Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)


Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)

Bintaro, Jakarta, February 21, 2004


Water is the source of life.

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.

If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.

According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
Tampilkan postingan dengan label Marissa Haque Fawzi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marissa Haque Fawzi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

"Mahfud MD Dihadiahi Marissa Haque Lagu Jujurkan Keadilan"

Headline

Mahfud MD - inilah.com
Oleh: Haris Supriyanto
Nasional - Kamis, 30 Juni 2011 | 22:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Diam-diam artis Marissa Haque yang juga mantan calon wakil gubernur Banten mengagumi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Karena itu, Marissa dan suaminya Ikang Fawzi menghadiahi Mahfud sebuah lagu, berjudul “Jujurkan Keadilan”.

"Saya kesini hanya untuk menyerahkan lagu yang sudah saya buat dengan Ikang," ungkapnya saat mengunjungi MK, Kamis (30/06/2011).

Menurut Ica, begitu ia akrab disapa, awalnya lagu itu ingin dibuat kenang-kenangan untuk Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kampus yang telah mengajarkan dirinya tentang ilmu hukum di Pascasarjana. "Namun, saat proses rekaman itu selesai, Pak Mahfud tengah didera berbagai masalah. Terutama perseteruan terkait kaus surat palsu MK," ujarnya.

Ica adalah salah satu mahasiswa Mahfud di kampus tersebut. "Saya kagum kepada beliau, selain karena dosen saya di UGM, saya percaya dengan sepak terjang beliau selama di MK yang tak kenal kompromi dalam menegakkan keadilan," sanjungnya.

Lagu berjudul "Jujurkan Keadilan" itu berdurasi 3 menit 50 detik. Lagu tersebut menyampaikan pesan agar keadilan harus berjalan di atas kejujuran, agar hukum di negeri ini bisa berjalan sesuai dengan tujuan ilmu hukum untuk memberikan keadilan bagi rakyat.

"Semoga ini (lagu), memberi motivasi kepada beliau, untuk tetap mempertahankan komitmennya menegakkan keadilan di negara ini." [tjs]

Sumber: http://nasional.inilah.com/read/detail/1656302/mahfud-md-dihadiahi-marissa-haque-lagu


"Mahfud MD Dihadiahi Marissa Haque Lagu Jujurkan Keadilan"

Selasa, 17 Mei 2011

Pertimbangan Illahiyahku: Marissa Haque Fawzi


Jumat, 18 Maret 2011

Cukup Sekali di Pilkada, Kini Marissa Haque Bercita-cita Jadi Hakim MK bidang Hukum Bisnis


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Marissa Haque menegaskan bahwa dirinya tidak akan terjun lagi dalam ajang pemilu kepala daerah (pilkada) di Banten. Menurut dia, keikutsertaannya dalam pilkada Banten beberapa waktu lalu cukup sebagai pembelajaran dalam hidupnya.

”Jadi saya ucapkan terima kasih kepada Pak Suhaemi mantan Kajati Banten yang telah mempercayai saya,” ujarnya “Mungkin waktunya kurang tepat,” tegas Marissa saat berkunjung ke kantor Republika di Jakarta Jumat (18/3)

Marissa menuturkan saat kini ia tengah berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan studi S2 nya di UGM di dua fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Bisnis. ”Fokus saya saat ini ke situ,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan cita-cita besarnya saat ini adalah ingin berkarier sebagai hakim di Mahkamah Konstitusi (MK). ”Saya melihat di MK saat ini belum ada Ahli Hukum Bisnis. Sembilan hakim di MK adalah ahli Hukum Tata Negara, Hukum Pidana dan Hukum Perdata. Belum ada dari Hukum Bisnisnya, yang nantinya spesialisasi insya Allah pada Hukum Ekonomi Syariah,” ujar Marissa.
Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Rep: Rahmat Santosa B
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/sengga…

Minggu, 10 April 2011

Setuju Musik Masuk ke Dalam Kurikulum: Ikang Fawzi & Marissa Haque



Jum'at, 04 Maret 2011 17:15 wib

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2011/03/04/373/431483/indonesia-butuh-kurikulum-musik

SURABAYA- Kondisi pelajaran musik di sekolah dasar hingga menengah atas kian memprihatinkan. Bahkan pola-pola pembelajaran terkesan monoton sehingga siswa tidak memahami musik secara pasti. Pelajaran musik di Indonesia hanya sebatas teori saja.

Hal itu disampaikan Ketua Music Teacher Association of Indonesia (MTAoI) Ivon Maria Pek Pien. "Pelajaran musik di Indonesia sangat jauh tertinggal dibanding luar negeri. Oleh karena itu, melalui MTAoI ini akan diperjuangkan agar terwujudnya kurikulum musik skala nasional," kata Ivon di sela-sela acara Open Piano Competition The 11th Galaxy International di Hotel JW Marriot, Jalan Embong Malang, Surabaya, Jum'at (4/3/2011).

Dia menambahkan, di Indonesia, sekolah musik selalu dicampurkan dengan sekolah umum. Beberapa siswa selalu dibebani dengan pelajaran musik yang hanya teori saja. MTAoI berencana menggulirkan kurikulum bagi perkembangan musik di Indonesia, yakni bagaimana menanamkan musik secara benar sejak dini. Kemudian, ketika siswa beranjak dewasa dapat menerapkan musik tanpa harus les privat lagi.

Ivon mengkritik, Indonesia tidak memiliki konservatorium, sebuah wadah untuk mencari bakat-bakat musisi. Di luar negeri, seperti di New York dan Eropa, konservatorium ini sudah melembaga. "Kabarnya sih akan ada pembangunan konservatorium di Indonesia. Sayangnya yang mendanai bukan pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah Belanda bekerja sama dengan kampus Widya Mandala Surabaya," ungkapnya. (rfa)(rhs)

Selasa, 22 Maret 2011

Marissa Haque Dianiaya di Dunia Maya kata FORGOS di detik.com

Siapa pelaku pengiriman berita ini di FORGOS di grup detik.com??? Jahat sekali oknum mereka itu ya? Biarlah di akhirat nanti mereka semua akan  menanggung energi buruk yang mereka keluarkan. 

Kami sekeluarga memaafkan anda semua!

Sumber: http://forum.detik.com/marissa-haque-merasa-teraniaya-di-dunia-maya-t231222.html 

Citra baik Marissa Haque sebagai seorang artis, politisi, dan ibu rumah tangga dirusak orang tak bertanggung jawab di dunia maya. Ia pun mengangap hal itu sebagai black campaign. Apa sebab?.

Diceritakan Marissa Haque, semenjak ia memberikan dukungan penuh terhadap Andre Taulany sebagai calon Walikota Tangerang Selatan banyak bermunculan gambar-gambar seronok mengatasnamakan keluarganya di dunia Maya. Ia pun menduga ada unsur politik di dalamnya.

"Itu kalau disearching nama Ikang di Youtube, pasti ada gambar esek-esek dengan judul namaku atau Ikang. Masya Allah. Ini kan semacam pembusukan karakter," ujar Marissa saat ditemui di kediamannya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (18/1/2011).

Ibu dua anak itu awalnya tak menyadari jika citra baiknya sudah teraniaya di dunia maya. Karena ia terbiasa memanfaatkan internet hanya untuk keperluan pekerjaan.

"Tadinya aku cuek. Karena biasanya aku buka internet hanya untuk riset. Ternyata pas diberitahu, aku coba searching, Dan itu cukup mengganggu," jelas wanita yang sempat mencalonkan jadi Wakil Gubernur Banten pada tahun 2006 lalu itu. (sumber: yahoo)

Marissa Haque Dianiaya di Dunia Maya kata FORGOS di detik.com

Kamis, 10 Februari 2011

Banten dalam 10 Tahun Gilang & Shahnaz Bersama: dalam Ikang Fawzi & Marissa Haque


10 Tahun Pernikahan Shahnaz Haque-Gilang Ramadhan: “Kalau Tidak Tahan, Anak Kami Bisa 24 Orang”

gilang-shahnaz-julian
Gilang Ramadhan & Shahnaz Haque (Julian/BI)
“PERNAH lihat orang Jepang bermata belo tidak?” celetuk Shahnaz Haque (38) sambil berpose dengan kostum kimono ala wanita Jepang.

Sang suami, Gilang Ramadhan (47) hanya tersenyum melihat polah istrinya. Beberapa detik kemudian, Shahnaz sudah berada tepat di samping Gilang yang asyik menguyah kacang.

“Kami sedang pacaran, lagi kencan,” ceplos Shahnaz tersenyum kecil.

Pacaran yang dimaksud Shahnaz dan Gilang, tentu saja menghabiskan waktu bersama tanpa diusik ketiga anaknya.
"Anak-anak kami sedang sekolah. Kami sering memanfaatkan waktu sempit ini untuk jalan-jalan,” ujar Gilang.

Kami meminta pendapat Gilang tentang penampilan istrinya saat itu. “Hmm... jadi nafsu nih, habis kamu seperti paduan cewek Jepang dan India sih,” Gilang tersenyum nakal.

Dibilang begitu, pipi Shahnaz memerah. Beginilah keseharian pasangan Shahnaz Haque-Gilang Ramadhan. Penuh keceriaan dan selalu mesra.

“Tidak terasa, Mei nanti pernikahan kami berumur 10 tahun. Akhirnya, sampai juga ya pah, enggak disangka,” Shahnaz tersenyum dan disambut tawa Gilang.

“Tapi Gilang bukan pria yang romantis. Dia tidak pernah memberi saya bunga, cokelat apalagi lagu. Dia hanya memberi saya tiga anak yang lucu-lucu dan mukanya mirip Gilang semua. Itu lebih dari cukup,” jawab Shahnaz ketika ditanya kado apa yang ingin ia terima dari Gilang di perayaan 10 tahun pernikahannya nanti.
“Jadi, kami tidak bikin perayaan apa-apa. Kita bikin anak saja yuk pah,” Shahnaz tersenyum manja. Suami-istri ini berbagi pengalaman mengarungi bahtera rumah tangga 10 tahun terakhir lengkap dengan lika-likunya.

Masa-masa Sulit di Awal Pernikahan
Merunut awal percintaan hingga rumah tangga mereka dianugerahi tiga bidadari cantik, Shahnaz bertutur pernikahannya pernah melalui masa sulit.

“Itu lumrah, setiap rumah tangga pasti mengalami itu,” bilang Shahnaz. Yang jadi perkara, Shahnaz-Gilang justru mengalami masa sulit di awal pernikahan.

“Di usia 29 tahun, saya sudah memilki segalanya. Punya rumah sendiri dan materi yang berkecukupan, pekerjaan dan gelar.. Saya tidak terburu-buru menikah karena itu bukan sesuatu yang mendesak. Tiba-tiba Allah mempertemukan kami dan saya benar-benar tidak bisa berkutik,” ungkap Shahnaz.

Itu yang jadi masalah. Meski Shahnaz yakin Gilang jodohnya, mengubah pola hidup yang sudah tersusun rapi kemudian hidup dalam satu atap tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Jelas ada perbedaan.

”Namanya juga rumah tangga, pastilah ada ribut-ribut kecil karena perbedaan pendapat. Menyatukan dua pribadi yang sudah matang itu sulit sekali,” bilang Shahnaz.
Untungnya itu tidak lama. Satu bulan menikah, Shahnaz hamil. Keadaan berubah membaik.
“Saya jadi percaya ungkapan anak bisa mempersatukan orangtua. Hubungan kami jadi dekat karena Gilang mengurusi kehamilanku,” sebut adik Marissa Haque ini.
Sejak Shahnaz hamil, Gilang melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Dari rocker menjadi pengasuh bayi.

“Salah satu yang bikin kami bertahan sampai saat ini, karena saya tahu dia sayang banget dengan anak-anak. Dia ikut temani aku bangun jam dua pagi ketika aku harus menyusui bayi. Malah, dia lebih telaten dari aku dalam mengurus bayi,” ungkap Shahnaz.

Yang dibutuhkan istri adaah sosok pria yang bisa melindungi dan merawat anak-anaknya. Gilang sudah lebih dari cukup memenuhi kriteria Shahnaz menjadi suami yang baik.
Jika anak bisa mempersatukan mereka, tak heran bila sebulan setelah putri pertamanya, Pruistin Aisha, Shahnaz hamil lagi.

“Awal-awal pernikahan kami sudah disibukkan dengan dua buah hati. Ternyata Gilang tokcer juga ya. Makanya, menikahlah dengan orang Sunda,” kata Shahnaz sambil terkekeh.
Giliran Gilang menimpali sambil menahan senyum.

“Mungkin, kalau tidak ditahan, anak kami bisa berjumlah 24 orang.”

Gilang Ramadhan: Poligami?
Era ’80 sampai ‘90-an, siapa yang tak kenal Gilang Ramadhan? Tabuhan drumnya mampu menyihir banyak wanita. Rockstar memang selalu identik dengan wanita.
Namun, apa yang membuat Gilang bisa setia pada satu cinta?

”Saya punya prinsip, satu saja pusing mengurusnya apalagi dua atau tiga,” kata Gilang menjawab apakah dia setuju poligami.

Ia membayangkan, jika dirinya menikah lagi, korbannya bukan hanya Shahnaz, tapi juga anak-anak.
“Yang namanya kasih sayang itu enggak bisa dibagi-bagi. Anak-anak pasti merasakan,” cetusnya.
Inilah yang menenangkan hati Shahnaz. Ia bersyukur, Tuhan menjodohkannya dengan Gilang.
“Saya pernah berpikir. Mungkin melamun. Banyak pasangan lain yang tidak sebahagia saya. Ada maasalah rumah tangga atau kelakukan si suami yang aneh-aneh. Di situ saya bersyukur memiliki Gilang. Dai begitu menyayangi keluarga ini. Bahkan, bisa dibilang, dia lebih takut menyakiti hati anak-anaknya ketimbang menyakiti hati istrinya sendiri. Itu yang saya kagumi,” urai Shahnaz.

Mereka berharap, usia rumah tangga ini tidak berhenti sampai bilangan sepuluh saja. Masih ada belasan dan puluhan tahun lagi yang harus dilalui.
“Setiap hari kami berusaha membenahi kekurangan masing-masing. Komunikasi itu poin yang amat penting untuk pernikahan ini,” sebut Gilang.

“Janji ya pah, jangan tinggalkan aku. Meninggalnya jangan cepat-cepat, nanti aku tidak ada yang menemani,” pinta Shahnaz diiringi anggukan kepala Gilang. Duh mesranya.
(jul/gur)

Sumber: http://www.tabloidbintang.com/berita/sosok/8819-10-tahun-pernikahan-shahnaz-haque-gilang-ramadhan-kalau-tidak-tahan-anak-kami-bisa-24-orang.html

Sabtu, 27 November 2010

Dugaan Pemilukada Tangsel 2010 dapat 'Support Khusus' dari 'Kandidat Khusus Tertentu': Marissa Haque Fawzi

OPINI Ragile | 19 November 2010 | 00:37 1633 125
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/19/marissa-haque-tentang-vina-panduwinata-dan-pilkada-tangerang-selatan/-12

Sumber foto: Dok Kompasiana Gathering 2009 by Edy Taslim (dari kanan: Ragile, Marissa Haque, Pepih Nugraha)
Setelah menghilang empat bulan Marissa Haque kembali posting di Kompasiana. Bunyinya sama dengan yang diutarakan kepadaku via Telepon dan SMS selama November sehubungan dengan meledaknya twitter yang menyebut-nyebut perseteruannya dengan Vina Panduwinata. Namun di mata saya Marissa (Icha) lain di alam nyata lain di alam maya. Bahasanya jauh banget bedanya deh. Kenapa Yah, mau tau?

Postingan dia kemarin di sini: Peduli Linkungan Lahir Bathin. Bicara tentang Kompasiana, Pilkada Walikota Tangerang Selatan dan Vina Panduwinata. Nampaknya terburu-buru menulisnya sehingga terkesan loncat-loncat. Semua itu dalam rangka menanggapi postingan Syaifuddin Sayuti Ada Apa Dengan Marissa Haque? Yang saya tangkap adalah: (1)Icha tidak suka dengan tingkah laku Vina Panduwinata ketika manggung bareng dengan Ikang Fawzi suami Icha, (2)Icha nulis dalam blog pribadi di blogdetik karena gagal menyelesaikan secara pribadi dengan Vina, (3)Icha tidak keberatan dan atau tidak terganggu dengan gaya pakaian orang lain sepanjang tidak mengganggu secara langsung rumah tangganya, (4)Reaksi keras pembaca adalah lebih kepada cara Icha menyampaikan keluhan itu, bukan pada substansi isi keluhan.

Ibarat sepakbola Icha suka maen gaya total footbal formasi 4-4-2 ala Belanda atau Kick and Rush gaya Inggris, keduanya attacking style. Selebihnya saya tidak tahu. Begitu juga tentang Pilkada Tangerang Selatan di mana Icha menyokong calon independent di luar parpol. Saya taunya ada rumor bahwa di sana telah ada semacam hegemoni oleh keluarga tertentu untuk menguasai jabatan strategis. Namum demikian soal politik tidak semudah yang kita baca di atas kertas. Maklum banyak intrik dan akal bulus yang alus-alus. Biarlah rakyat Tangerang Selatan bicara, mereka lebih tau.

Dua kali saya ketemu langsung dan ngobrol bareng dengannya. Sekali di Kopdar Kompasianan pas peluncuran buku Chappy Hakim berjudul Cat Rambut Orang Yahudi di Hotel Sultan Jakarta, Agustus 2009. Dan Di Tangerang pada acara Pemuda Integritas Tangerang Selatan (PITA) pada Juli 2010. Dua kali ketemu langsung dan ngobrol panjang lebar. Yup, jauh banget deh dengan bahasanya di dunia maya. Siapapun sulit untuk tidak mengatakan Icha sangat ramah, gaul, enak diajak bicara apa saja. Dan…. doyan ngobrol, hehehe…

Mudah-mudahan ke depan makin banyak interaksi dengan kompasiner makin bagus jalinan persahatan dan saling pengertian di mana Icha tak sungkan ganti gaya “maen bolanya” misal dengan gaya Samba Brasil yang paling banyak diminati di sini. Kebetulan aku suka film-film Marissa Haque dan juga demen lagu-lagu Vina Panduwinata yang cihuyy banget gaya “stakatonya”.

 ***

Salam Tuljaenak, RAGILE 19-nov-2010

Dari Engkong Ragile Sahabat Kompasiana.com yang Selalu Penuh Atensi: Marissa Haque & Ikang Fawzi

Sabtu, 15 Mei 2010

Berkaca pada Kejadian Luar Biasa di Banten: Tulisan Terakhir Marissa Haque Tahun 2006 di Radar Banten


Berdegup kencang rasa hati ini, saat menyimak kasus gizi buruk di negeri zamrud katulistiwa ini. Dari data Pertemuan Nasional Penanggulangan Gizi Buruk, yang dilakukan Kementerian Koordinator Kesra. Lebak memiliki posisi istimewa 4 besar nasional, ditemukan 248 kasus gizi buruk pada tahun 2005. Pada 2006 angka ini tentu bertambah banyak. Membuat hati ini trenyuh saja, 60 tahun kita merdeka ternyata belum juga membebaskan diri dari penyakit zaman penjajahan dulu. Kabut suram ini tentu mengancam masa depan Banten yang berniat mengubah diri, menjadi provinsi maju sejahtera di masa depan, lantaran gcnerasi anaknya, kini terancam suram akibat kesalahan fokus pembangunan yang hanya mengejar fisik saja. Melupakan aspek kesehatan jasmani dan ruhani penduduk.
Di Lebak, juga ditemukan "Kejadian Luar Biasa" (KLB) merebaknya penyakit polio. Sementara di Kabupaten Tangerang, tahun berselang ada KLB muntaber, penderita mencapai angka 382, yang meninggal 13 orang. Sungguh ujian dari penguasa semesta jagad. Tenryata bila ditelusur pangkal musababnya, hanya karena penduduk yang tinggal di pantura ini tidak mampu, atau tidak memiliki budaya, jamban dalam rumah. Mereka yang memiliki jamban hanya 8,6 % saja dari total penduduk. Di sini telihat bahwa peran Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi amat lemah. Padahal tentu saga dana sosialiasi sanitasi rumah sehat ada, tetapi menguap entah ke mana. Perilaku korupsi tercium nyata di sini, dengan dampak yang luar biasa. Lalu, demi urusan per-jamban-an, pemerintah kabupaten menguyur dana sebesar Rp 5 milyar, khusus untuk urusan bilik hajat sehat. Terlambat memang, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali

Tentu saja, ke.jadian ini tidak melulu kesalahan Bupati dan jajarannya, tetapi pemprov juga memiliki andil yang amat besar. Sebagai pemegang otoritas Dati I, mestinya di dalam cetak biru pembangunan mengutamakan skctor kesehatan masyarakat. Demi lahirnya generasi andalan Banten. Intensifikasi Program Kota dan Kabupaten Sehat, harus segera dilakukan demi penyelamatan Banten ke depan..

Pangkal sebab musabab, ternyata berakar dari taraf hidup yang rendah, akibat kemiskinan, tingkat pendlidlikan yang rendah (rata-rata tamatan SD), rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, dan kurangnya penyuluhan kesehatan khususnya pentingnya nilai kecukupan gizi bagi anak. Banyak sebab; tidak cuci tangan sebelurn makan, buang sampan dan ludah sembarangan, kebiasaan buang air besar di sungai yang juga tempat mandi dan cuci juga sumber air minum, kebiasaan minum air yang belum dimasak. .Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Tentu saja akibat minim atau tak adanya penyuluhan kesehatan bagi masyarakat.

Tak ada jalan lain, demi menghindari terjadinya KLB-KLB lain di belahan bumi Banten ini, pada tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya, penting kiranya, Pemprov/Dati I secara terpadu dan terencana, bersinerji dengan elemen birokrasi di Dati II untuk membuat sistem early warning system, sistem kewaspadaan isyarat dini, yang dapat melacak adanya gizi buruk atau polio dan penyakit lainnya melalui penimbangan massal anak. Program-program yang di masa lalu eksis, dan terbukti memiliki korceasi dengan masa kini, seperti Posyandu, Polindes, PPKBD, BKB, UPPKS dan SKPG. Juga PMT (Peniberian Makanan Tambahan) dan suplemen di TK dan SD, mendesak dilakukan. Harus ada upaya nyata yang dapat dirasakan jutaan anak Banten hari ini. Sekali lagi bukan dengan spanduk dlan baliho yang hanya membuang uang rakyat saja, dengan kemaslahatan umum yang tidak jelas pertanggungajawaban.

Agar tidak logo, kader Posyandu, harus memiliki honor yang memadai, sehingga kaum ibu yang secara pribadi memiliki kepentingan menyelamatkan anak dan lingkungannya, mereka dapat diandalkan menjadi ,garda terkahir, benteng penjaga Banten dari KLB-KLB yang menyeramkan, sekaligus mempermalukan di pergaulan nasional. Lebih-lebih internasional. Wajah bening, pecahan mutiara Indonesia harus bersinar dari bumi yang berakhlakul karimah ini.

Mulai sekarang pesan-pesan pejabat jabat yang memiliki kewenangan dan kompetensi di ranah kesehatan harus benar-benar fokus untuk mengusir KLB dari Banten. Pesan ringan soal gizi seimbang "4 sehat 5 sempurna", bahwa ketika makan, sebaiknya menu, terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur mayur dan buah-buahan, plus susu. Harus disiramkan di benak 9 juta warga. Demi generasi Banten yang bernas, berbobot, dan tentu saja sehat. Semua bisa bcrjalan melalui revitalisasi Posyandu, program, kader, dan sistematika gerakannya hendaknya dilakukan secara terpadu, terarah, tepat sasaran dan efisien. Tidak melulu seremonial pejabat, tetapi benar-benar gerkan akar rumput yang global dan serentak.persoalan KLB-KLB ini sungguh amat mendesak dituntaskan.

Intensifikasi Program Kola dan Kabuapten Sehat dapat dilakukan, melalui sinergi dan pcningkatan ekonomi keluarga dalam rangka ketahanan pangan di tingkat keluarga dengan peningkatan kewirausahaan. Lalu menggalakkan kembali kegiatan kesatuan gerak PKK KB Kesehatan, manunggal TNI KB Kessehatan, Bulan Bhakti Bhayangkara, program Jum'at Bersih dan sebagainya. Perlu juga dilakukan penelitian dan pengembangan terhadap pola serang dan mewabahnya penyakit.

Selain itu sesuai tuntutan otonomi daerah, Pemda, Propinsi maupun Kabupaten/Kota menyediakan anggaran untuk menunjang kegiatan Posyandu dan PMT (melalui APBD), perlu komitmen politis instansi terkait kesehatan di semua tingkatan, harus ada insentif dan bantuan modal untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Pemprov juga harus rajin menilai dan memberi apresiasi kepala daerah yang berhasil membina Posyandu di wilayahnya. Dipersiapkan kader penggerak kesehatan terlatih yang didukung dana operasional cukup. Mengembangkan system deteksi dini KLB Kesehatan. Memasukkan Posyandu ke dalam system kesehatan desa. Adanya jaminan ketersediaan pangan tingkat keluarga. Pendidikan dasar tentang gizi seimbang di masyarakat baik melalui jalur formal dan informal . Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Perlu dana untuk penelitian penyakit. Pekan Kesehatan Provinsi. Juga peningkatan program samijaga/MCK melalui Departemen PU. Serta Pengembangan pola anak asuh bagi anak keluarga tak mampu

Sesungguhnya di provinsi terkaya nomer 6 se-Indonesia ini, bila tak ada Korupsi! Baik itu korupsi data (gizi buruk, polio, demam berdarah, d1l), korupsi kewenangan para pemutus kebijakan, korupsi waktu bagi para penggerak di lapangan. Generasi Banten yang sehat, unggul, bijak lestari, Insya Allah ngejawantah. Korupsi telah menjadi virus mental yang menggerogoti anak negeri, di belahan bumi yang elok dan cantik. Mari kita sikat korupsi, secara bersama, elegan, melalui mekanisme hukum agar tak ada KLB-KLB yang mengiris hati ini lagi. Penderitaan wong cilik sudah cukup sampai di sini. Bila tak ada rasa takut di hati lagi, entah azab Allah apa lagi yang akan turun di bumi yang kita cintai ini.

Merdeka!

Banten dalam Global Climate Change: Marissa Haque Fawzi dalam Radar Banten 2006

25 NOVEMBER 2005
RADAR BANTEN

Setiap awan mulai pekat menjadi mendung kehitaman, saat guruh mulai sahut menyahut dan silau kilap petir saling menyambung, saat itu juga ketengadah kepala kea rah langit seraya mengucap mohon ampun serta doa tolak bala untuk seluruh eilayah penjuru Banten dan Indonesia, akan kemungkinan terjadinya bencana alam lagi di wilayah ini. Melalui sebuah kontemplasi yang dalam ketika membaca QS Ali Imran ayat 190-191, di dalamnya diberi penjelasan tentang penegasn terhadap fenomena alam sebagai aspek yang harus dimaknai manusia secara bijak. Surat dalam Al Quran ini m’menyentil’ pikiran kritis dan hati saya. Rasanya seakan menjadi sia-sia menjadi mahasiswa kelas Doktor (S3) pada Program Studi Lingkungan (PSL) di Institut Pertanian Bogor (IPB) bilamana saya tak mampu untuk turut nyaring menggaungkan peran besar seluruh warga Banten dan Indonesia untuk mau dan mampu terlibat di dalam pembangunan sekaligus mengawasi kondisi lingkungan hidup di wilayah kita tercinta dengan berbasis pada konsep sustainable development (Pembangunan Berkelanjutan/Berwawasan Lingkungan Hidup) dan Early Warning System yang wajib diketahui oleh seluruh warga Negara Indonesia, khususnya Banten

Lebak bagian selatan hari ini masih terus menangis. Saat pertama terjadinya bencana angin puting beliung yang saya baca melalui internet di Kampung Cigalempong, Desa Nameng Kecamatan Rangkasbitung. Dan mengetahui tiga pesantren di daerah itu – Ponpes Al Alifiah, Ponses Al Bayan, dan Ponpes Al Irfan – hancur diterjang angina putting beliung dan hujan deras. Langsung terbayang di benak wajah Bupati Lebak Pak Mulyadi Jayabaya, istri beliau dan Vi Jayabaya – sang gadius yang baru saja lulus sebagai Master dari Fakultas Pasca Sarjana bidang akuntansi dari Universitas Trisakti Jakarta. Walau kejadian ini tiba-tiba sempat menghambat arus lalu lintas ruas jalan raya Rangkasbitung-Cikande dan alur Kereta api Rangkasbitung, Jakrta, saya masih bersyukur bahwa tidak ada korban jatuh dalam cobaan ini Juga ketika warga setempat sempat dibuat panic dan prihatin akan bencana tersebut. Ada catatan kecil di benak ketika menelepon Pak Bupati Jayabaya dan mendengar aura suara yang walau berintonsasi sangat berat-prihatin namun beraura tegar-cerdas-tangkas. Ada setitik rasa lega dan kagum atas inisiatif spontan yang beliau lakukan. Langkah strategis awal telah dilakukan dengan baik. Bantuan logistic dan Pemprov langsung diturunkan. Publikasi dibuat sangat informative serta baik terkemas. Sebagai upaya antara, kita semua boleh menarik nafas lega. Tapi ibarat memangkas pohon pisang tanpa membuang akarnya, permasalahan sesungguhnya belumlah akan selesai. Wajib banyak yang harus kita pelajari secara holistic (menyeluruh), yaitu Global Cimmlate Chane (Perubahan Iklim Global) yang di Indonesia belum bergaung keras, apalagi di Banten. Padahal dunia di luar Indonesia, sudah diberikan pembelajaran gratis bagi seluruh warga negaranya terhadap Early Warning System (sistem peringatan dini) atas kemungkinan terjadinya perihal bencana serupa di seluruh sudut wilayah pantai di seluruh dunia dan pembangunan yang berbasis sustainable development. Dan wilayah Banten yang memiliki panjang total pantai hampir mencapai 573 kilometer wilayah panjang pantai yang sangat signifikan berpotensi terhadap bencana angin putting beliung – harus memiliki antisipasi dan kesiap-siagaan dalam menghadapi beribu bencana yang sangat mungkin mampir dalam kehidupan kita. Cobalah perhatikan curah hujan tinggi yang setiap hari belakangan mulai terus terjadi.

Pelajari musim yang mulai bergeser dari jadwal tahunan normal seperti yang biasa kita kenal. Maka bila kita semua tidak segera bertindak dengan cepat dan cerdas mengantisipasi kemungkinan ini semua saya khawatir hanya pennyesalan yang akan kita dapatkan - oleh karena tak serius melakukan persiapan.

Angin puling beliung dan debit curah hujan yang tak normal tidaklah terjadi dengan sendirinya. la adalah buah dari perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia yang menghasilkan lubang besar di lapisan ozon, di samping juga karena efek gas rumah kaca, meningkatnya emisi gas-gas beracun (antara lain yang paling banyak CO2/70%), pembabatan hutan secara massif di Amerika Latin dan Indonesia (penebangan liar /illegal logging yang mengabaikan sustainable development). Emisi yang diproduksi kawasan industri dunia ini juga berkurangnya pusat paru¬-paru dunia di kantong hutan-hutan tropis dunia, mencairnya es dikutub utara yang lelehannya membuat level air laut dunia meninggi, ketika industri maju dan manusia berkembang sesuai dengan zamannya, maka manusia dan dunia bermetamorphosa seperti kupu-kupu – berjalan berkembang dari awal zaman batu dengan hidup di goa-goa menuju zaman besi yang hanya mampu berburu hewan liar, melewati zaman pertanian dengan memasak memakai api dan membuat tembikar, terhenti sejenak di zaman industri, dan belakangan sampailah pada zaman teknologi informasi.

Hubungan manusia dcngan lingkungannya berbanding tegak lurus di dalam Kuva Kuznets -antara kerusakan dan pendapatan dalam nilai ekonomi. Simbiosis dengan alam, periode "mastery" terhadap alam, menuju material growth (output dan growth/efisiensi ekonomi). Dampak material growth ini adalah terhadap negara industri maju dan negara berkembang. Terjadi eksploitasi besar-besaran di tahun 1980-an yang biasa disebut sebagai the Lost Decade. Krisis hutan di Amerika Latin, peningkatan arus pengungsi, peningkatan jumlah penduduk, penipisan lapisan ozon, serta bencana Bhopal, Chernobil, dan Minamata di Jepang. Maka pada tahun 1983 WCED (Komisi Brundtland) memberikan respon terhadap degradasi lingkungan dan ekonomi ini, sehingga pada tahun 1987 terciptalah sebuah konsensus yang mengusung jargon Our Common Future dan Sustainable Development yang bermaknakan development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs. Pembangunan berkelanjutan mewajibkan: 1. Peningkatan kualitas hidup secara kontinyu, 2. Penggunaan sumberdaya alam pada intensitas rendah, 3. Meninggalkan sumberdaya alam yang baik bagi generasi yang akan datang.

Beberapa teknik pendekatan (approaches) Sustuinable Develeopment ada tiga. Pertama, pengenalan Pendekatan Lingkungan Hidup kepada masyarakat dimulai dengan pertama: a). Mengajarkan mereka untuk menjaga kelenturan sistem biology dan fisik terhadap perubahan yang mungkin terjadi, b). Mengajak masyarakat menjaga kelenturan dan kapasitas dinamis sistem Ekologi untuk beradaptasi terhadap perubahan bukan konservasi yang statis. Kedua, pendekatan ekonomi yang dapat dilakukan dengan cara mengajarkan: a). Konsep aliran pendapatan dengan modal terjaga, b). Kriteria optimal dan efisiensi ekonomi, c). Masalah valuasi ekonomi terhadap sumberdaya ekologi. Terakhir, Pendekatan Sosial yang dapat diajarkan melalui cara: a). People oriented (partisipasi dan keragaman), b). Menjaga kelenturan sistim dan budaya, c). Keadilan (equty), d). Pencegahan konflik, e). Mengakomodasi keragaman dan partisipasi dalam pembuatan keputusan.

Jangan terlambat melakukan antisipasi. Kita semua tanpa terkecuali jangan pernah mau terjebak dalam aliran konflik horizontal semisal melakukan intrik politik hanya untuk politik belaka, berfikir sekedar jegal-menjegal dalam kaitan merebut kekuasaan dengan cara tidak halal, sehingga melupakan hal yang paling esensil dalam memberikan pembekalan kepada rakyat Banten dalam mempertahankan hidupnya dari ancaman bencana alam dan lingkungan hidup. Banyak hal yang harus dipikirkan secara kontemplatif, yang tak cukup hanya sekedar bagi-bagi beras dan obat-obatan setelah bencana datang dan menganggap setelah itu, masalah menjadi beres dengan sendirinya. Berpikir serta bertindak secara parsial seperti masa lalu itu, per hari ini suclah menjadi obsolete (usang). Sudah wajib ditinggalkan. Harus pro-aktif melakukan terobosan modern. Tak cukup rasanya bila kita semua bersemunyi di balik kata: "Biasanya dulu..." Lakukan terobosan yang cerdas, dekati teknologi mutakhir yang tak selamanya berharga mahal. Mencegah terjadinya bencana alam adalah lebih baik dan juga lebih murah. Buka buku, buka internet, baca ... dan baca ... ber-iqro-lah kita semua. Jangan malu bertanya kepada ahlinya. Bergurulah dengan para scholars (ilmuwan/akademisi). Bangun masyarakat yang berbasis pada Knowlede Base Society. Rakyat akan menjadi scmakin cerdas, kritis, yang pada akhimya mampu menunjang kinerja positif Pemda setempat, karea pada dasarnya setiap manusia dikaruniai Allah kemamuan bertahan diri dan sekaligus beradaptasi. Banyak hal di sekeliling Banten yang sesungguhnya telah berahad usia menjadi guru kearifan tradisional yang sekarang mulal terpinggirkan/terlupakan. Tengokkan wajah kita pada kearifan tradisonal masyarakat Baduy-Dalam. Pelajari filosofi kearifan lokal mereka yang sangat indah itu. bukalah Al. Quran Surat Ar Ra’d (Guruh) ayat I I yang bercerita tentang kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa yang tergantung pada sikap dan tindakan mereka sendiri. Dikatan di dalamnya: "... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri..."

Karena itu bangkitlah para saudara dan saudari Bantenku. Jadilah peserta aktif dalam penyelamatan lingkungan hidup dlan masyarakat di Banten ini. Pelajari sekaligus kearifan lokal masyarakat asli Baduy-Dalam. Ambil inisiatif pembelajaran klasik mereka di dalamnya. Bukalah kitab suci anda semua, temui kebenaran di dalamnya. Maka ketika ‘anak-anak pohon pisang' bencana tadi datang, is segera tumbuh lagi dengan cepat, tak semakn banyak dan subur, tak memakan korban yang banyak, karena kita semua telah siap menghadapinya berdasarkan ilmu Allah yang telah kita serap sehagian untuk menghalaunya. Jadilah bangsa yang mau bela.jar dari kesalahan masa lampau. Bacalah kisah-kisah para sahabat para rasul dan bersegeralah terapkan di tanah Banton kita tercinta ini. Mari kita buktikan bersama apa yang tertulis di dalam QS Ar¬ Ra'ad ayat 11. Jadilah para Kekasih Allah sejati.

Allahu Akbar, Merdeka!

Jangan Memulai Sesuatu dengan Langkah Kotor: Marissa Haque Fawzi di Radar Banten 2006


Bulan yang baru saja lewat, ketika datang khabar dari Afrika Selatan, serasa mendengar petir di siang bolong. Innalillahi wa innaialihi ro.jiuun... Selamat jalan wahai Kekasih Allah, Bapak Ramadhan KH, Papah Tutun demikian panggilan sayang kami. Seorang wartawan, penyair, sastrawan, sejarahwan, penulis biography banyak orang besar Indonesia (termasuk mantan Presiden kedua RI, Soeharto), Ayah Mertua adik bungsu saya yang bersama Shahnaz Natasja Haque, Ayahanda adik ipar saya Gilang Ramadhan, serta salah seorang guru spiritual dan guru dunia tulis menulis saya selama ini. Kita semua telah kehilangan salah seorang putra terbaik bangsa ini.
Memiliki Nama lengkap sebagai Ramadhan Kartahadimaja, di dalam menulis karya-karyanya, terutama roman sejarah, beliau pandai menggali fakta-fakta dan nilai-nilai perjuangan bangsa ini. Papah Tutun sangat pandai merumuskan pikiran-pikirannya di dalam pemilihan frasa dan diksi yang sangat memikat. Hasilnya adalah: sajak, puisi, novel atau bahkan biography komplit tersusun rapi untuk disajikan kepada para pecinta dunianya. Papah Tutun adalah seorang sangat committed, mendedikasikan hidupnya pada dunia yang telah sadar dipilihnya menjadi jalan hidupnya. la berdisiplin sangat tinggi tapi sekaligus seseorang yang sangat santun serta lembut bahasanya. Satu yang tak-kan pernah terlupa bahwa beliau itu sangat tegas di dalam pendirian ketika beliau khusus menelepon saya dari Afrika Selatan ke rumah di Bintaro sebelum kondisi dirinya benar-benar drop adalah: "Benar kata Naz kamu mau mencalonkan diri jadi Gubernur Banten? Sudah siap kamu tidak akan korupsi dan mengabdikan dirimu sepenuhnya menjadi pelayan rakyat?" Sudah yakin hatimu tak akan goyah melihat orang-orang di sekitarmu bergelimang dengan kekayaan `palsu' yang diambil dari hak rakyat?" Jujur saya terpana saat mendengar kata-kata beliau yang bak mitraliur itu. Saya akhirnya dengan santun mengatakan kembali via telpon kepada beliau, "Pah ... sampal dengan hari ini tangan anakmu masih bersih, dan saya ingin selamanya demikian, juga saya bersedia menjadi pelayan rakyat Banten, untuk susah senang bersama mereka." Kemudian satu kalimat cukup panjang yang tak akan pernahsaya lupakan sampai kapan pum: "Marissa, ... jangan pernah mermulai sesuatu dengan langkah kotor. Insya Allah kamu akan diselamatkan-Nya di dalam melangkah di dunia maupun ke akhirat kelak." Malamnya setelah perbincangan terakhir itu saya tak dapat tidur. Dan dalam keheningan malam diiringi suara jangkrik di musim penghujan membuatkan secpotong pusisi pendek untuk beliau yang kemudian saya kirimkan via handphonenya di Afrika Selatan. Puisi itu berjudul "...dan Kelopak Bening itu Mengalirkan airnya."

Setiap mengenang kata-kata terakhir Bapak Ramadhan KH, menambah rasa hormat saya pada beliau. -Ketika pikiran melayang lagi kebelakang, teringat saat Lebaran dua tahun lewat, saat kami anak-beranak bercanda bersama di ruang belakang rumah Bintaro saya. Kami semua tertawa sangat seru ketika ingat bagaimana para cucu Papah Tutun (termasuk anak-anak saya) seringkali tak mau bersih-bersih diri sebelum tidur. Maka pembicaraan beralih pada saat kedua orang tua kandung kami masih_ hidup dulu dan menyambung cerita tentang bersih-bersih diri.

Ternyata kita semua masih ingat saat kita kecil dulu sebelum tidur, ketika panra orang tua kita menyuruh mencuci tangan, kaki serta sikat gigi. Semua itu dikarenakan mereka ingin agar anak-anaknya memulai tidur serta nantinya bertemu dengan 'Kekasilitiya' (God the All Mighty) dalam kondisi bersih. Bersih diri sebelum tidur, bersih hati sebelum memejamkan mata, bersih pikiran dengan harapan siapa. tahu saat tidur nanti dapat menjumpai Rasulullah Muhammad SAW. Bila kita kaitkan semuanya dengan kondisi sekarang ini di Banten, Tuhan...,mampukan kita semua berbersih-bersih diri?

Untuk kebersihan di Lingkungan Hidup, paling tidak secara nasional KLIJ (Kementrian Lingkungan Hidup) sedang menyelesaikan RUU Sampah. Ranah Banten yang sebagian masih terbalut sampah telanjang yang mengundang penyakit, dapat berharap mendapat dampak positif bilamana RUU nanti telah menjadi UU dan dapat membuat Banten paling tidak dapat sedikil terbebas dari sampah yang terbuang liar di mana-mana. Menteri Lingkungan Hidup Rakhmat Witoelar menyatakan telah menyelesaikan draft RUU Penge1olaan Sampah ini. Draft UU itu sekarang telah ada di DPR dan menurut informasi terakhir telah mendapatkan persetujuan dari Presiden. Bahagianya hati ini ketika mendengar berita dari teman yang berada di Komisi Lingkungan Hidup DPR RI Jakarta.

Di bidang korupsi, hmmm ... bersih-bersih korupsi kita dibandingkan dengan di Beijing, China, seharusnya kita wajib iri. Di sana (dan juga dapat diakses dari Indonesia), semua warga dapat dengan mudah menyaksikan sebanyak 400 (empat ratus) orang koruptor yang gambar serta identitas dirinya dipublikasikan via internet. 160 orang menyerahkan diri dan 240 ditangkap. Hebatnya, semua kegiatan bersih-bersih itu mampu dilakukan Beijing, China hanya dalam, waktu 2 (dua) bulan saja. Dan para koruptor yang teramankan itu ternyata baru 10% saja dari yang mereka lacak sejak setahun yang lalu (Radar Banten, Rabu 29 Maret 2006). Pelacakan diawali dengan mempublikasikan 4000 (empat ribu) nama-nama para koruptor yang dibidik pada situs internet yang didesain khusus untuk keperluan tersebut. Hasilnya luar biasa. Masyarakat yang telah muak meresns publikasi di jalur maya tersebut dengan memberikan tambahan informasi keberadaan beberapa koruptor yang pada akhirnya sangat membantu kinerja para aparat penegak hukum. Hasilnya sangat menggembirakan karena sebanyak 400 (empat ratus orang) berhasil dilacak dan ditangkap.

Sukses menangkap di Beijing, China ini memang bukanlah perrkara yang murah. Karena untuk beberapa kasus, pemerintah China harus mengeluarkan dana lumayan besar. Ada beberapa kasus yang membutuhkan dana CNY 1 juta (sekitar Rp 1,1 miliar) atau lebih besar lagi menurut Wu Heping, Jubir dari Kementrian Keamanan Masyarakat China. Juga termasuk memberikan imbalan bagi sang pemberi informasi tadi tentang buronan yang dicari dengan imbalan CNY 3 ribu (sekitar Rp 3,3 juta).

Bagaimana di Indonesia dan di Banten? Menurut Harian Kompas, Sabtu 17 Desember 2005, karena biaya penyidikan kasus korupsi sangat minim, maka pemberantasan korupsi dari audit APBD 65%. BPK baru memeriksa 283 (dua rates delapan puluh tiga) laporan keuangan daerah dari sekitar 460 (empat ratus enam puluh APBD) dari total Provinsi, Kabupaten dan Kota dengan 896 (delapan ratus sembilan puluh enam BUMD di dalamnya. Pemerikasaan mencakup jumlah anggaran Rp 360,8 Triliun,-, sementara cakupan pemerikasaan sebesar 340,2 Triliun,-. BPK memberikan pendapat `tidak wajar' atas sepuluh laporan keuangan daerah dan `tidak memberikan pendapat' atas enam laporan keuangan daerah (Kompas, Sabtu, 17 Desember, 2005).

Hasil temuan BPK yang mencolok baik adalah yang terkait dengan pembayaran tunjangan, honorarium, insentif, dan bantuan keuangan sebesar Rp 497,3 miliar kepada para Pimpinan dan Anggota DPRD, Kcpala Daerah berserta wakllnya, juga masing-masing Sekda yang banyak sekali tidak sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan. Hasil ini ditemukan pada 16 (enam belas) propinsi termasuk Banten dan 142 Kabupaten serta Kota di seluruh Indonesia (Kompas, Sabtu, 17 Desember 2005). Dije1askan lagi di dalam temuan BPK tersebut adalah, terdapat pengeluaran sebesar Rp 476, 68 miliar yang belum dipertanggungjawabkan. Di luar itu terdapat juga realisasi belanja di 16 Provinsi (termasuk Banten) dan 123 Kabupaten dan Kota senilai 590,6 millar yang tanpa dilengkapi dengan bukti (fiktif), tidak jelas peruntukkaannya, serta menyimpang dari ketentuan.

Rasanya memang Pemerintah Pusat sudah . selayaknya menambah anggaran penyidikan Kepolisian dan Kejaksaan jika memang kita semua serius memberantas tindak pidana korupsi. Biaya penyidikan per kasus yang diterima Kejaksaan dan Kepolisian hanya sekitar Rp 2,5 juta,- (dua setengah juta). Sungguh angka ini tidak rasional. Tak mungkinlah Kejaksaan maupun Kepolisian untuk mengusut serta mengejar para korupstor di Banten maupun di seluruh Indonesia yang sudah semakin canggih modus operand i nya. Bahkan Kang Ruki (Taufikurrachman Ruki) Ketua KPK pun menimpali dengan mengatakan, "Saya kasihan pada Kepala PoIri dan Jaksa Agung, bagaimana bisa tuntas mengejar para koruptor bila biaya penyelidikan hanya sebesar Rp 2,5 juta,- per kasus (Kompas, Selasa, 4 April 2006). Sementara untuk Banten pada acara lepas Sambut Kapolda lama dan baru kemarin Bapak Kombes Timur Pradopo berjanji akan menuntaskan kasus korupsi yang ada di wilayah Banten. Langkah ini diambil sesuai dengan instruksi Kapolri Jenderal Susanto ketika melantik sejumlah Kapolda di Mabes Polri bebeapa hari yang lalu.

Kami juga berharap agar seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan informasi kepada kami bila memang melihat adanya indikasi korupsi," kata Timur Pradopo kepada wartawan,usai lepas sambut di Mapolda Banten, Rabu (21/12).

Dia meminta kepada seluruh LSM maupun masyarakat untuk memberikan informasi kepada aparat untuk mernberikan informasi kepada aparat kepolisian mengenai adanya dugaan korupsi. Nantinya, informasi itu akan ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian."Mari kita bekerja sama. Masyarakat diminta untuk mengontrol bila ada dugaan korupsi, sehingga kita bisa melakukan penanganan untuk masalah tersebut," katanya. Bilamana kita semua memang benar-benar ingin rnelihat Banten menjadi Serambi Madinah dan mengedepankan ukhuwah (persaudaraan) yang telah dipraktekkan Rasulullah Muhammad beserta para sahabatnya, menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar, dengan gaya persaudaraan yang sangat indah dan sejuk. Sistem persaudaraan itu mencapai puncaknya dengan itsar atau sikap, yang lebih mengutamakan saudaranya sendiri ketimbang dirinya sendiri. Hal ini digambarkan di dalam. QS Al Hasyr ayat 9.

Jadi demi Banten yang benar-benar dapat bersih-bersih ke depannya, kebersamaan, saling mengasihi, saling asah, asih dan asuh di dalam program bersih-bersih ini terutama khususnya di dalam hal anti korupsi dapat dengan ringan kita semua bersama lakukan tanpa harus hanya menggerutu di belakang. Bahkan Papah Tutun (Bapak Ramadhan KH) di alam sana' tentunya akan dapat tersenyum melihat Banten sudah mampu berbersih diri karena semua merasa perlu untuk terlibat di dalamnya. Seperti pesan terakhir beliau kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Adnan Buyung Nasution dan Nina Pane via telepon, "Buyung, jangan pikirkan saya, pikirkan Indonesia, nasib bangsa kita ke depan." Begitu Pula mirip yang dikatakan beliau kepada saya, Icha, jangan pikirkan saya, pikirkan nasib Banten kita ke depan, saya titip rakyat Tatar Sunda Jawa Kulon kepadamu." Ramadhan KH, seorang pejuang, seorang budayawan tanpa tanda bintang jasa, ia adalah sosok yang patut kita teladani. Ia patut dicatat dengan tinta emus di dalam deretan para tokoh sejarah di Republik ini. Selamat jalan, Pah…semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Allahu Akbar, Merdeka!

Marissa Haque Fawzi, SH, MHum For Radar Banten, April 10, 2006

Indonesian Cinematic Art Stumbel and Surge: by Marissa Haque Fawzi for World Paper New York

Indonesia’s Cinematic Art Stumble and Surge


World Paper, New York, USA June, 2001

By. Marissa Grace Haque

A Graduate Student of School of Film, an Indonesia Actress, is in Residence at Ohio University

Indonesia as a country among many countries in the world, cannot escape of the effect of globalization. More specially, the Indonesia film industry is influenced and shaped by the cultures and trends of many other nations. This assimilation necessary and positive for progress and increased quality as long as an individual maintains his/ her own touch, so to speak. This process is guaranteed by the fact that our world grows smaller everyday and the boundaries that once existed are no more.

The father of Indonesia film, Mr. Haji Usmar Ismail, was the first Indonesia artist to graduate from the .School of Film at the University of California Los Angles as early as the 1940s. Generations to follow in the 1970's were strongly predisposed to Russian production style and technique with Indonesian graduate from Moscow University such as Syumandjaja and Amy Priono.

Many artists to follow, Producers and Directors are products of Indonesia education and training. Their work, also distinguished, is colored by local wit and wisdom. A result of their efforts has been "Eclutainment" or educational entertainment for the Indonesian citizen.

The only trouble with this is seen ;n the extremely small ratio of these artists in relation to the population of Indonesia., which far exceeds 200 million. If the love of money is the root of all evil it has also been the demise of the film industry in Indonesia. Many Directors viewed the production of movies as a monetary printing press,

The typical Indonesian film left nothing for the vie'*'ina Dublic-, there was no moral messaae and no real meaning. l3v the end of 1960s the film industry has stagnated and come to screeching halt. The Indonesia government further stifled the industry's creativity and

--quality, and the differences from one film to the next became almost impossible to discern. It was a frustrating time for the movie-going public and even exasperating for those production teams that sought to create.

In 1990s gave us Garin Nugroho. As a young man, he graduated from University of Indonesia with a degree in Law and attended Indonesia's Institut Kesenian Jakarta (Indonesian Art Institute). Garin Nugroho was determined to create new standard, and in the mid-1990s he began work. Nugroho presented an Eastern European style of production. Many Indonesian viewers did not understand this style of production and found the storylines difficult to follow, but his works have been honored (and have placed) at almost every international film festivals in which those have appeared.

Toward the end of 1999, a group of young Indonesian film graduates that, to date, do not wish to be identified with other movie production teams, came together to produce. They represent the new techno generation, seeking something new and different from all who came before them, and it is known to Indonesians today as the movie Kuldesak. This independent production team used a grassroots style marketing strategy throughout production. The film smacks of Quentin Tarantino. The theme song from this movie was also honored by MTV at the MTV awards 2000 in New York.

The year 2000 was phenomenon for Rivai Riza (Film Director), Mira Lesmana and Triawan Munaf (Co Producers) with their award-winning production Petualangan Sherina or the Adventures of Sherina. The British honored this production with the presentation of the British Chavening Award Scholarship to Riza. This is only logical because Riza finished his Master of Arts in screenwriting at a British Institution in 1999. Riza is rich with British style.

What do we see in the future of the Indonesian film industry? What style do we hope will prevail? There are so many possibilities, but that which cannot be denied and is clear to even those who would close their eyes is that American films are shown on every channel of Indonesian television and fill Indonesian theatres. In this lies an undeniable answer.

We are also aware that American film is a collection of assimilations from across the world. Thus we come full circle of globalization and interdependent world in which we live. We will, each and every one of us, learn from all of those around us without exception, if we hope to progress. This is a continual process that will go on for as long as we breathe.

Menjadi Burung Ababil: Marissa Haque Fawzi (20 November 2005)

Radar Banten 20 November 2005



Radar Banten, 20 November 2005

Kala saat mengaji tak sekedar mengucapkan kata, ketika setiap lantun ayat menoreh sebalut rasa perih di dada, andai AI Qur'an Surat Al Fiil ayat 1-5 benar-benar dihayati kemudian dijalani oleh para pemberi keputusan serta mengajak seluruh masyarakat di Banten, rasanya pertolongan Allah akan turun dalam kurun waktu yang tak lama lagi. QS. Al Fiil (Gajah), adalah Surat ke 105 di dalam juz ke 30 yang diturunkan di Madinah, pendek saja hanya total lima ayat. Tapi berisi filosofi yang luar biasa terlebih khususnya saat kita merenungi nasib Banten kita tercinta di kurun limat tahunan menjadi provinsi baru ini.

Pertemuan kekeluargaan yang sangat akrab bersama Komandan Kopasus Kota Serang Bapak Teddy Laksamana beserta Ibu Reny istrinya, memaksa saya untuk membuka kembali kitab suci Al Quran beserta terjemahannya. Melakukan kontemplasi dalam untuk benar-benar memaknai bahasa methaporical yang luar biasa tinggi di dalam. kitab suci kita ini. Di dalam Al Quran dan Terjemahannya (Transliterasi Model Kanan Kiri. Assalaman. Semarang: 2000), dikatakan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu lelah bertindak terhadap tentara gajah? 2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka untuk menghancurkan Ka'bah itu sia-sia? 3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. 4. Melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah yang terbakar. 5. Lalu menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat. Yang dimaksud dengan tentara bergajah adalah tentara yang dipimpin oleh Abarahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekah, tentara tersebut diserang sekelompok burung surgawi yang melemparinya dengan batu¬-batu kecil berapi yang banyak sehingga menusnahkan pasukan tersebut.

Sebelumnya saya bertanya lebih jauh di saat pertemuan tersebut di atas, terbiasa berekspresi jujur, saya mengugkapkan langsung kekaguman saya kepada kehalusan budi Pak Teddy. Juga mengenai betapa luar biasanya beliau sebagai seorang Komandan Kopasus – yang biasanya berkesan luar `angker' dan sangat dekat dengan gerakan 'malam adalah gelap' itu – terhadap hal-hal yang biasanya hanya dapat ditangkap oleh hanya para hamba Allah yang bermata hati bening saja.

Tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan sederhana saya, Pak Teddy mengeluarkan photocopy dari sepenggal puisi yang dibuat bersama oleh Neno Warisman dan Miing Bagito dan pernah, disampailkan setahun yang lalu pada acara HUT Kopasus di Kota Serang. Alhamdulillah, langkah para sahabat lama saya, para pekerja seni Kekasih Allah ini, telah terlebih dahulu singgah di hati Pak Teddy dan keluarganya di tanah Banten. Puisi mereka selain indah juga memberikan penguatan, pencerahan hati terhadap rasa frustrasi yang seakan tak kunjung selesai bagi hamba Allah lainnya yangmerindukan masa depan Banten yang lebih mempunyai harap dan martabat. Andai saja kita seluruh warga Banten mampu mengetuk hati masing-masing serta membayangkan akan hadir di hadapan Allah menjadi Kekasih-Nya, maukah kita menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah untuk membereskan Banten tercinta ini?

Burung Ababil terbang dan berkelompok, ia tidak sendirian! Mereka adalah sebuah methapor yang menunjukkan bahwa satu orang manusia saja tidak akan pernah mampu mengubah Banten. Negeri Banten butuh sepuluh, seratus, seribu, bahkan sejuta orang berhati haik, bersih serta lurus lulus untuk mengenydiwilhkan kezholiman di wilayah ini. Kehidupan material spiritual masyarakat di Banten scdang sakit akut. Pengobatan alternatif sangatlah dibutuhkan bagi perilaku korup yang sudah berurat akar terjadi dihampir setiap lini birokrasi pemerintahan. Di Jakarta, pemerintahan pusat telah mulai menggalakkan kebhinekaan institusi yang mengerucut menjadi tunggal, yang diarahkan kepada masalah korupsi. Salah satu indikator terpentingnya adalah terungkapnya sindikat peradilan di tubuh Mahkamah Agung. Penangkapan dan pemeriksaan lima pegawai MA meyakinkan bahwa aroma penyuapan yang tercium selama ini mulai terkuak membentuk bukti. Sebelumnya, di televisi rakyat menonton persembahan acara beberapa dosen dan guru besar terkenal dari universitas ternama Jakarta ditangkap dan diadili atas tuduhan korupsi dana KPU. Tanpa disadari dari sana terjadi sebuah dampak psikologis yang tidak menggembirakan, yang semakinn lama semakin nyata ketika kita sernua melihat bahwa para koruptor dapat tersenyum lepas tanpa beban didepan publik dengan rasa malu yang seakan telah terkebiri! Saya pribadi masih merasa sangat khawatir bila daya tarikan magnetic budaya korup membuat banyak warga Indonesia secara kesuluruhan merasa pesimis akan terbentuknya budaya good governance. Tak terkecuali di Banten.

Bersyukur hari ini saya berhasil menyelesaikan bacaan dari sebuah buku pengantar filsafat ringan untuk persiapan sebuah seminar semi ilmiah tenting "Pengaruh Budaya Pemikiran Nicollo Machiavelli pada Peta Perpolitikan Indonesia" di Surabaya. Sehingga langsung mendapatkan ‘Aha moment’ bagi perbandingan cara pandang para pengikut ajaran Machiavelli (Machiavelians) dan kaum spiritualis – apapun agamanya. Sehingga kurang lebihnya saya mampu membuat peta hati nurani pada masyarakat di Banten ini. Machiavelli mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu berpontensi buruk, apapun pasti akan dilakukan sejauh dapat mengantarkan kepada keberhasilan material. Bahkan sebagian dari kita tentunya tidak asing lagi dengan istilah dalam baliasa Latin homo homini lupus (manusia adalah serigala terhadap manusia lainnya). Berbeda dengan penjelasan dalam kitab suci Al Quranul Karim, dikatakan manusia sebenarnya berpotensi baik. Bilamana mereka sedang menjadi orang jahat, sebenarnya `hanya' karena mereka sedang tidak tabu atau lalai. Tercekat rasanya kerongkongan ini. Ya Allah, alangkah indahnya berislam. Alhamdulillah besar rasa yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu cinta ilahi. Kebutuhan transendental adalah kebutuhan yang tak terelakkan bagi semua hamba Allah di muka bumi ini – cepat atau lambat datangnya. Memang banyak yang cepat mendapatkan pencerahan, tapi tak kurang yang tertatih-tatih sampai tua masih mencari jalan agar selmnal di dunia maupun di akhirat.

Allahu Akbar! Ketika saya menyaksikan di banyak kesempatan bahwa pada dasarnya setiap manusia normal tak dapat meninggalkan suara hati terkait dengan pengenalan perilaku baik-buruk. Erich Fromm membagi suara hati menjadi dua bagian -- suara hati otoriter dan suara hati humanistik. Mereka yang bersuara hati humanistik melakukan perbuatan baik murni karena dorongan pribadi. Biasanya semboyan yang mereka pakai adalah 'saya melakukan apa yang seharusnya memang wajib ddilakukan.' Akan tetapi mereka yang memiliki suara hati otoriter terpaksa berbuat baik karcna tekanan/desakan dari luar. Dan kelihatannya desakan dari luar ini memang wajib kita bersama lakukan untuk menekan mereka para pembuat/pengambil keputusan yang hanya berpikir menebalkan kantong pribadi mereka.

Pada dasarnya suara hati masyarakat di dunia banyak yang otoriter termasuk juga di Indonesia dan di Banten. Karenanya untuk unsur desakan dari luar ala Erich Fromm tadi, kita wajib menyambut positif dibentuknya KPK/Komisi Pemberantasan Korupsi yang diketuai oleh Kang Ruki/Bapak Taufikurahman (panggilan akrab suami saya terhadap beliau yang ternyata masih mempunyai hubungan tali kekerabatan di Banten). KPK menjadi penting, karena pengawasan berkorelasi kuat dengan pembentukan pemerintahan yang bersih. Termasuk juga Integrity Award yang belum lama ini diberikan kepada Khairiansyah Salman dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mempunyai aura kuat bagi role model spirit besar masa depan dalam upaya pemberantasan korupsi yang lebih progresif di Indonesia secara umum dan Banten pada khususnya. Tidak ada solusi yang benar-benar 'tokcer' seribu persen pasti berhasil cepat dalam pemberantasan korupsi ini. Ada sebuah pendekatan gaya Behavioristics popular dengan pemberian contoh (modeling) melalui shock therapy yang menekankan pada pola hukuman rewards (ganjaran) and punishments (hukuman). Sehingga manusia akan menghindari aksi yang berakibatkan hukuman dan hanya menjalankan segala sesuatu yang hanya berdasarkan aturan hukum positif yang berlaku. Tapi pendekatan Behavioristics yang diimpor dari Amerika Serikat ini di banyak tempat dibelahan dunia tidaklah juga benar-benar mampu rnemangkas masalah korupsi sampai ke akar-akarnya. Kebanyakan baru sebatas rnemangkas pohon pisang besar, tapi tak lama anak-anak pisang bermunculan kembali di permukaan.

Karena itu upaya pencegahan sangatlah juga penting untuk dilakukan. Di AS tradisi spiritual antarlintas agama mulai dilaksanakan, mereka menamai ilmu tersebut sebagai Psychology Transpersonal. Di dalam ilmu ini, dimensi bawah sadar yang dipahami sebagai praktek terapi alam bawah sadar rintisan Sigmund Freud membuka salah satu jalan bagi terapi problema korupsi dapat diterapkan untuk tanah Banten. Freud menekankan, bahwa keberhasilan terapi tidak berhenti pada hanya sekedar tabu belaka, akan tetapi sebuah ekspresi yang wajib mampu ditransfer ke dalam sebuah aksi sosial! Dikaitkan dengan masalah korupsi di Banten ini, menurut Freud tak cukup kita hanya sekedar tabu bahwa korupsi di Banten itu buruk, tapi haruslah sampai pada ekspresi muak terhadap korupsi (Yohanis F LA Kahija, Kompas Oktober 2005).

Pemberdayaan dunia bawah sadar mampu menciptakan aneka perubahan penting dalam perilaku manusia. Bila benar bahwa corak masyarakat di Banten bersifat asketis, maka pendekatan sejenis ini tidaklah sulit diterapkan. Jalan yang sebenarnya kita tempuh adalah menyadarkan (awarness) atau memperluas dimensi sadar mengenai pengethuan korupsi beserta seluruh implikasinya ke dimensi bawah sadar (gudang ingatan bawah sadar dan pengalaman korupsi) menuju dimensi spiritual (kesadaran pribadi yang penuh akan keburukan korupsi). Maka sangat baik bagi kita semua saat kita mengaji di rumah atau sedang sholat sholat lima waktu bahwa kita memiliki QS Al- Fiil yang sangat pendek tapi memiliki esensi dalam bagi pengikisan budaya korupsi dari kehidupan kita dan keluarga di rumah. Ajaklah mereka semua untuk menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah yang kini wajib bersegera menyelamatkan Banten dari tangan¬-tangan manusia sejenis Abrahah Gubernur Yaman saat itu. Mari kita lindungi bersama Banten kita tercinta ini. Jadillah burung Ababil Allah...

Allahu Akbar, Merdeka!

Kopi dan Kenangan (dalam Marissa Haque untuk Majalah Noor/Daur Ulang)

CERMIN JIWA N-02

Jakarta, Februari 2004
Daur Ulang di Radar Banten pada Tahun 2005

Kalimat itu selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Seperti menikmati aroma kopi…

Hari ini, hari Minggu. Masih suasana liburan Lebaran. Hari-hari terakhir sebelum aku akan kembali ditenggelamkan oleh segudang target kehidupan dan masa depan. Termenung aku duduk di Mushola-ku. Semilir bau tanah basah bekas hujan semalam. Bunga Kembang Sepatu merah tua seakan menyapa selamat pagi untukku yang sedang enggan mandi pagi. Kupandangi kursi tua yang kududuki, warisan ibuku. Kuraba sarung jok di bawah kimono katun yang kupakai. Rasanya baru saja kuganti seminggu sebelum lebaran, tapi entah kenapa getaran kuno dari kursi tua ini selalu melambungkanku pada suatu masa kebersamaan yang hangat. Masa-masa yang terekam kuat di bawah sadarku. Orang-orang yang dekat di hati, yang telah pergi sebanyak satu generasi. Ayah, ibu, dan keluarga besar ibu yang kukasihi.

Masih teringat di benak saat kecil, kami berempat – Shahnaz adikku yang bungsu belum lahir- mama, papa, Soraya dan aku berlibur dari pelosok kota kecil di Plaju- Baguskuning, Palembang , tempat papa bekerja sebagai karyawan pertamina, menuju Bondowoso, Jawa Timur, kampung masa kecil almarhumah ibuku.

Sepanjang perjalanan dengan pesawat Fokker F-28 yang saat itu sudah terasa mewah, kami terbang lebih dulu ke Jakarta, transit di Surabaya, lalu diteruskan melalui perjalanan darat melewati daerah pantai Pasir Putih, dan akhirnya sampai di Bondowoso. Kami menginap di rumah besar orang Belanda, istri kedua sepupu eyang putriku. Karena tak memiliki anak dari perkawinannya, beliau menganggap mama dan semua sepupunya sebagai anak sendiri. Dan perjalanan ini menjadi istimewa, karena tak lama setelah liburan kami, Oma Belanda itu meninggal dunia.


Aroma Yang Memanggil

Ada benang merah yang membuat aku flash back kepada masa lalu. Tekstur kursi tua yang aku duduki warisan almarhumah ibuku dari rumah Belanda di Bondowoso, dan aroma kopi tubruk dari cangkir yang aku genggam. Aroma ini sangat mirip dengan rekaman masa lalu bawah sadarku. Aroma yang memanggil-manggil. Ah, … wangi kopi! Bagaimana mungkin aku mengacuhkan keberadaan kopi, karena sejak diperkenalkannya di Bondowoso saat aku kecil, aku selalu ingin tahu lebih jauh. Bukan hanya karena suka akan rasa dan aromanya, tetapi kepada hikayat cerita yang melengkapinya. Membawa aku berkelana jauh ke masa ratusan tahun lalu.

Oma Belanda ini sangat paham sejarah dunia terutama soal kopi. Beliau sangat tahu nama-nama jenis kopi yang ditanam serta dibudidayakan di sekitar rumah besarnya. Ya, beliau dan suaminya yang orang jawa Timur, adalah pemilik lahan luas perkebunan kopi di Bondowoso saat itu.

Masih teringat bagaimana aku sambil terkantuk, duduk bersandar di bahunya, mendengar dengan seksama cerita-cerita yang memikat. Oma menceritakan bahwa selain di Bondowoso, biji kopi juga bisa didapatkan dari berbagai perkebunan lain di tanah air. Antara lain dari Aceh, Medan, Toraja, Timor Timur, dan dari tetangga Bondowoso, Jember . Sedangkan kopi yang terbaik dari Bondowoso adalah yang sudah dimakan Musang dan keluar bersama kotorannya. Biji-biji kopi yang merah tua disimpan dalam karung-karung goni di gudang selama 5- 7 tahun. Setelah itu dijemur di bawah sinar matahari yang terik selama 5-7 jam, kemudian ditumbuk, disangrai, lalu digiling halus.

Wah, bahagianya aku dapat membayangkan seluruh proses produksinya. Bahan informasi awal inilah yang membuat aku hari ini bersiap-siap “pulang kampung” ke Bondowoso kembali. Bernostalgia tentang keberadaan lingkungan perkebunan kopi kini karena belasan tahun lalu terkena land-reform , serta melihat kemungkinan membuat film dokumenter tentang Kopi Arabika asal Jawa Timur.


Resep Oma

Cerita Oma semakin memikat. Apalagi setelah diperkaya hikayat perdagangan yang dilakukan orang-orang Belanda di Nusantara sebelum Oma lahir, kerjasama yang berat sebelah oleh Kompeni, orang-orang bumi putra yang merebut kembali kekuasaan atas tanah ulayat milik adat, serta percintaan “terlarangnya” dengan eyang kakung yang tidak utuh kuserap karena usiaku yang masih belia. Kuingat, Soraya sudah lama terlelap di kasur lebar, di kaki Oma Belanda bersama para sepupu lainnya.

Oma juga membagi resep mengolah kopi. Baginya usaha kopi sangat kaya seni. Karenanya seluruh proses produksi di luar pembudidayaan kebun, dipegangnya sendiri. Ia berprinsip, menjual kopi harus fresh. “Cara” baginya sangat penting, dan jumlah bukanlah bidikan pertama. “Setiap kesalahan berproses adalah proses belajar itu sendiri,” kata Oma. Kalimat itu pula yang selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Karena belajar itu asyik, kita harus proaktif mendatangi beberapa pakar, tidak malu bertanya, serta menjalin silaturahim dengan siapa saja yang bermurah hati untuk membagi ilmunya. Karena menurut beliau, di dunia ini tidak banyak orang ikhlas yang tulus mau berbagi ilmu kepada sesamanya.

Dan detik ini aku lupa, belum menyiapkan sarapan pagi untuk keluargaku. Bik Inah, pembantu yang sudah puluhan tahun ikut keluarga besarku masih pulang kampung. Saat ini sebetulnya saat yang tepat untuk mengeskpresikan rasa cinta pada keluarga melalui perut. Salah satunya dengan menuangkan kopi dalam cangkir-cangkir keramik kesayangan. Yang sedikit besar untuk Ikang, suamiku. Untuk ukuran sedang untuk mertuaku, ayah Ikang. Anak-anak menyukai rasa kopi dengan campuran Mocca Cream dalam mug besar.


Aroma Kopi, Aroma Cerdas

Aku ingin menciptakan suasana cerdas di meja makan. Sambil menikmati secangkir kopi diskusi ringan mengalir tentang apa saja. Tentang headline koran hari ini, politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Bila diskusi tidak nyambung, ya tidak apa-apa. Yang penting adalah membina kebiasaan mengutarakan pendapat dengan cara yang santun dan terasah. Mertuaku yang mantan Diplomat karir biasanya menjadi mentor informal. Jadi, bagiku kopi bukan sekedar minuman belaka, tapi juga perekat tali emosi di dalam keluarga.

Sementara di luar rumah, aku juga sering memilih Coffee House atau Coffee Lounge sebagai tempat bertemu walau sekedar social chart demi menyambung silaturrahim. Lebih serius lagi, sering pula menjadi tempat membina pertemanan dengan relasi bisnis.

Kopi memang selalu menarik. Semenarik harumnya yang selalu membuat orang mau tak mau, walau sekedar untuk menghirup aromanya, menyita minimal satu dan dua detik untuk menikmatinya.

Aroma kopi bagiku, adalah aroma cerdas dan elegan.

Wanita di Perpolitikan Indonesia (dalam Marissa Haque untuk Harian Republika, Suplemen Jawa Barat/Daur Ulang di Radar Banten)

Harian Republika, Suplemen Jawa Barat


Jakarta, 14 February 2004

Oleh: Marissa Haque Fawzi

Sewaktu saya berada di Ohio University, Athens, USA, April 2002 yang lalu, di tengah udara segar awal musim semi dan mekarnya bunga Cherry Blossom, di tengah rasa sedih yang berkecamuk karena rasa rindu yang sangat menggigit pada suami dan anak-anak serta kesendirian yang membeku, melalui internet saya membaca sebuah tulisan kutipan dari speech Ibu presiden RI Megawati Soekarnoputri mengenai kaum perempuan yang tidak boleh cengeng untuk meminta quota 30% dan sebaiknya harus terus menerus mengasah dirinya demi kemajuan agar siap bersaing dan merebut peluang yang ada. Saat itu hati nuraniku berteriak di antara setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa kesempatan untuk maju bukan dengan mengemis berikut kecengengan yang biasanya menjadi stigma pada sifat kaum perempuan, akan tetapi dengan merebutnya.

Namun di lain pihak saya tidak setuju dengan pernyataan beliau tersebut di atas, karena jumlah 30% suara adalah merupakan jumlah minimal yang harus didapatkan bila kaum perempuan akan memperjuangkan sesuatu. Saat itu saya merasakan adanya getaran “amarah” dari teman-teman aktivis perempuan di Indonesia dari tempat tinggalku di kota kecil Athens, AS yang berjarak setengah belahan bumi dari Jakarta sehubungan dengan pernyataan tersebut di atas. Akan tetapi sebagi seorang mahasiswa pasca sarjana, saya berusaha memahami latar belakang alasan yang membuat Ibu Megawati mengeluarkan pernyataan demikian.

Saya kemudian meneliti serta menelusuri jejak langkah sejarah Ibu Megawati dari kecil hingga kemudian mulai berpolitik saat usianya berkepala empat. Saya memperoleh beberapa catatan dan membuat sejumlah hipotesa, bahwa dengan garis hidup yang tidak terlalu “ramah” padanya, beliau dengan berjuta upaya berusaha mengarungi kendala “melenyapkan” hambatan the glass ceiling (May Ling Oei Gardiner, 1997). Ibu Mega saya lihat sangat sabar serta mampu menahan diri sampai dengan keberadaan di posisi sesungguhnya — yang memang merupakan takdirnya — sebagai orang nomor satu di Indonesia saat ini. Kehadirannya sebagai politisi muda dimulainya atas dorongan Taufik Kiemas sang suami—sesuai wawancara yang saya lakukan dengan Pak Taufik — saat Ibu Mega memasuki usia matang empat puluh tahun. Dari orang yang tersingkirkan sebagai korban dunia politik, beliau, sang suami, serta beberapa teman yang dekat dihati berhasil melalui berjuta rintangan yang menghadang. Ada sebuah babak yang tanpa terasa melukai rasa gender sensitive saya ketika pada tahun 1999, PDI Perjuangan, partai yang dipimpin Ibu Mega ketika berhasil menjadi the ruling party ternyata tidak mampu menghantarkan beliau menjadi Presiden Republik Indonesia saat itu karena dianggap menyalahi kaidah agama yang melarang seorang perempuan menjadi Presiden. Yang menggelitik adalah, ketika belum genap dua tahun saat presiden yang berkuasa saat itu dianggap harus turun jabatan. Dengan kelompok yang sama, mereka kemudian mencari-cari ayat yang berbeda dari kitab suci yang sama, mencoba meyakinkan masyarakat bahwa perempuan sebenarnya ”layak juga” sebagai pemimpin nomor satu sebuah negri. Saya melihatnya ibarat sebuah komedi panggung zaman Dardanela. Saya yang ketika itu masih teramat sangat apolitik, kemudian merasa terketuk untuk turut serta meyumbangkan sesuatu bagi negeri tercinta Indonesia dan Presiden perempuan pertama negeri ini—Megawati Soekarnoputri.

Maka ketika setelah kembali lagi ke Indonesia untuk mengambil cuti kuliah—sebagai seorang istri dan ibu dari dua gadis remaja saya berusaha menyeimbangkan waktu antara kuliah di Amerika Serikat dan mengurus keluarga di Indonesia—dan kembali lagi ke Athens, Ohio guna menyerahkan studi independen membuat beberapa film iklan dan dokumenter, begitu mendengar bahwa rombongan Presiden RI akan datang ke New York untuk mengikuti KTT disana, tanpa berpikir panjang dengan dana saku yang pas-pasan khas layaknya seorang mahasiswa sayapun langsung terbang dari Columbus, Ohio menuju New York. Targetku hanya satu; mengusung obsesi lama membuat film dokumenter mengenai tiga orang pemimpin negara perempuan ditengah pro dan kontra. Mereka bertiga yang saya agendakan untuk diliput adalah; Megawati Soekarnoputri, Aung San Su Kyi, serta Gloria Macapagal Aroyo. Tentu yang pertama-tama aku akan kejar adalah Presidenku lebih dulu!

Sesampainya di kota New York yang memiliki biaya hidup sangat termahal untuk ukuran AS, saya tinggal dirumah beberapa keluarga Indonesia yang menerima saya dengan tangan terbuka. Beberapa yang dapat disebut adalah; keluarga Andy Rahmianto (PTRI-DEPLU) beserta Ismi istrinya, Mas Inil dan Windy istrinya di Pocono, Ustad Samsi Ali beserta istri dan keluarga besar Masjid Indonesia NY, mbak Mimi Louis (KJRI-NY), dan mbak Aisha di New Jearsy. Tak lupa tentunya sahabat setiaku di Columbus dan Athens yang sering menemani disaat suka dan duka; Mas Syarif dan Ira istrinya, serta Rinalda Radjab dan Ziad Akir sang suami yang asal Palestina. Ada sesuatu yang sampai hari ini aku sesalkan, yaitu tidak sempat singgah dan menginap dirumah kakak kandung mas Riri Riza, sutradara muda terkenal Indonesia pembuat film Sherina—Bang Mamat dan Heather istrinya.

New York dengan sejuta pesonanya tidak mampu membuat aku bergeming dari tujuan awalku—menemui Presiden perempuanku. Aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri penampilan beliau di PBB, aku ingin mengabadikankannya melalui camera DVCam Sony PD 150 ku, aku ingin membuat beberapa still photos dari kehadiran beliau ditengah para pria pemimpin dunia asal negeri maju.

Singkat kata, aku berhasil melihat penampilan Ibu Megawati di Asembly Hall-UN. Juga turut menyaksikan beliau duduk dan bercakap-cakap dalam sebuah meja bulat bersama George Bush, Koffi Anan, Jaques Chirac, dan beberapa pemimpin dunia lainnya—beliau satu-satunya perempuan saat itu. Ibu Mega memakai kebaya warna ungu tua dengan kain dan selendang batik sutra warna coklat dengan motif yang ada unsur ungunya. Rasanya saat itu aku bangga sekali mempunyai seorang Presiden perempuan. Dan entah datang dorongan darimana, saat itu juga aku langsung mengatakan didalam hati, “… I’ve got to support this lady anyway". Dari niat akan mengusung protes akan ungkapan beliau tentang quota 30% yang tidak didukung sejak aku membaca berita tersebut melalui internet di Athens, Ohio, sampai pada akhirnya aku jadi berniat mendukung program beliau pada penghujung masa sisa jabatan dengan membantu turut berkampanye untuk PDI Perjuangan di tahun 2004 ini. Siapa yang menyangka pucuk dicinta ulam tiba, ketika tanpa diduga keesokan harinya, ketika aku sedang meliput di depan The American-Indonesian Chamber of Commerce aku dihampiri oleh Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang menyampaikan salam dari Bu Mega dan mengajak untuk bergabung dengan partai PDI Perjuangan. Kelihatannya beliau terkesan dengan sejumlah pertanyaan yang aku utarakan saat tatap wajah bersama beberapa wakil mahasiswa Indonesia di AS (PERMIAS) dari seluruh penjuru AS—berisi tentang perlunya film dan seni budaya sebagai ujung tombak diplomasi Indonesia yang sangat lentur.

Kalau sekarang gaung 30% caleg perempuan sangat keras gemanya, belakangan aku sadari seribu persen bahwa itu adalah buah dari upaya perjuangan Megawati Soekarniputri sebagai Presiden RI perempuan pertama melalui salah seorang pembantunya—Ibu Sri Rejeki sang Menteri Muda Urusan Peranan Wanita didukung partisipasi beberapa LSM, KPU (Ibu Nurul Mar’iyah) dan masyarakat Indonesia secara luas. Tak menutup mata andil yang maha dahsyat dari peran media cetak, televisi serta radio dalam proses pensosialisasiannya.

Belakangan kita semua sedang menghitung mundur hari H pemilu 2004 yang sudah didepan mata. Sebagai salah seorang caleg perempuan dari PDI Perjuangan, saya merasa betapa amat pentingnya kita semua membantu kaum perempuan—melaui nantinya—kebijakan-kebijakan yang “ramah” bagi perempuan, anak dan keluarga secara menyeluruh. Wanita diharapkan lebih mampu untuk lebih berperan dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan isu-isu yang berpengaruh pada kehidupan mereka. Saya meyakini bahwa Ibu Megawati hari ini masih sangat menjadi sumber inspirasi bagi banyak kaum perempuan untuk segera berprestasi dan mengambil posisi kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing laki-laki, apalagi bermusuhan. Karena kita perempuan Indonesia bukanlah seperti mereka di Barat. Disini, kami para perempuan saya yakini hanya ingin mendapatkan kesempatan yang memang merupakan haknya, ingin menjadi mitra sejajar para pria yang juga dekat dihati mereka. Siapapun perempuan itu, saya, anda semua, lintas suku, agama dan ras. Karena itu saya memilih PDI Perjuangan yang saya yakini dapat mengakomodir Indonesia yang multikultural dan kepentingan perempuan pada khususnya. Insya Allah demikian adanya.

Rebranding Banten: Hijrah Menjadi Serambi Madinah (dalam Marissa Haque Fawzi)


Dalam Radar Banten, 2006 Awal


Selamat Tahun Baru Islam saudara-saudariku sekalian. Marilah kita semua tanpa terkecuali berhijrah menuju Cahaya Keselamatan Abadi di dunia maupun akhirat. Setiap tahun ummat Islam di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Hijriah berdasarkan lunar system. Sistem penanggalam ini ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khatab yang ditandai dengan dimulainya hijrah Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah ke Yatsrib yang kemudian diubah menjadi Madinah. Pengubahan nama dari Yastrib ke Madinah dalam bahasa Modern Marketing adalah Rebranding. Mengapa perlu diubah? Hal ini disebabkan karena diperlukannya semangat baru bagi turning point akan peristiwa penegakan kebenaran oleh Rasulullah kepada pengikutnya (Masjid, 1994:112).

Semenjak peristiwa hijrah ini, rebranding atas langkah dakwah Rasulullah Muhammad SAW tak semata ditargetkan hanya demi pembentukan jiwa individual, akan tetapi mulai beranjak pada pengaturan masyarakat. Rebranding menurut seorang pakar marketing - Kafi Kurnia – bukanlah semata hanya menempelkan sepotong logo/nama baru. Akan tetapi ia mengubah seluruh tatanan sistem serta sikap mental individu yang terdapat di dalam koordinasi serta administrasi internal sebuah institusi. Seperti misalnya setelah hijrah di Madinah, Rasulullah Muhammad langsung meningkatkan perjuangan dengan membentuk masyarakat politik. Politik ganti nama jelas terlihat saat sepenggal nama Yastrib diubah menjadi Madinah al-Rasul atau Madinat al-Nabi yang maknanya adalah: kola tempat peradaban, kehidupan beradab, berkesopanan, tempat dengan hukum yang dipatuhi oleh seluruh isi warga negaranya, serta seluruh warga yang beraneka ragam dapat hidup teratur toleran serta damai sejahtera.

Apakah Provinsi Banten selama lima tahun ini yang kondisi penegakan hukum, sosial, dan ekonominya belakangan ibarat air di daun talas (tidak pernah firm), mampu melakukan rebranding serta hijrah dari kegelapan menuju lebih baik seperti hijrahnya Rasulullah Muhammad dari Makkah ke Madinah? Banten yang hari ini tertinggal jauh, harus mampu memompa dirinya menuju masyarakat madani. Menurut perspektif piagam Madinah, di mana ditunjukkan masyarakat beradab seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, adalah dengan menetapkan pembentukan sistem politik yang madani — sistem yang tertib, seluruh warga memiliki hak serta kewajiban yang sarna di dalam mengikuti tata tertib bermasyarakat serta bernegara. Langkah berikutnya adalah Rasulullah Muhammad SAW membentuk sistem sosial dengan mempersatukan seluruh warganya yang berlainan agama, sehingga walaupun berbeda mereka saling menghormati dan mampu hidup berdampingan secara damai. Kaum Islam yang mayoritas saat itu menjadi pelindung kaum minoritas.

Selain hijrah secara fisik seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW, hijrah sebenarnya menurut KUBI dan KBBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia) dapat diterjemahkan kurang lebih sebagai: pindah, migrasi, transforimasi, reformasi ke arah yang lebih egaliter dan demokratis. Langkah hijrah mejadi semacam ideologi yang bermakna vision (plus orientation) and programs. Kaitannya di Banten, kegiatan sosial, ekonomi, dan politik masyarakatnya telah memberikan tekanan-¬tekanan yang berakibat pada beberapa gejolak yang kita semua ketahui terjadi belakangan ini. Indonesia dan Banten sedang berada dalam situasi yang kritis serta kronis. Mozaik kehidupan berbangsa dan bernegara menyajikan suasana kehidupan yang penuh intrik dan konflik. Kebangkrutan moral, korupsi, manipulasi, dan politisasi merasuk sampai sendi-sendi terdalam kehidupan masyarakat. Selain itu brand atau cap/merek dari wilayah Banten yang selama ini melekat adalah dekat dengan kemiskinan, keterbelakangan serta juga premanisme, sehingga diisukan banyak investor yang enggan masuk disebabkan pertimbangan pada poin yang terakhir disebut di atas.

Ketika hari-hari terakhir ke mana pun wajah kita tolehkan yang kita saksikan adalah kepalsuan, kebohongan, kepura-puraan, kerakusan, ketamakan, kehausan akan kekuasaan dengan menanggalkan segala peradaban yang diridhoi Allah SWT. Secara pribadi kita semua wajib melakukan hijrah dengan memperbaiki segala sifat dan sikap minor kita dan mengantinya dengan situasi yang lebih positif. Contoh paling konkret adalah saat saya dan sahabat baru saya Tb Iman Aryadi meninjau wilayah rawan banjir di empat kecamatan – Sukaresmi, Pagelaran, Carita, Patia - Kabupaten Pandeglang. Setelah meminta izin kepada Bupati Pandeglang Pak Dimyati, ditemani dua OKP (Organisasi Kepemudaan) KNPI dan GMNI kami langsung ke lokasi terjadinya banjir. Bahagia hati ini saat berdialog langsung dengan masyarakat setempat serta, empat orang Camat, empat orang Kades (Kepala Desa) bahwa mereka telah mengusulkan upaya penyodetan dua buah sungai -- Cilember dan Ciliman – tapi sejauh ini belum ada realisasinya.

Inginkah kita semua melihat brand atau cap/image baru Banten agar menjadi lebih lentur dan ramah bagi siapa saja khususnya para investor agar menanamkan modal sebanyak-- banyaknya bagi Banten? Dan setelahnya dapat menambahkan embel-embel Serambi Madinah di belakang nama Banten? Duh... inginnya hati ini, semoga saja menjadi kenyataan.

Allahu Akbar, Merdeka!

Senandung Sendu Satu Sore (Marissa Haque Fawzi)

Serang, Banten, 5 Novemver 2005

Masjid Agung Lebak dan Istiqomh binti Haji Didi asal Rangaks – teman kuliahku semasa di Ohio University, Athens, Amerika Serikt – mewarnai salah satu dari tiga puluh hri bulan Ramadhanku yang baru saja berlalu. Buku dan Perpustakaan Keliling adalh tema besar acara yang kmi usung bersam abagi warga kaum duafa Kabupaten Lebak.

Di tengah maraknya bantuan PKPS-BBM dari pemerintah serta ramainya bantuan sembako dari warga yang masih lapang rizkinya untuk warga yang belum beruntung, kami tak melihat ada sedikit pun kepeduliaan pada aspek ‘gizi’ yaitu faktor kognisi bangsa. Tak perlu saling menyalahkan memaang, karena sesuai dengan hirarki kebutuhan dasar manusia berdasarkan Abraham Maslow, kebutuhan akan pangan/sandang/papan, panganlah yang paling utama harus dipenuhi. Baru kemudian kebutuhan lain mengikuti seperti rasa aman, aktualisasi diri (yang menyangkut unsur kognisi di dalamnya dan lain sebagainya.

Banten dan dunia perbukuan memang terlihat belum ada sinergi yang harmoni. Pernah satu hari hati ini terasa sangat miris, saat membaca sebuah tulisan pendek dari seorang manajer Kedai Buku Jawara Rumah Dunia dari Kampung Cilang, Serang Banten bernama Aji Setiakarya yang mengungkapkan alsana kuat dibukanya rumah baca Bernama Rumah Dunia di serang Banten. Keprihatinan sang pemilik beserta jajaran pengelolanya membentuk sebuah energi besar yang memicu mereka untuk menularkan kebiasaan baca yang boleh dibilang masih sangat minim semangat, ‘Suka Baca, Melek Ilmu, dan Dunia dalam Genggaman,’ mirip dengan moto yang diusung oleh Rumah Dunia milik salah seorang penulis favorit keluarga kami bernama Gola Gong itu. Ya, Amerika Serikat memang bukanlah surga. Akan tetapi di negeri maju yang berjarak separuh perjalanan bumi dari Indonesia itu banyak memberi pelajaran hidup serta kearifan bagi siswa dan sisiw manca Negara yang belajar di sana. Bahkan secara mengejutkan banyak sikap hidup islami yang ternyata dapat juga dipetik. Beberapa di antaranya seperti membaca, etos belajar, etos kehidupan social, etos kerja professional, serta etos menjai pemenang dalam persaingan ‘sehat’ layak untuk kita tiru. Yang tak kalah menarik adalah kemampuan mereka dalam cara pengelolaan sampah rumah tangga dan juga kepedulian pada masalah social welfare yang luar biasa. Keberpihakan bagi warga yang kurang beruntung/masyarakat penyandang cacat, orangtua, perempuan hamil, anak kecil, dan lainnya pun rasanya harus kita bedah dan pelajari secara serius.

Buku untuk sebagian besar wilayah di Banten, belumlah di rasa sebagai sarana kebutuhan primer semisal untuk transfer informasi dan ilmu pengetahuan. Perpustakaan sebagai sarana awal berkembangnya dunia pustaka, di Banten masih terhitung oleh jari. Hanya perpustakaan milik Pemda yang berlokasi di Jalan Saleh Baimin, Serang yang koleksnya agak lumayan lengkap. Namun agak disayangkan tidak sedikit koleksinya yang ternyata telah out of date, alias sudah agak kadaluwarsa, tanggal, bulan serta tahun terbitnya. Sementara demi ekbernasan sebuah jurnal, artikel ilmiah, lima tahun berselang dari tanggal penerbitan sudah dapat dikatakan ketinggalan zaman atau usang (obsolete). Faktor kenyamanan ruangan di di Perpustakaan Pemda itu pun terasa harus perlu ditingkatkan lagi. Sampai hari ini diskusi-diskusi ilmiah serta kebiasaan intelektual terlihat masih hanya beredar di sekitar suasana kampus dan taklim di masjid belaka. Sementara secara luas budaya mengkaji belum terasa menjadi bagian dari kegaitan masyarakat. Bahkan penerbit besar seperti PT. Gramedia, selama lebih dari lima puluh tahun Indonesia merdeka, dan hamper lima tahun Banten menjadi provinsi, belum terlihat membuka cabangnya di Banten.

Allah SWT pernah berfirman tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, keculai bangsa itu berusaha mengubah sendiri nasibnya. Maka membaca buku menjadi salah satu kewajiban atau harga mati yang tak dapat ditawar lagi bagi siapapun di dunia yang meninginkan perubahan. Untuk Banten, di bulan yang suci kemarin ini, kami mencoba menjawab tantangan zaman tersebut. Medium Perpustakaan Keliling dengan menggunakan satu unit mobil keliling menjadi alternative yang kami tawarkan kepada warga di Lebak. Kami mengajak bekerjasama salah satu penerbit buku-buku islami kelas menengah dari Bandung – PT. Mizan. Dengan pertimbangan bahwa produksi buku-buku serta range harga yang mereka produksi cukup beragam. Inovasi tim penulisan cerita anaknya sangat aktif berkarya. Dan mereka cukup dapat diyakinkan bahwa ‘pasar’ di manapun lokasinya, dapat diciptakan sesuai dengan keinginan sang produsen, asalkan diriringi dengan strategi yang bernas, cerdas, simpatik, serta ikhlas. Maka selain penerbit besar semcam Gramedia yang sudah mulai merasakan suasana/atmosfer masyarakat Banten telah mulai tumbuh – terbukti dengan suksesnya acara bersama Rumah Dunia dan berhasil mengumpulkan empat puluhan juta rupiah lebih di acara tersebut – perlu pula ditambah-tumbuhkan keyakinan ini pada beberapa pengusaha penerbitan di level bawah mereka secara umum dan demi percepatan kemajuan minat baca masyarakat Banten secara khusus.

Minat baca seseorang dapat ditimbulkan, lalu kemudian diasah, di lingkungan tempat para pembaca buku aktif berada. Karena pada dasarnya, setiap anuisa itu scara alamiah akan mencari role-modelnya masing-masing. Maka untuk membuat lingkungan kita cit abaca buku harus kita mulai dari diri masing-masing dulu. Misalnya bila kita ingin anak—anak beserta seluruh isi rumah gemar membaca , maka letakkan pada setiap sudut rumah tumpukan majalah/buku-buku tips/resep makanan. Manajemen praktis/novel-novel/fiksi atau nonfiksi /cergam anak, dan lain-lain. Bahkan akan menjadi sangat indah bila saat lebaran lalu kita mengirimkan parcel dalam bentuk susunan buku dalam keranjang mini yang peruntukkannya disesuaikan dengan isi anggota rumah tangga tempat tujuan parcel tersebut. Bagi seoran theologist seperti Bapak Frans Magnis Suseno, buku adalah surga. Karena dengan membaca buku kita bukan saja sekedar memperluas cakrawala, akan tetapi juga melepas emosional dan membatu mengatasi kesulitan-kesulitan hidup. Bagi seorang Islamic scholar seperti Cak Nur, buku adalah jembatan antara dunia dan akhirat, krena dengan membaca mansuia dapat meningkatkan derajat dirinya menjadi manusia dijaya yang pada akhirnya mandiri secara ekonomi serta menjauhkan diri dari kekufuran. Ada beberapa hadits Rasulullah Muhammad SAW yang merujuk pada kalimat bahwa kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Lebih jauh menurut beliau, membaca adalah ‘melihat’ dunia, dan menumbuhkan semangat untuk melakukan sesuatu. Hampir semua perubahan berawal dari buku. Kita dapat bercermin kepada Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia sertaThailan. Mereka mampu berlari secara kemajuan intelektual, teknologi serta bisnis karena diawali sebagai bangsa pembaca buku. Dengan mencintai buku manusia dapat membaca pikiran-pikiran para ilmuwan besar yang telah teruji oleh khalayak publik dunia. Melalui buku sejarah peradaban dunia kita dapat menyerap ilmu kehidupan untuk kemudian diadopsi sebagaian lalu disesuaikan dengan kultur setempat. Malaysia tetangga Melayu kita pun mampu melakukannya dengan sebuah ‘lompatan ajaib’ yang mampu bermetamorphosis menjadi the center of excellence pesaing utama Singapura Negara tetangganya. Saat itu dimulai ketika Malaysia dengan kesadaran tinggi memberikan perhatian luar biasa terhadap penerjemahan buku-buku asing serta dukungan penuh bagi sistem pendidikan beberapa belas tahun silam. Per hari ini di dunia internasional, Malaysia telah mampu masuk dalam jajaran hitungan percaturan dunia, sementara Indonesia Negara tetangga terdekatnya masih berjalan di tempat.

Tapi khusus untuk Banten, tidak boleh ada kata menyerah! Kita harus mampu melakukan terobosan yang cerdas dan simpatik. Tak perlu menengadahkan tangan berperan sebaik mustahik, tak perlu menjadi ‘pengemis’ untuk sebuahkemajuan. Dengan segala daya yang masih tersisa, kita harus mampu bangkit melakukan upaya. Di tengah miskinnya respons dan perhatian pemerintah dalam perkembangan dunia buku dan ancaman dari pesaing teknologi audio-visual yang terlihat lebih disukai banyak orang, tidaklah suasana ini benar-benar mematikan minat baca masyarakat Indonesia. Karena sejak awal diciptakannya Gutenberg, buku tidak ada cerita mati. Peminat buku akan selamanya ada. Khususnya di Banten, secara nyata di acara Lebak kemarin terlihat bahwa pada masayarakat duafa pun tampak aura kebahagiaan ketika di satu tangan mereka mampu membeli sembakio dengan harga murah yang disediakan oleh pengurus masjid Agung, dan di tangan lainnya memegang sebuah buku cergam islami anak terbitan PT. Mizan. Sebagian dari mereka tampak benar-benar berusaha mengeja kata demi kata untuk dibacakan kembali satu per satu pada balitanya. Tak ada rasa haru yang melebihi saat itu ketika Istiqomah dan saya menyadari, bahwa di wilayah Banten hari ini, masih ada asa untuk membangun kultur baca masyarakatnya. Artinya, ada masa depan cerah bagi Banten untuk mengejar ketertinggannya dalam waktu dekat ini. Sekali lagi,…. Masih ada asa! Dan ini adalah lebih dari cukup sebagai pompa semangat bagi awal perjuangan kami dalam pengabdian untuk masyarakat Banten.

Allahu Akbar, Merdeka!

Entri Populer