Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)


Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)

Bintaro, Jakarta, February 21, 2004


Water is the source of life.

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.

If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.

According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
Tampilkan postingan dengan label PDIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PDIP. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Mei 2010

Radar Banten 2006 dalam Marissa Haque: Dari Eceng Gondok ke Pentas Dunia

Tak kenal maka tak sayang. Nah, bunga liar eceng gondok kerapkali dipandang sebelah mata. Cuma layak jadi pengisi rawa atau sungai yang tak terurus saja. Lihat saja sungai-sungai yang ada, lalu rawa seperti rawa Cipondoh, Tangerang, Banten, penuh disemaki eceng gondok yang banyaknya tidak ketulungan. Akibatnya air tidak bergerak, kadar oksigennya rendah, kualitas airnya menurun. Namun pesona Ungu, kembang eceng gondok di masa lalu telah mampu memukau Raja Thailand yang saat itu sedang bermuhibah ke Jawadwipa, bersilaturahmi dengan raja-raja di Pulau Surga ini. Mengambil benih belimbing, durian, jambe, dan aneka buah yang ditemui di pinggir hutan. Tak lupa jemari kukuh sang Raja, memetik bunga ungu eceng gondok. Keindahan bunga liar itu rupanya akan dipersembahkan kepada permaisuri di kaputren sana.

Namun eceng gondok punya hasrat lain. Daya hidupnya begitu kuat. Daya sebarnya luar biasa. Begitu disemai bumbuh di taman Keputren, eceng gondok segera menyebar ke sungai-sungai dan rawa sekitar istana, jadi momok hama yang sulit dibasmi. Rakyat pun kebingungan, karena keberadaannya yang begitu banyak, menghambat irigasi dan merepotkan pertanian warga Thailand. Namun, sang Raja tidak berdiam diri, segera dikirimnya tim ahli istana, untuk mempelajari tumbuhan baru eceng gondok yang begitu perkasa, juga bibit-bibit tanaman yang dibawa dari bumi jawa, termasuk Banten. Lambat laun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Maka didapatlah, tumbuhan unggul, seperti belimbing, jambu, pepaya, durian, berlabel “Bangkok”, yang memiliki rasa di atas rata-rata, bentuk besar, menarik, istimewa dan gampang dibudidayakan serta memiliki keseragaman rasa yang cukup terjaga. Di masa kini, Thailand dikenal sebagai pengekspor buah-buahan yang dominan. Demikian pun ‘hantu’ eceng gondok yang mengesalkan banyak warga di sana, justru sekarang jadi komoditas ramah ekspor. Menjadi bahan baku kerajinan tangan, souvenir yang tak terlupakan, tas, tikar, bantalan, alas, hiasan dinding, dan aneka macam kreativitas tangan yang memukau penduduk manca negara. Batang dan daun eceng gondok yang telah dikeringkan dan diproses demikian rupa, menjadi bahan mode yang laris manis.

Di Banten pun perkembangan liar eceng gondok, hadir di mana-mana. Bahkan di rawa Cipondoh, Tangerang. Rawa itu telah menjelma menjadi kerajaan eceng gondok. Seolah tak ada tangan yang mampu menyentuh dan mengarahkan arah tumbuhnya bagi kesejahteraan rakyat sekitarnya. Padahal tinggal dijemur, dikeringkan, diproses sedemikian rupa dengan tangan dan rasas yang memuja keindahan. Maka akan didapat tas tangan, alas piring, atau hiasan dinding yang berkelas dunia. Tentu harganya mahal. Rakyat untung, pemerintah mendapat devisa, dan lingkungan mendapat air yang hernih mengalir bebas eceng gondok.

Di luar kita berkaca pada Thailand yang sangat menghormati alam dan mengarahkan seluas-¬luasnya demi kemakmuran rakyat. Kita harus banyak belajar dari mereka, jika Banten ingin maju. Di dalam negeri kita bisa berkaca juga pada Jogja, yang dengan kesederhanaannya, minimnya sumber daya alam, padatnya penduduk. Menjadi surmber dari semacam 'pabrik' handycraft atau kerajinan tangan yang hasilnya diekspor kemana-mana, ke Bali, dan banyak ke luar negeri. Perekonomian Jogja, didorong oleh banyak hal, arus utamanya pariwisata. Landasan utamanya yang amat kuat dan fenomenal adalah 'pabrik rakyat' kerajinan tangan. Selain eceng gondok, ada akar bambu, batang bambu, ranting bambu, dan segala hal yang dimata kita hanya sekedar sampah, atau pohon pengisi semak saja. ternyata oleh tangan-tangan berbasis kerakyatan. Rakyat dimotivasi dengan alih teknologi. Pelatihan. Pengiriman misi-misi pengiriman ke Jogja, syukur ke Thailand sana. Belajar membuat produk yang bercita rasa dunia. Juga membuat pola desain produk terbaru. Dikembangkan dengan dengan balk. Maka akan didapat sinergi yang baik. Ketika pulang. Masing-masing kelompok pengrajin memiliki kewajiban untuk mengembangkan kerajinan tangan di daerahnya. Dengan supervisi yang baik dari Disperindagkopar, rasanya pertumbuhan itu akan cepat dicapai.

Segera saja, kita akan merasakan banyak keuntungan, dengan banyaknya angka penduduk, jumlah pengangguran yang tinggi, energinya bisa diarahkan untuk mcembuat kerajinan tangan, memenuhi pasar lokal sekaligus berorientasi ekspor. Apalagi bandara juga ada di Banten, jadi tidak ada alasan, orang Banten tidak mengkepsor hasil kerajinan tangannya. Ke negeri manca sana. Membentuk persahabatan abadi melalui kreativitas seni kecil yang bermutu tinggi. Agar kita segera merdeka dari kemiskinan dun keterbelakangan.

Merdeka!

Homo Educandus di IPB: Marissa Haque dalam Radar Banten 2006

Flu Burung Banten
Pulang dari tugas negara di Vietnam, Singapuran dan Malaysia, membaca Strait Times kemarin malam di pesawat, membuat saya mengelus dada. Duh Gusti Allah, apalagi yang harus kami hadapi di hari-hari ke depan ini. Urusan korupsi di ranah Banten belum rampung, demonstrasi buruh belum lagi ada jalan keluar, masyarakat memakan nasi aking belum mampu memastikan tak lagi akan manakin makanan bekas/daur ulang itu. Sekarang Banten diberi stigma/label sebagai wilayah penyandang "Benang Merah" flu burung oleh Pak Menteri Pertanian kita. Memang suka atau tidak suka demikianlah keadaannya. Bahkan hari ini Selasa tanggal 29 Februari 2006, dijadwalkan di Komisi IV DPR Rl Rapat Dengar Pendapat bersama tiga Gubernur Banten, Jabar dan DKI terkait dengan langkah cepat penanganan masalah flu burung ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, bahwa burung telah menyebar ke lebih dari 30 negara dan teritori sejak 2003. Dan sebanyak 170 orang positif terinfeksi oelh virus yang mematikan ini, 92 di antaranya meninggal dunia. Sementara itu juru bicara WHO Dick Thomson mengatakan, bahwa hingga kini flu burung telah menyebar ke 30 negara di seluruh dunia. Akan tetapi belum ada catatan penyebarannya dari manusia ke manusia lainnya.

Kepanikan akan flu burung yang diakibatkan oleh virus dengan nama kimia H5NI, terasa juga sampai di gedung DPR RI. Barusan saat memasuki ruang kerja, saya mendapatkan surat keterangan dari negara Hongaria — di mana saya duduk sebagi Wakil Ketua Bidang Kerjasama Bilateral Indonesia-Hongaria — bahwa virus flu burung juga ditemukan di negara mereka. Masyarakat di sana sempat dibuat panik oleh matinya burung-burung dara liar di lapangan taman-taman kota. Saya mengamati baik Malaysia maupun Hongaria semakin mengetatkan kewaspadaan terhadap virus flu burung ini.

Gerakan cepat yang mereka lakukan adalah dengan memusnahkan unggas-unggas yang telah dicurigai, mcmberikan suntikan vaksin pada beberapa yang masih sehat, serta mengirim para petugas kesehatan untuk memeriksa apakah sudah ada manusia yang terinfeksi virus H5N1 ini. Menteri Kesehatan Malaysia Chua Soi Lek Chua mengatakan melalui siaran televisi swasta kemarin: "Untungnya belum ada inveksi dari manusia ke manusia." Walau sebenarnya, sepekan sebelumnya keganasan virus H5N1 ini telah menewaskan 40 ekor ayam, sehingga Singapura pun minggu lalu terpaksa menghentikan sementara impor ayam dari Selangor, Malaysia.

Di luar itu di Banten, pemerintah pusat Republik Indonesia menetapkan bahwa Provnsi ini sebagai daerah "Benang Merah" flu burung yang harus memberikan perhatian khusus disebabkan karena ditemukannya 7 warga Banten yang meninggal dan ribuan unggas mati karena terinfeksi flu burung. Hal ini diungkapkan olch Menteri Pertanian Anton Apriantono saat melakukan Gerakan Tumpas Avian Influenza (AI)/Genta di Pendopo Gubernuran. Pencegahan penyebaran Virus AI ini, perlu melibatkan seluruh stake holders – pemerintah pusat, pemerintah provinsi, masyarakat bisnis, akademik, maupun masyarakat umum tanpa terkecuali. Pendidikan serta informasi wajib diberikan kepada semuanya. Merasa prihatin sah-sah saja akan tetapi itu saja tidaklah cukup, disamping itu sebaiknya kita semua tak boleh terjebak o1ch rasa panik /paranoia.

Untuk mengurangi rasa panik masyarakat o1eh karena pendidikan formal kita alokasi anggarannya behim mencapai angka 20% maka – menyangkut masalah flu burung untuk penyebaran informasi antisipasi flu burung dapat melalui kegiatan ibu-ibu PKK serta Puskesmas yang telah ada di seluruh Banten. Jangan dilupakan juga fungsi guru-guru di sekolah plus LSM lokal maupun internasional. Karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik (Homo Edukandus), sehingga dengan perhatian yang tersederhana sekalipun learning process sesungguhnya akan terjadi. Pendidikan sesungguhnya adalah sarana untuk memfasilitasi, mengarahkan serta mengembangkan fitrah/potensi manusia – learn to think, to do, to act, dan to be. Pada akhirnya tujuan akhir atau outputnya adalah learn to live together in harmony.

Di dalam pemberantasan virus AI ini, harmonisasi adalah faktor utama di dalam urusan kebersihan serta pengelolaan lingkungan hidup yang dapat diformulasikan. Kalau anak-anak serta keluarga kita di rumah dapat menjadi trainers di dalam kegiatan sejenis TOT (Training of Traineers) di dalam proses ajar mengajar masalah penanganan virus AI ini, maka kedua pemerintahan – baik di pusat maupun di provinsi akan lebih ringan beban tanggung jawab moralnya di dalam menyukseskan penanganan kasus flu burung ini. Sellingga outcome atau manfaat darinya – masyarakat yang bahagia serta tenang, lingkungan hidup yang sehat dapat segera terkendali. Sehingga virus AI tadi yang enggan mampir di Banten, karena kandang-kandang ayam yang tersebar di pelosok Banten sudah bersih, tertata, aman bagi bisnis harian para peternak unggas yang semoga pada akhirnya nanti dapat memberikan kontribusi PAD yang mcningkat dari hari ke hari di ranah Banten kita tercinta ini.

Karenanya kasus flu burung yang belakangan ini terjadi, bilamana kita memandangnya dengan kaca mata arif-bijaksana adalah sebagai unsur pemicu, di mana kita sadari atau tidak bahwa menjadi manusia pembelajar di Banten adalah suatu keharusan – it is a strong must. Sehingga mampu menguasai rasa panik yang tak perlu, apabila terjadi sesuatu kejadian luar biasa yang mampu menggoncangkan tatanan harmonisasi tadi. Rakyat di seantero wilayah tak harus dibuat paranoia yang akan menciptakan instabilitas nasional. Semoga rekam-jejak Banten nantinya bersama penumpasan virus H5N1 ini di dalamnya dapat menjadi awal dari lompatan ke depan warga Banten yang tertata sebagai upaya optimal, dari ingin bangkitnya masyarakat dari keterpurukan selama lima tahun ini dan sebagai upaya pernicu langkah di dalam turut serta menggapai impian masa depan yang lebih terhormat dari hari ini. Semoga saja ya Rabbi, kabulkanlah doa kami semua di Banten ini.

Allahu Akbar, Merdeka!
 

Damai di Hati, Damai di Bumi: Marissa Haque Fawzi (untuk Internal Buletin PDIP/Damai di Hati, Damai di Bumi )


Damai di hati damai di bumi, kata-kata itu sering sekali aku dengar sejak kecil. Damai yang bukan hanya slogan yang terpampang di perempatan jalan, bukan hanya menempel didinding sekolah-sekolah negri diseantero Indonesia, tapi damai yang bersemayam dihati sanubari yang paling dalam pada diri seorang manusia. Sementara kata damai menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah; 1. Tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, 2. Tenteram, tenang, 3. Keadaan tidak bermusuhan, rukun. Betapa indahnya makna damai ini sebenarnya, akan tetapi apakah kita semua orang Indonesia tanpa terkecuali telah mampu memaknai arti damai ini secara holistik.

Ramainya Panggung Politik Pemilu 2004 serta sistim baru yang diadopsi pemerintah yang berkuasa saat ini yang bersifat langsung, terbuka dan sangat lokal, membuat kita semua—mau tidak mau—harus mempersiapkan diri akan beberapa kejutan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kejutan yang akan muncul bisa manis romantis, namun dapat pula sebaliknya—garang, revolusioner dengan ongkos sosial yang tinggi berdarah-darah.

Bila kita merunut beragam peristiwa yang berkaitan dengan pemilihan umum selama beberapa bulan terakhir ini. Mana yang lebih menarik perhatian: munculnya calon anggota legislatif kalangan aktris, seperti Nurul Arifin (Golkar), Paquita wijaya, Dede Yusuf (PAN), Rieke Diah Pitaloka, Gusti Randa (PKB) dan Gugun Gondrong serta saya sendiri (PDIP), atau aksi protes terhadap anak cabang beberapa Partai dibeberapa Propinsi diseluruh Indonesia? Kebetulan unjuk rasa, pembakaran perlengkapan kantor anak cabang partai, disaksikan lewat televisi. Mau tidak mau lebih hidup, bergerak, bersuara, bertata warna. Orang belakangan juga tercuri perhatiannya ketika banyak media cetak menulis dengan nada minor terhadap kehadiran para selebriti ini di ranah politik—tak perduli apakah di subjek yang dituding itu mempunyai latar belakang kepedulian sosial dan politik ataupun memiliki latar belakang pendidikan yang lebih dari memadai dari rata-rata kebanyakan orang Indonesia pada umumnya.

Berbeda pendapat wajar, protes masih masuk akal. Akan tetapi protes yang disertai aksi kekerasan, perusakan benda, sangatlah kelewatan. Semua pihak agar segera mawas diri dan koreksi diri. Apalagi bilaman kejadian terjadi pada tingkat anak cabang partai. Alangkah baiknya bilamana sesama anggota saling kenal secara intens--mengenal secara pribadi pengurus dan sosok mereka. Singga mereka yang tidak aspiratif dapat dicatat namanya, kemudian dilaporkan kepada pemimpin Parpol berserta DPP masing-masing.

Perlu ditarik pelajaran bagi kita semua beberapa kejadian yang kita lihat dilayar televise belakangan ini. Perbedaan pendapat dan adu argumen tapi tidak perlu dilanjutkan dengan aksi protes, dan marah. Apalagi bila yang harus ditempuh adalah aksi turun ke jalan, karena merasa aspirasinya tidak digubris atau keberatan mereka tidak diperhatikan oleh partainya. Bilamana silaturahmi terjaga, maka suasana kasih saying akan muncul kepermukaan. Tak kenal maka tak sayang kata pepatah. Sehingga dapat dihindarinya beberapa anggota yang protes, serta unjuk rasa dan pembakaran karena pengurus yang dianggap tidak aspiratif. Apakah turun ke jalan masih sesuai dengan jalur demokrasi? Ya betul. Akan tetapi, apakah aksi kekerasan dengan membakar kantor dan perlengkapan partai belum melampaui batas, koridor, dan etika demokrasi? Rasanya kita harus mawas diri, serta melakukan evaluasi dengan melakukan koreksi. Pertama untuk para pengurusnya, kedua untuk anggota partai tanpa terkecuali.

Seharusnya kita semua belajar bersabar serta mawas diri tanpa harus keluar dari koridor kritis dan analitis. Juga kitapun harus mempunyai sifat malu yang dapat menjadi barometer untuk mengukur kualitas keimanan seseorang. Malu bahwa kita sebagai manusia terkadang belum mampu mengontrol unsur naar (api) yang merupakan innate property kita. Bahwa marah masih merupakan lokomotif didalam kehidupan kita. Semakin besar tingkat keimanan kita, akan semakin tinggi rasa malu kita pada Allah SWT. Negara kita tercinta ini tidak akan dapat dijalankan dengan kemarahan. Dimana-mana marah, dan semua umpatan kotor berterbangan. Kala iman melemah, maka unsur rasa malu kita pun menjadi rendah.

Iman, malu, dan mengurangi unsur naar dari dalam diri. Sifat malu dalam bahasa Arab disebut dengan al-haya’ adalah sifat yang mampu menjaga pemiliknya dari perbuatan-perbuatan yang dapat menghinakan dirinya baik dihadapan Allah SWT, orang lain, maupun dirinya sendiri. Orang yang mempunyai sifat malu, tidak akan membiarkan dirinya melakukan perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan dirinya pada jurang kehinaan. Sebaliknya, orang-orang yang hatinya telah mati, ia tidak akan pernah merasa malu untuk berbuat dosa. Hidup seorang manusia akan menjadi sangat bernilai saat ia mampu menumbuhkan sifat malu didalam hatinya.

Di dalam korodor rasa malu dan iman ini, saya sebagai penulis tidak melihat adanya perbedaan dari masyarakat umum biasa maupun para selebriti—yang juga adalah manusia biasa pada umumnya. Ada yang memiliki rasa malu yang tinggi disertai iman dan rasa syukur yang tak henti kepada sang Pencipta, akan tetapi juga banyak yang sebaliknya.

Di masa lalu, sudah ada artis berpolitik dan dicalonkan sebagai caleg. Keistimewaannya, untuk Pemilihan Umum 2004, jumlah artis sebagai caleg atau artis berpolitik lewat partai cukup signifikan. Orang orang pada hari-hari belakangan ini mulai memperkirakan bahwa tampilnya para selebriti ke panggung politik bukan sekadar penggembira untuk menambah dukungan suara. Juga bukan hanya sebatas meramaikan bandwagon perarakan kampanye. Tapi diharapkan mempunyai makna yang lebih daripada itu. Para selebriti diharapkan masuk ke panggung politik parlemen dan di atas panggung sana untuk tampil sebagai artis plus; sebutlah menjadi tontonan. Karena mereka adalah sosok artis yang berkiprah sebagai politisi, tapi juga mampu tetap sebagai magnit yang berdaya tarik kuat serta mampu menjadi corong aspirasi rakyat, sama sejajarnya nya dengan para ekonom, pengusaha, atau latar belakang profesi lainnya—berkiprah di panggung politik. Perkembangan ini menjadi menarik, semenarik bersamaan dengan pertumbuhan maraknya hiburan serta tontonan kedalam kehidupan sehari-hari kita secara intensif; gara-gara gejala infotainmen, edutainmen, infomersial yang dibawa oleh multimedia, kini ditambah lagi dengan politainmen. Kontribusi dan peran apa yang akan diberikan para artis atau selebriti ini kita lihat saja pada perkembangannya di masa yang akan datang.

Panggung lembaga perwakilan rakyat dikenal sebagai panggung politik (zoon politicon), panggungnya para pemain politik melalui kepiawaian beretorika, berdialog. Di Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan beberapa bulan yang lalu, ketika dibicarakan pengiriman pasukan ke Irak oleh AS, terjadi adu dorong, adu tumpuk, dan lempar-lemparan kursi. Benar-benar sebuah aksi seperti dilayar sinetron. Kehadiran para artis yang biasanya dekat dengan rasa kemanusiaan dan dipenuhi oleh empati, akan memperkuat nilai, semangat, dan warna kemanusiaan ke dalam politik Indonesia. Dan inilah demokrasi. Siapapun berhak aktif dalam politik, termasuk sebagai caleg. Lagi pula semua itu akan serba terbuka dan transparan untuk diikuti dan dikontrol. Tradisi pengabdian serius di jabatan dan tempat berbahaya bisa memperkuat komitmen untuk mengembangkan politik sebagai pelayanan dan pengabdian masih saja menyisakan semacam misteri. Disertai rasa malu dan kepatuhan pada Allah SWT, insya Allah siapapun orang yang akan mendapat kepercayaan dari rakyat, dengan berbagai macam sosok, semangat, warna, nilai, dan komitmen masuk ke kancah politik, maka ia dapat menjalaninya secara istiqomah dalam suasana hati yang damai. Politik yang lebih dalam mencakup dari lebih dari sekadar profesi. Politik yang disosokkan, dipilih, serta diperkaya sebagai panggilan pelayanan dan pengabdian bagi kepentingan rakyat banyak yang dilengkapi dengan latar belakang pengetahuan yang memadai, dan skills; keahlian praktis seperti berpidato, berunding, mencari jalan keluar bersama dalam menanggulangi segala permasalahan yang melilit tubuh negeri kita tercinta ini.

Para Pesohor di Ranah Politik (dalam Marissa Haque Fawzi/Daur Ulang untuk Radar Banten, 2005)

Untuk Sinar Harapan/Daur Ulang du Radar Banten pada Tahun 2005

Jakarta, 24 Januari 2004
Pada tanggal 23-24 Januari 2004 yang lalu penulis mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara Rakernas II Kaukus Perempuan Politik Indonesia di Hotel Indonesia. Sebelum acara selesai ada sebuah kesempatan tanya jawab dengan para panelis di jajaran depan yang terdiri dari para pendiri, LSM, dan seorang moderator. Sebelum acara berakhir penulis mendapat kesempatan untuk mengajukan pernyataan—bukan pertanyaan. Sehubungan dengan beberapa pertanyaan dari beberapa caleg dengan isi dan tujuan yang sama, yaitu:”…apakah untuk menjadi caleg jadi kami harus menjadi artis seperti mbak dan teman-teman artis lainnya?” Menggelitik, tapi sekaligus membuat dada saya sesak mendengar pertanyaan ironi seperti ini. Mengingat selama acara berlangsung selalu saja kalimat sama ini muncul berulang-ulang, mereka menyebut keberadaan diri mereka yang berada dinomer sepatu sebagai jadi caleg dan bukan menjadi caleg jadi!

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) judul yang dipakai diatas mengandung makna yang masih dapat dibedah. Para mengacu kepada suatu kelompok. Pesohor asal kata sohor, mempunyai makna termashur; ternama; terkenal. Ranah bermakna elemen atau unsur yang dibatasi; bidang disiplin. Sementara Politik mempunya makna ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan).

Maka kalau sekarang banyak masyarakat yang memberikan nada minor terhadap kehadiran para “artis”—sebuah kata yang banyak disalah artikan hanya sebagai orang yang pekerjaannya muncul dimuka TV dan Film—tentu akan banyak yang maklum. Banyak yang bingung, karena mau dilihat dari sudut pandang apapun, dua kutub dunia ini “nggak nyambung”, demikian ungkap khalayak maupun komentar di beberapa acara infotainment. Karena bidang politik diyakini oleh masyarakat umum sebagai sebuah bangunan rumah yang “hanya” boleh diisi oleh para politikus saja. Sementara menurut KBBI, politikus adalah orang yang menjalankan ilmu politik tersebut diatas—tak perduli siapapun atau dengan latar belakang apapun. Artinya siapapun boleh menjadi politikus, asalkan mampu dan layak.

Mengapa kesan minor ini dapat terjadi? Kemudian faktor-faktor apa saja yang membuat peringkat kehadiran para pesohor belakangan ini sebagai calon legistatif demikian pesat, jauh melampaui kehadirannya pada periode-periode pemerintahan sebelumnya? Fenomena apa sebenarnya yang terjadi dari semua ini? Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan kehadiran mereka? Apa yang dicari oleh para pesohor pada ranah yang sama sekali berbeda dari habitat asli mereka? Sejuta pertanyaan menggantung, perlu segera diberi jawaban sebelum stigma negatif semakin menohok keberadaan mereka, karena penulis merupakan salah satu dari mereka yang sedang banyak dibicarakan itu disana.

Sadar ataupun tidak kehadiran televisi serta acara-acaranya—terutama infotainment—belakangan sudah ibarat oksigen kedua bagi kita. Ia merupakan nafas kehidupan yang masuk melalui hidung, memenuhi rongga paru-paru dan masuk melalui jalan nadi, melalui butiran-butiran darah merah kita, hingga sampai di otak. Sehingga begitu sampai diotak, ia menjadi sesuatu yang “ada” begitu saja, sebagai satu keniscayaan. Mereka menyumbang andil yang signifikan pada—lebih dari terkadang—dunia infotainment yang diproduksi dengan biaya minim itu sangat membius penontonnya. Maka jangan ditanya bila satu saja episodenya terlewatkan, pemirsa yang berada dirumah merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga. Acara-acara tersebut banyak mengusung para pesohor dari berbagai kelas, ibarat candu yang membius bahkan menagih. Ia kemudian menjadi sebuah eskapisme terhadap kondisi nyata yang terjadi di masyarakat. Lari sejenak dari kenyataan kondisi ekonomi yang baru saja sedikit membaik, tingkat pengangguran yang masih tinggi, keamanan yang jauh dari memadai, banjir, kekurangan pangan, dan lain-lain. Bermimpi, tak mengapa kata mereka, mumpung masih gratis dan tak kena pajak—khas seperti dampak negatif para pemakai candu yang lari sejenak dari kenyataan hidup.

Media betul-betul sangat berpengaruh, terutama sejak semakin berkembangnya teknologi informasi, dimana dunia seakan tanpa batas--borderless world. Pada era perkembangan pesat budaya popular (pop culture), masyarakat dunia tiba-tiba terlihat menjadi seragam. Dimana-mana kita melihat orang memakai celana jeans dengan potongan dipinggul, menindik cuping hidung, pusar kelihatan, dll. Dari mana datangnya keseragaman ini? Tak lain dari pengaruh media audio dan visual, yang belakangan mejadi semakin murah, mudah dan cepat. Teknologi internet menambah percepatan perkembangannya.

Apa pengaruhnya pada perkembangan Politik di Indonesia dalam kaitan dengan para pesohor yang sampai dengan hari ini masih ramai dibicarakan? Media menjadi alat pengintip ketika dipadankan dengan cerita rakyat dari Barat yang berjudul “The Peeping Tom". Bila disana si Tom kecil mengintip sang Raja yang ternyata tidak memakai busana, pada kenyataannnya televisi menjadi alat mengintip sekaligus alat pengkultusan masyarakat terhadap kehidupan para subjek alias pesohor tadi. Konsumerisme visual ini mempunyai nama khusus yang sering dipakai oleh para pengajar dan pelajar studi film—voyeurism—apa yang nyaman bagi mata manusia semisal wajah ganteng dan cantik, dada bidang dan penuh, kaki panjang dan mulus, dll. Dalam bahasa popular masa kini disebut “layak jual.” Dengan keingintahuan yang berubah menjadi obsesi ngintip dan ngegosip membuat masyarakat bukan saja merambah wilayah personal para subjek, akan tetapi juga yang berkaitan dengan aktifitas para subjek pada pada tatanan social lainnya. Euphoria ini tampak seperti perayaan massal. Hingga begitu ada sesuatu yang baru yang tidak biasanya dilakukan para pesohor ini, seperti pada ranah politik, masyarakat masih melakukan pendekatan dengan cara ngintip dan ngegosip seperti yang biasa mereka lakukan terhadap para subjek sebelumnya. Tak perduli bahwa para subjek ini sedang berusaha melangkah pada dunia yang tantangannya berbeda—Politik. Bagi masyarakat, para pesohor tetaplah merupakan magnet yang berkekuatan maha dahsyat daya tariknya, tak perduli sedang apa atau bidang apapun yang sedang dilakoni. Yang penting ada berita terus yang dapat diikuti, dapat menjadi bahan “diskusi” alias ngegosip bersama rekan kerja atau hanya sekedar ngerumpi dengan tetangga samping rumah.

Voyeurisme sebagai alat konsumerisme visual. Siapa sebenarnya yang diuntungkan? Tentu saja orang-orang yang berada dibelakang tersedianya program tersebut; para produser acara-acara murah meriah yang amat kurang unsur edukasinya, serta para pemilik televisi. Bagaimana tidak, ketika acara yang awal dibuatnya tanpa idealisme sama sekali tersebut mampu mendongkrak rating pada jam yang justru tidak menarik—siang dan sore hari yang biasanya hanya ditonton oleh orang-orang yang berada dijam makan siang atau “hanya” tinggal dirumah. Benar apa yang dipaparkan oleh Neil Postman didalam Amusing Ourselves to Death (1985). Akan tetapi kondisi kekinian yang terjadi adalah bahwa amusement tersebut telah longsor dari hiburan menjadi arena pengintipan seperti si Tom sang pengintip pada cerita yang disebut diatas. Lebih tepat bila kita perhatikan analisa yang dikembangkan oleh Jay Rosen (1999) bahwa jurnalisme yang selama ini kita fahami sebagai civic journalism sebagian perlahan memudar dan menghasilkan apa yang disepakati bersama masyarakat sebagai voyeuristic journalism. Dan media di Indonesia, baik itu yang cetak maupun elektronik tak luput dari gejala yang sedang medunia akibat efek globalisasi dan borderless world ini.

Gejala voyeuristic journalism ini dimulai di Amerika Serikat ketika Hugh Heffner mempunyai “ide berlian” seiring dengan frustasi nasional disana akan perang Vietnam serta perang dingin dengan Rusia, ditemukannya pil kontrasepsi, dan terjadinya women liberation, menjual libido melalui media cetak diawal tahun 1960 an. Melalui majalah yang dimulai dengan tiras sedikit dengan gambar sampul Marilyn Monroe—yang saat itu merupakan simbol seksual—Playboy Magazine. Tiras yang sedikit itu berkembang seiring dengan permintaan pasar yang membludak. Tak alang maka sukses bisnis yang dijalankan Heffner ini menjadi panutan pebisnis Amerika lainnya. Apalagi kondisi hari ini dimana Playboy berhasil memunculkan beberapa nama beken bintang papan atas AS seperti Pamela Anderson sampai Demi Moore. Tak urung gejala ini kemudian melekat pada beberapa acara televisi khusus orang dewasa dan film layar lebar produksi AS. Tanpa terasa, dibawah sadar, kita semua tentu mengenal tiga resep lakunya film dengan pendekatan ala Hollywood; exitment, crazyness, dan visual sexuality. Nah yang terakhir ini, setelah bergabung dengan kebebasan berekspresi ala demokrasi AS, merupakan salah satu buah dari perjalanan sejarah majalah Palyboy dalam pengaruhnya terhadap perkembangan budaya pop (pop culture) di AS dan dunia.

Politik, excitement, pesohor, dan pop culture merupakan empat rangkai hal-hal yang tak terpisahkan bila kita kaitkan dengan isu-isu politik yang menjadi santapan pembicaraan kita belakangan ini. Memang, Indonesia yang masih menjunjung tinggi etika moral dengan penduduk mayoritas Muslim, tidak akan per-iah memperkenankan seorang bintang film porno dan penari bilgil menjadi anggota legislatif seperti yang terjadi di Italia beberapa tahun yang lalu. Bahkan seorang Inul pun—sebagai salah satu buah dari pop culture—cukup "tabu diri" dengan hanya ingin meramaikan Pemilu nanti sebagai vote getter dari tiga partai besar; PDI-P, GOLKAR, dan PKB. Sehingga unsur visual sexuality tidak banyak berpengaruh di tatanan moral mayoritas pemilik Pemilu di Indonesia. Tapi siapa tabu bila tidak diwaspadai bersama, kejadian seperti di Italia juga dapat terjadi di negeri kita tercinta ini.

Indonesia dengan Pemilunya di tahun 2004 ini, menjadi titik balik bagi penyiapan masa depannya. Untuk, demi dan dari rakyat adalah isu besar yang dijunjung oleh semua kontestan. Rakyat adalah peran utamanya, yang dimaknai dengan bertemunya orang-orang yang memiliki ide, perasaan, aspirasi, yang dikernbangkan menjadi komitmen yang sama bagi penyadaran besar akan persoalan bangsa Indonesia. Menurut Nurcholis Majid (Indonesia Kita, 2003), target ideal pada tahun 2015-2025, Indonesia akan memasuki the golden era dalam bentuk demographic bonus, di mana satu orang produktif akan menanggung satu atau dua orang yang tidak produktif lainnya. Masa ini adalah masa yang biasanya tidak terjadi dua kali dalam sejarah dunia. Mengingat pentingnya masa ini, maka tidak dibenarkan kekuasaan dikejar demi kekuasaan tersebut semata. Kekuasaan harus dikejar demi mewujudkan cita-cita besar bangsa. Kita semua harus berfikir dari berusaha menyelamatkan dan membangun Indonesia. Harus jeli melihat potensi dan peluang yang ada. Jika kita lemah dan gagal. maka kita akan terpuiuk serta tercecer menjadi bangsa yang selamanya terbelakang. Dan keterlibatan para pesohor tentunya tidak lepas dari koridor ini—membangun masa depan bangsa dan negara Indonesia dengan segala kesadaran serta kemampuan yang ada pada mereka.

Jatuh cinta pada si ganteng gagah dan si cantik yang pintar dan terkenal. Alangkah idealnya mimpi tersebut. Di Barat, kita tabu minimal ada tiga nama aktris dan model perempuan serta beberapa aktor yarf& sampai usia gaeknyapun masih dikejar para penggemarnya di seluruh dunia. Beberapa yang dapat disebut, di antaranya; Christy Turlington, Elizabeth Hurley, Angelina Jolley, serta Richard Gere dan Arnold Swezeneiger. Christy Turlington adalah salah seorang dari generasi supermodel dunia, bersama Naomi Campbell dan Linda Evangelista. Ia terkenal menjadi bagian dari The Trinity (tiga model dengan bayaran tertinggi pada saatnya). Ketika era supermodel berakhir, dan ketika para model lainnya menghilang atau turun reputasinya, Christy Turlington justru kembali kebangku sekolah. la pun menamatkan pasca sarjananya dari NYU (New York University) pada tahun 1999. Memang sejak 'ditemukannya' pada usia tiga belas tahun, Christy berkeras untuk tidak memulai karimya sebelum ia lulus dari bangku SMA. Ia kemudian bekerjasama dengan merek Puma untuk mengembangkan sebuah bidang usaha produk peralatan dan busana untuk yoga dengan label Nuala. Christy memegang penuh kontrol terhadap label yang dimulainya sejak tahun 2000 itu. Kecintaannya pada budaya Hindu dan India meneruskan langkah bisnisnya mencintakan produksi perawatan kulit dengan bahan dasar tumbuhan ayurveda berlabel Sundari (Yang berarti cantik di dalam bahasa Sansekerta). Citra yang terpanear pada dirinya selain cantik adalah pintar dan piawai dalam bisnis, sehingga tak heran bial ia mampu bertahan sebagai model Kelvin Klein selama hampir lima belas tahun belakangan ini. Begitu juga nama-nama yang tersebut setelah Christy, Angelina Jolley. Walaupun lahir dari keluarga yang broken home—begitu juga perkawinannya. Akan tetapi kecintaannya terhadap kelompok marginal, anak-anak korban di pengungsian, membuatnya bukan hanya semakin bersinar sebagai aktris papan atas, tetapi juga membuat sebuah organisasi dunia PBB melirik memakainya menjadi duta UNICEF untuk anak-anak korban pengungsi dari Cambodia. Siapa yang tak jatuh cinta pada pandangan pertama pada si ganteng Richard Gere? Aktor yang sudah mulai memutih rambutnya—tapi masih menyisakan kegantengannya—adalah aktifis yang menyokong kedaulatan masyarakat Tibet. Kedekatannya pada Dalai Lama, memberinya pencerahan dengan memeluk agama Budha. Dan yang terakhir masih hangat dibicarakan, sang Gubernur baru. California, bintang laga Arnold Schwarzeneger. Walaupun hanya berselisih sedikit, ia toh mampu memenangkan pemilihan disana. Mengacu kepada beberpa referensi diatas, teramat sangat jelas terlihat bahwa pada dasarnya setiap manusia itu punya potensi untuk menjadi positif, baik, serta bern-lanfaat bagi kelangsungan hidup manusia lain. Mereka ibarat medan magnet yang luar biasa bagi para pemburu berita—wartawan serta aneka macam media.

Bagaimana di Indonesia? Kurang lebih demikian yang kelihatan. Bisa jadi juga karena pengaruh globalisasi media dengan pengaruh pop culture nya. Jadi budaya popular yang umumnya berkembang melalui acara hiburan, pakaian, makanan, gaga hidup dan musik, bila yang terekspos di Barat seperti itu, kelihatannya akan menjadi inspirasi kepada penduduk negara ketiga lainnya—Indonesia salah satunya. Di Indonesia dalam kaitarinya dengan Politik, kita melihat beberapa Hama yang muncul kepermukaan; Nurul Arifin dan Luhut Sitompul dari partai Golar, Dede Yusuf dan Paquita Wijaya dari PAN, Rieke Dyah Pitaloka dan Gusti Randa dari partai PKB, Emilia Contessa dan Mieke Wijaya dari partai PPP, Angelina Sondakh dan Roy Marten dari partai Demokrat, Neno Warisman, HeIvy Tiana Rosa dan Pepeng (Jari-jari) dari partai PKS, serta penulis sendiri dari partai PDIP. Alasan dan latar belakang pemilihan kendaraan politik masing-masing, jelas berbeda satu sama lainnya. Walau penulis yakin bahwa tujuan kita semua sama—kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia. Kalau mereka ingin merebut hati rakyat, artinya selain popularitas yang telah dimiliki, mereka juga harus berkecimpung di bidang apapun dan harus mengetahui persis apa yang dekat dan sedang menjadi aspirasi masyarakat luas. Ini pun lagi-lagi adalah produk dari perayaan massal budaya popular (pop culture). Frasa "disukai pasar" mempunyai makna disukai banyak orang—populis—menjadi kata kunci dari kesuksesan. Salah satunya adalah dua contoh yang populis tapi sangat bertolak belakang; fenomena Inul Daratista dan Aa' Gym. Yang pertama disukai oleh karena visual sexuality-nya, sementara yang kedua karena ajaran moralitas yang menjadi innate (kodrat dasar) masyarakat luas Indonesia. Inul disukai karena dapat membangkitkan gairah hormon testosterone para pria pemujanya, bahasa membuminya yang sangat sederhana disukai para wanita, kebersahajaan pribadinya menimbulkan empati yang mewakili mimpi wong cilik Jawa Timuran. Di sisi satunya Aa' Gym menggunakan kalimat-kalimat poluler yang mudah dicerna, serta pendekatan--pendekatan yang mirip buku yang ditulis oleh Norman Vincent Peale "The Powerful Way to Change Your life "(2000) dan"Positif Imaging" (1998), serta Napoleon Hill pada "Think and Grow Rich" (2002). Siapapun manusia didunia perlu motivasi serta role model dalam melangkahi kehidupannya- Dan Aa' Gym sangat tabu akan hal itu. Ia pun menggunakan kekuatan media sebagai kendaraan dakwahnya. Walhasil, dengan segala perbedaan mencolok yang ada, keduanya mampu menyedot perhatian masyarakat serta penggemarnya masing¬-masing. Siapakah yang diuntungkan sekali lagi dari kehadiran dua superstar itu?—selain kedua pribadi yang bersangkutan—tentu saja media dan semua masyarakat industri media kapitalis yang terlibat di dalamnya.

Bilamana semua kemungkinan dapat muncul ke permukaan dikaitkan dengan suasana politik yang terjadi belakangan ini, apakah masyarakat Indonesia dapat mempercayai kemampuan para pesohor yang sekarang sedang berjajar sebagai calon legislatif? Probabilitinya lima puluh persen-lima puluh persen. Sebagian di dalam beberapa polling menyatakan setuju, sebagian lagi merasa patch arang dan curiga. Dilain pihak, penulis membaca kondisi masyarakat yang juga terbagi dua. Pertama masyarakat yang berpikir dengan cara Machiavelli, dan kedua adalah masyarakat yang berfikir secara spiritual. Machiavelli adalah seorang tokoh yang terkenal dengan keyakinan bahwa dalam berpolitik, cara yang paling "baik" adalah cara yang paling efektif dan efisien untuk mendapatkan kekuasaan. Jadi pada dasarnya setiap manusia itu berpotensi buruk! Manusia mempunyai kepentingan-kepentingan yang mampu membuatnya melakukan apa saja demi memenuhi kepentingannya. Hanya melalui sistim yang baik, kecenderungan buruk manusia itu dapat ditekan. Berseberangan dengan Machiavelli, para spiritualis yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik. Yang membuatnya menjadi buruk adalah jika hak-hak asasinya—terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan bidup—tidak diperoleh secara memadai. Dalam bahasa yang sangat Islami, kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Jadi secara innate manusia itu sebenarnya baik, hanya lemah! Diperlukan sebuah tatanan atau sistim yang qjeg yang dapat mengontrol semua langkah usaha dalam mencapai kebajikan yang dicita-citakan. Tentunya bersama-sama dan saling bahu-membahu diantara seluruh masyarakat Indonesia. Kehidupan bangsa ini harus terus melaju, karena la bukanlah sesuatu yang hampa, is bermakna. Makna hidup ini bermula dari sebuah visi kehidupan, harapan, dan wujud alasan kenapa seseorang hares tetap bertahan hidup. Dengan energi ini seseorang akan mampu mengatasi segala kesulitan yang hadir di depan mata. Tak perduli seseorang itu pesohor atau masyarakat umum biasa.Yang penting tentunya jujur dan selalu berprasangka baik. Dengan kejujuran, kita dapat saling mengenal dengan baik, mencari titik temu, walau pada akhirnya ada yang harus kita sepakati untuk tidak sepakat.

Beberapa aksi positif program nyata dari para caleg asal pesohor ini banyak yang sudah jelas didepan mata. Mereka menggiring program yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Seperti misalnya Nurul Arifin dengan aksi isu HIV AIDS, Quota 30% wanita pada parlemen, dan kekerasan dalam rumah tangga, Rieke Dyah Pitaloka dengan aksi isu penegakan hukum, pendidikan yang membuka pikiran, serta kesetaraan gender. Sementara penulis sendiri akan mengusung isu pemberdayaan seni dan budaya lebih optimal sebagai ujung tombak diplomasi dunia, mengurangi dampak kerusakan lingkungan terhadap kekerasan gender, pemberdayaan sumber daya perempuan dan anak secara umum khususnya mendorong pendidikan anak perempuan yang masih terasa sangat dianak-tirikan, ditambah percepatan pengembangan teknologi informasi bagi para keluarga yang memliki anak usia sekolah. Beberapa pesohor lainnya mengusung isu yang kurang lebih mirip, karena pada dasarnya kita semua memang mengingiiikan sesuatu yang juga mirip kalau tidak dapat dikatakan sama—Indonesia yang bangkit!

Penulis pun tiba-tiba teringat akan sebuah buku yang barn saja beredar di toko buku karangan Victor E. Frankl, "Logoteraphy" (2003). Pemikiran Frankl ini sangat menarik karena sangat berseberangan dengan pemikiran Sigmund Freud dengan Psikoanalisanya, serta cocok untuk melengkapi analisa isu didalam tulisan ini. Frankl yang hadir pada masa setelah Freud, mereka berdua mempunyai kesamaan tertank pada alam dan pengobatan neurosis. Bila Freud menemukan akan penyakir neurosis yang menyedihkan itu dalam kegelisahan yang disebabkan oleh konflik internal dan motivasi bawah sadar, sementara. Frankl melihat berbagai bentuk neurosis yang muncul pada pasien yang menderita kegagalan dalam mendapatkan makna dan rasa tanggung jawab dalam eksistensinya. Logoterapi yang ditawarkan oleh Frankl lebih mendekati teori aktualisasi diri dari Abraham Maslow—teori kebutuhan—dicintai dan mencintai, sandang, pangan, papan, dan aktualisasi diri.

Para pesohor adalah manusia biasa dengan segala permasalahannya. Mungkin juga dari kami ada yang menderita neurosis, dan butuh pemenuhan dasar sesuai teori kebutuhannya Maslow. Bahkan pada sebuah acara Angin Malam di RCTI yang menghadirkan Nurul Arifin dan Wanda Hamidah mantan pendukung partai PAN, di dalam kata-kata pembuka yang diucapkan oleh sang pembawa acara dengan nada menghafal sehingga tidak lancar dikatakan:"... konon dikatakan, para artis ini pada saat mulai kehilangan pekerjaannya, mereka mulai melirik pekerjaan politik." Penulis protes dan tidak setuju! Karena sesuai dengan apa yang disinyalir oleh Hegel sang filsuf, dikatakan bahwa pada pada puncak pemenuhan hidup seseorang, maka segala sesuatunya akan dikembalikan lagi kemasyarakat. Para pesohor yang, sekarang sedang berjejer menjadi caleg, penulis yakim masih memiliki penghasilan memadai yang melebihi dari sekedar gaji pokok serta tunjangan yang akan diterima sebagai legislatif dari negara—sebagai imbal balik menjadi wakil rakyat di kantor Senayan.

Dari beberapa nama yang sering muncul di media. rata-rata berusia tiga puluh lima tahun keatas, di mana sudah mulai mendapatkan tingkatan terakhir dari lima peringkat teori kebutuhannya Maslow—artinya kebutuhan dicintai dan mencintai. sandanp– pangan, clan papan telah selesai. Masalah aktualisasi juga sudah bukan masalah lagi, karena pernah dan masih populer sampai hari ini. Di atas sana masih ada kebutuhan transendental (kerinduan akan Ilahi) yang bersentuhan dengan kepekaan sosial yang tinggi. Hingga apa yang diucapkan oleh Hegel sangat masuk di akal. pada tahapan itu semua yang telah didapatkan oleh seorang pesohor/individu akan dikembalikan kepada masyarakat melalui pengabdian yang bersentuhan dengan kesalehan sosial. Berbarengan dengan sistim Pemilu yang terbuka sekarang ini, membuat kemungkinan partisipasi bagi siapapun di ranah politik menjadi terbuka. Kompetisinya bebas, langsung, sangat lokal yang berarti; siapa yang paling populer dan dikenal masyarakat di tempat pemilihannya maka ia akan kelihatan lebih dahulu. Memang sangat mungkin para pesohor ini akan menang dan melenggang secara leluasa lebih dulu dibanding para kandidat umum lainnya.

Jadi sebenarnya menjadi caleg "biasa", tidak perlu berkecil hati. Pada era budaya popular seperti sekarang ini, setiap orang mempunyai potensi menjadi terkenal. Ada dua pihak ekstrim yang terbuka—menjadi penyebar segala kebaikan sesuai ajaran moral spiritual, atau membuka busana atau menggoyang-goyangkan aurat di depan publik. Tentunya kita keberatan dengan pilihan yang kedua. Dari ruang diskusi Kaukus Perempuan Politik Indonesia kemarin, disimpulkan untuk menjalani pilihan pertama yang penulis sarankan ditambah dengan terjun langsung kemasyarakat bawah—tatap wajah, datang ke pasar yang banyak manusianya, dan melakukan usaha kissing the babies. Cara-cara yang di Amerika Serikat sudah dianggap klise ini sesungguhnya masih sangat efektif di belahan mana pun di dunia ini. Orang masih sangat terpana dengan sentuhan salaman, senyuman yang hangat, tatapan mata yang talus dan berangkat dari hati, serta ucapan-ucapan salam yang personal. Dengan pandangan mata ramah dan tatapan langsung, perkenalkan diri kita dengan menyebut: "Nama saya adalah..., saya caleg lho, nanti kalau saya terpilih saya akan membantu kesulitan ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian di DPR atau DPRD, dll." Sesungguhnya, sebagai caleg yang bukan pesohor yang menapak karir dari bawah, tidak juga perlu khawatir, karena ada BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Pemilu dengan cara langsung, terbuka, dan sangat lokal ini sebenarnya menguntungkan bagi kita semua orang-orang yang serius dan mau kerja keras. Karena bila suara atau dukungan pada saat pemilihan nanti banyak, siapapun dapat "membawa kursinya sendiri" dari rumah. Maksudnya sudah punya investasi dan bargaining position yang baik pada partainya masing-masing untuk masuk ke dalam urutan peci (di atas) pada Pemilu 2009 yang akan datang. Insya Allah demikian adanya.

Oleh: Marissa Haque Fawzi

Jakarta, 24 Januari 2004.

Wanita di Perpolitikan Indonesia (dalam Marissa Haque untuk Harian Republika, Suplemen Jawa Barat/Daur Ulang di Radar Banten)

Harian Republika, Suplemen Jawa Barat


Jakarta, 14 February 2004

Oleh: Marissa Haque Fawzi

Sewaktu saya berada di Ohio University, Athens, USA, April 2002 yang lalu, di tengah udara segar awal musim semi dan mekarnya bunga Cherry Blossom, di tengah rasa sedih yang berkecamuk karena rasa rindu yang sangat menggigit pada suami dan anak-anak serta kesendirian yang membeku, melalui internet saya membaca sebuah tulisan kutipan dari speech Ibu presiden RI Megawati Soekarnoputri mengenai kaum perempuan yang tidak boleh cengeng untuk meminta quota 30% dan sebaiknya harus terus menerus mengasah dirinya demi kemajuan agar siap bersaing dan merebut peluang yang ada. Saat itu hati nuraniku berteriak di antara setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa kesempatan untuk maju bukan dengan mengemis berikut kecengengan yang biasanya menjadi stigma pada sifat kaum perempuan, akan tetapi dengan merebutnya.

Namun di lain pihak saya tidak setuju dengan pernyataan beliau tersebut di atas, karena jumlah 30% suara adalah merupakan jumlah minimal yang harus didapatkan bila kaum perempuan akan memperjuangkan sesuatu. Saat itu saya merasakan adanya getaran “amarah” dari teman-teman aktivis perempuan di Indonesia dari tempat tinggalku di kota kecil Athens, AS yang berjarak setengah belahan bumi dari Jakarta sehubungan dengan pernyataan tersebut di atas. Akan tetapi sebagi seorang mahasiswa pasca sarjana, saya berusaha memahami latar belakang alasan yang membuat Ibu Megawati mengeluarkan pernyataan demikian.

Saya kemudian meneliti serta menelusuri jejak langkah sejarah Ibu Megawati dari kecil hingga kemudian mulai berpolitik saat usianya berkepala empat. Saya memperoleh beberapa catatan dan membuat sejumlah hipotesa, bahwa dengan garis hidup yang tidak terlalu “ramah” padanya, beliau dengan berjuta upaya berusaha mengarungi kendala “melenyapkan” hambatan the glass ceiling (May Ling Oei Gardiner, 1997). Ibu Mega saya lihat sangat sabar serta mampu menahan diri sampai dengan keberadaan di posisi sesungguhnya — yang memang merupakan takdirnya — sebagai orang nomor satu di Indonesia saat ini. Kehadirannya sebagai politisi muda dimulainya atas dorongan Taufik Kiemas sang suami—sesuai wawancara yang saya lakukan dengan Pak Taufik — saat Ibu Mega memasuki usia matang empat puluh tahun. Dari orang yang tersingkirkan sebagai korban dunia politik, beliau, sang suami, serta beberapa teman yang dekat dihati berhasil melalui berjuta rintangan yang menghadang. Ada sebuah babak yang tanpa terasa melukai rasa gender sensitive saya ketika pada tahun 1999, PDI Perjuangan, partai yang dipimpin Ibu Mega ketika berhasil menjadi the ruling party ternyata tidak mampu menghantarkan beliau menjadi Presiden Republik Indonesia saat itu karena dianggap menyalahi kaidah agama yang melarang seorang perempuan menjadi Presiden. Yang menggelitik adalah, ketika belum genap dua tahun saat presiden yang berkuasa saat itu dianggap harus turun jabatan. Dengan kelompok yang sama, mereka kemudian mencari-cari ayat yang berbeda dari kitab suci yang sama, mencoba meyakinkan masyarakat bahwa perempuan sebenarnya ”layak juga” sebagai pemimpin nomor satu sebuah negri. Saya melihatnya ibarat sebuah komedi panggung zaman Dardanela. Saya yang ketika itu masih teramat sangat apolitik, kemudian merasa terketuk untuk turut serta meyumbangkan sesuatu bagi negeri tercinta Indonesia dan Presiden perempuan pertama negeri ini—Megawati Soekarnoputri.

Maka ketika setelah kembali lagi ke Indonesia untuk mengambil cuti kuliah—sebagai seorang istri dan ibu dari dua gadis remaja saya berusaha menyeimbangkan waktu antara kuliah di Amerika Serikat dan mengurus keluarga di Indonesia—dan kembali lagi ke Athens, Ohio guna menyerahkan studi independen membuat beberapa film iklan dan dokumenter, begitu mendengar bahwa rombongan Presiden RI akan datang ke New York untuk mengikuti KTT disana, tanpa berpikir panjang dengan dana saku yang pas-pasan khas layaknya seorang mahasiswa sayapun langsung terbang dari Columbus, Ohio menuju New York. Targetku hanya satu; mengusung obsesi lama membuat film dokumenter mengenai tiga orang pemimpin negara perempuan ditengah pro dan kontra. Mereka bertiga yang saya agendakan untuk diliput adalah; Megawati Soekarnoputri, Aung San Su Kyi, serta Gloria Macapagal Aroyo. Tentu yang pertama-tama aku akan kejar adalah Presidenku lebih dulu!

Sesampainya di kota New York yang memiliki biaya hidup sangat termahal untuk ukuran AS, saya tinggal dirumah beberapa keluarga Indonesia yang menerima saya dengan tangan terbuka. Beberapa yang dapat disebut adalah; keluarga Andy Rahmianto (PTRI-DEPLU) beserta Ismi istrinya, Mas Inil dan Windy istrinya di Pocono, Ustad Samsi Ali beserta istri dan keluarga besar Masjid Indonesia NY, mbak Mimi Louis (KJRI-NY), dan mbak Aisha di New Jearsy. Tak lupa tentunya sahabat setiaku di Columbus dan Athens yang sering menemani disaat suka dan duka; Mas Syarif dan Ira istrinya, serta Rinalda Radjab dan Ziad Akir sang suami yang asal Palestina. Ada sesuatu yang sampai hari ini aku sesalkan, yaitu tidak sempat singgah dan menginap dirumah kakak kandung mas Riri Riza, sutradara muda terkenal Indonesia pembuat film Sherina—Bang Mamat dan Heather istrinya.

New York dengan sejuta pesonanya tidak mampu membuat aku bergeming dari tujuan awalku—menemui Presiden perempuanku. Aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri penampilan beliau di PBB, aku ingin mengabadikankannya melalui camera DVCam Sony PD 150 ku, aku ingin membuat beberapa still photos dari kehadiran beliau ditengah para pria pemimpin dunia asal negeri maju.

Singkat kata, aku berhasil melihat penampilan Ibu Megawati di Asembly Hall-UN. Juga turut menyaksikan beliau duduk dan bercakap-cakap dalam sebuah meja bulat bersama George Bush, Koffi Anan, Jaques Chirac, dan beberapa pemimpin dunia lainnya—beliau satu-satunya perempuan saat itu. Ibu Mega memakai kebaya warna ungu tua dengan kain dan selendang batik sutra warna coklat dengan motif yang ada unsur ungunya. Rasanya saat itu aku bangga sekali mempunyai seorang Presiden perempuan. Dan entah datang dorongan darimana, saat itu juga aku langsung mengatakan didalam hati, “… I’ve got to support this lady anyway". Dari niat akan mengusung protes akan ungkapan beliau tentang quota 30% yang tidak didukung sejak aku membaca berita tersebut melalui internet di Athens, Ohio, sampai pada akhirnya aku jadi berniat mendukung program beliau pada penghujung masa sisa jabatan dengan membantu turut berkampanye untuk PDI Perjuangan di tahun 2004 ini. Siapa yang menyangka pucuk dicinta ulam tiba, ketika tanpa diduga keesokan harinya, ketika aku sedang meliput di depan The American-Indonesian Chamber of Commerce aku dihampiri oleh Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang menyampaikan salam dari Bu Mega dan mengajak untuk bergabung dengan partai PDI Perjuangan. Kelihatannya beliau terkesan dengan sejumlah pertanyaan yang aku utarakan saat tatap wajah bersama beberapa wakil mahasiswa Indonesia di AS (PERMIAS) dari seluruh penjuru AS—berisi tentang perlunya film dan seni budaya sebagai ujung tombak diplomasi Indonesia yang sangat lentur.

Kalau sekarang gaung 30% caleg perempuan sangat keras gemanya, belakangan aku sadari seribu persen bahwa itu adalah buah dari upaya perjuangan Megawati Soekarniputri sebagai Presiden RI perempuan pertama melalui salah seorang pembantunya—Ibu Sri Rejeki sang Menteri Muda Urusan Peranan Wanita didukung partisipasi beberapa LSM, KPU (Ibu Nurul Mar’iyah) dan masyarakat Indonesia secara luas. Tak menutup mata andil yang maha dahsyat dari peran media cetak, televisi serta radio dalam proses pensosialisasiannya.

Belakangan kita semua sedang menghitung mundur hari H pemilu 2004 yang sudah didepan mata. Sebagai salah seorang caleg perempuan dari PDI Perjuangan, saya merasa betapa amat pentingnya kita semua membantu kaum perempuan—melaui nantinya—kebijakan-kebijakan yang “ramah” bagi perempuan, anak dan keluarga secara menyeluruh. Wanita diharapkan lebih mampu untuk lebih berperan dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan isu-isu yang berpengaruh pada kehidupan mereka. Saya meyakini bahwa Ibu Megawati hari ini masih sangat menjadi sumber inspirasi bagi banyak kaum perempuan untuk segera berprestasi dan mengambil posisi kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing laki-laki, apalagi bermusuhan. Karena kita perempuan Indonesia bukanlah seperti mereka di Barat. Disini, kami para perempuan saya yakini hanya ingin mendapatkan kesempatan yang memang merupakan haknya, ingin menjadi mitra sejajar para pria yang juga dekat dihati mereka. Siapapun perempuan itu, saya, anda semua, lintas suku, agama dan ras. Karena itu saya memilih PDI Perjuangan yang saya yakini dapat mengakomodir Indonesia yang multikultural dan kepentingan perempuan pada khususnya. Insya Allah demikian adanya.

Super Komoditas Politik: Marissa Haque Fawzi


Serang, Banten, 3 Desember 2005

Suasana Rapat Paripurna kali ini di DPR RI terlihat tidak seperti biasanya. Tujuh puluh lima orang anggota/wakil rakyat F-PDIP dari jumlah total seratus lima orang anggota plus beberapa simpatisan dari anggota F-PKB dan sebagian dari F-PKS pada Selasa minggu yang lalu terlihat lain dari biasanya. Caping (topi petani) yang berwarna coklat muda bertulis "Rakyat Tolak Import Beras" ibarat sekumpulan jamur kancing di musim hujan, saat terlihat dari balkon atas ruang sidang. Bergegas setengah berlari kuturuni tangga lantai dua tempat para wartawan biasa mengambil gambar/photo/video shooting menuju tempat duduk di bawah bernomor A-320. Ringan terasa ayunan kaki, seriang hati ini bernyanyi.

Kekompakan sebagian besar anggota dewan terhadap kesulitan para petani, adalah bagian dari tekanan yang terus menerus kami lakukan karma kecewaan terhadap kebijakan yang berat sebelah yang dibuat sepihak yang berlandaskan pada sistim ekonomi Neo-Liberal, dengan mengabaikan keberadaan kami 550 orang anggota Dewan Rakyat (khususnya Komisi IV sebagai Leading Sector). Aksi ini memberikan secercah harap di dalam hati. Kepedulian terhadap nasib petani yang saat ini terancam akibat impor beras yang dilakukan oleh oknum pemerintah khususnya Menko Perekonomian Aburizal Bakrie yang telah dilakukan tanpa persetujaun Komisi IV dan DPR-RI sebesar 70 ribu ton beras dari Vietnam dan Thailand. Dan hebohnya lagi, per hari kemarin berencana lagi mengimpor sebanyak 170 ribu ton – justru pada saat petani kita sedang panen. Ini tidak boleh didiamkan. Petani menolak! Anggota Dewan menolak! wong cilik menjerit! Karena yang dilakukan oleh oknum pernerintah itu benar-benar melukai hati rakyat kecil.

Tak kurang Ketua HKTI '(Hlimpunan Keluarga Tani Indonesia) Pak Siswono Yodhohusodo dan Menteri Pertanian Pak Anton Apriyantono mengatakan tidak adanya alasan kuat dari pernerintah untuk mengimpor beras. Jika niatnya memang hanya sebagai cadangan pangan nasional saja, tentunya Bulog dapat membeli beras hasil panen petani yang sedang surplus saat ini. Menurut Pak Siswono, sebenarnya sejak tahun 2003 saat lbu Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden, impor beras telah dilarang. Dan kebijakan tersebut didukung oleh petani, sehingga harga beras membaik, demikian juga dengan harga gabah. Indikasinya adalah sebelum ada larangan impor beras harga gabah kering panen (GKP) per kilogram hanya Rp 650,--Rp 700,-. Kemudian meningkat menjadi Rp 1.300,- per kilogram. Dengan denilklan, petani tidak mengalami kerugian, bahkan mendapatkan surplus dan keuntungan. Petani dapat membelanjakan dananya untuk mencukupi kehidupan seperti seperli membelikan baju seragam anaknya, membayar uang sekolah dam melenglapi mereka dengan buku-buku pelajaran yang cukup. Sementara menurut Pak Anton Apriyantono, bahwa Mendag Marie Pangestu menyalahi wewenang. Sehubungan dengan mengeluarkan izin impor beras sebanyak 70.050 ton pada 1 November 2005.

Menurut Mentan dalam RDP (Rapat Dengar Pendapat) Gabungan di Komisi VI DPR RI bersamaia Depdag, Deptan, dan Perum Bulog, Marie Pangestu mengeluarkan izin tanpa melalui tahapan prosedur. yang tercantum dalani Surat Keputusan Menteri Perdagangan (Mendag) nomor 1605/M-DAG/11/2005 tentang import beras yang diterbitkan. Mendag telah menyalahi wewenang karen mengeluarkan izin impor sebelum tahapan-tahapan yang menjadi syarat impor dipenuhi. Syarat-syarat agar impor beras dapat,dilakukan apabila: 1). Harga beras kualitas medium sudah di atas Rp 3.500,-per kilogram, 2). Stok Bulog sudah di bawah satu juta ton, scrta 3). Depdag sudah menggelar OPM (Operasi Pasar Murni). Faktanya OPM belum pernah sekalipun dilaksanakan, harga beras masih di bawah Rp 3.550, per kilogram dan stok Bulog masih di atas satu juta ton. Lucunya lagi ada selisih angka yang mengusik hati nurani saat pihak Bulog bersikukuh jumlah beras yang akan masuk sebesar 250.000 ton sampai dengan tangaal 15 Januari 2006, sernentara Mentan Pak Dr. Anton Apriyantono menegaskan bahwa kalaupun harus terpaksa impor jumlahnya tak lebih dari 70.050 ton saja. Rasanya hati perjuangan saya saya pribadi — bersama-sama PDI Pejuangan — ada dalam getaran yang sama dengan Pak Menteri Pertanian asal Fraksi PKS ini.

Ketua Komisi VI Didiek J. Rachbini mengatakan bahwa ketidakjelasan data dan fakta importasi beras memperkuat ketidak percayaan publik terhadap transparansi impor beras yang dilakukan. (Investor Daily, 22 November 2005). Dicurigai sebanyak enam kapal sedang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta diduga mengangkut lebih dari 10.000 ton beras selundupan. Dugaan tersebut disinyalir bukan berasal dari Vietnam akan tetapi dari Thailand. Ditambahkan oleh anggota Komisi VI dari F-PPP Pak Efiardy Azda, SK Mendag no 1605/M-DA/II/2005 tertanggal 1 November 2005 itu tadi yang diizinkan olch Mendag hanyalah beras dari Vietnam saja. Tak kalah serunya adalah saat Direktur Perum Bulog Bapak Wijanarlw Puspoyo RDP (Rapat Dengar Pendapat) di Komisi IV, sejak awal suasana sudah 'kencang' dan selesai presentasi Pak Wijan (demikian beliau akrab dipanggil) sudah mendapatkan teguran keras dari Ketua Komis VI Pak Dr. Yusuf Faisal dari F-PKII (suami penyanyi Hetty Koes Endang) bahwa apa yang beliau lakukan tidak benar secara Due Process of Law. Ditanyakan tentang merujuk ke mana data yang dipakai, dari BPS ataukah BKKBN? Dan ke 23 importir beras itu siapa saja dan ditunjuk berdasarkan apa? Karena buras import yang datang ke Indonesia melalui delapan pelabuhan, antara lain Pelabuhan Ciwandani di Banten, secara umum telah diketahui bersama bahwa setiap 1000 ton beras yang masuk ke negeri ini, 'Free Raider' (ikutan selundupannya) nya dapat dua atau tiga kali lebih besar dari yang resminya. Dan kalau mau jujur kondisi terakhir yang disebut Underground Economy adalah sebesar 48% an berasal dari illegal importers, illegal logging, illegal fishing, dll.

Terkait dengan impor beras ini, doa saya bagi pcmimpin negeri ini agar meniru perjalanan hidup Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sangat amanah di dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin negeri. Khalifah Umar betul-betul merasa ngeri akan tanggung jawab yang amat berat di hadapan Allah. Beliau membayangkan neraka yang amat dahsyat jika rakyat menderita di bawah kepemimpinannya. Seperti firman Allah SWT dalain QS. Al Anfal ayat 27 yang, mengatakan: "Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah SWT dan Rasulullah saw, dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan keepadamu, sedang kamu mengetahuinya."

Di luar sejuta kepentingan yang menyertai gaung geram impor beras ini, alhamdulillah, ada setitik embun sejuk menetes di hati, saat Mentan Anton Apriyantono menegaskan bahwa pemerintah tidak lagi akan melakukan import beras, dan Presiders SBY seratus persen mendukung/berada di belakang beliau. HPP dinaikkan men jadi Rp 1.730,- dari sebelumnya Rp 1.330,-. Presiden menghendaki Bulog mengutamakan pembelian gabah milik petani (Republika, 3 Desember 2005, hal 16). Yang diperlukan sekarang adalah memperkuat basis dalam perberasan di dalam negeri. Data base perberasan harus segera dibuat. Kalau memang sudah ada agar lebih disosialisasikan. Asosiasi Petani Padi diciptakan, Kita tolehkan wajah sejenak ke Thailand di mana mereka telah mampu dengan rapi membuat sebuah sistem sebagai wadah petani padi ke dalam kelompok, koperasi, dan asosiasi yang amat kuat yang terdiri dari para pelaku pertanian padi tadi. Kelompok, koperasi, dan asosiasi inilah yang dengan bantuan pemerintah dan lembaga donor membangun data base perberasan. Impor betas bukanlah satu solusi guna memenuhi kekurangan kebutuhan pangan Indonesia. Kalau kita memang menganggap ada kekurangan, seharusnyalah kita membuat program peningkatan produksi, jangan terus mengimpor dan hanya mengenyangkan kantong sebagian oknum yang bermain di dalamnya.

Tidak sia-sia langkah perjuangan kami bersama teman-teman di DPR-RI (F-PDIP, F¬PKB, dan F-PKS sebagian), media infotainment, media cetak, sehingga didengar oleh Bapak Presiden dan sebagian besar Gubernur di seluruh Indonesia. Bagaimana dengan Banten? Dua hari yang lalu di Metro TV saya melihat dan mendengar berita tenting masuknya beras selundupan dari Thailand melalui pelabuhan di Cilegon. Siapa yang harus kita semua 'teriaki' untuk masalah kebocoran keamanan salah satu pintu masuk di Cilegon ini? Tentu kita semua besar berharap agar banyak masyarakat Banten yang mau dan mampu secara sadar berperan menjadi seperti Kallflih Umar bin Abdul Aziz — apapun gendernya — salah seorang Kekasih Allah yang telah terbukti mampu berbuat yang terbaik bagi rakyatnya. Yang padi akhir hayatnya dicatat dengan aroma seharum wardah wangi surgawai di dalam Al Hadits. Siapa yang tak ingin seperti beliau? Kita semua mampu melakukannya tanpa terkecuali. Asalkan ikhlas, fokus, dan sungguh¬-sungguh tanpa pamrih.

Allahu Akbar, Merdeka!

Entri Populer