahunya dia juga ngasih aku laptop juga yang sama. Katanya aku kan suka ngedit film di laptop, jadi dengan laptop ini aku dipermudah. Aku dikasih warna putih yang girly dan Mas Ikang aku kasih warna silver yang cowok banget,” ujarnya sambil tersenyum.

Memang tidak dipungkiri, kalau urusan gadget, pasangan suami istri ini sangat up to date. Bagi mereka laptop yang mereka miliki sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan informasi dan pendidikan. (kpl/hen/boo)

Sabtu, 15 Mei 2010

Berkaca pada Kejadian Luar Biasa di Banten: Tulisan Terakhir Marissa Haque Tahun 2006 di Radar Banten


Berdegup kencang rasa hati ini, saat menyimak kasus gizi buruk di negeri zamrud katulistiwa ini. Dari data Pertemuan Nasional Penanggulangan Gizi Buruk, yang dilakukan Kementerian Koordinator Kesra. Lebak memiliki posisi istimewa 4 besar nasional, ditemukan 248 kasus gizi buruk pada tahun 2005. Pada 2006 angka ini tentu bertambah banyak. Membuat hati ini trenyuh saja, 60 tahun kita merdeka ternyata belum juga membebaskan diri dari penyakit zaman penjajahan dulu. Kabut suram ini tentu mengancam masa depan Banten yang berniat mengubah diri, menjadi provinsi maju sejahtera di masa depan, lantaran gcnerasi anaknya, kini terancam suram akibat kesalahan fokus pembangunan yang hanya mengejar fisik saja. Melupakan aspek kesehatan jasmani dan ruhani penduduk.
Di Lebak, juga ditemukan "Kejadian Luar Biasa" (KLB) merebaknya penyakit polio. Sementara di Kabupaten Tangerang, tahun berselang ada KLB muntaber, penderita mencapai angka 382, yang meninggal 13 orang. Sungguh ujian dari penguasa semesta jagad. Tenryata bila ditelusur pangkal musababnya, hanya karena penduduk yang tinggal di pantura ini tidak mampu, atau tidak memiliki budaya, jamban dalam rumah. Mereka yang memiliki jamban hanya 8,6 % saja dari total penduduk. Di sini telihat bahwa peran Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi amat lemah. Padahal tentu saga dana sosialiasi sanitasi rumah sehat ada, tetapi menguap entah ke mana. Perilaku korupsi tercium nyata di sini, dengan dampak yang luar biasa. Lalu, demi urusan per-jamban-an, pemerintah kabupaten menguyur dana sebesar Rp 5 milyar, khusus untuk urusan bilik hajat sehat. Terlambat memang, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali

Tentu saja, ke.jadian ini tidak melulu kesalahan Bupati dan jajarannya, tetapi pemprov juga memiliki andil yang amat besar. Sebagai pemegang otoritas Dati I, mestinya di dalam cetak biru pembangunan mengutamakan skctor kesehatan masyarakat. Demi lahirnya generasi andalan Banten. Intensifikasi Program Kota dan Kabupaten Sehat, harus segera dilakukan demi penyelamatan Banten ke depan..

Pangkal sebab musabab, ternyata berakar dari taraf hidup yang rendah, akibat kemiskinan, tingkat pendlidlikan yang rendah (rata-rata tamatan SD), rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, dan kurangnya penyuluhan kesehatan khususnya pentingnya nilai kecukupan gizi bagi anak. Banyak sebab; tidak cuci tangan sebelurn makan, buang sampan dan ludah sembarangan, kebiasaan buang air besar di sungai yang juga tempat mandi dan cuci juga sumber air minum, kebiasaan minum air yang belum dimasak. .Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Tentu saja akibat minim atau tak adanya penyuluhan kesehatan bagi masyarakat.

Tak ada jalan lain, demi menghindari terjadinya KLB-KLB lain di belahan bumi Banten ini, pada tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya, penting kiranya, Pemprov/Dati I secara terpadu dan terencana, bersinerji dengan elemen birokrasi di Dati II untuk membuat sistem early warning system, sistem kewaspadaan isyarat dini, yang dapat melacak adanya gizi buruk atau polio dan penyakit lainnya melalui penimbangan massal anak. Program-program yang di masa lalu eksis, dan terbukti memiliki korceasi dengan masa kini, seperti Posyandu, Polindes, PPKBD, BKB, UPPKS dan SKPG. Juga PMT (Peniberian Makanan Tambahan) dan suplemen di TK dan SD, mendesak dilakukan. Harus ada upaya nyata yang dapat dirasakan jutaan anak Banten hari ini. Sekali lagi bukan dengan spanduk dlan baliho yang hanya membuang uang rakyat saja, dengan kemaslahatan umum yang tidak jelas pertanggungajawaban.

Agar tidak logo, kader Posyandu, harus memiliki honor yang memadai, sehingga kaum ibu yang secara pribadi memiliki kepentingan menyelamatkan anak dan lingkungannya, mereka dapat diandalkan menjadi ,garda terkahir, benteng penjaga Banten dari KLB-KLB yang menyeramkan, sekaligus mempermalukan di pergaulan nasional. Lebih-lebih internasional. Wajah bening, pecahan mutiara Indonesia harus bersinar dari bumi yang berakhlakul karimah ini.

Mulai sekarang pesan-pesan pejabat jabat yang memiliki kewenangan dan kompetensi di ranah kesehatan harus benar-benar fokus untuk mengusir KLB dari Banten. Pesan ringan soal gizi seimbang "4 sehat 5 sempurna", bahwa ketika makan, sebaiknya menu, terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur mayur dan buah-buahan, plus susu. Harus disiramkan di benak 9 juta warga. Demi generasi Banten yang bernas, berbobot, dan tentu saja sehat. Semua bisa bcrjalan melalui revitalisasi Posyandu, program, kader, dan sistematika gerakannya hendaknya dilakukan secara terpadu, terarah, tepat sasaran dan efisien. Tidak melulu seremonial pejabat, tetapi benar-benar gerkan akar rumput yang global dan serentak.persoalan KLB-KLB ini sungguh amat mendesak dituntaskan.

Intensifikasi Program Kola dan Kabuapten Sehat dapat dilakukan, melalui sinergi dan pcningkatan ekonomi keluarga dalam rangka ketahanan pangan di tingkat keluarga dengan peningkatan kewirausahaan. Lalu menggalakkan kembali kegiatan kesatuan gerak PKK KB Kesehatan, manunggal TNI KB Kessehatan, Bulan Bhakti Bhayangkara, program Jum'at Bersih dan sebagainya. Perlu juga dilakukan penelitian dan pengembangan terhadap pola serang dan mewabahnya penyakit.

Selain itu sesuai tuntutan otonomi daerah, Pemda, Propinsi maupun Kabupaten/Kota menyediakan anggaran untuk menunjang kegiatan Posyandu dan PMT (melalui APBD), perlu komitmen politis instansi terkait kesehatan di semua tingkatan, harus ada insentif dan bantuan modal untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Pemprov juga harus rajin menilai dan memberi apresiasi kepala daerah yang berhasil membina Posyandu di wilayahnya. Dipersiapkan kader penggerak kesehatan terlatih yang didukung dana operasional cukup. Mengembangkan system deteksi dini KLB Kesehatan. Memasukkan Posyandu ke dalam system kesehatan desa. Adanya jaminan ketersediaan pangan tingkat keluarga. Pendidikan dasar tentang gizi seimbang di masyarakat baik melalui jalur formal dan informal . Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Perlu dana untuk penelitian penyakit. Pekan Kesehatan Provinsi. Juga peningkatan program samijaga/MCK melalui Departemen PU. Serta Pengembangan pola anak asuh bagi anak keluarga tak mampu

Sesungguhnya di provinsi terkaya nomer 6 se-Indonesia ini, bila tak ada Korupsi! Baik itu korupsi data (gizi buruk, polio, demam berdarah, d1l), korupsi kewenangan para pemutus kebijakan, korupsi waktu bagi para penggerak di lapangan. Generasi Banten yang sehat, unggul, bijak lestari, Insya Allah ngejawantah. Korupsi telah menjadi virus mental yang menggerogoti anak negeri, di belahan bumi yang elok dan cantik. Mari kita sikat korupsi, secara bersama, elegan, melalui mekanisme hukum agar tak ada KLB-KLB yang mengiris hati ini lagi. Penderitaan wong cilik sudah cukup sampai di sini. Bila tak ada rasa takut di hati lagi, entah azab Allah apa lagi yang akan turun di bumi yang kita cintai ini.

Merdeka!

Baiffest: Film sebagai Science (Tulisan Marissa Haque Fawzi di Radar Banten pada 2006)


Seharian kemarin di hari Minggu tanggal 19 Desember 2005, pada acara kebersamaan sekeluarga, Ikang, saya, dan anak-anak mengisinya dengan menghabiskan waktu secara sederhana namun mesra di TIM (Taman Ismail Marzuki), Cikini Raya, Jakarta Pusat. Menonton seluruh film yang disajikan (total lima judul non-Hollywood produksi mancanegara). Hari itu tepat hari terakhir penutupan Jiffest (Jakarta International Film Festival). Kami mulai menonton acara dari pukul 14.00 sampai pukul 24.00. Barangkali apa yang kami lakukan kemarin itu agak terlihat aneh bagi keluarga lain di Banten pada umumnya. Bahkan mungkin ada yang bertanya kok bisa-bisanya ada sebuah keluarga yang seluruh anggotanya sedemikian gandrung' terhadap film, seni, dan budaya. Tapi insya Allah bagi mereka yang sudah kenal siapa kami tidak akan merasa aneh bahkan faham, kenapa kami harus mempunyai apresiasi sedemikian tinggi terhadap dunia kesenian, khuisusnya pada bidang film.

Aktivitas kerja berkesenian sebenarnya tanpa terkecuali kita semua miliki. Bahkan tanpa sadar kita semua telah melakukannya dalamn kehidupan sehari-hari. Misalnya mulai dari seni berkomunikasi dengan pasangan hidup, seni melakukan pendampingan bela.jar pada anak di rumah, seni mengatur meja makan, seni merangkai bunga, seni merapikan dapur, dan lain-lain. Bahkan sampai seni menawar cabai di pasar. Akan tetapi saking luasnya wilayah cakupan ilmu kesenian ini, maka untuk lebih fokusnya pembahasan, pada kesempatan kali ini saya hanya akan memilih satu bidang/topik saja, yaitu bidang seni perfilman. Sesuai dengan oleh-oleh laporan pandangan mata selama perjalanan hari Minggu kemarin di TIM.

Ikang Fawzi (suamiku yang asli turunan Rangkas, Lebak), Isabella (putri pertama yang baru masuk semester pertania Fakultas Budaya Jurusan Sastra Inggris di Universitas Indonesia), dan Chikita Fawzi (putri kcdua yang masih duduk di bangku terakhir SMUN 6 Bulungan Jakarta, yang menuruni bakat cinemalographyku) menikmati setiap sajian serta moral message yang disuguhkan oleh lima judul film yang kami tonton. Puluhan anak-anak ABG, sebagian orang-orang asing (anak-anakku menyebutnya orang bule), para pengamat/kritikus film Indonesia, para dosen IKJ, para. pekerja seni bidang lainnya, serta beberapa wartawan budaya lokal maupun internasional memenuhi lokasi acara penutupan tersebut. Di salah satu ruangan ada pula digelar pameran photography oleh Timur Angin putra seorang Pcngamat Seni/Photographer Seno Gumira Ajidharma. Yang mengharukan masih bertahan di sudut di sebelah kanan gedung Serba Guna salah satu tempat terfavorit keluarga kami bila sedang berkunjung ke TIM, yaitu sudut penjualan buku. bekas/langka. Di tempat inilah kami biasanya dapat menghabiskan waktu berjam-jam 'ngendon' dan menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk memborong buku-buku yang menarik hati/kami kebetulan perlukan. Khususnya buku tcntang kesenian yang tak banyak dengan mudah didapatkan di toko buku umum di Indonesia.

Sepanjang waktu di TIM kemarin ini,beankku menerawang jauh. Alangkah bahagianya bilamana di wilayah Banten kita tercinta, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi juga memiliki sebuah Gedung dan sarana kegiatan kesenian yang mirip dengan ini. Dibangun serta dikembangkan oleh para stake holders yang mengerti tentang betapa pentingnya seluruh warga Banten untuk memiliki wadah/sarana bagi pengasahan olah rasa, olah budi, olah ucap, olah pikir, dan pada akhirnya olah sikap yang pada akhirnya nanti akan melenturkan/melunakkan hati-hati yang 'kaku-kering' disebabkan karena kerasnya kehidupan Banten belakangan ini.

Kegiatan Jiffest dibidani oleh para dosen, pelajar, dan praktisi ilmu perfilman di Indonesia. Adalah Shanty Harmain dan teman asal Canadanya 'bernama Natacha Devillers yang mengusung di awal. Sampai setelah lima kaki diadakannya dalam jangka waktu lima tahun, Jiffest menjadi salah satu icon perkembangan komunitas film Jakarta juga sekaligus gambaran dari sebuah pemberontakan pecinta dunia pecinta film non-Hollywood/alternatif. Di mana film-film tersebut sangat sulit didapat di pasar normal oleh karena dianggap tidak punya pasar jelas atau unmarketable.

Kita semua tentunya sangat faham ketika kala itu film dianggap hanya komoditas, wabil khusus saat digunakan sebagai barter perdangan dengan industri tekstil kita di pertengahan tahun 1980 an. Film-film yang dianggap 'film beneran' adalah yang mengusung ideologi produksi ala Hollywood – crazyness, exitement, dan visual sexuality. Dan judul film harus selalu menunjuk kepada kata benda tunggal (he, she atau it), yang selalu pada endingnya hidup atau mati sang tokoh utama selalulah solve the problem. Warna-warna dalam adegan film selalu terang memikat, dan dalam lima menit pertama harus ada adegan menanjak yang kami namakan adegan jeng, jeng, jeng! Inilah resep pendekatan ala pasar yang ter-Hollywoodisasi yang dapat dengan mudah dengan memakai 'mata telanjang' dapat kita bedah, pelajari, bahkan mungkin kita adopsi pada saat yang tepat bila memang diperlukan. Di luar ini, pendekatan ala Eropa Timur yang juga banyak penggemarnya di luar Indonesia, dianggap `bukan' film. Ironi memang. Padahal banyak sekali ilmu dunia seperti sejarah dunia, berbagai filosofi, serta ideologi dunia lain yang dapat kita pelajari keberhasilan maupun kegagalan di dalamnya. Sehingga film bukan hanya sekedar konsumsi semata, seperti yang selama ini kita sikapi terhadap film Hollywood yang merajai dunia dan Indonesia, akan tetapi juga sebagai science. Sebuah bidang keilmuan yang sangat luas dan dalam, yang di dalamnya terdapat catatan sejarah, psikologi, ekonomi, politik yang merupakan ekstraksi dari kehidupan umat manusia.

Bila Erich Fromm (1997) mengatakan di dalam bukunya dalam Bahasa Indonesia yang berjudul Lari dari Kebebasan, "... perjuangan menuju kebebasan dari belenggu orang-orang yang mempertahankan hak-hak istimewanya, pasti ujung-ujungnya akan dilawan dengan penindasan." Maka kalau saat Jiffest diusung saat awal lalu adalah sebagai manifestasi pemberontakan atas statusquo kepemilikan Studio 21 saat dulu dengan dominasi produksi film Hollywoodnya, maka hari ini di Banten sesungguhnya perlawanan tidaklah harus se'ribet' saat para pengusung Jiffest saat lalu di Jakarta. Cukup kita ketuk hati para stake holders di Banten ini, bukti keberhasilan Jiffest sudah nyata, metode dan lain-lain yang terkait tinggal kita adopsi. Para penggerak tinggal kita undang untuk pengawalan/pendampingan program. Insya Allah mereka semua berkenan. Tinggal dukungan kuat dari para seniman dan pekerja seni Banten untuk membunyikannya secara terus-menerus mengenai pentingnya sarana tempat bekespresi yang layak serta tepat guna. Sehingga bila selama ini Banten hanya dikenal dengan wajah `angker' ala Jawaranya, di masa yang akan datang mendapat perimbanagn image yang lebih lentur serta manis-ramah-bersahabat. Dan wajah itu adalah wajah Banten baru, yang bersinar seni tinggi.

Tidak perlu memakai nama kota seperti misalnya Tangerang International Film Festival, atau Serang International Film Festival, cukup Banten International Film Festival yang kita singkat dengan Baiffest. Baiffest akan merupakan sinergi sehat dari enam wilayah kota dan kabupaten yang ada di sini. Sehingga menganulir dikotomi yang selama ini masih menggunung di banyak benak warga semisal kata-kata: Banten Utara, Banten Selatan, Banten Barat, atau Banten Timur. Karena Banten adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Mari kita bangun image Banten dengan segala potensi yang dimilikinya. Kita pakai kendaraan seni film untuk membuatnya menjadi populis. Jadi, ketika belum lama ini saya mendapatkan sepotong film dokumenter mengenai potensi budaya Lebak beserta buku mungil yang menyertai keterangannya, saya langsung melihatnya sebagai sebuah langkah awal positif yang dapat ditiru oleh lima wilayah lainnya di Banten dengan mengajak serta seluruh masyarakat Banten yang cinta seni. para pekerja seni ataupun masyarakat umum lainnya untuk terlibat aktif dalam perkembangan, promosi potensi wilayahnya. Bahkan di Pesantren La Tanzah di Lebak sebentar lagi akan mengadakan Film Club, subhanallah. Besar harapan saya bahwa La Tanzah akan menjadi contoh wadah bagi pengasahan Seni Film melalui kemampuan siswa dan guru sekaligus untuk memakainya sebagai sarana dakwah. Contohnya seperti film-film Iran pemenang kompetisi di Nantes dan Cannes International Film Festival di Perancis atau Sundance Film Festival di Amerika Serikat (Festival Film khusuz bagi para pembuat film Indie) yang berjudul antara lain: The Children of Paradise, The While Balloon, The Color of Pardis, dan lain sebagainya.

Tidak sulit kok belajar membuat film, mengupas filosofi dicdalamnya, serta belajar sejarah apapun yang terekam di dalamnya. Siapapun yang merasa tertarik mengatakan tidaklah terlalu berat mempelajarinya. Dengan demikian saya ingin bertanya dan mengajak, siapakah yang tertarik ingin bergabung bersama kami di dalamnya dan memakainya film sebagai kendaraan penyampaian ilmu pengetahuan bahkan dakwah Tauhid serta hal kebaikan lainnya? Di samping itu, mohon doakan juga secara bersarmaan bahwa tahun depan atau tahun depannya lagi Banten sudah dapat mengibarkai pesona cemerlangnya melalui Baiffest 2006 atau Baiffest 2007 – Banten International Film Festival – yang gaungnya akan smnipai pada belahan dunia setengah perjalanan bumi sebelah sana dari Indonesia. Kalau kota/provinsi lainnya di tanah air bisa, insya Allah alas izin Allah SWT Banten pun tak boleh ketinggalan. Juga harus bisa.

Allahu Akbar, Merdeka!

Radar Banten 2006 dalam Marissa Haque: Dari Eceng Gondok ke Pentas Dunia

Tak kenal maka tak sayang. Nah, bunga liar eceng gondok kerapkali dipandang sebelah mata. Cuma layak jadi pengisi rawa atau sungai yang tak terurus saja. Lihat saja sungai-sungai yang ada, lalu rawa seperti rawa Cipondoh, Tangerang, Banten, penuh disemaki eceng gondok yang banyaknya tidak ketulungan. Akibatnya air tidak bergerak, kadar oksigennya rendah, kualitas airnya menurun. Namun pesona Ungu, kembang eceng gondok di masa lalu telah mampu memukau Raja Thailand yang saat itu sedang bermuhibah ke Jawadwipa, bersilaturahmi dengan raja-raja di Pulau Surga ini. Mengambil benih belimbing, durian, jambe, dan aneka buah yang ditemui di pinggir hutan. Tak lupa jemari kukuh sang Raja, memetik bunga ungu eceng gondok. Keindahan bunga liar itu rupanya akan dipersembahkan kepada permaisuri di kaputren sana.

Namun eceng gondok punya hasrat lain. Daya hidupnya begitu kuat. Daya sebarnya luar biasa. Begitu disemai bumbuh di taman Keputren, eceng gondok segera menyebar ke sungai-sungai dan rawa sekitar istana, jadi momok hama yang sulit dibasmi. Rakyat pun kebingungan, karena keberadaannya yang begitu banyak, menghambat irigasi dan merepotkan pertanian warga Thailand. Namun, sang Raja tidak berdiam diri, segera dikirimnya tim ahli istana, untuk mempelajari tumbuhan baru eceng gondok yang begitu perkasa, juga bibit-bibit tanaman yang dibawa dari bumi jawa, termasuk Banten. Lambat laun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Maka didapatlah, tumbuhan unggul, seperti belimbing, jambu, pepaya, durian, berlabel “Bangkok”, yang memiliki rasa di atas rata-rata, bentuk besar, menarik, istimewa dan gampang dibudidayakan serta memiliki keseragaman rasa yang cukup terjaga. Di masa kini, Thailand dikenal sebagai pengekspor buah-buahan yang dominan. Demikian pun ‘hantu’ eceng gondok yang mengesalkan banyak warga di sana, justru sekarang jadi komoditas ramah ekspor. Menjadi bahan baku kerajinan tangan, souvenir yang tak terlupakan, tas, tikar, bantalan, alas, hiasan dinding, dan aneka macam kreativitas tangan yang memukau penduduk manca negara. Batang dan daun eceng gondok yang telah dikeringkan dan diproses demikian rupa, menjadi bahan mode yang laris manis.

Di Banten pun perkembangan liar eceng gondok, hadir di mana-mana. Bahkan di rawa Cipondoh, Tangerang. Rawa itu telah menjelma menjadi kerajaan eceng gondok. Seolah tak ada tangan yang mampu menyentuh dan mengarahkan arah tumbuhnya bagi kesejahteraan rakyat sekitarnya. Padahal tinggal dijemur, dikeringkan, diproses sedemikian rupa dengan tangan dan rasas yang memuja keindahan. Maka akan didapat tas tangan, alas piring, atau hiasan dinding yang berkelas dunia. Tentu harganya mahal. Rakyat untung, pemerintah mendapat devisa, dan lingkungan mendapat air yang hernih mengalir bebas eceng gondok.

Di luar kita berkaca pada Thailand yang sangat menghormati alam dan mengarahkan seluas-¬luasnya demi kemakmuran rakyat. Kita harus banyak belajar dari mereka, jika Banten ingin maju. Di dalam negeri kita bisa berkaca juga pada Jogja, yang dengan kesederhanaannya, minimnya sumber daya alam, padatnya penduduk. Menjadi surmber dari semacam 'pabrik' handycraft atau kerajinan tangan yang hasilnya diekspor kemana-mana, ke Bali, dan banyak ke luar negeri. Perekonomian Jogja, didorong oleh banyak hal, arus utamanya pariwisata. Landasan utamanya yang amat kuat dan fenomenal adalah 'pabrik rakyat' kerajinan tangan. Selain eceng gondok, ada akar bambu, batang bambu, ranting bambu, dan segala hal yang dimata kita hanya sekedar sampah, atau pohon pengisi semak saja. ternyata oleh tangan-tangan berbasis kerakyatan. Rakyat dimotivasi dengan alih teknologi. Pelatihan. Pengiriman misi-misi pengiriman ke Jogja, syukur ke Thailand sana. Belajar membuat produk yang bercita rasa dunia. Juga membuat pola desain produk terbaru. Dikembangkan dengan dengan balk. Maka akan didapat sinergi yang baik. Ketika pulang. Masing-masing kelompok pengrajin memiliki kewajiban untuk mengembangkan kerajinan tangan di daerahnya. Dengan supervisi yang baik dari Disperindagkopar, rasanya pertumbuhan itu akan cepat dicapai.

Segera saja, kita akan merasakan banyak keuntungan, dengan banyaknya angka penduduk, jumlah pengangguran yang tinggi, energinya bisa diarahkan untuk mcembuat kerajinan tangan, memenuhi pasar lokal sekaligus berorientasi ekspor. Apalagi bandara juga ada di Banten, jadi tidak ada alasan, orang Banten tidak mengkepsor hasil kerajinan tangannya. Ke negeri manca sana. Membentuk persahabatan abadi melalui kreativitas seni kecil yang bermutu tinggi. Agar kita segera merdeka dari kemiskinan dun keterbelakangan.

Merdeka!

Jangan Memulai Sesuatu dengan Langkah Kotor: Marissa Haque Fawzi di Radar Banten 2006


Bulan yang baru saja lewat, ketika datang khabar dari Afrika Selatan, serasa mendengar petir di siang bolong. Innalillahi wa innaialihi ro.jiuun... Selamat jalan wahai Kekasih Allah, Bapak Ramadhan KH, Papah Tutun demikian panggilan sayang kami. Seorang wartawan, penyair, sastrawan, sejarahwan, penulis biography banyak orang besar Indonesia (termasuk mantan Presiden kedua RI, Soeharto), Ayah Mertua adik bungsu saya yang bersama Shahnaz Natasja Haque, Ayahanda adik ipar saya Gilang Ramadhan, serta salah seorang guru spiritual dan guru dunia tulis menulis saya selama ini. Kita semua telah kehilangan salah seorang putra terbaik bangsa ini.
Memiliki Nama lengkap sebagai Ramadhan Kartahadimaja, di dalam menulis karya-karyanya, terutama roman sejarah, beliau pandai menggali fakta-fakta dan nilai-nilai perjuangan bangsa ini. Papah Tutun sangat pandai merumuskan pikiran-pikirannya di dalam pemilihan frasa dan diksi yang sangat memikat. Hasilnya adalah: sajak, puisi, novel atau bahkan biography komplit tersusun rapi untuk disajikan kepada para pecinta dunianya. Papah Tutun adalah seorang sangat committed, mendedikasikan hidupnya pada dunia yang telah sadar dipilihnya menjadi jalan hidupnya. la berdisiplin sangat tinggi tapi sekaligus seseorang yang sangat santun serta lembut bahasanya. Satu yang tak-kan pernah terlupa bahwa beliau itu sangat tegas di dalam pendirian ketika beliau khusus menelepon saya dari Afrika Selatan ke rumah di Bintaro sebelum kondisi dirinya benar-benar drop adalah: "Benar kata Naz kamu mau mencalonkan diri jadi Gubernur Banten? Sudah siap kamu tidak akan korupsi dan mengabdikan dirimu sepenuhnya menjadi pelayan rakyat?" Sudah yakin hatimu tak akan goyah melihat orang-orang di sekitarmu bergelimang dengan kekayaan `palsu' yang diambil dari hak rakyat?" Jujur saya terpana saat mendengar kata-kata beliau yang bak mitraliur itu. Saya akhirnya dengan santun mengatakan kembali via telpon kepada beliau, "Pah ... sampal dengan hari ini tangan anakmu masih bersih, dan saya ingin selamanya demikian, juga saya bersedia menjadi pelayan rakyat Banten, untuk susah senang bersama mereka." Kemudian satu kalimat cukup panjang yang tak akan pernahsaya lupakan sampai kapan pum: "Marissa, ... jangan pernah mermulai sesuatu dengan langkah kotor. Insya Allah kamu akan diselamatkan-Nya di dalam melangkah di dunia maupun ke akhirat kelak." Malamnya setelah perbincangan terakhir itu saya tak dapat tidur. Dan dalam keheningan malam diiringi suara jangkrik di musim penghujan membuatkan secpotong pusisi pendek untuk beliau yang kemudian saya kirimkan via handphonenya di Afrika Selatan. Puisi itu berjudul "...dan Kelopak Bening itu Mengalirkan airnya."

Setiap mengenang kata-kata terakhir Bapak Ramadhan KH, menambah rasa hormat saya pada beliau. -Ketika pikiran melayang lagi kebelakang, teringat saat Lebaran dua tahun lewat, saat kami anak-beranak bercanda bersama di ruang belakang rumah Bintaro saya. Kami semua tertawa sangat seru ketika ingat bagaimana para cucu Papah Tutun (termasuk anak-anak saya) seringkali tak mau bersih-bersih diri sebelum tidur. Maka pembicaraan beralih pada saat kedua orang tua kandung kami masih_ hidup dulu dan menyambung cerita tentang bersih-bersih diri.

Ternyata kita semua masih ingat saat kita kecil dulu sebelum tidur, ketika panra orang tua kita menyuruh mencuci tangan, kaki serta sikat gigi. Semua itu dikarenakan mereka ingin agar anak-anaknya memulai tidur serta nantinya bertemu dengan 'Kekasilitiya' (God the All Mighty) dalam kondisi bersih. Bersih diri sebelum tidur, bersih hati sebelum memejamkan mata, bersih pikiran dengan harapan siapa. tahu saat tidur nanti dapat menjumpai Rasulullah Muhammad SAW. Bila kita kaitkan semuanya dengan kondisi sekarang ini di Banten, Tuhan...,mampukan kita semua berbersih-bersih diri?

Untuk kebersihan di Lingkungan Hidup, paling tidak secara nasional KLIJ (Kementrian Lingkungan Hidup) sedang menyelesaikan RUU Sampah. Ranah Banten yang sebagian masih terbalut sampah telanjang yang mengundang penyakit, dapat berharap mendapat dampak positif bilamana RUU nanti telah menjadi UU dan dapat membuat Banten paling tidak dapat sedikil terbebas dari sampah yang terbuang liar di mana-mana. Menteri Lingkungan Hidup Rakhmat Witoelar menyatakan telah menyelesaikan draft RUU Penge1olaan Sampah ini. Draft UU itu sekarang telah ada di DPR dan menurut informasi terakhir telah mendapatkan persetujuan dari Presiden. Bahagianya hati ini ketika mendengar berita dari teman yang berada di Komisi Lingkungan Hidup DPR RI Jakarta.

Di bidang korupsi, hmmm ... bersih-bersih korupsi kita dibandingkan dengan di Beijing, China, seharusnya kita wajib iri. Di sana (dan juga dapat diakses dari Indonesia), semua warga dapat dengan mudah menyaksikan sebanyak 400 (empat ratus) orang koruptor yang gambar serta identitas dirinya dipublikasikan via internet. 160 orang menyerahkan diri dan 240 ditangkap. Hebatnya, semua kegiatan bersih-bersih itu mampu dilakukan Beijing, China hanya dalam, waktu 2 (dua) bulan saja. Dan para koruptor yang teramankan itu ternyata baru 10% saja dari yang mereka lacak sejak setahun yang lalu (Radar Banten, Rabu 29 Maret 2006). Pelacakan diawali dengan mempublikasikan 4000 (empat ribu) nama-nama para koruptor yang dibidik pada situs internet yang didesain khusus untuk keperluan tersebut. Hasilnya luar biasa. Masyarakat yang telah muak meresns publikasi di jalur maya tersebut dengan memberikan tambahan informasi keberadaan beberapa koruptor yang pada akhirnya sangat membantu kinerja para aparat penegak hukum. Hasilnya sangat menggembirakan karena sebanyak 400 (empat ratus orang) berhasil dilacak dan ditangkap.

Sukses menangkap di Beijing, China ini memang bukanlah perrkara yang murah. Karena untuk beberapa kasus, pemerintah China harus mengeluarkan dana lumayan besar. Ada beberapa kasus yang membutuhkan dana CNY 1 juta (sekitar Rp 1,1 miliar) atau lebih besar lagi menurut Wu Heping, Jubir dari Kementrian Keamanan Masyarakat China. Juga termasuk memberikan imbalan bagi sang pemberi informasi tadi tentang buronan yang dicari dengan imbalan CNY 3 ribu (sekitar Rp 3,3 juta).

Bagaimana di Indonesia dan di Banten? Menurut Harian Kompas, Sabtu 17 Desember 2005, karena biaya penyidikan kasus korupsi sangat minim, maka pemberantasan korupsi dari audit APBD 65%. BPK baru memeriksa 283 (dua rates delapan puluh tiga) laporan keuangan daerah dari sekitar 460 (empat ratus enam puluh APBD) dari total Provinsi, Kabupaten dan Kota dengan 896 (delapan ratus sembilan puluh enam BUMD di dalamnya. Pemerikasaan mencakup jumlah anggaran Rp 360,8 Triliun,-, sementara cakupan pemerikasaan sebesar 340,2 Triliun,-. BPK memberikan pendapat `tidak wajar' atas sepuluh laporan keuangan daerah dan `tidak memberikan pendapat' atas enam laporan keuangan daerah (Kompas, Sabtu, 17 Desember, 2005).

Hasil temuan BPK yang mencolok baik adalah yang terkait dengan pembayaran tunjangan, honorarium, insentif, dan bantuan keuangan sebesar Rp 497,3 miliar kepada para Pimpinan dan Anggota DPRD, Kcpala Daerah berserta wakllnya, juga masing-masing Sekda yang banyak sekali tidak sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Hasil ini ditemukan pada 16 (enam belas) propinsi termasuk Banten dan 142 Kabupaten serta Kota di seluruh Indonesia (Kompas, Sabtu, 17 Desember 2005). Dije1askan lagi di dalam temuan BPK tersebut adalah, terdapat pengeluaran sebesar Rp 476, 68 miliar yang belum dipertanggungjawabkan. Di luar itu terdapat juga realisasi belanja di 16 Provinsi (termasuk Banten) dan 123 Kabupaten dan Kota senilai 590,6 millar yang tanpa dilengkapi dengan bukti (fiktif), tidak jelas peruntukkaannya, serta menyimpang dari ketentuan.

Rasanya memang Pemerintah Pusat sudah . selayaknya menambah anggaran penyidikan Kepolisian dan Kejaksaan jika memang kita semua serius memberantas tindak pidana korupsi. Biaya penyidikan per kasus yang diterima Kejaksaan dan Kepolisian hanya sekitar Rp 2,5 juta,- (dua setengah juta). Sungguh angka ini tidak rasional. Tak mungkinlah Kejaksaan maupun Kepolisian untuk mengusut serta mengejar para korupstor di Banten maupun di seluruh Indonesia yang sudah semakin canggih modus operand i nya. Bahkan Kang Ruki (Taufikurrachman Ruki) Ketua KPK pun menimpali dengan mengatakan, "Saya kasihan pada Kepala PoIri dan Jaksa Agung, bagaimana bisa tuntas mengejar para koruptor bila biaya penyelidikan hanya sebesar Rp 2,5 juta,- per kasus (Kompas, Selasa, 4 April 2006). Sementara untuk Banten pada acara lepas Sambut Kapolda lama dan baru kemarin Bapak Kombes Timur Pradopo berjanji akan menuntaskan kasus korupsi yang ada di wilayah Banten. Langkah ini diambil sesuai dengan instruksi Kapolri Jenderal Susanto ketika melantik sejumlah Kapolda di Mabes Polri bebeapa hari yang lalu.

Kami juga berharap agar seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan informasi kepada kami bila memang melihat adanya indikasi korupsi," kata Timur Pradopo kepada wartawan,usai lepas sambut di Mapolda Banten, Rabu (21/12).

Dia meminta kepada seluruh LSM maupun masyarakat untuk memberikan informasi kepada aparat untuk mernberikan informasi kepada aparat kepolisian mengenai adanya dugaan korupsi. Nantinya, informasi itu akan ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian."Mari kita bekerja sama. Masyarakat diminta untuk mengontrol bila ada dugaan korupsi, sehingga kita bisa melakukan penanganan untuk masalah tersebut," katanya. Bilamana kita semua memang benar-benar ingin rnelihat Banten menjadi Serambi Madinah dan mengedepankan ukhuwah (persaudaraan) yang telah dipraktekkan Rasulullah Muhammad beserta para sahabatnya, menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar, dengan gaya persaudaraan yang sangat indah dan sejuk. Sistem persaudaraan itu mencapai puncaknya dengan itsar atau sikap, yang lebih mengutamakan saudaranya sendiri ketimbang dirinya sendiri. Hal ini digambarkan di dalam. QS Al Hasyr ayat 9.

Jadi demi Banten yang benar-benar dapat bersih-bersih ke depannya, kebersamaan, saling mengasihi, saling asah, asih dan asuh di dalam program bersih-bersih ini terutama khususnya di dalam hal anti korupsi dapat dengan ringan kita semua bersama lakukan tanpa harus hanya menggerutu di belakang. Bahkan Papah Tutun (Bapak Ramadhan KH) di alam sana' tentunya akan dapat tersenyum melihat Banten sudah mampu berbersih diri karena semua merasa perlu untuk terlibat di dalamnya. Seperti pesan terakhir beliau kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Adnan Buyung Nasution dan Nina Pane via telepon, "Buyung, jangan pikirkan saya, pikirkan Indonesia, nasib bangsa kita ke depan." Begitu Pula mirip yang dikatakan beliau kepada saya, Icha, jangan pikirkan saya, pikirkan nasib Banten kita ke depan, saya titip rakyat Tatar Sunda Jawa Kulon kepadamu." Ramadhan KH, seorang pejuang, seorang budayawan tanpa tanda bintang jasa, ia adalah sosok yang patut kita teladani. Ia patut dicatat dengan tinta emus di dalam deretan para tokoh sejarah di Republik ini. Selamat jalan, Pah…semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Allahu Akbar, Merdeka!

Marissa Haque Fawzi, SH, MHum For Radar Banten, April 10, 2006

Kisah jas Merah Ratu Shima: Marissa Haque Fawzi (Radar Banten 10 April 2006)

RADAR BANTEN, 10 April 2006

Syahdan, Kerajaan Kalingga, Nagari di pantura (pantai utara Jawa, sekarang di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) beratus masa berlampau, bersinar terang emas, penuh kejayaan. Bersimaharatulah, Ratu Shima nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangi di antero nagari nusantara. Sungguh, meski jargon kesetaraan gender belum jadi wacana saat itu. Namun pamor Ratu Shima memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan. Kebijakannya mewangi kesturi, membuat gentar para perompak laut. Alkisah tak ada nagari yang berani berhadap muka dengan Kerajaan Kalingga, apalagi menantang Ratu Shima nan perkasa. bak Srikandi, sang Ratu Panah.

Konon, Ratu Shima, justru amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pcjabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, pun segenap pimpinan divisi kerajaan sampai tukang istal kuda, alias pengganti tapal kuda, kuda-kuda tunggang kesayangannya, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya.

Sekali waktu, Rata Shinma menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan memutasi, dan me-nonjob-kan pejabat penting di lingkungan Istana. Namun puluhan pejabat yang mendapat mutasi di tempat yang tak diharap, maupun yang di-nonjob-kan, tak ada yang mengeluh barang sepatah kata. Semua bersyukur, kebijakan Ratu Shima sebetapapun memojokkannya, dianggap memberi barokah, tuah titisan Hyang Maha Wenang.

Tak puns dengan sikap ‘setia’ lingkaran dalamnya, Ratu Shima, sekali lagi menguji kesetiaan wong cilik, pemilik sah Kerajaan Kalingga dengan menghamparkan emas permata, perhiasan yang tak ternilai harganya di perempatan alun-alun dekat Istana tanpa penjagaan sama sekali. Kata Ratu Shima,"Segala macam perhiasan persembahan bagi Dewata agung ini jangan ada yang berani mencuri, siapa berani mencuri akan memanggil bala kutuk bagi Nagari Kalingga, karenanya, siapapun pencuri itu akan dipotong tangannya tanpa ampun!". Sontak Wong cilik dan lingkungan elit Istana, bergetar hatinya, mereka benar-benar takut. Tak ada yang berani menjamah, hingga hari ke-40. Ratu Shima sempat bahagia.

Namun malang tak dapat ditolak. Esok harinya semua perhiasan itu lenyap tanpa bekas. Amarah menggejolak di hati sang penguasa Kalingga. Segera dititahkan para telik Sandi mengusut wong cilik yang mungkin saja jadi maling di sekitar lokasi persembahan, sementara di Istana dibentuk Pansus, Panitia Khusus yang menguji para pejabat istana yang mendapat mutasi apes, atau yang nonjob diperiksa tuntas. Namun setelah diperiksa dengan seksama, berpuluh laksa wong cilik tak ada yang pantas dicurigai sebagai pelaku, sementara pejabat istana pun berbondong, bersembah sujud, bersumpah setia kepada Ratu Shima. Mereka menyerahkan jiwanya apabila terbukti mencuri. Rata Shima kehabisan akal.

Saat itu, tukan istal kuda, takut-takut menghadap, badamiya gemetar, matanya jelalatan melihat kiri kamm, amat ketakutan. "Maaf Tuanku Yang Mulia Ratu Agung Shima, perkenankan hamba memberi kesaksian, hamba bersedia mati untuk menyampaikan kebenaran ini. Hamba adalah saksi mata tunggal. Malam itu hamba menyaksikan Putra Mahkota mengambil diam-diam seluruh perhiasan persembahan itu. Maaf...," sujud sang tukang istal muda belia ,mukanya seperti terbenam di lantai istana. "Apa? Putra Mahkota mencuri?!" Ratu Shima terperanjat bukan kepalang. Mukanya merah padam. "Putraku, jawab dengan jujur, pakai nuranimu, benar apa yang dikatakan wong cilik dari kandang kuda ini?", tanya sang ibu menahan getar. Sang Putra Mahkota tiada menjawab, ia hanya mengangguk., lalu menunduk teramat malu. la mengharap belas kasih sang ibu yang membesarkannya dari kecil.

Sejenak istana teramat sunyi, hanya bunyi nafas yang terdengar, dan daun-daun jati emas yang jatuh luruh ke tanah. "Prajurit! Demi tegaknya hukum, dan menjauhkan nagari Kalingga dari kutukan dewata, potong tangan Putra Mahkotaku, sekarang juga...,"perintah Sang Ratu Shima dengan muka keras. Seluruh penghuni istana dan rakyat jelata yang berlutut hingga alun-alun merintih memohon ampun, namun Sang Rata tiada bergeming dari keputusannya. Hukuman tetap dilaksanakan. Hal itu dituliskan dengan jelas di Prasasti Kalingga, yang masih bisa dilihat hingga kini

Intisari kisah ini adalah; 'Jas Merah!' (Jangan Sekali-sekali melupakan Sejarah), salah satu judul pidato Bung Karno, perlu diingat bersama.

Ketegasan Ratu Shima, relevan dengan situasi Banten terkini, betapa rancangan Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) 2006, situ koma sekian trilyun rupiah nyaris saja jadi reriungan yang tidak nelas penggunaan dan fungsinya, melulu belanja modal saja. Membangun gedung, membeli alat, menjauhkan diri dari focus menyejahterakan wong cilik. Sementara angka kemiskinan, standar kesehatan amat rendah dan keterpurukan pendidikan, membuat Banten tidak punya sisi kebanggaan dalam percaturan bangsa. Beda dengan Kalingga yang begitu sohor, akan tegak tegasnya hukum tanpa pandang bulu. Bahkan ratusan tahun berlampau kisah itu masih terasa ideal.

Semoga saja, mutasi yang memutar seluruh orbit kekuasaan di Banten tidak ada maksud khusus kecuali penyegaran saja. Namun bila ada agenda politis di balik rancangan anggaran belanja yang amburadul dan di-nonjob-kannya para pamong praja yang berjasa bagi pembangunan Banten kemarin tanpa alasan jelas. Rasanya sudah waktunya burung-burung Ababil dari pelosok nagari Banten hadir, berteriak riuh, menyeru keadilan di bumi yang dahulu diperjuangkan para pejuang kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa raga. Sejarah telah mengajarkan, apabila hukum dipakai tanpa tedeng aling-aling, tanpa pandang bulu, kesejahteraan-kejayaan nagari sudah di depan mata. Apabila mekanisme dan aturan hanya jadi alat legitimasi kekuasaan, maka tunggu saja waktunya wong cilik yang tertindas, beristiqhosah akbar. Meminta bebas dari belenggu azab!.

Merdeka!

Perempuan Melawan Sampah: Marissa Haque Fawzi untuk Radar Banten 2005

15 November 2005

RADAR BANTEN

Para ahli bijak mengatakan bahwa hidup itu hanya sekali, harus berarti dan setelah itu baru mati. Bahwa hidup hanya sekali saya setuju, pasti mati saya pun setuju, akan tetapi bagaimana caranya supaya hidup hanya sekali itu dapat menjadi berarti? Sangat relatif jawabannya. Ada yang mengatakan hidup menjadi berarti artinya menciptakan karya yang diakui masayrakat setempat bahkan dunia, sebagian lain menyatakan masa tua yang jaya dan makmur adalah ukuran menjadi berarti, sementara yang terakhir mengatakan bahwa mati masuk surgalah yang paling mempunyai makna terdalam. Melihat manusia Indonesia hari ini, bila ditinjau dari kacamat Teori Kebutuhan dari Abraham Maslow, sandang-pangan-papan, mencintai dan dicintai, aktualisasi diri, dan yang terakhir yang sangat jarang dimunculkan di banyak kajian yaitu kebutuhan transcendental (cinta Ilahi). Nah sedang pada lini manakah kita semua sekarang berada?

Belakangan setelah bertubi-tubi ketahanan diri dan nasional Indonesia diserang oleh SARS, sapi gila, flu burung, lumpuh layu polio, busung lapar, dan yang terakhir sedang menggejala kembali yaitu demam berdarah, membuat kita termenung menyaksikan semua itu. Ada yang mengatakan Allah sedang bercanda dengan cara-Nya, sebagian merasa lebih setuju menganggap Allah SWT sedang menguji kita. Bila sedang diuji untuk naik kelas, berarti jawabannya adalah lulus atau tidak lulus.Jika kita tidak lulus berarti ada yang tidak benar dalam proses belajar dari kehidupan ini. Ada proses ketidakpedulian yang tanpa kita sadari kita jalani sebagai suatu kebiasaan yang dianggap memang seharusnya demikian. Akan tetapi bila jawabannya lulus, maka rida Allah SWT sedang bersama kita semua. Siapa yang tidak mau hidup nyaman di bawah paying rida Allah?

Hari ini kita sedang dihantui dengan demam berdarah, setiap hari di televisi kita melihat korban bergeletakkan di berbagai rumah sakit. Barangkali awalanya kita hanya mampu berempati terhadap para korban yang terlihat di televise, atau kit abaca di Koran. Hingga pada titik tertentu akhirnya – semoga tidak terjadi pada keluarga kita di Banten – satu per satu tetangga atau orang yang dekat di hati kita turut menjadi korban.

Banten sebagai provinsi bayi, khususnya Kabupaten Tangerang di mana saya bertempat tinggal, sudah sangat penuh sesek dengan penduduk dan sampahnya. Janganlah sampai wilayah ini diidentikkan sudut wilayah/kota sampah. Tentu sampah dalam pengertian di sini tidak hanya sekadar dalam bentuk kata benda semata, akan tetapi sekaligus dalam bingkai methapora mental spiritual. Di wilayah dekat tempat tinggal saya hari ini, setiap hari saya saksikan di hampir setiap parit, kali, dan sungai berwarna hitam, dangkal serta bau. Masyarakat yang tak pedulian membuat kondisi yang sudah parah, menjadi semakin parah. Mungkin hal ini dianggap memang sudah menjadi sebuah keniscayaan yang sudah tak perlu untuk diapa-apakan lagi. Masayarakat yang sudah mengalami bertubi-tubi masalah hidup menjadi sangat apatik dan skeptical. Kelihatannya bagi banyak keluarga di lingkungan ini adalah, bagaimana mendapatkan uang untuk makan per hari ini. Kenytaaan pahit di depan mata mereka ibarat sebuhan lingkaran setan yang tak berujung. Setiap insane yang terketuk hatinya termasuk saya pribadi sering bertanya pada diri sendiri, harus mulai dari manakah bila ingin berkontribusi untuk mengubah semua ini. Sebagai seorang yang sedang belajar menjadi seorang negarawan (anggota Komisi IV DPR-RI, dari Fraksi PDI Perjuangan) yang sekaligus juga seorang ibu rumah tangga, keprihatinan saya dimulai dengan mengamati sampah yang dihasilkan oleh rumah-rumah tangga sekaligus para perempuannya sebagai inu rumah tangganya.

Tiba-tiba saya teringat pada sebuah kejadian lucu bebrapa lama berselang. Ketika sedang menyetir mobil sendirian, saya disalip dari sebelah kanan bahu jalan, tentu saya menginjak rem supaya tidak terjadi tabrakan. Tak lama kemudian saya melihat sang pengendara – yang ternyata perempuan berkerudung – membuka jendela sambil membuang sampah bekas bungkusan kue. Timbul rasa jengkel, maka setelah istighfar saya memencet klakson tiga kali sebagai peringatan jangan menyalip dan buang sampah sembarangan! Saya mencoba menyusulnya sembari membuka kaca jendela sebelah kiri untuk memberitahukannya. Tahukah kemudian apa yang terjadi? Sang pengendara mobil bermerek mahal tersebut hanya terkejut sejenak dan tak lama setelahnya malah melambaikan tangannya dengan sangat ramah ke arahku karena merasa mengenali diriku sebagai public figure. Ups! Astaga… kejadian di atas tadi membuat saya tertegun dan merenung bingung beberapa saat tentang harus bagaimana memberi pengertian pada masayrakat Indonesia bahwa kita tinggal dan hidup di bumi yang sama. Perempuan sesungguhnya sangat identik dengan kecantikan, keluhuran budi, keindahan, serta tentu saja kebersihan. Akan tetapi bilamana ternyata si perempuan cantik itu tidak terbiasa dengan kebersihan dan tidak sadar akan lingkungan yang bersih, teratur serta nyaman, maka apa sebenarnya yang telah terjadi? Apa yang harus dikoreksi? Dan siapakah sebenarnya yang harus disalahkan?

Banyak yang mengatakan belum teralokasikannya dana sebesar 20% dari APBN untuk dunia pendidikan sebagai kambing hitamnya. Karena kurang terdidik, maka manusia Indonesia pada umumnya jadi sangat cuek terhadap lingkungannya. Sebagian lagi mengatakan karena terlalu lamanya kita dijajah oleh Belanda, maka terjadilah pembunuhan karakter secara besar-besaran sehingga kualitas manusia Indonesia menjadi seperti hari ini, termasuk urusan kebersihan lingkungan dan sampai yang berserak di mana-mana. Mendidik perempuan sebagai ujung tombak menjaga kelestarian lingkungan bukanlah sekadar utopia (angan-angan) belaka. Karena menjadi seorang perempuan adalah juga berarti menjadi seorang ibu. Maka bila sebuah Negara/pemerintah/pemerintah daerah mendidik seorang perempuan adalah juga berarti mendidik seluruh anggota keluarganya. Mendidik sebuah keluarga berarti mendidik unsure ini dari sebuah bentuk lain ketahanan nasional Indonesia sebagai sebuah bangsa besar bernegara.

Seorang ibu tanpa disadari adalah seorang manager alamiah yang mengatur semua urusan domestic beserta seluruh isinya, maka sang ibu yang telah mendapatkan pemahaman baik biasanya dapat diandalkan menjadi role model yang mampu menularkan pengetahuannya pda selruuh anggota rumah tangganya. Pemerinta pusat dalam waktu dekat akan bekerjasama dengan pribadi-pribadi anggota DPR RI untuk menggalakkan kampanye mengenai pentingnya memberikan ruang lebih bagi perempuan untuk mengembangkan potensi diri yang selam ini sedang ‘tidur’ serta mencetuskannya menjadi sebuah gerakan “Perempuan Ibu Rumah Tangga Wajib Belajar Kelestarian Lingkungan.”

Melalui pendidikan yang terus menerus – formal maupun informal – membuat aspek kognitif seorang perempuan akan terbuka, intelektual mereka akan terasah, sehingga mereka mampu berpikir lebih rasional serta kreatif. Yang pada akhirnya nanti insya Allah dapat mewujudkannya menjadi sebuah potensi positif yang arif dan bijaksana, yang di ujungnya akan menjadi energi penggerak bagi gerakan kesadaran Banten bersih lingkungan dan bebas sampah.

Bila kita semua ingin bangkit, dan bangsa Indonesia ingin punya hgarga diri di mata dunia, tak ada tawar menawar, perbaiki dulu kualitas hidup yang berkatian dengan lingkungan kita. Dalam hal ini posisi strategis para perempuan – tentunya secara bersama-sama bergandengan tangan serta berkesinambungan – dapat menghasilkan generasi muda Indonesia yang mempunya kedisiplinan tinggi serta kepahaman lingkungan yang lebih baik. Dalam hal ini tentunya tidak lengkap rasanya bilamana peran para ayah atau rekan pria tidak diikutsertakan di dalam , tanpa melepaskan diri dari kenyataan bawah sebuah rumah tangga adalah tanggung jawab bersama antara suami istri tanpa terkecuali.

Hari ini dalam kenyataan tatanan dunia politik praktis, perempuan Indonesia sedang serius berjuang untuk merebut kesempatan memperjuangkan rakyat dalam Pilakada maupun Pemilu 2009 yang akan dating. Sebuah upaya tanpa henti di tengah pengakuan yang tidak pernah turun begitu saja dari langit. Bila perjuangan ini berhasil maka kemenangna ini akan membuka kesempatan lebih luas lagi bagi para wanita unuk masuk ke dalam system yang dapat mempengaruhi kebijakan lingkungan dengan bahasa kasih keibuan. Mereka para perempuan yang telah berpartisipasi di DPR-RI, DPRD, dan DPD-RI, bertugas bahu membahu bersama rekan prianya untuk menjalankan tiga fungsi utama. Yaitu: 1. legislasi (membuat undang-undang), 2. menyusun anggaran, dan 3. melakukan pengawasan akan jalannya pemerintahan pusat maupun daerah Banten, serta tambahan tugas menyerap aspirasi dari bawah. Bagi para perempuan yang memilih berada di luar system semisal aktif di beberapa LSM, dapat memainkan perannya pula dengan terus menerus memberikan informasi serta peringatan kepada seluruh anggota keluarga di komunitas tertentu untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya. Tak kalah penting juga adalah peran kepemimpinan dan ketokohan yang dapat dimainkan para ibu rumah tangga di masyarakatnya melalui kegiatan bersama PKK pada tingkat RT, RW, kelurahan maupun kecamatan.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Diawali dengan bismillahirrahmanirrahim serta langakah kanan, asal masih memiliki mimpi yang dilengkapi dengan keyakinan, kerja keras serta kesungguhan yang pantang menyerah, insya Allah pasti berhasil. Mengutip sebuah kalimat tausiyah Aa Gym: “Bukanlah soal banyak atau sedikit yang kita hasilkan, keberhasilan adalah pada saat kita memaknai apa yang kita rasakan adalah amanah dari Allah bagi kita para khalifahnya di muka bumi ini.” Jadi tunggu apa lagi? Lingkungan hidup kita sudah terlalu penuh dengan sampah, banyak korban telah berjatuhan karena demam berdarah. Ayo, keluar rumah, pegang sapu, siram got di depan rumah, timbun semua sampah yang bertebaran, dan jangan lupa untuk menyemprot rumah kita. Agar Indonesia kembali dapat tersenyum, dan warganya dapat menjadi masayrakat yang bahagia serta selamat di dunia dan akhirat.

Allahu Akbar, Merdeka!

Menjadi Burung Ababil: Marissa Haque Fawzi (20 November 2005)

Radar Banten 20 November 2005



Radar Banten, 20 November 2005

Kala saat mengaji tak sekedar mengucapkan kata, ketika setiap lantun ayat menoreh sebalut rasa perih di dada, andai AI Qur'an Surat Al Fiil ayat 1-5 benar-benar dihayati kemudian dijalani oleh para pemberi keputusan serta mengajak seluruh masyarakat di Banten, rasanya pertolongan Allah akan turun dalam kurun waktu yang tak lama lagi. QS. Al Fiil (Gajah), adalah Surat ke 105 di dalam juz ke 30 yang diturunkan di Madinah, pendek saja hanya total lima ayat. Tapi berisi filosofi yang luar biasa terlebih khususnya saat kita merenungi nasib Banten kita tercinta di kurun limat tahunan menjadi provinsi baru ini.

Pertemuan kekeluargaan yang sangat akrab bersama Komandan Kopasus Kota Serang Bapak Teddy Laksamana beserta Ibu Reny istrinya, memaksa saya untuk membuka kembali kitab suci Al Quran beserta terjemahannya. Melakukan kontemplasi dalam untuk benar-benar memaknai bahasa methaporical yang luar biasa tinggi di dalam. kitab suci kita ini. Di dalam Al Quran dan Terjemahannya (Transliterasi Model Kanan Kiri. Assalaman. Semarang: 2000), dikatakan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu lelah bertindak terhadap tentara gajah? 2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka untuk menghancurkan Ka'bah itu sia-sia? 3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. 4. Melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah yang terbakar. 5. Lalu menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat. Yang dimaksud dengan tentara bergajah adalah tentara yang dipimpin oleh Abarahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekah, tentara tersebut diserang sekelompok burung surgawi yang melemparinya dengan batu¬-batu kecil berapi yang banyak sehingga menusnahkan pasukan tersebut.

Sebelumnya saya bertanya lebih jauh di saat pertemuan tersebut di atas, terbiasa berekspresi jujur, saya mengugkapkan langsung kekaguman saya kepada kehalusan budi Pak Teddy. Juga mengenai betapa luar biasanya beliau sebagai seorang Komandan Kopasus – yang biasanya berkesan luar `angker' dan sangat dekat dengan gerakan 'malam adalah gelap' itu – terhadap hal-hal yang biasanya hanya dapat ditangkap oleh hanya para hamba Allah yang bermata hati bening saja.

Tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan sederhana saya, Pak Teddy mengeluarkan photocopy dari sepenggal puisi yang dibuat bersama oleh Neno Warisman dan Miing Bagito dan pernah, disampailkan setahun yang lalu pada acara HUT Kopasus di Kota Serang. Alhamdulillah, langkah para sahabat lama saya, para pekerja seni Kekasih Allah ini, telah terlebih dahulu singgah di hati Pak Teddy dan keluarganya di tanah Banten. Puisi mereka selain indah juga memberikan penguatan, pencerahan hati terhadap rasa frustrasi yang seakan tak kunjung selesai bagi hamba Allah lainnya yangmerindukan masa depan Banten yang lebih mempunyai harap dan martabat. Andai saja kita seluruh warga Banten mampu mengetuk hati masing-masing serta membayangkan akan hadir di hadapan Allah menjadi Kekasih-Nya, maukah kita menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah untuk membereskan Banten tercinta ini?

Burung Ababil terbang dan berkelompok, ia tidak sendirian! Mereka adalah sebuah methapor yang menunjukkan bahwa satu orang manusia saja tidak akan pernah mampu mengubah Banten. Negeri Banten butuh sepuluh, seratus, seribu, bahkan sejuta orang berhati haik, bersih serta lurus lulus untuk mengenydiwilhkan kezholiman di wilayah ini. Kehidupan material spiritual masyarakat di Banten scdang sakit akut. Pengobatan alternatif sangatlah dibutuhkan bagi perilaku korup yang sudah berurat akar terjadi dihampir setiap lini birokrasi pemerintahan. Di Jakarta, pemerintahan pusat telah mulai menggalakkan kebhinekaan institusi yang mengerucut menjadi tunggal, yang diarahkan kepada masalah korupsi. Salah satu indikator terpentingnya adalah terungkapnya sindikat peradilan di tubuh Mahkamah Agung. Penangkapan dan pemeriksaan lima pegawai MA meyakinkan bahwa aroma penyuapan yang tercium selama ini mulai terkuak membentuk bukti. Sebelumnya, di televisi rakyat menonton persembahan acara beberapa dosen dan guru besar terkenal dari universitas ternama Jakarta ditangkap dan diadili atas tuduhan korupsi dana KPU. Tanpa disadari dari sana terjadi sebuah dampak psikologis yang tidak menggembirakan, yang semakinn lama semakin nyata ketika kita sernua melihat bahwa para koruptor dapat tersenyum lepas tanpa beban didepan publik dengan rasa malu yang seakan telah terkebiri! Saya pribadi masih merasa sangat khawatir bila daya tarikan magnetic budaya korup membuat banyak warga Indonesia secara kesuluruhan merasa pesimis akan terbentuknya budaya good governance. Tak terkecuali di Banten.

Bersyukur hari ini saya berhasil menyelesaikan bacaan dari sebuah buku pengantar filsafat ringan untuk persiapan sebuah seminar semi ilmiah tenting "Pengaruh Budaya Pemikiran Nicollo Machiavelli pada Peta Perpolitikan Indonesia" di Surabaya. Sehingga langsung mendapatkan ‘Aha moment’ bagi perbandingan cara pandang para pengikut ajaran Machiavelli (Machiavelians) dan kaum spiritualis – apapun agamanya. Sehingga kurang lebihnya saya mampu membuat peta hati nurani pada masyarakat di Banten ini. Machiavelli mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu berpontensi buruk, apapun pasti akan dilakukan sejauh dapat mengantarkan kepada keberhasilan material. Bahkan sebagian dari kita tentunya tidak asing lagi dengan istilah dalam baliasa Latin homo homini lupus (manusia adalah serigala terhadap manusia lainnya). Berbeda dengan penjelasan dalam kitab suci Al Quranul Karim, dikatakan manusia sebenarnya berpotensi baik. Bilamana mereka sedang menjadi orang jahat, sebenarnya `hanya' karena mereka sedang tidak tabu atau lalai. Tercekat rasanya kerongkongan ini. Ya Allah, alangkah indahnya berislam. Alhamdulillah besar rasa yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu cinta ilahi. Kebutuhan transendental adalah kebutuhan yang tak terelakkan bagi semua hamba Allah di muka bumi ini – cepat atau lambat datangnya. Memang banyak yang cepat mendapatkan pencerahan, tapi tak kurang yang tertatih-tatih sampai tua masih mencari jalan agar selmnal di dunia maupun di akhirat.

Allahu Akbar! Ketika saya menyaksikan di banyak kesempatan bahwa pada dasarnya setiap manusia normal tak dapat meninggalkan suara hati terkait dengan pengenalan perilaku baik-buruk. Erich Fromm membagi suara hati menjadi dua bagian -- suara hati otoriter dan suara hati humanistik. Mereka yang bersuara hati humanistik melakukan perbuatan baik murni karena dorongan pribadi. Biasanya semboyan yang mereka pakai adalah 'saya melakukan apa yang seharusnya memang wajib ddilakukan.' Akan tetapi mereka yang memiliki suara hati otoriter terpaksa berbuat baik karcna tekanan/desakan dari luar. Dan kelihatannya desakan dari luar ini memang wajib kita bersama lakukan untuk menekan mereka para pembuat/pengambil keputusan yang hanya berpikir menebalkan kantong pribadi mereka.

Pada dasarnya suara hati masyarakat di dunia banyak yang otoriter termasuk juga di Indonesia dan di Banten. Karenanya untuk unsur desakan dari luar ala Erich Fromm tadi, kita wajib menyambut positif dibentuknya KPK/Komisi Pemberantasan Korupsi yang diketuai oleh Kang Ruki/Bapak Taufikurahman (panggilan akrab suami saya terhadap beliau yang ternyata masih mempunyai hubungan tali kekerabatan di Banten). KPK menjadi penting, karena pengawasan berkorelasi kuat dengan pembentukan pemerintahan yang bersih. Termasuk juga Integrity Award yang belum lama ini diberikan kepada Khairiansyah Salman dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mempunyai aura kuat bagi role model spirit besar masa depan dalam upaya pemberantasan korupsi yang lebih progresif di Indonesia secara umum dan Banten pada khususnya. Tidak ada solusi yang benar-benar 'tokcer' seribu persen pasti berhasil cepat dalam pemberantasan korupsi ini. Ada sebuah pendekatan gaya Behavioristics popular dengan pemberian contoh (modeling) melalui shock therapy yang menekankan pada pola hukuman rewards (ganjaran) and punishments (hukuman). Sehingga manusia akan menghindari aksi yang berakibatkan hukuman dan hanya menjalankan segala sesuatu yang hanya berdasarkan aturan hukum positif yang berlaku. Tapi pendekatan Behavioristics yang diimpor dari Amerika Serikat ini di banyak tempat dibelahan dunia tidaklah juga benar-benar mampu rnemangkas masalah korupsi sampai ke akar-akarnya. Kebanyakan baru sebatas rnemangkas pohon pisang besar, tapi tak lama anak-anak pisang bermunculan kembali di permukaan.

Karena itu upaya pencegahan sangatlah juga penting untuk dilakukan. Di AS tradisi spiritual antarlintas agama mulai dilaksanakan, mereka menamai ilmu tersebut sebagai Psychology Transpersonal. Di dalam ilmu ini, dimensi bawah sadar yang dipahami sebagai praktek terapi alam bawah sadar rintisan Sigmund Freud membuka salah satu jalan bagi terapi problema korupsi dapat diterapkan untuk tanah Banten. Freud menekankan, bahwa keberhasilan terapi tidak berhenti pada hanya sekedar tabu belaka, akan tetapi sebuah ekspresi yang wajib mampu ditransfer ke dalam sebuah aksi sosial! Dikaitkan dengan masalah korupsi di Banten ini, menurut Freud tak cukup kita hanya sekedar tabu bahwa korupsi di Banten itu buruk, tapi haruslah sampai pada ekspresi muak terhadap korupsi (Yohanis F LA Kahija, Kompas Oktober 2005).

Pemberdayaan dunia bawah sadar mampu menciptakan aneka perubahan penting dalam perilaku manusia. Bila benar bahwa corak masyarakat di Banten bersifat asketis, maka pendekatan sejenis ini tidaklah sulit diterapkan. Jalan yang sebenarnya kita tempuh adalah menyadarkan (awarness) atau memperluas dimensi sadar mengenai pengethuan korupsi beserta seluruh implikasinya ke dimensi bawah sadar (gudang ingatan bawah sadar dan pengalaman korupsi) menuju dimensi spiritual (kesadaran pribadi yang penuh akan keburukan korupsi). Maka sangat baik bagi kita semua saat kita mengaji di rumah atau sedang sholat sholat lima waktu bahwa kita memiliki QS Al- Fiil yang sangat pendek tapi memiliki esensi dalam bagi pengikisan budaya korupsi dari kehidupan kita dan keluarga di rumah. Ajaklah mereka semua untuk menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah yang kini wajib bersegera menyelamatkan Banten dari tangan¬-tangan manusia sejenis Abrahah Gubernur Yaman saat itu. Mari kita lindungi bersama Banten kita tercinta ini. Jadillah burung Ababil Allah...

Allahu Akbar, Merdeka!

Kopi dan Kenangan (dalam Marissa Haque untuk Majalah Noor/Daur Ulang)

CERMIN JIWA N-02

Jakarta, Februari 2004
Daur Ulang di Radar Banten pada Tahun 2005

Kalimat itu selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Seperti menikmati aroma kopi…

Hari ini, hari Minggu. Masih suasana liburan Lebaran. Hari-hari terakhir sebelum aku akan kembali ditenggelamkan oleh segudang target kehidupan dan masa depan. Termenung aku duduk di Mushola-ku. Semilir bau tanah basah bekas hujan semalam. Bunga Kembang Sepatu merah tua seakan menyapa selamat pagi untukku yang sedang enggan mandi pagi. Kupandangi kursi tua yang kududuki, warisan ibuku. Kuraba sarung jok di bawah kimono katun yang kupakai. Rasanya baru saja kuganti seminggu sebelum lebaran, tapi entah kenapa getaran kuno dari kursi tua ini selalu melambungkanku pada suatu masa kebersamaan yang hangat. Masa-masa yang terekam kuat di bawah sadarku. Orang-orang yang dekat di hati, yang telah pergi sebanyak satu generasi. Ayah, ibu, dan keluarga besar ibu yang kukasihi.

Masih teringat di benak saat kecil, kami berempat – Shahnaz adikku yang bungsu belum lahir- mama, papa, Soraya dan aku berlibur dari pelosok kota kecil di Plaju- Baguskuning, Palembang , tempat papa bekerja sebagai karyawan pertamina, menuju Bondowoso, Jawa Timur, kampung masa kecil almarhumah ibuku.

Sepanjang perjalanan dengan pesawat Fokker F-28 yang saat itu sudah terasa mewah, kami terbang lebih dulu ke Jakarta, transit di Surabaya, lalu diteruskan melalui perjalanan darat melewati daerah pantai Pasir Putih, dan akhirnya sampai di Bondowoso. Kami menginap di rumah besar orang Belanda, istri kedua sepupu eyang putriku. Karena tak memiliki anak dari perkawinannya, beliau menganggap mama dan semua sepupunya sebagai anak sendiri. Dan perjalanan ini menjadi istimewa, karena tak lama setelah liburan kami, Oma Belanda itu meninggal dunia.


Aroma Yang Memanggil

Ada benang merah yang membuat aku flash back kepada masa lalu. Tekstur kursi tua yang aku duduki warisan almarhumah ibuku dari rumah Belanda di Bondowoso, dan aroma kopi tubruk dari cangkir yang aku genggam. Aroma ini sangat mirip dengan rekaman masa lalu bawah sadarku. Aroma yang memanggil-manggil. Ah, … wangi kopi! Bagaimana mungkin aku mengacuhkan keberadaan kopi, karena sejak diperkenalkannya di Bondowoso saat aku kecil, aku selalu ingin tahu lebih jauh. Bukan hanya karena suka akan rasa dan aromanya, tetapi kepada hikayat cerita yang melengkapinya. Membawa aku berkelana jauh ke masa ratusan tahun lalu.

Oma Belanda ini sangat paham sejarah dunia terutama soal kopi. Beliau sangat tahu nama-nama jenis kopi yang ditanam serta dibudidayakan di sekitar rumah besarnya. Ya, beliau dan suaminya yang orang jawa Timur, adalah pemilik lahan luas perkebunan kopi di Bondowoso saat itu.

Masih teringat bagaimana aku sambil terkantuk, duduk bersandar di bahunya, mendengar dengan seksama cerita-cerita yang memikat. Oma menceritakan bahwa selain di Bondowoso, biji kopi juga bisa didapatkan dari berbagai perkebunan lain di tanah air. Antara lain dari Aceh, Medan, Toraja, Timor Timur, dan dari tetangga Bondowoso, Jember . Sedangkan kopi yang terbaik dari Bondowoso adalah yang sudah dimakan Musang dan keluar bersama kotorannya. Biji-biji kopi yang merah tua disimpan dalam karung-karung goni di gudang selama 5- 7 tahun. Setelah itu dijemur di bawah sinar matahari yang terik selama 5-7 jam, kemudian ditumbuk, disangrai, lalu digiling halus.

Wah, bahagianya aku dapat membayangkan seluruh proses produksinya. Bahan informasi awal inilah yang membuat aku hari ini bersiap-siap “pulang kampung” ke Bondowoso kembali. Bernostalgia tentang keberadaan lingkungan perkebunan kopi kini karena belasan tahun lalu terkena land-reform , serta melihat kemungkinan membuat film dokumenter tentang Kopi Arabika asal Jawa Timur.


Resep Oma

Cerita Oma semakin memikat. Apalagi setelah diperkaya hikayat perdagangan yang dilakukan orang-orang Belanda di Nusantara sebelum Oma lahir, kerjasama yang berat sebelah oleh Kompeni, orang-orang bumi putra yang merebut kembali kekuasaan atas tanah ulayat milik adat, serta percintaan “terlarangnya” dengan eyang kakung yang tidak utuh kuserap karena usiaku yang masih belia. Kuingat, Soraya sudah lama terlelap di kasur lebar, di kaki Oma Belanda bersama para sepupu lainnya.

Oma juga membagi resep mengolah kopi. Baginya usaha kopi sangat kaya seni. Karenanya seluruh proses produksi di luar pembudidayaan kebun, dipegangnya sendiri. Ia berprinsip, menjual kopi harus fresh. “Cara” baginya sangat penting, dan jumlah bukanlah bidikan pertama. “Setiap kesalahan berproses adalah proses belajar itu sendiri,” kata Oma. Kalimat itu pula yang selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Karena belajar itu asyik, kita harus proaktif mendatangi beberapa pakar, tidak malu bertanya, serta menjalin silaturahim dengan siapa saja yang bermurah hati untuk membagi ilmunya. Karena menurut beliau, di dunia ini tidak banyak orang ikhlas yang tulus mau berbagi ilmu kepada sesamanya.

Dan detik ini aku lupa, belum menyiapkan sarapan pagi untuk keluargaku. Bik Inah, pembantu yang sudah puluhan tahun ikut keluarga besarku masih pulang kampung. Saat ini sebetulnya saat yang tepat untuk mengeskpresikan rasa cinta pada keluarga melalui perut. Salah satunya dengan menuangkan kopi dalam cangkir-cangkir keramik kesayangan. Yang sedikit besar untuk Ikang, suamiku. Untuk ukuran sedang untuk mertuaku, ayah Ikang. Anak-anak menyukai rasa kopi dengan campuran Mocca Cream dalam mug besar.


Aroma Kopi, Aroma Cerdas

Aku ingin menciptakan suasana cerdas di meja makan. Sambil menikmati secangkir kopi diskusi ringan mengalir tentang apa saja. Tentang headline koran hari ini, politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Bila diskusi tidak nyambung, ya tidak apa-apa. Yang penting adalah membina kebiasaan mengutarakan pendapat dengan cara yang santun dan terasah. Mertuaku yang mantan Diplomat karir biasanya menjadi mentor informal. Jadi, bagiku kopi bukan sekedar minuman belaka, tapi juga perekat tali emosi di dalam keluarga.

Sementara di luar rumah, aku juga sering memilih Coffee House atau Coffee Lounge sebagai tempat bertemu walau sekedar social chart demi menyambung silaturrahim. Lebih serius lagi, sering pula menjadi tempat membina pertemanan dengan relasi bisnis.

Kopi memang selalu menarik. Semenarik harumnya yang selalu membuat orang mau tak mau, walau sekedar untuk menghirup aromanya, menyita minimal satu dan dua detik untuk menikmatinya.

Aroma kopi bagiku, adalah aroma cerdas dan elegan.

Para Pesohor di Ranah Politik (dalam Marissa Haque Fawzi/Daur Ulang untuk Radar Banten, 2005)

Untuk Sinar Harapan/Daur Ulang du Radar Banten pada Tahun 2005

Jakarta, 24 Januari 2004
Pada tanggal 23-24 Januari 2004 yang lalu penulis mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara Rakernas II Kaukus Perempuan Politik Indonesia di Hotel Indonesia. Sebelum acara selesai ada sebuah kesempatan tanya jawab dengan para panelis di jajaran depan yang terdiri dari para pendiri, LSM, dan seorang moderator. Sebelum acara berakhir penulis mendapat kesempatan untuk mengajukan pernyataan—bukan pertanyaan. Sehubungan dengan beberapa pertanyaan dari beberapa caleg dengan isi dan tujuan yang sama, yaitu:”…apakah untuk menjadi caleg jadi kami harus menjadi artis seperti mbak dan teman-teman artis lainnya?” Menggelitik, tapi sekaligus membuat dada saya sesak mendengar pertanyaan ironi seperti ini. Mengingat selama acara berlangsung selalu saja kalimat sama ini muncul berulang-ulang, mereka menyebut keberadaan diri mereka yang berada dinomer sepatu sebagai jadi caleg dan bukan menjadi caleg jadi!

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) judul yang dipakai diatas mengandung makna yang masih dapat dibedah. Para mengacu kepada suatu kelompok. Pesohor asal kata sohor, mempunyai makna termashur; ternama; terkenal. Ranah bermakna elemen atau unsur yang dibatasi; bidang disiplin. Sementara Politik mempunya makna ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan).

Maka kalau sekarang banyak masyarakat yang memberikan nada minor terhadap kehadiran para “artis”—sebuah kata yang banyak disalah artikan hanya sebagai orang yang pekerjaannya muncul dimuka TV dan Film—tentu akan banyak yang maklum. Banyak yang bingung, karena mau dilihat dari sudut pandang apapun, dua kutub dunia ini “nggak nyambung”, demikian ungkap khalayak maupun komentar di beberapa acara infotainment. Karena bidang politik diyakini oleh masyarakat umum sebagai sebuah bangunan rumah yang “hanya” boleh diisi oleh para politikus saja. Sementara menurut KBBI, politikus adalah orang yang menjalankan ilmu politik tersebut diatas—tak perduli siapapun atau dengan latar belakang apapun. Artinya siapapun boleh menjadi politikus, asalkan mampu dan layak.

Mengapa kesan minor ini dapat terjadi? Kemudian faktor-faktor apa saja yang membuat peringkat kehadiran para pesohor belakangan ini sebagai calon legistatif demikian pesat, jauh melampaui kehadirannya pada periode-periode pemerintahan sebelumnya? Fenomena apa sebenarnya yang terjadi dari semua ini? Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan kehadiran mereka? Apa yang dicari oleh para pesohor pada ranah yang sama sekali berbeda dari habitat asli mereka? Sejuta pertanyaan menggantung, perlu segera diberi jawaban sebelum stigma negatif semakin menohok keberadaan mereka, karena penulis merupakan salah satu dari mereka yang sedang banyak dibicarakan itu disana.

Sadar ataupun tidak kehadiran televisi serta acara-acaranya—terutama infotainment—belakangan sudah ibarat oksigen kedua bagi kita. Ia merupakan nafas kehidupan yang masuk melalui hidung, memenuhi rongga paru-paru dan masuk melalui jalan nadi, melalui butiran-butiran darah merah kita, hingga sampai di otak. Sehingga begitu sampai diotak, ia menjadi sesuatu yang “ada” begitu saja, sebagai satu keniscayaan. Mereka menyumbang andil yang signifikan pada—lebih dari terkadang—dunia infotainment yang diproduksi dengan biaya minim itu sangat membius penontonnya. Maka jangan ditanya bila satu saja episodenya terlewatkan, pemirsa yang berada dirumah merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga. Acara-acara tersebut banyak mengusung para pesohor dari berbagai kelas, ibarat candu yang membius bahkan menagih. Ia kemudian menjadi sebuah eskapisme terhadap kondisi nyata yang terjadi di masyarakat. Lari sejenak dari kenyataan kondisi ekonomi yang baru saja sedikit membaik, tingkat pengangguran yang masih tinggi, keamanan yang jauh dari memadai, banjir, kekurangan pangan, dan lain-lain. Bermimpi, tak mengapa kata mereka, mumpung masih gratis dan tak kena pajak—khas seperti dampak negatif para pemakai candu yang lari sejenak dari kenyataan hidup.

Media betul-betul sangat berpengaruh, terutama sejak semakin berkembangnya teknologi informasi, dimana dunia seakan tanpa batas--borderless world. Pada era perkembangan pesat budaya popular (pop culture), masyarakat dunia tiba-tiba terlihat menjadi seragam. Dimana-mana kita melihat orang memakai celana jeans dengan potongan dipinggul, menindik cuping hidung, pusar kelihatan, dll. Dari mana datangnya keseragaman ini? Tak lain dari pengaruh media audio dan visual, yang belakangan mejadi semakin murah, mudah dan cepat. Teknologi internet menambah percepatan perkembangannya.

Apa pengaruhnya pada perkembangan Politik di Indonesia dalam kaitan dengan para pesohor yang sampai dengan hari ini masih ramai dibicarakan? Media menjadi alat pengintip ketika dipadankan dengan cerita rakyat dari Barat yang berjudul “The Peeping Tom". Bila disana si Tom kecil mengintip sang Raja yang ternyata tidak memakai busana, pada kenyataannnya televisi menjadi alat mengintip sekaligus alat pengkultusan masyarakat terhadap kehidupan para subjek alias pesohor tadi. Konsumerisme visual ini mempunyai nama khusus yang sering dipakai oleh para pengajar dan pelajar studi film—voyeurism—apa yang nyaman bagi mata manusia semisal wajah ganteng dan cantik, dada bidang dan penuh, kaki panjang dan mulus, dll. Dalam bahasa popular masa kini disebut “layak jual.” Dengan keingintahuan yang berubah menjadi obsesi ngintip dan ngegosip membuat masyarakat bukan saja merambah wilayah personal para subjek, akan tetapi juga yang berkaitan dengan aktifitas para subjek pada pada tatanan social lainnya. Euphoria ini tampak seperti perayaan massal. Hingga begitu ada sesuatu yang baru yang tidak biasanya dilakukan para pesohor ini, seperti pada ranah politik, masyarakat masih melakukan pendekatan dengan cara ngintip dan ngegosip seperti yang biasa mereka lakukan terhadap para subjek sebelumnya. Tak perduli bahwa para subjek ini sedang berusaha melangkah pada dunia yang tantangannya berbeda—Politik. Bagi masyarakat, para pesohor tetaplah merupakan magnet yang berkekuatan maha dahsyat daya tariknya, tak perduli sedang apa atau bidang apapun yang sedang dilakoni. Yang penting ada berita terus yang dapat diikuti, dapat menjadi bahan “diskusi” alias ngegosip bersama rekan kerja atau hanya sekedar ngerumpi dengan tetangga samping rumah.

Voyeurisme sebagai alat konsumerisme visual. Siapa sebenarnya yang diuntungkan? Tentu saja orang-orang yang berada dibelakang tersedianya program tersebut; para produser acara-acara murah meriah yang amat kurang unsur edukasinya, serta para pemilik televisi. Bagaimana tidak, ketika acara yang awal dibuatnya tanpa idealisme sama sekali tersebut mampu mendongkrak rating pada jam yang justru tidak menarik—siang dan sore hari yang biasanya hanya ditonton oleh orang-orang yang berada dijam makan siang atau “hanya” tinggal dirumah. Benar apa yang dipaparkan oleh Neil Postman didalam Amusing Ourselves to Death (1985). Akan tetapi kondisi kekinian yang terjadi adalah bahwa amusement tersebut telah longsor dari hiburan menjadi arena pengintipan seperti si Tom sang pengintip pada cerita yang disebut diatas. Lebih tepat bila kita perhatikan analisa yang dikembangkan oleh Jay Rosen (1999) bahwa jurnalisme yang selama ini kita fahami sebagai civic journalism sebagian perlahan memudar dan menghasilkan apa yang disepakati bersama masyarakat sebagai voyeuristic journalism. Dan media di Indonesia, baik itu yang cetak maupun elektronik tak luput dari gejala yang sedang medunia akibat efek globalisasi dan borderless world ini.

Gejala voyeuristic journalism ini dimulai di Amerika Serikat ketika Hugh Heffner mempunyai “ide berlian” seiring dengan frustasi nasional disana akan perang Vietnam serta perang dingin dengan Rusia, ditemukannya pil kontrasepsi, dan terjadinya women liberation, menjual libido melalui media cetak diawal tahun 1960 an. Melalui majalah yang dimulai dengan tiras sedikit dengan gambar sampul Marilyn Monroe—yang saat itu merupakan simbol seksual—Playboy Magazine. Tiras yang sedikit itu berkembang seiring dengan permintaan pasar yang membludak. Tak alang maka sukses bisnis yang dijalankan Heffner ini menjadi panutan pebisnis Amerika lainnya. Apalagi kondisi hari ini dimana Playboy berhasil memunculkan beberapa nama beken bintang papan atas AS seperti Pamela Anderson sampai Demi Moore. Tak urung gejala ini kemudian melekat pada beberapa acara televisi khusus orang dewasa dan film layar lebar produksi AS. Tanpa terasa, dibawah sadar, kita semua tentu mengenal tiga resep lakunya film dengan pendekatan ala Hollywood; exitment, crazyness, dan visual sexuality. Nah yang terakhir ini, setelah bergabung dengan kebebasan berekspresi ala demokrasi AS, merupakan salah satu buah dari perjalanan sejarah majalah Palyboy dalam pengaruhnya terhadap perkembangan budaya pop (pop culture) di AS dan dunia.

Politik, excitement, pesohor, dan pop culture merupakan empat rangkai hal-hal yang tak terpisahkan bila kita kaitkan dengan isu-isu politik yang menjadi santapan pembicaraan kita belakangan ini. Memang, Indonesia yang masih menjunjung tinggi etika moral dengan penduduk mayoritas Muslim, tidak akan per-iah memperkenankan seorang bintang film porno dan penari bilgil menjadi anggota legislatif seperti yang terjadi di Italia beberapa tahun yang lalu. Bahkan seorang Inul pun—sebagai salah satu buah dari pop culture—cukup "tabu diri" dengan hanya ingin meramaikan Pemilu nanti sebagai vote getter dari tiga partai besar; PDI-P, GOLKAR, dan PKB. Sehingga unsur visual sexuality tidak banyak berpengaruh di tatanan moral mayoritas pemilik Pemilu di Indonesia. Tapi siapa tabu bila tidak diwaspadai bersama, kejadian seperti di Italia juga dapat terjadi di negeri kita tercinta ini.

Indonesia dengan Pemilunya di tahun 2004 ini, menjadi titik balik bagi penyiapan masa depannya. Untuk, demi dan dari rakyat adalah isu besar yang dijunjung oleh semua kontestan. Rakyat adalah peran utamanya, yang dimaknai dengan bertemunya orang-orang yang memiliki ide, perasaan, aspirasi, yang dikernbangkan menjadi komitmen yang sama bagi penyadaran besar akan persoalan bangsa Indonesia. Menurut Nurcholis Majid (Indonesia Kita, 2003), target ideal pada tahun 2015-2025, Indonesia akan memasuki the golden era dalam bentuk demographic bonus, di mana satu orang produktif akan menanggung satu atau dua orang yang tidak produktif lainnya. Masa ini adalah masa yang biasanya tidak terjadi dua kali dalam sejarah dunia. Mengingat pentingnya masa ini, maka tidak dibenarkan kekuasaan dikejar demi kekuasaan tersebut semata. Kekuasaan harus dikejar demi mewujudkan cita-cita besar bangsa. Kita semua harus berfikir dari berusaha menyelamatkan dan membangun Indonesia. Harus jeli melihat potensi dan peluang yang ada. Jika kita lemah dan gagal. maka kita akan terpuiuk serta tercecer menjadi bangsa yang selamanya terbelakang. Dan keterlibatan para pesohor tentunya tidak lepas dari koridor ini—membangun masa depan bangsa dan negara Indonesia dengan segala kesadaran serta kemampuan yang ada pada mereka.

Jatuh cinta pada si ganteng gagah dan si cantik yang pintar dan terkenal. Alangkah idealnya mimpi tersebut. Di Barat, kita tabu minimal ada tiga nama aktris dan model perempuan serta beberapa aktor yarf& sampai usia gaeknyapun masih dikejar para penggemarnya di seluruh dunia. Beberapa yang dapat disebut, di antaranya; Christy Turlington, Elizabeth Hurley, Angelina Jolley, serta Richard Gere dan Arnold Swezeneiger. Christy Turlington adalah salah seorang dari generasi supermodel dunia, bersama Naomi Campbell dan Linda Evangelista. Ia terkenal menjadi bagian dari The Trinity (tiga model dengan bayaran tertinggi pada saatnya). Ketika era supermodel berakhir, dan ketika para model lainnya menghilang atau turun reputasinya, Christy Turlington justru kembali kebangku sekolah. la pun menamatkan pasca sarjananya dari NYU (New York University) pada tahun 1999. Memang sejak 'ditemukannya' pada usia tiga belas tahun, Christy berkeras untuk tidak memulai karimya sebelum ia lulus dari bangku SMA. Ia kemudian bekerjasama dengan merek Puma untuk mengembangkan sebuah bidang usaha produk peralatan dan busana untuk yoga dengan label Nuala. Christy memegang penuh kontrol terhadap label yang dimulainya sejak tahun 2000 itu. Kecintaannya pada budaya Hindu dan India meneruskan langkah bisnisnya mencintakan produksi perawatan kulit dengan bahan dasar tumbuhan ayurveda berlabel Sundari (Yang berarti cantik di dalam bahasa Sansekerta). Citra yang terpanear pada dirinya selain cantik adalah pintar dan piawai dalam bisnis, sehingga tak heran bial ia mampu bertahan sebagai model Kelvin Klein selama hampir lima belas tahun belakangan ini. Begitu juga nama-nama yang tersebut setelah Christy, Angelina Jolley. Walaupun lahir dari keluarga yang broken home—begitu juga perkawinannya. Akan tetapi kecintaannya terhadap kelompok marginal, anak-anak korban di pengungsian, membuatnya bukan hanya semakin bersinar sebagai aktris papan atas, tetapi juga membuat sebuah organisasi dunia PBB melirik memakainya menjadi duta UNICEF untuk anak-anak korban pengungsi dari Cambodia. Siapa yang tak jatuh cinta pada pandangan pertama pada si ganteng Richard Gere? Aktor yang sudah mulai memutih rambutnya—tapi masih menyisakan kegantengannya—adalah aktifis yang menyokong kedaulatan masyarakat Tibet. Kedekatannya pada Dalai Lama, memberinya pencerahan dengan memeluk agama Budha. Dan yang terakhir masih hangat dibicarakan, sang Gubernur baru. California, bintang laga Arnold Schwarzeneger. Walaupun hanya berselisih sedikit, ia toh mampu memenangkan pemilihan disana. Mengacu kepada beberpa referensi diatas, teramat sangat jelas terlihat bahwa pada dasarnya setiap manusia itu punya potensi untuk menjadi positif, baik, serta bern-lanfaat bagi kelangsungan hidup manusia lain. Mereka ibarat medan magnet yang luar biasa bagi para pemburu berita—wartawan serta aneka macam media.

Bagaimana di Indonesia? Kurang lebih demikian yang kelihatan. Bisa jadi juga karena pengaruh globalisasi media dengan pengaruh pop culture nya. Jadi budaya popular yang umumnya berkembang melalui acara hiburan, pakaian, makanan, gaga hidup dan musik, bila yang terekspos di Barat seperti itu, kelihatannya akan menjadi inspirasi kepada penduduk negara ketiga lainnya—Indonesia salah satunya. Di Indonesia dalam kaitarinya dengan Politik, kita melihat beberapa Hama yang muncul kepermukaan; Nurul Arifin dan Luhut Sitompul dari partai Golar, Dede Yusuf dan Paquita Wijaya dari PAN, Rieke Dyah Pitaloka dan Gusti Randa dari partai PKB, Emilia Contessa dan Mieke Wijaya dari partai PPP, Angelina Sondakh dan Roy Marten dari partai Demokrat, Neno Warisman, HeIvy Tiana Rosa dan Pepeng (Jari-jari) dari partai PKS, serta penulis sendiri dari partai PDIP. Alasan dan latar belakang pemilihan kendaraan politik masing-masing, jelas berbeda satu sama lainnya. Walau penulis yakin bahwa tujuan kita semua sama—kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia. Kalau mereka ingin merebut hati rakyat, artinya selain popularitas yang telah dimiliki, mereka juga harus berkecimpung di bidang apapun dan harus mengetahui persis apa yang dekat dan sedang menjadi aspirasi masyarakat luas. Ini pun lagi-lagi adalah produk dari perayaan massal budaya popular (pop culture). Frasa "disukai pasar" mempunyai makna disukai banyak orang—populis—menjadi kata kunci dari kesuksesan. Salah satunya adalah dua contoh yang populis tapi sangat bertolak belakang; fenomena Inul Daratista dan Aa' Gym. Yang pertama disukai oleh karena visual sexuality-nya, sementara yang kedua karena ajaran moralitas yang menjadi innate (kodrat dasar) masyarakat luas Indonesia. Inul disukai karena dapat membangkitkan gairah hormon testosterone para pria pemujanya, bahasa membuminya yang sangat sederhana disukai para wanita, kebersahajaan pribadinya menimbulkan empati yang mewakili mimpi wong cilik Jawa Timuran. Di sisi satunya Aa' Gym menggunakan kalimat-kalimat poluler yang mudah dicerna, serta pendekatan--pendekatan yang mirip buku yang ditulis oleh Norman Vincent Peale "The Powerful Way to Change Your life "(2000) dan"Positif Imaging" (1998), serta Napoleon Hill pada "Think and Grow Rich" (2002). Siapapun manusia didunia perlu motivasi serta role model dalam melangkahi kehidupannya- Dan Aa' Gym sangat tabu akan hal itu. Ia pun menggunakan kekuatan media sebagai kendaraan dakwahnya. Walhasil, dengan segala perbedaan mencolok yang ada, keduanya mampu menyedot perhatian masyarakat serta penggemarnya masing¬-masing. Siapakah yang diuntungkan sekali lagi dari kehadiran dua superstar itu?—selain kedua pribadi yang bersangkutan—tentu saja media dan semua masyarakat industri media kapitalis yang terlibat di dalamnya.

Bilamana semua kemungkinan dapat muncul ke permukaan dikaitkan dengan suasana politik yang terjadi belakangan ini, apakah masyarakat Indonesia dapat mempercayai kemampuan para pesohor yang sekarang sedang berjajar sebagai calon legislatif? Probabilitinya lima puluh persen-lima puluh persen. Sebagian di dalam beberapa polling menyatakan setuju, sebagian lagi merasa patch arang dan curiga. Dilain pihak, penulis membaca kondisi masyarakat yang juga terbagi dua. Pertama masyarakat yang berpikir dengan cara Machiavelli, dan kedua adalah masyarakat yang berfikir secara spiritual. Machiavelli adalah seorang tokoh yang terkenal dengan keyakinan bahwa dalam berpolitik, cara yang paling "baik" adalah cara yang paling efektif dan efisien untuk mendapatkan kekuasaan. Jadi pada dasarnya setiap manusia itu berpotensi buruk! Manusia mempunyai kepentingan-kepentingan yang mampu membuatnya melakukan apa saja demi memenuhi kepentingannya. Hanya melalui sistim yang baik, kecenderungan buruk manusia itu dapat ditekan. Berseberangan dengan Machiavelli, para spiritualis yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik. Yang membuatnya menjadi buruk adalah jika hak-hak asasinya—terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan bidup—tidak diperoleh secara memadai. Dalam bahasa yang sangat Islami, kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Jadi secara innate manusia itu sebenarnya baik, hanya lemah! Diperlukan sebuah tatanan atau sistim yang qjeg yang dapat mengontrol semua langkah usaha dalam mencapai kebajikan yang dicita-citakan. Tentunya bersama-sama dan saling bahu-membahu diantara seluruh masyarakat Indonesia. Kehidupan bangsa ini harus terus melaju, karena la bukanlah sesuatu yang hampa, is bermakna. Makna hidup ini bermula dari sebuah visi kehidupan, harapan, dan wujud alasan kenapa seseorang hares tetap bertahan hidup. Dengan energi ini seseorang akan mampu mengatasi segala kesulitan yang hadir di depan mata. Tak perduli seseorang itu pesohor atau masyarakat umum biasa.Yang penting tentunya jujur dan selalu berprasangka baik. Dengan kejujuran, kita dapat saling mengenal dengan baik, mencari titik temu, walau pada akhirnya ada yang harus kita sepakati untuk tidak sepakat.

Beberapa aksi positif program nyata dari para caleg asal pesohor ini banyak yang sudah jelas didepan mata. Mereka menggiring program yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Seperti misalnya Nurul Arifin dengan aksi isu HIV AIDS, Quota 30% wanita pada parlemen, dan kekerasan dalam rumah tangga, Rieke Dyah Pitaloka dengan aksi isu penegakan hukum, pendidikan yang membuka pikiran, serta kesetaraan gender. Sementara penulis sendiri akan mengusung isu pemberdayaan seni dan budaya lebih optimal sebagai ujung tombak diplomasi dunia, mengurangi dampak kerusakan lingkungan terhadap kekerasan gender, pemberdayaan sumber daya perempuan dan anak secara umum khususnya mendorong pendidikan anak perempuan yang masih terasa sangat dianak-tirikan, ditambah percepatan pengembangan teknologi informasi bagi para keluarga yang memliki anak usia sekolah. Beberapa pesohor lainnya mengusung isu yang kurang lebih mirip, karena pada dasarnya kita semua memang mengingiiikan sesuatu yang juga mirip kalau tidak dapat dikatakan sama—Indonesia yang bangkit!

Penulis pun tiba-tiba teringat akan sebuah buku yang barn saja beredar di toko buku karangan Victor E. Frankl, "Logoteraphy" (2003). Pemikiran Frankl ini sangat menarik karena sangat berseberangan dengan pemikiran Sigmund Freud dengan Psikoanalisanya, serta cocok untuk melengkapi analisa isu didalam tulisan ini. Frankl yang hadir pada masa setelah Freud, mereka berdua mempunyai kesamaan tertank pada alam dan pengobatan neurosis. Bila Freud menemukan akan penyakir neurosis yang menyedihkan itu dalam kegelisahan yang disebabkan oleh konflik internal dan motivasi bawah sadar, sementara. Frankl melihat berbagai bentuk neurosis yang muncul pada pasien yang menderita kegagalan dalam mendapatkan makna dan rasa tanggung jawab dalam eksistensinya. Logoterapi yang ditawarkan oleh Frankl lebih mendekati teori aktualisasi diri dari Abraham Maslow—teori kebutuhan—dicintai dan mencintai, sandang, pangan, papan, dan aktualisasi diri.

Para pesohor adalah manusia biasa dengan segala permasalahannya. Mungkin juga dari kami ada yang menderita neurosis, dan butuh pemenuhan dasar sesuai teori kebutuhannya Maslow. Bahkan pada sebuah acara Angin Malam di RCTI yang menghadirkan Nurul Arifin dan Wanda Hamidah mantan pendukung partai PAN, di dalam kata-kata pembuka yang diucapkan oleh sang pembawa acara dengan nada menghafal sehingga tidak lancar dikatakan:"... konon dikatakan, para artis ini pada saat mulai kehilangan pekerjaannya, mereka mulai melirik pekerjaan politik." Penulis protes dan tidak setuju! Karena sesuai dengan apa yang disinyalir oleh Hegel sang filsuf, dikatakan bahwa pada pada puncak pemenuhan hidup seseorang, maka segala sesuatunya akan dikembalikan lagi kemasyarakat. Para pesohor yang, sekarang sedang berjejer menjadi caleg, penulis yakim masih memiliki penghasilan memadai yang melebihi dari sekedar gaji pokok serta tunjangan yang akan diterima sebagai legislatif dari negara—sebagai imbal balik menjadi wakil rakyat di kantor Senayan.

Dari beberapa nama yang sering muncul di media. rata-rata berusia tiga puluh lima tahun keatas, di mana sudah mulai mendapatkan tingkatan terakhir dari lima peringkat teori kebutuhannya Maslow—artinya kebutuhan dicintai dan mencintai. sandanp– pangan, clan papan telah selesai. Masalah aktualisasi juga sudah bukan masalah lagi, karena pernah dan masih populer sampai hari ini. Di atas sana masih ada kebutuhan transendental (kerinduan akan Ilahi) yang bersentuhan dengan kepekaan sosial yang tinggi. Hingga apa yang diucapkan oleh Hegel sangat masuk di akal. pada tahapan itu semua yang telah didapatkan oleh seorang pesohor/individu akan dikembalikan kepada masyarakat melalui pengabdian yang bersentuhan dengan kesalehan sosial. Berbarengan dengan sistim Pemilu yang terbuka sekarang ini, membuat kemungkinan partisipasi bagi siapapun di ranah politik menjadi terbuka. Kompetisinya bebas, langsung, sangat lokal yang berarti; siapa yang paling populer dan dikenal masyarakat di tempat pemilihannya maka ia akan kelihatan lebih dahulu. Memang sangat mungkin para pesohor ini akan menang dan melenggang secara leluasa lebih dulu dibanding para kandidat umum lainnya.

Jadi sebenarnya menjadi caleg "biasa", tidak perlu berkecil hati. Pada era budaya popular seperti sekarang ini, setiap orang mempunyai potensi menjadi terkenal. Ada dua pihak ekstrim yang terbuka—menjadi penyebar segala kebaikan sesuai ajaran moral spiritual, atau membuka busana atau menggoyang-goyangkan aurat di depan publik. Tentunya kita keberatan dengan pilihan yang kedua. Dari ruang diskusi Kaukus Perempuan Politik Indonesia kemarin, disimpulkan untuk menjalani pilihan pertama yang penulis sarankan ditambah dengan terjun langsung kemasyarakat bawah—tatap wajah, datang ke pasar yang banyak manusianya, dan melakukan usaha kissing the babies. Cara-cara yang di Amerika Serikat sudah dianggap klise ini sesungguhnya masih sangat efektif di belahan mana pun di dunia ini. Orang masih sangat terpana dengan sentuhan salaman, senyuman yang hangat, tatapan mata yang talus dan berangkat dari hati, serta ucapan-ucapan salam yang personal. Dengan pandangan mata ramah dan tatapan langsung, perkenalkan diri kita dengan menyebut: "Nama saya adalah..., saya caleg lho, nanti kalau saya terpilih saya akan membantu kesulitan ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian di DPR atau DPRD, dll." Sesungguhnya, sebagai caleg yang bukan pesohor yang menapak karir dari bawah, tidak juga perlu khawatir, karena ada BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Pemilu dengan cara langsung, terbuka, dan sangat lokal ini sebenarnya menguntungkan bagi kita semua orang-orang yang serius dan mau kerja keras. Karena bila suara atau dukungan pada saat pemilihan nanti banyak, siapapun dapat "membawa kursinya sendiri" dari rumah. Maksudnya sudah punya investasi dan bargaining position yang baik pada partainya masing-masing untuk masuk ke dalam urutan peci (di atas) pada Pemilu 2009 yang akan datang. Insya Allah demikian adanya.

Oleh: Marissa Haque Fawzi

Jakarta, 24 Januari 2004.

Entri Populer