Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)


Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)

Bintaro, Jakarta, February 21, 2004


Water is the source of life.

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.

If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.

According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
Tampilkan postingan dengan label Homo Educandus di IPB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homo Educandus di IPB. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

Pertimbangan Illahiyahku: Marissa Haque Fawzi


Jumat, 18 Maret 2011

Cukup Sekali di Pilkada, Kini Marissa Haque Bercita-cita Jadi Hakim MK bidang Hukum Bisnis


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Marissa Haque menegaskan bahwa dirinya tidak akan terjun lagi dalam ajang pemilu kepala daerah (pilkada) di Banten. Menurut dia, keikutsertaannya dalam pilkada Banten beberapa waktu lalu cukup sebagai pembelajaran dalam hidupnya.

”Jadi saya ucapkan terima kasih kepada Pak Suhaemi mantan Kajati Banten yang telah mempercayai saya,” ujarnya “Mungkin waktunya kurang tepat,” tegas Marissa saat berkunjung ke kantor Republika di Jakarta Jumat (18/3)

Marissa menuturkan saat kini ia tengah berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan studi S2 nya di UGM di dua fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Bisnis. ”Fokus saya saat ini ke situ,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan cita-cita besarnya saat ini adalah ingin berkarier sebagai hakim di Mahkamah Konstitusi (MK). ”Saya melihat di MK saat ini belum ada Ahli Hukum Bisnis. Sembilan hakim di MK adalah ahli Hukum Tata Negara, Hukum Pidana dan Hukum Perdata. Belum ada dari Hukum Bisnisnya, yang nantinya spesialisasi insya Allah pada Hukum Ekonomi Syariah,” ujar Marissa.
Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Rep: Rahmat Santosa B
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/sengga…

Kamis, 10 Februari 2011

Banten dalam 10 Tahun Gilang & Shahnaz Bersama: dalam Ikang Fawzi & Marissa Haque


10 Tahun Pernikahan Shahnaz Haque-Gilang Ramadhan: “Kalau Tidak Tahan, Anak Kami Bisa 24 Orang”

gilang-shahnaz-julian
Gilang Ramadhan & Shahnaz Haque (Julian/BI)
“PERNAH lihat orang Jepang bermata belo tidak?” celetuk Shahnaz Haque (38) sambil berpose dengan kostum kimono ala wanita Jepang.

Sang suami, Gilang Ramadhan (47) hanya tersenyum melihat polah istrinya. Beberapa detik kemudian, Shahnaz sudah berada tepat di samping Gilang yang asyik menguyah kacang.

“Kami sedang pacaran, lagi kencan,” ceplos Shahnaz tersenyum kecil.

Pacaran yang dimaksud Shahnaz dan Gilang, tentu saja menghabiskan waktu bersama tanpa diusik ketiga anaknya.
"Anak-anak kami sedang sekolah. Kami sering memanfaatkan waktu sempit ini untuk jalan-jalan,” ujar Gilang.

Kami meminta pendapat Gilang tentang penampilan istrinya saat itu. “Hmm... jadi nafsu nih, habis kamu seperti paduan cewek Jepang dan India sih,” Gilang tersenyum nakal.

Dibilang begitu, pipi Shahnaz memerah. Beginilah keseharian pasangan Shahnaz Haque-Gilang Ramadhan. Penuh keceriaan dan selalu mesra.

“Tidak terasa, Mei nanti pernikahan kami berumur 10 tahun. Akhirnya, sampai juga ya pah, enggak disangka,” Shahnaz tersenyum dan disambut tawa Gilang.

“Tapi Gilang bukan pria yang romantis. Dia tidak pernah memberi saya bunga, cokelat apalagi lagu. Dia hanya memberi saya tiga anak yang lucu-lucu dan mukanya mirip Gilang semua. Itu lebih dari cukup,” jawab Shahnaz ketika ditanya kado apa yang ingin ia terima dari Gilang di perayaan 10 tahun pernikahannya nanti.
“Jadi, kami tidak bikin perayaan apa-apa. Kita bikin anak saja yuk pah,” Shahnaz tersenyum manja. Suami-istri ini berbagi pengalaman mengarungi bahtera rumah tangga 10 tahun terakhir lengkap dengan lika-likunya.

Masa-masa Sulit di Awal Pernikahan
Merunut awal percintaan hingga rumah tangga mereka dianugerahi tiga bidadari cantik, Shahnaz bertutur pernikahannya pernah melalui masa sulit.

“Itu lumrah, setiap rumah tangga pasti mengalami itu,” bilang Shahnaz. Yang jadi perkara, Shahnaz-Gilang justru mengalami masa sulit di awal pernikahan.

“Di usia 29 tahun, saya sudah memilki segalanya. Punya rumah sendiri dan materi yang berkecukupan, pekerjaan dan gelar.. Saya tidak terburu-buru menikah karena itu bukan sesuatu yang mendesak. Tiba-tiba Allah mempertemukan kami dan saya benar-benar tidak bisa berkutik,” ungkap Shahnaz.

Itu yang jadi masalah. Meski Shahnaz yakin Gilang jodohnya, mengubah pola hidup yang sudah tersusun rapi kemudian hidup dalam satu atap tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Jelas ada perbedaan.

”Namanya juga rumah tangga, pastilah ada ribut-ribut kecil karena perbedaan pendapat. Menyatukan dua pribadi yang sudah matang itu sulit sekali,” bilang Shahnaz.
Untungnya itu tidak lama. Satu bulan menikah, Shahnaz hamil. Keadaan berubah membaik.
“Saya jadi percaya ungkapan anak bisa mempersatukan orangtua. Hubungan kami jadi dekat karena Gilang mengurusi kehamilanku,” sebut adik Marissa Haque ini.
Sejak Shahnaz hamil, Gilang melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Dari rocker menjadi pengasuh bayi.

“Salah satu yang bikin kami bertahan sampai saat ini, karena saya tahu dia sayang banget dengan anak-anak. Dia ikut temani aku bangun jam dua pagi ketika aku harus menyusui bayi. Malah, dia lebih telaten dari aku dalam mengurus bayi,” ungkap Shahnaz.

Yang dibutuhkan istri adaah sosok pria yang bisa melindungi dan merawat anak-anaknya. Gilang sudah lebih dari cukup memenuhi kriteria Shahnaz menjadi suami yang baik.
Jika anak bisa mempersatukan mereka, tak heran bila sebulan setelah putri pertamanya, Pruistin Aisha, Shahnaz hamil lagi.

“Awal-awal pernikahan kami sudah disibukkan dengan dua buah hati. Ternyata Gilang tokcer juga ya. Makanya, menikahlah dengan orang Sunda,” kata Shahnaz sambil terkekeh.
Giliran Gilang menimpali sambil menahan senyum.

“Mungkin, kalau tidak ditahan, anak kami bisa berjumlah 24 orang.”

Gilang Ramadhan: Poligami?
Era ’80 sampai ‘90-an, siapa yang tak kenal Gilang Ramadhan? Tabuhan drumnya mampu menyihir banyak wanita. Rockstar memang selalu identik dengan wanita.
Namun, apa yang membuat Gilang bisa setia pada satu cinta?

”Saya punya prinsip, satu saja pusing mengurusnya apalagi dua atau tiga,” kata Gilang menjawab apakah dia setuju poligami.

Ia membayangkan, jika dirinya menikah lagi, korbannya bukan hanya Shahnaz, tapi juga anak-anak.
“Yang namanya kasih sayang itu enggak bisa dibagi-bagi. Anak-anak pasti merasakan,” cetusnya.
Inilah yang menenangkan hati Shahnaz. Ia bersyukur, Tuhan menjodohkannya dengan Gilang.
“Saya pernah berpikir. Mungkin melamun. Banyak pasangan lain yang tidak sebahagia saya. Ada maasalah rumah tangga atau kelakukan si suami yang aneh-aneh. Di situ saya bersyukur memiliki Gilang. Dai begitu menyayangi keluarga ini. Bahkan, bisa dibilang, dia lebih takut menyakiti hati anak-anaknya ketimbang menyakiti hati istrinya sendiri. Itu yang saya kagumi,” urai Shahnaz.

Mereka berharap, usia rumah tangga ini tidak berhenti sampai bilangan sepuluh saja. Masih ada belasan dan puluhan tahun lagi yang harus dilalui.
“Setiap hari kami berusaha membenahi kekurangan masing-masing. Komunikasi itu poin yang amat penting untuk pernikahan ini,” sebut Gilang.

“Janji ya pah, jangan tinggalkan aku. Meninggalnya jangan cepat-cepat, nanti aku tidak ada yang menemani,” pinta Shahnaz diiringi anggukan kepala Gilang. Duh mesranya.
(jul/gur)

Sumber: http://www.tabloidbintang.com/berita/sosok/8819-10-tahun-pernikahan-shahnaz-haque-gilang-ramadhan-kalau-tidak-tahan-anak-kami-bisa-24-orang.html

Sabtu, 15 Mei 2010

Belajar Membuat Model Antisipasi Bencana di IPB: Marissa Haque Fawzi di Radar Banten 2006

Global Climate Change Indonesia
Setiap awan mulai pekat menjadi mendung kehitaman, saat guruh mulai sahut menyahut dan silau kilap petir saling menyambung, saat itu juga ketengadah kepala kea rah langit seraya mengucap mohon ampun serta doa tolak bala untuk seluruh eilayah penjuru Banten dan Indonesia, akan kemungkinan terjadinya bencana alam lagi di wilayah ini. Melalui sebuah kontemplasi yang dalam ketika membaca QS Ali Imran ayat 190-191, di dalamnya diberi penjelasan tentang penegasn terhadap fenomena alam sebagai aspek yang harus dimaknai manusia secara bijak. Surat dalam Al Quran ini m’menyentil’ pikiran kritis dan hati saya. Rasanya seakan menjadi sia-sia menjadi mahasiswa kelas Doktor (S3) pada Program Studi Lingkungan (PSL) di Institut Pertanian Bogor (IPB) bilamana saya tak mampu untuk turut nyaring menggaungkan peran besar seluruh warga Banten dan Indonesia untuk mau dan mampu terlibat di dalam pembangunan sekaligus mengawasi kondisi lingkungan hidup di wilayah kita tercinta dengan berbasis pada konsep sustainable development (Pembangunan Berkelanjutan/Berwawasan Lingkungan Hidup) dan Early Warning System yang wajib diketahui oleh seluruh warga Negara Indonesia, khususnya Banten

Lebak bagian selatan hari ini masih terus menangis. Saat pertama terjadinya bencana angin puting beliung yang saya baca melalui internet di Kampung Cigalempong, Desa Nameng Kecamatan Rangkasbitung. Dan mengetahui tiga pesantren di daerah itu – Ponpes Al Alifiah, Ponses Al Bayan, dan Ponpes Al Irfan – hancur diterjang angina putting beliung dan hujan deras. Langsung terbayang di benak wajah Bupati Lebak Pak Mulyadi Jayabaya, istri beliau dan Vi Jayabaya – sang gadius yang baru saja lulus sebagai Master dari Fakultas Pasca Sarjana bidang akuntansi dari Universitas Trisakti Jakarta. Walau kejadian ini tiba-tiba sempat menghambat arus lalu lintas ruas jalan raya Rangkasbitung-Cikande dan alur Kereta api Rangkasbitung, Jakrta, saya masih bersyukur bahwa tidak ada korban jatuh dalam cobaan ini Juga ketika warga setempat sempat dibuat panic dan prihatin akan bencana tersebut. Ada catatan kecil di benak ketika menelepon Pak Bupati Jayabaya dan mendengar aura suara yang walau berintonsasi sangat berat-prihatin namun beraura tegar-cerdas-tangkas. Ada setitik rasa lega dan kagum atas inisiatif spontan yang beliau lakukan. Langkah strategis awal telah dilakukan dengan baik. Bantuan logistic dan Pemprov langsung diturunkan. Publikasi dibuat sangat informative serta baik terkemas. Sebagai upaya antara, kita semua boleh menarik nafas lega. Tapi ibarat memangkas pohon pisang tanpa membuang akarnya, permasalahan sesungguhnya belumlah akan selesai. Wajib banyak yang harus kita pelajari secara holistic (menyeluruh), yaitu Global Cimmlate Chane (Perubahan Iklim Global) yang di Indonesia belum bergaung keras, apalagi di Banten. Padahal dunia di luar Indonesia, sudah diberikan pembelajaran gratis bagi seluruh warga negaranya terhadap Early Warning System (sistem peringatan dini) atas kemungkinan terjadinya perihal bencana serupa di seluruh sudut wilayah pantai di seluruh dunia dan pembangunan yang berbasis sustainable development. Dan wilayah Banten yang memiliki panjang total pantai hampir mencapai 573 kilometer wilayah panjang pantai yang sangat signifikan berpotensi terhadap bencana angin putting beliung – harus memiliki antisipasi dan kesiap-siagaan dalam menghadapi beribu bencana yang sangat mungkin mampir dalam kehidupan kita. Cobalah perhatikan curah hujan tinggi yang setiap hari belakangan mulai terus terjadi.

Pelajari musim yang mulai bergeser dari jadwal tahunan normal seperti yang biasa kita kenal. Maka bila kita semua tidak segera bertindak dengan cepat dan cerdas mengantisipasi kemungkinan ini semua saya khawatir hanya pennyesalan yang akan kita dapatkan - oleh karena tak serius melakukan persiapan.

Angin puling beliung dan debit curah hujan yang tak normal tidaklah terjadi dengan sendirinya. la adalah buah dari perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia yang menghasilkan lubang besar di lapisan ozon, di samping juga karena efek gas rumah kaca, meningkatnya emisi gas-gas beracun (antara lain yang paling banyak CO2/70%), pembabatan hutan secara massif di Amerika Latin dan Indonesia (penebangan liar /illegal logging yang mengabaikan sustainable development). Emisi yang diproduksi kawasan industri dunia ini juga berkurangnya pusat paru¬-paru dunia di kantong hutan-hutan tropis dunia, mencairnya es dikutub utara yang lelehannya membuat level air laut dunia meninggi, ketika industri maju dan manusia berkembang sesuai dengan zamannya, maka manusia dan dunia bermetamorphosa seperti kupu-kupu – berjalan berkembang dari awal zaman batu dengan hidup di goa-goa menuju zaman besi yang hanya mampu berburu hewan liar, melewati zaman pertanian dengan memasak memakai api dan membuat tembikar, terhenti sejenak di zaman industri, dan belakangan sampailah pada zaman teknologi informasi.

Hubungan manusia dcngan lingkungannya berbanding tegak lurus di dalam Kuva Kuznets -antara kerusakan dan pendapatan dalam nilai ekonomi. Simbiosis dengan alam, periode "mastery" terhadap alam, menuju material growth (output dan growth/efisiensi ekonomi). Dampak material growth ini adalah terhadap negara industri maju dan negara berkembang. Terjadi eksploitasi besar-besaran di tahun 1980-an yang biasa disebut sebagai the Lost Decade. Krisis hutan di Amerika Latin, peningkatan arus pengungsi, peningkatan jumlah penduduk, penipisan lapisan ozon, serta bencana Bhopal, Chernobil, dan Minamata di Jepang. Maka pada tahun 1983 WCED (Komisi Brundtland) memberikan respon terhadap degradasi lingkungan dan ekonomi ini, sehingga pada tahun 1987 terciptalah sebuah konsensus yang mengusung jargon Our Common Future dan Sustainable Development yang bermaknakan development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs. Pembangunan berkelanjutan mewajibkan: 1. Peningkatan kualitas hidup secara kontinyu, 2. Penggunaan sumberdaya alam pada intensitas rendah, 3. Meninggalkan sumberdaya alam yang baik bagi generasi yang akan datang.

Beberapa teknik pendekatan (approaches) Sustuinable Develeopment ada tiga. Pertama, pengenalan Pendekatan Lingkungan Hidup kepada masyarakat dimulai dengan pertama: a). Mengajarkan mereka untuk menjaga kelenturan sistem biology dan fisik terhadap perubahan yang mungkin terjadi, b). Mengajak masyarakat menjaga kelenturan dan kapasitas dinamis sistem Ekologi untuk beradaptasi terhadap perubahan bukan konservasi yang statis. Kedua, pendekatan ekonomi yang dapat dilakukan dengan cara mengajarkan: a). Konsep aliran pendapatan dengan modal terjaga, b). Kriteria optimal dan efisiensi ekonomi, c). Masalah valuasi ekonomi terhadap sumberdaya ekologi. Terakhir, Pendekatan Sosial yang dapat diajarkan melalui cara: a). People oriented (partisipasi dan keragaman), b). Menjaga kelenturan sistim dan budaya, c). Keadilan (equty), d). Pencegahan konflik, e). Mengakomodasi keragaman dan partisipasi dalam pembuatan keputusan.

Jangan terlambat melakukan antisipasi. Kita semua tanpa terkecuali jangan pernah mau terjebak dalam aliran konflik horizontal semisal melakukan intrik politik hanya untuk politik belaka, berfikir sekedar jegal-menjegal dalam kaitan merebut kekuasaan dengan cara tidak halal, sehingga melupakan hal yang paling esensil dalam memberikan pembekalan kepada rakyat Banten dalam mempertahankan hidupnya dari ancaman bencana alam dan lingkungan hidup. Banyak hal yang harus dipikirkan secara kontemplatif, yang tak cukup hanya sekedar bagi-bagi beras dan obat-obatan setelah bencana datang dan menganggap setelah itu, masalah menjadi beres dengan sendirinya. Berpikir serta bertindak secara parsial seperti masa lalu itu, per hari ini suclah menjadi obsolete (usang). Sudah wajib ditinggalkan. Harus pro-aktif melakukan terobosan modern. Tak cukup rasanya bila kita semua bersemunyi di balik kata: "Biasanya dulu..." Lakukan terobosan yang cerdas, dekati teknologi mutakhir yang tak selamanya berharga mahal. Mencegah terjadinya bencana alam adalah lebih baik dan juga lebih murah. Buka buku, buka internet, baca ... dan baca ... ber-iqro-lah kita semua. Jangan malu bertanya kepada ahlinya. Bergurulah dengan para scholars (ilmuwan/akademisi). Bangun masyarakat yang berbasis pada Knowlede Base Society. Rakyat akan menjadi scmakin cerdas, kritis, yang pada akhimya mampu menunjang kinerja positif Pemda setempat, karea pada dasarnya setiap manusia dikaruniai Allah kemamuan bertahan diri dan sekaligus beradaptasi. Banyak hal di sekeliling Banten yang sesungguhnya telah berahad usia menjadi guru kearifan tradisional yang sekarang mulal terpinggirkan/terlupakan. Tengokkan wajah kita pada kearifan tradisonal masyarakat Baduy-Dalam. Pelajari filosofi kearifan lokal mereka yang sangat indah itu. bukalah Al. Quran Surat Ar Ra’d (Guruh) ayat I I yang bercerita tentang kebangkitan dan keruntuhan suatu bangsa yang tergantung pada sikap dan tindakan mereka sendiri. Dikatan di dalamnya: "... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri..."

Karena itu bangkitlah para saudara dan saudari Bantenku. Jadilah peserta aktif dalam penyelamatan lingkungan hidup dlan masyarakat di Banten ini. Pelajari sekaligus kearifan lokal masyarakat asli Baduy-Dalam. Ambil inisiatif pembelajaran klasik mereka di dalamnya. Bukalah kitab suci anda semua, temui kebenaran di dalamnya. Maka ketika ‘anak-anak pohon pisang' bencana tadi datang, is segera tumbuh lagi dengan cepat, tak semakn banyak dan subur, tak memakan korban yang banyak, karena kita semua telah siap menghadapinya berdasarkan ilmu Allah yang telah kita serap sehagian untuk menghalaunya. Jadilah bangsa yang mau bela.jar dari kesalahan masa lampau. Bacalah kisah-kisah para sahabat para rasul dan bersegeralah terapkan di tanah Banton kita tercinta ini. Mari kita buktikan bersama apa yang tertulis di dalam QS Ar¬ Ra'ad ayat 11. Jadilah para Kekasih Allah sejati.

Allahu Akbar, Merdeka!

Homo Educandus di IPB: Marissa Haque dalam Radar Banten 2006

Flu Burung Banten
Pulang dari tugas negara di Vietnam, Singapuran dan Malaysia, membaca Strait Times kemarin malam di pesawat, membuat saya mengelus dada. Duh Gusti Allah, apalagi yang harus kami hadapi di hari-hari ke depan ini. Urusan korupsi di ranah Banten belum rampung, demonstrasi buruh belum lagi ada jalan keluar, masyarakat memakan nasi aking belum mampu memastikan tak lagi akan manakin makanan bekas/daur ulang itu. Sekarang Banten diberi stigma/label sebagai wilayah penyandang "Benang Merah" flu burung oleh Pak Menteri Pertanian kita. Memang suka atau tidak suka demikianlah keadaannya. Bahkan hari ini Selasa tanggal 29 Februari 2006, dijadwalkan di Komisi IV DPR Rl Rapat Dengar Pendapat bersama tiga Gubernur Banten, Jabar dan DKI terkait dengan langkah cepat penanganan masalah flu burung ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, bahwa burung telah menyebar ke lebih dari 30 negara dan teritori sejak 2003. Dan sebanyak 170 orang positif terinfeksi oelh virus yang mematikan ini, 92 di antaranya meninggal dunia. Sementara itu juru bicara WHO Dick Thomson mengatakan, bahwa hingga kini flu burung telah menyebar ke 30 negara di seluruh dunia. Akan tetapi belum ada catatan penyebarannya dari manusia ke manusia lainnya.

Kepanikan akan flu burung yang diakibatkan oleh virus dengan nama kimia H5NI, terasa juga sampai di gedung DPR RI. Barusan saat memasuki ruang kerja, saya mendapatkan surat keterangan dari negara Hongaria — di mana saya duduk sebagi Wakil Ketua Bidang Kerjasama Bilateral Indonesia-Hongaria — bahwa virus flu burung juga ditemukan di negara mereka. Masyarakat di sana sempat dibuat panik oleh matinya burung-burung dara liar di lapangan taman-taman kota. Saya mengamati baik Malaysia maupun Hongaria semakin mengetatkan kewaspadaan terhadap virus flu burung ini.

Gerakan cepat yang mereka lakukan adalah dengan memusnahkan unggas-unggas yang telah dicurigai, mcmberikan suntikan vaksin pada beberapa yang masih sehat, serta mengirim para petugas kesehatan untuk memeriksa apakah sudah ada manusia yang terinfeksi virus H5N1 ini. Menteri Kesehatan Malaysia Chua Soi Lek Chua mengatakan melalui siaran televisi swasta kemarin: "Untungnya belum ada inveksi dari manusia ke manusia." Walau sebenarnya, sepekan sebelumnya keganasan virus H5N1 ini telah menewaskan 40 ekor ayam, sehingga Singapura pun minggu lalu terpaksa menghentikan sementara impor ayam dari Selangor, Malaysia.

Di luar itu di Banten, pemerintah pusat Republik Indonesia menetapkan bahwa Provnsi ini sebagai daerah "Benang Merah" flu burung yang harus memberikan perhatian khusus disebabkan karena ditemukannya 7 warga Banten yang meninggal dan ribuan unggas mati karena terinfeksi flu burung. Hal ini diungkapkan olch Menteri Pertanian Anton Apriantono saat melakukan Gerakan Tumpas Avian Influenza (AI)/Genta di Pendopo Gubernuran. Pencegahan penyebaran Virus AI ini, perlu melibatkan seluruh stake holders – pemerintah pusat, pemerintah provinsi, masyarakat bisnis, akademik, maupun masyarakat umum tanpa terkecuali. Pendidikan serta informasi wajib diberikan kepada semuanya. Merasa prihatin sah-sah saja akan tetapi itu saja tidaklah cukup, disamping itu sebaiknya kita semua tak boleh terjebak o1ch rasa panik /paranoia.

Untuk mengurangi rasa panik masyarakat o1eh karena pendidikan formal kita alokasi anggarannya behim mencapai angka 20% maka – menyangkut masalah flu burung untuk penyebaran informasi antisipasi flu burung dapat melalui kegiatan ibu-ibu PKK serta Puskesmas yang telah ada di seluruh Banten. Jangan dilupakan juga fungsi guru-guru di sekolah plus LSM lokal maupun internasional. Karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik (Homo Edukandus), sehingga dengan perhatian yang tersederhana sekalipun learning process sesungguhnya akan terjadi. Pendidikan sesungguhnya adalah sarana untuk memfasilitasi, mengarahkan serta mengembangkan fitrah/potensi manusia – learn to think, to do, to act, dan to be. Pada akhirnya tujuan akhir atau outputnya adalah learn to live together in harmony.

Di dalam pemberantasan virus AI ini, harmonisasi adalah faktor utama di dalam urusan kebersihan serta pengelolaan lingkungan hidup yang dapat diformulasikan. Kalau anak-anak serta keluarga kita di rumah dapat menjadi trainers di dalam kegiatan sejenis TOT (Training of Traineers) di dalam proses ajar mengajar masalah penanganan virus AI ini, maka kedua pemerintahan – baik di pusat maupun di provinsi akan lebih ringan beban tanggung jawab moralnya di dalam menyukseskan penanganan kasus flu burung ini. Sellingga outcome atau manfaat darinya – masyarakat yang bahagia serta tenang, lingkungan hidup yang sehat dapat segera terkendali. Sehingga virus AI tadi yang enggan mampir di Banten, karena kandang-kandang ayam yang tersebar di pelosok Banten sudah bersih, tertata, aman bagi bisnis harian para peternak unggas yang semoga pada akhirnya nanti dapat memberikan kontribusi PAD yang mcningkat dari hari ke hari di ranah Banten kita tercinta ini.

Karenanya kasus flu burung yang belakangan ini terjadi, bilamana kita memandangnya dengan kaca mata arif-bijaksana adalah sebagai unsur pemicu, di mana kita sadari atau tidak bahwa menjadi manusia pembelajar di Banten adalah suatu keharusan – it is a strong must. Sehingga mampu menguasai rasa panik yang tak perlu, apabila terjadi sesuatu kejadian luar biasa yang mampu menggoncangkan tatanan harmonisasi tadi. Rakyat di seantero wilayah tak harus dibuat paranoia yang akan menciptakan instabilitas nasional. Semoga rekam-jejak Banten nantinya bersama penumpasan virus H5N1 ini di dalamnya dapat menjadi awal dari lompatan ke depan warga Banten yang tertata sebagai upaya optimal, dari ingin bangkitnya masyarakat dari keterpurukan selama lima tahun ini dan sebagai upaya pernicu langkah di dalam turut serta menggapai impian masa depan yang lebih terhormat dari hari ini. Semoga saja ya Rabbi, kabulkanlah doa kami semua di Banten ini.

Allahu Akbar, Merdeka!
 

Entri Populer