Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)


Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)

Bintaro, Jakarta, February 21, 2004


Water is the source of life.

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.

If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.

According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
Tampilkan postingan dengan label Marissa Haque. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marissa Haque. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

Marissa Haque Muncul di "Ranking 1" Trans TV: Ikang Fawzi

Sumber:  http://ikangfawzi.blogdetik.com

Pagi-pagi jam weker di kamar berbunyi Icha mencium saya untuk membangunkan agar berjamaah sholat Subuh. Pagi ini dia memang agak terburu-buru karena harus shooting live acara di Tans TV bertajuk "Ranking 1." Pas banget! Icha (Marissa Haque) bini ana tercinta memang jiwanya sangat scholarly. All the best my Love...

16706e271a47079bab6f61202ed4047a_ikang-fawzi-marissa-haque-isabella-fawzi-di-house-of-raminten-yogyakarta-2011

Terimakasih semalam ditemani di studio mini milik kita dan memeberikan komentar positifnya. Semoga album re-mix kita disukai oleh masyarakat luas kelak. Our fans...our lovers... thank you all...


Marissa Haque Muncul di "Ranking 1" Trans TV: Ikang Fawzi

Senin, 14 November 2011

Marissa Haque: Seperti di Riau, Mengerikan Kalau Negara Tak Sanggup Menyentuh Kriminal Korupsi Birokrat Propinsi Banten (Diduga)


DUGAAN KORUPSI: Ratu Atut Chosiyah Dilaporkan ke KPK
Icha Rastika | Latief | Rabu, 28 September 2011 | 19:26 WIB
ICHA RASTIKA Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten, Ratu Atut Chosiyah ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu (28/9/2011). 
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten Ratu Atut Chosiyah, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (28/9/2011). Atut dianggap bertanggung jawab atas pengelolaan dana hibah dan bantuan sosial Provinsi Banten 2011 yang diduga telah diselewengkan.

Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar.
-- Abdullah Dahlan

”Dalam laporan itu, disebut inisial RAC (Ratu Atut) dan EK (Engkos Kosasih),” ujar peneliti dari Divisi Politik ICW, Abdullah Dahlan, di Gedung KPK, Rabu (28/9/2011).

Pemrov Banten diketahui menyalurkan dana hibah sebesar Rp 340 miliar ke 221 organisasi, forum masyarakat, dan instansi negara, serta menyalurkan dana bansos senilai Rp 51 miliar ke 160 lembaga.

Menurut Abdullah, ada lima jenis penyimpangan dalam pengelolaan program hibah dan bansos yang totalnya Rp 391 miliar itu. Penyelewengan pertama, dana hibah itu diberikan kepada lembaga-lembaga fiktif.

”Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah yang diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar,” katanya.

Perwakilan AIPP, Uday Suhada, menambahkan, dari 18 organisasi penerima hibah, hanya lima yang terdaftar sebagai organisasi formal.

”Di luar lembaga yang bersangkutan tidak diketahui legal atau tidak. Padahal, lembaga penerima hibah harus berbadan hukum, setidaknya tiga tahun,” ungkap Uday.

Penyelewengan kedua, lanjut Abdullah, sejumlah lembaga penerima hibah memiliki alamat yang sama.

”Setidaknya, ada delapan penerima hibah yang memiliki alamat sama, yaitu di Jalan Bridgen Syam'un, Kota Serang, dan empat lembaga dengan alamat sama, yaitu Jalan Syekh Nawawi Albantani Palima, Serang,” paparnya.

Padahal, dana hibah itu seharusnya diterima oleh lembaga-lembaga yang jelas nama dan alamatnya.
”Alokasi dana untuk masing-masing lembaga di Jalan Bridgen KH Syam'un sebesar Rp 22,5 miliar dan yang di jalan Syekh Nawawi total Rp 6,4 juta,” kata Abdullah.

Penyelewengan ketiga, dana tersebut dialirkan ke lembaga-lembaga yang dipimpin oleh keluarga gubernur.

”Mulai dari suami, kakak, anak, menantu, dan ipar,” ucap dia.

Abdullah mencontohkan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang dipimpin suami Ratu Atut, Hikmat Tomet.

”Total hibah yang masuk ke lembaga yang dipimpin keluarga gubernur mencapai Rp 29,5 miliar,” ujarnya.

Keempat, dana hibah ini juga diduga telah dipangkas. Jumlah dana hibah yang diterima lembaga penerima tidak sesuai dengan pagu yang ditetapkan Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Banten.

”Contohnya, Lembaga Kajian Sosial dan Politik (Laksospol) Pandeglang. Dalam daftar penerima, lembaga itu memperoleh hibah Rp 500 juta. Tapi, surat pernyataan Ketua Laksospol Ayie Erlangga, mereka hanya terima Rp 35 juta,” papar Abdullah.

Adapun kerugian dari pemotongan tersebut mencapai Rp 925 juta. Terakhir, sebagian besar penerima bantuan sosial itu tidak jelas.

”Dari 160 penerima dana bansos, pemerintah daerah hanya mencantumkan 30 nama lembaga atau kepanitiaan dan tidak didukung alamat jelas,” ujar Abdullah.

Oleh karena itu, ICW dan AIPP meminta KPK melakukan penyelidikan terhadap pemberian dana bansos dan hibah tersebut. Dikhawatirkan, lanjut Abdullah, pemerintah daerah menjadikan kebijakan publik sebagai instrumen modal politik. Terlebih, ICW melihat bahwa alokasi dana hibah dan bansos Provinsi Banten terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.

”Kenaikannya fantastis, pada 2009 totalnya mencapai Rp 74 miliar, tapi pada 2011, menjelang pilkada meningkat Rp 391 miliar,” tukasnya.

Minggu, 25 September 2011

"Marissa Haque Fawzi: Kreatifitas Angelina Sondakh Teruji Tangguh (Seiring dengan Pemeriksaan Kasus Delik Pidana Gratifikasinya)"

buku-angelina_sondakh-dalam-marissa-haque-ikang-fawzi 

Angelina Rilis Buku Kedua

Minggu, 25/09/2011 - 19:09

MUNADY/"PRLM"
2-delik-pidana-gratifiasi-angelina-sondakh-di-kpk-dalam-marissa-haque-ikang-fawzi-2011

JAKARTA, (PRLM).- Anggota DPR Angelina Sondakh Massaid kembali meluncurkan buku lagu dan bergambar yang kedua setelah buku "Bernyanyi bersama Keanu".

Buku "Jazz For Fun" sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya, karena menurut istri almarhum Adjie Massaid buku ini.untuk bisa anak anak sambil belajar dan mendengarkan musik

1-delik-pidana-gratifiasi-angelina-sondakh-di-kpk-dalam-marissa-haque-ikang-fawzi-2011"Jadi anak indonesia punya lagu, dengan buku ini mudah mudahan bisa menjadi lagu anak anak seperti lagu Doa Untuk Papa dan Mama yang liriknya ditulis Adjie Massaid semasa hidupnya tapi lagu ini baru diluncurkan," tutur Angelina.

"Ada bebera lagu dalam album kedua karena dengan buku ini anak- anak bisa pintar, biasanya anak-anak suka dengerin musik tapi kalau sudah denger musik mereka kadang malas belajar tapi lewat buku ini yang pasti ada lagu di vcd dan buku ada gambarnya," kata Angelina ditemui di toko buku Gramedia Matraman Jakarta Timur, Minggu 25/9. (Mun/A-88)***

"Marissa Haque Fawzi: Kreatifitas Angelina Sondakh Teruji Tangguh (Seiring dengan Pemeriksaan Kasus Delik Pidana Gratifikasinya)"

Sumber:
(1) http://www.pikiran-rakyat.com/node/159668
(2) http://www.jpnn.com/read/2011/09/26/103871/Angelina-Sondakh-Libatkan-Zahwa-di-Buku-Kedua

Minggu, 24 Juli 2011

Kuncinya adalah Pasangan: Keberhasilan Ikang Fawzi & Marissa Haque

Ikang Fawzi Rocker Indonesia Pertama dapat MBA dari UGM (2011)

Ikang Fawzi dan 2 Awards Musiknya yang Fenomenal, 1988
Juga Kebaggan Melalui Lagu Preman untuk Lagu dan Penyanyi: Ikang Fawzi dan 2 Awards Musiknya yang Fenomenal, 1988 cerita istrinya Marissa Haque


Yang Membanggakan, Ikang Fawzi Suami Marissa Haque, Lulus MBA dari FEB UGM dengan Nilai A Bulat, Wisuda, Yogyakarta, Januari 2011


Yang Membanggakan, Ikang Fawzi Suami Marissa Haque, Lulus MBA dari FEB UGM dengan Nilai A Bulat, Wisuda, Yogyakarta,  Januari 2011.

 Dan...alhamdulillah Ikang Fawzi suamiku tercatat sejarah Indonesia sebagai penyanyi rock Indonesia terkenal yang mendapatkan MBA dari UGM melalui Program Magister Manajemen dari Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB-UGM).

Allahu Akbar! Subahanallaaaah...

Sabtu, 26 Maret 2011

Jangan Pernah Menjadi 'Supplier' Koruptor di Lingkungan Kita: Pepeng dalam Marissa Haque

Sabtu, 26 Maret 2011

Kepentingan Tersembunyi dari Dugaan Kekurangmauan Pemberantasan Korupsi Indonesia: Marissa Haque Fawzi

Diduga Berantas Korupsi hanya RETORIKA Belaka

 Catatan dari menonton Metro TV hari ini:

Kini ada 12 INPRES untuk urusan Mafia Pajak Gaqyus Tambunan. Pendapat lugas dan cerdas disuarakan oleh Dr.Zaenal Arifin Muchtar dari UGM (Ketua PUKAT FH UGM) di Yogyakarta, dalam sebuah wawancara jarak jauh dan life. Menurutnya, komitmen dari Leader tidak ada atau diduga "tidak mampu", dengan pertimbangan kenyataan lain di lapangan yang tersaksikan masyarakat sebagai: (1 )tidak berani; (2) tidak tetap hati; dan (3) tidak mau.

Kemampuan manajerial birokrat yang tak berkomitmen harus disegerakan untuk DIPANGKAS oleh Presiden RI. Kemampuan manajerial sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan cq Presiden RI yang intelektual berkelas Doktor harus mampu menggantikan mereka berdasarkan hasil pembobotan HR Scored Card berbasis Merit Based System.
Menurut Dr. Rizal Ramli adalah bahwa Demokrasi Kriminal Indonesia terbajak sistem Politik dan Leadership lemah karena dugaan sang Leader yang tidak bersih (Metro Hari Ini, Pk 18.20)
 

Kamis, 03 Maret 2011

Diberi Jarak oleh Radar Banten Alhamdulillah Dirangkul Kompas Grup Yogyakarta: Marissa Haque & Ikang Fawzi

Allahu Akbar!


 
Ya Allaaah... fabiayyi ala'i Robbi kumma tukadzdibaaan...
tak ada lagi ni'mat yang akan kami dustakan Ya Allaaah... Terimakasih banyak atas rezeki umur panjang, kebahagiaan berkelanjutan... anak-anak sehat dan cantik-cerdas... teman-teman kami yang setia dalam suka dan duka... terimakasih Ya Allah...terimakasih...

Bulan-bulan terakhir ini kami berdua semakin banyak berdua... bulan madu teruuus... Alhamdulillaaah...

Bulan Madu Terus Selama di Yogyakarta: Marissa Haque & Ikang Fawzi
Sumber:http://marissa-haque-fh-ugm.blogspot.com/

Jumat, 21 Januari 2011

Sebagian Oknum Radar Banten Perlu Diwaspadai Kejahatan Cyber-nya: Marissa Haque & Ikang Fawzi

Beri Hadiah ke Ikang, Marissa Haque Malah Dikasih Surprise
Sumber: Hendra, kapanlagi.com, Jan 2011

Marissa HaqueAtas kelulusan sang suami dengan hasil sempurna ketika menyelesaikan studi S2 pada bulan Desember 2010 lalu, Marissa Haque merasa perlu memberikan hadiah. Keberhasilan Ikang Fawzi itu pun ditandai dengan pemberian kado kepada sang suami yang disesuaikan dengan kebutuhannya, yakni sebuah laptop.

“Aku tahu Ikang butuh alat yang canggih dan simple dan bisa juga untuk otak-atik lagu. Dia kan orangnya suka bikin lagu terus mengaransemen sendiri. Dengan laptop itu Ikang bisa kerjakan dalam satu tempat,” cerita pemilik nama lengkap Marissa Grace Haque ini di kediamannya di kawasan Bintaro, Tangerang, Selasa (17/1).

Tapi tanpa diketahui Marissa Haque, Ikang pun sudah menyiapkan hadiah untuk dirinya. Dan hadiah yang diberikan juga sama seperti yang diberikan Marissa ke Ikang.

“Jadi aku mau memberikan hadiah laptop ke dia, nggak tahunya dia juga ngasih aku laptop juga yang sama. Katanya aku kan suka ngedit film di laptop, jadi dengan laptop ini aku dipermudah. Aku dikasih warna putih yang girly dan Mas Ikang aku kasih warna silver yang cowok banget,” ujarnya sambil tersenyum.

Memang tidak dipungkiri, kalau urusan gadget, pasangan suami istri ini sangat up to date. Bagi mereka laptop yang mereka miliki sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan informasi dan pendidikan. (kpl/hen/boo)

Jumat, 24 Desember 2010

Marissa Haque & Ikang Fawzi: Kebiasaan Buruk Oknum Wartawan Jahat dengan Cyber Crime Diduga By Design Timses Airin Rachmi Diany/Ratu Atut Chosiyah kepada Keluarga Kami

Apa korelasinya judul si wartawan JPNN dengan kooptasi nama saya ya? Jahat sekali yang diduga timses Ratu Atut Chosiyah & Airin Rachmi Diany itu...

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/12/12/79383/Baru-Sebulan,-Marissa-Haque-Diberhentikan-

Marissa Haque & Ikang Fawzi: Kejahatan Cyber Crime Diduga By Design Timses Airin Rachmi Diany/Ratu Atut Chosiyah kepada Keluarga Kami

NUSANTARA - SUMUT
Minggu, 12 Desember 2010 , 10:51:00, Baru Sebulan, Marissa Haque Diberhentikan

TAPTENG -- Marissa Haque Pasaribu yang dilantik 8 Nopember 2010 sebagai anggota DPRD Tapteng Pergantian Antar Waktu (PAW) dari Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) menggantikan Alm H Petrus Cuaca, sudah langsung diberhentikan sebagai kader oleh partainya. Sehingga pemberhentian tersebut secara otomatis juga melenyapkan hak Marissa sebagai anggota DPRD Tapteng dari PKPB.

Hal ini sesuai dengan SK DPD PKPB Tapteng Nomor: SKEP-02/DPD-PKPB/TT/XI/2010 tanggal 15 Nopember 2010 Tentang Pemberhentian Marissa Haque Pasaribu sebagai anggota PKPB Tapteng dan penetapan Hamdan Simbolon SH sebagai PAW anggota DPRD PKPB Tapteng periode 2010-2015 yang dikuatkan dengan SK DPD PKPB Sumut Nomor : SKEP-37/DPD-PKPB/SU/XII/2010 tanggal 4 Desember 2010 yang ditanda tangani langsung oleh Ketua DPD PKPB Sumut, Drs H Razman Arif MA dan Sekretarisnya Andri Agam SH.

Demikian disampaikan oleh Pjs Ketua DPD PKPB Tapteng, Paradong Martin Nababan didampingi Koordinator Dapil VIII PKPB Sumut, Hamdan Simbolon SH kepada Metro Tapanuli di Sibolga, kemarin.

Menurut Pjs Ketua DPD PKPB Tapteng, Paradong M Nababan, pemberhentian sebagai kader yang dilakukan oleh PKPB kepada Marissa Haque Pasaribu adalah disebabkan karena Marissa Haque dinilai telah melakukan pelanggaran terhadap Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan Peraturan Partai.
"Ada dua alasan kuat kenapa kita terpaksa memberhentikan Marissa Haque Pasaribu sebagai kader PKPB Tapteng, yang tentunya juga secara otomatis menghilangkan haknya sebagai anggota DPRD Tapteng dari PKPB. Alasan pertama adalah disebabkan karena Marissa Haque Pasaribu sebagai kader PKPB telah terbukti melanggar AD/ART PKPB dan Peraturan PKPB Nomor : PP-04/DPP-PKPB/II/2007 Tentang Tata Cara PAW. Di mana, Marissa Haque Pasaribu dinilai terbukti melakukan pengajuan dirinya sendiri ke KPU Tapteng sebagai PAW menggantikan Alm H Petrus Cuaca tanpa adanya persetujuan dan SK dari DPP PKPB tentang PAW tersebut.
Alasan yang kedua, dikarenakan Marissa Haque Pasaribu tidak mau melakukan koordinasi dan bahkan tidak mengakui Pjs Ketua DPD PKPB Tapteng yang telah ditetapkan oleh DPD PKPB Sumut dengan nomor : SKEP-34/DPD-PKPB/SU/XI/2010 Tentang Penetapan Paradong Martin Nababan sebagai Pjs Ketua dan Novi Sanra Siregar sebagai Pjs Sekretaris DPD PKPB Tapteng sehingga telah melanggar Peraturan Partai PKPB No: PP-02/DPP-PKPB/II/2007 Tentang Disiplin Partai dan Sanksi Organisasi. Sebagai ketua partai, kita harus menjunjung tinggi AD/ART Partai dan melaksanakan Peraturan Partai secara tegas," jelasnya.

Saat ditanya Metro Tapanuli tentang kepastian tanggal pelantikan Hamdan Simbolon SH sebagai anggota DPRD Tapteng menggantikan Marissa Haque Pasaribu, Paradong menyatakan akan menyerahkan hal tersebut kepada KPU dan DPRD Tapteng.
Sementara Marissa Haque Pasaribu yang coba dikonfirmasi METRO tanggapannya terkait pemberhentian tersebut, tidak berhasil. Saat Metro Tapanuli mencoba menemui anggota DPRD Tapteng termuda ini di Kantor DPRD Tapteng, tidak berhasil ditemui. Menurut beberapa staf di kantor tersebut, Marissa sudah pulang dari DPRD Tapteng. Ketika beberapa kali coba dikonfirmasi METRO melalui ponselnya, tidak diangkat walaupun sudah di SMS. (ahu)

Related News:
Pertamina Diminta Hengkang dari Bitung
Gali Kubur Malah Dapat Bom
Tabung Gas Meledak, Tiga Tewas
Mantan Bupati Simalungun Diperiksa Kejati
Kejati Banten Sorot Fee DPRD Banten
Kejagung Diminta Ungkap Korupsi di Berau

Sabtu, 15 Mei 2010

Berkaca pada Kejadian Luar Biasa di Banten: Tulisan Terakhir Marissa Haque Tahun 2006 di Radar Banten


Berdegup kencang rasa hati ini, saat menyimak kasus gizi buruk di negeri zamrud katulistiwa ini. Dari data Pertemuan Nasional Penanggulangan Gizi Buruk, yang dilakukan Kementerian Koordinator Kesra. Lebak memiliki posisi istimewa 4 besar nasional, ditemukan 248 kasus gizi buruk pada tahun 2005. Pada 2006 angka ini tentu bertambah banyak. Membuat hati ini trenyuh saja, 60 tahun kita merdeka ternyata belum juga membebaskan diri dari penyakit zaman penjajahan dulu. Kabut suram ini tentu mengancam masa depan Banten yang berniat mengubah diri, menjadi provinsi maju sejahtera di masa depan, lantaran gcnerasi anaknya, kini terancam suram akibat kesalahan fokus pembangunan yang hanya mengejar fisik saja. Melupakan aspek kesehatan jasmani dan ruhani penduduk.
Di Lebak, juga ditemukan "Kejadian Luar Biasa" (KLB) merebaknya penyakit polio. Sementara di Kabupaten Tangerang, tahun berselang ada KLB muntaber, penderita mencapai angka 382, yang meninggal 13 orang. Sungguh ujian dari penguasa semesta jagad. Tenryata bila ditelusur pangkal musababnya, hanya karena penduduk yang tinggal di pantura ini tidak mampu, atau tidak memiliki budaya, jamban dalam rumah. Mereka yang memiliki jamban hanya 8,6 % saja dari total penduduk. Di sini telihat bahwa peran Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi amat lemah. Padahal tentu saga dana sosialiasi sanitasi rumah sehat ada, tetapi menguap entah ke mana. Perilaku korupsi tercium nyata di sini, dengan dampak yang luar biasa. Lalu, demi urusan per-jamban-an, pemerintah kabupaten menguyur dana sebesar Rp 5 milyar, khusus untuk urusan bilik hajat sehat. Terlambat memang, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali

Tentu saja, ke.jadian ini tidak melulu kesalahan Bupati dan jajarannya, tetapi pemprov juga memiliki andil yang amat besar. Sebagai pemegang otoritas Dati I, mestinya di dalam cetak biru pembangunan mengutamakan skctor kesehatan masyarakat. Demi lahirnya generasi andalan Banten. Intensifikasi Program Kota dan Kabupaten Sehat, harus segera dilakukan demi penyelamatan Banten ke depan..

Pangkal sebab musabab, ternyata berakar dari taraf hidup yang rendah, akibat kemiskinan, tingkat pendlidlikan yang rendah (rata-rata tamatan SD), rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, dan kurangnya penyuluhan kesehatan khususnya pentingnya nilai kecukupan gizi bagi anak. Banyak sebab; tidak cuci tangan sebelurn makan, buang sampan dan ludah sembarangan, kebiasaan buang air besar di sungai yang juga tempat mandi dan cuci juga sumber air minum, kebiasaan minum air yang belum dimasak. .Rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Tentu saja akibat minim atau tak adanya penyuluhan kesehatan bagi masyarakat.

Tak ada jalan lain, demi menghindari terjadinya KLB-KLB lain di belahan bumi Banten ini, pada tahun ini, dan tahun-tahun berikutnya, penting kiranya, Pemprov/Dati I secara terpadu dan terencana, bersinerji dengan elemen birokrasi di Dati II untuk membuat sistem early warning system, sistem kewaspadaan isyarat dini, yang dapat melacak adanya gizi buruk atau polio dan penyakit lainnya melalui penimbangan massal anak. Program-program yang di masa lalu eksis, dan terbukti memiliki korceasi dengan masa kini, seperti Posyandu, Polindes, PPKBD, BKB, UPPKS dan SKPG. Juga PMT (Peniberian Makanan Tambahan) dan suplemen di TK dan SD, mendesak dilakukan. Harus ada upaya nyata yang dapat dirasakan jutaan anak Banten hari ini. Sekali lagi bukan dengan spanduk dlan baliho yang hanya membuang uang rakyat saja, dengan kemaslahatan umum yang tidak jelas pertanggungajawaban.

Agar tidak logo, kader Posyandu, harus memiliki honor yang memadai, sehingga kaum ibu yang secara pribadi memiliki kepentingan menyelamatkan anak dan lingkungannya, mereka dapat diandalkan menjadi ,garda terkahir, benteng penjaga Banten dari KLB-KLB yang menyeramkan, sekaligus mempermalukan di pergaulan nasional. Lebih-lebih internasional. Wajah bening, pecahan mutiara Indonesia harus bersinar dari bumi yang berakhlakul karimah ini.

Mulai sekarang pesan-pesan pejabat jabat yang memiliki kewenangan dan kompetensi di ranah kesehatan harus benar-benar fokus untuk mengusir KLB dari Banten. Pesan ringan soal gizi seimbang "4 sehat 5 sempurna", bahwa ketika makan, sebaiknya menu, terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur mayur dan buah-buahan, plus susu. Harus disiramkan di benak 9 juta warga. Demi generasi Banten yang bernas, berbobot, dan tentu saja sehat. Semua bisa bcrjalan melalui revitalisasi Posyandu, program, kader, dan sistematika gerakannya hendaknya dilakukan secara terpadu, terarah, tepat sasaran dan efisien. Tidak melulu seremonial pejabat, tetapi benar-benar gerkan akar rumput yang global dan serentak.persoalan KLB-KLB ini sungguh amat mendesak dituntaskan.

Intensifikasi Program Kola dan Kabuapten Sehat dapat dilakukan, melalui sinergi dan pcningkatan ekonomi keluarga dalam rangka ketahanan pangan di tingkat keluarga dengan peningkatan kewirausahaan. Lalu menggalakkan kembali kegiatan kesatuan gerak PKK KB Kesehatan, manunggal TNI KB Kessehatan, Bulan Bhakti Bhayangkara, program Jum'at Bersih dan sebagainya. Perlu juga dilakukan penelitian dan pengembangan terhadap pola serang dan mewabahnya penyakit.

Selain itu sesuai tuntutan otonomi daerah, Pemda, Propinsi maupun Kabupaten/Kota menyediakan anggaran untuk menunjang kegiatan Posyandu dan PMT (melalui APBD), perlu komitmen politis instansi terkait kesehatan di semua tingkatan, harus ada insentif dan bantuan modal untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Pemprov juga harus rajin menilai dan memberi apresiasi kepala daerah yang berhasil membina Posyandu di wilayahnya. Dipersiapkan kader penggerak kesehatan terlatih yang didukung dana operasional cukup. Mengembangkan system deteksi dini KLB Kesehatan. Memasukkan Posyandu ke dalam system kesehatan desa. Adanya jaminan ketersediaan pangan tingkat keluarga. Pendidikan dasar tentang gizi seimbang di masyarakat baik melalui jalur formal dan informal . Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Perlu dana untuk penelitian penyakit. Pekan Kesehatan Provinsi. Juga peningkatan program samijaga/MCK melalui Departemen PU. Serta Pengembangan pola anak asuh bagi anak keluarga tak mampu

Sesungguhnya di provinsi terkaya nomer 6 se-Indonesia ini, bila tak ada Korupsi! Baik itu korupsi data (gizi buruk, polio, demam berdarah, d1l), korupsi kewenangan para pemutus kebijakan, korupsi waktu bagi para penggerak di lapangan. Generasi Banten yang sehat, unggul, bijak lestari, Insya Allah ngejawantah. Korupsi telah menjadi virus mental yang menggerogoti anak negeri, di belahan bumi yang elok dan cantik. Mari kita sikat korupsi, secara bersama, elegan, melalui mekanisme hukum agar tak ada KLB-KLB yang mengiris hati ini lagi. Penderitaan wong cilik sudah cukup sampai di sini. Bila tak ada rasa takut di hati lagi, entah azab Allah apa lagi yang akan turun di bumi yang kita cintai ini.

Merdeka!

Bila Dapat Dipermudah Kenapa Harus Dipersulit: Marissa Haque Fawzi untuk Radar Banten (2005)


Seorang produser film animasi (kartun) transnasional pernah mengeluh kepada saya akan rendahnya produktivitas pembuat komik Indonesia dibandingkan dengan Jepang. Di negeri sakura itu, para dewi-dewi Manga – aliran komik khas Jepang yang membanjiri imajinasi anak-anak dunia, termasuk Indonesia. Para kartunis Manga ini dapat menghasilkan 750 gambar dalam satu bulan kerja. Sementara di tanah air, komikus lokal paling bisa menghasilkan antara 250-400 gambar saja. Padahal dari segi teknis menggambar, komikus kita tidak kalah bagus dlan kreatif. Hanya saja saya melihat mereka lemah etos kerja serta minim produktivitas. "Bagaimana kita bisa bersaing?" ujar mereka prihatin. "Wong nggak ada support sama sekali dari pemerintah," begitu selalu nada koor yang terdengar.

Masalah ini seolah tudengar sepele. Namun dalam kenyataannya tidaklah sesederhana demikian. Masalah buruknya kinerja para profesional di tanah air berada pada layer multi disiplin sektor pembangunan. Sudah tidak terbilang rasa `sesak nafas' alias sedih dan malu akan hal ini. Lambatnya Indonesia keluar dari multi krisis ekonomi dibanding Negara tetangga seperti Malaysia dan Korea, sebenarnya lebih dikarenakan factor mental-budaya penduduknya. Mindset problem kata para professor Amerikaku.

Semoga saja ini bukan karena kruntuhan mental dari negeri yang terjajah selama hampir tiga setengah abad. Mari kita belajar dari negeri-negeri yang memiliki kehebatan di sektor ini. Tiga puluh tahun yang lalu Korea Selatan dan Ghana, memiliki indikator ekonomi yang nyaris sama. Sekarang kita lihat negeri ginseng itu maju begitu pesat, acapkali disebut salah satu enipat macan Asia. Sementara Ghana masih terpuruk jauh, tercecer sebagai negeri miskin. Bila dilihat ternyata akarnya adalah masalah budaya dan pola pikir tadi. Di Korea Selatan etos kerja masyarakatnya begitu baik, siapa yang memiliki kompetisi yang baik dalam bekerja memiliki posisi amat terhormat didalam pergaulan masyarakatnya. Sementara di Ghana ciri tradisi masyarakat Afrika umumnya masih amat lekat.

Bagaimana dengan provinsi Banten? Terkait dengan masalah mindset tadi, bilamana kita tidak segera bebenah, maka dalam beberapa tahap pembangunan ke depan, akan tercecer dibanding puluhan provinsi lainnya. Hari ini kelambatan pembangunan gedung pemerintahan, dan segala kelengkapannya masih belum beres, dan relatif dapat dimaafkan. Namanya juga provinsi baru! Baru situ tahap saja. . "Baru lima tahun lho jadi provinsi," begitu selalu alasan klise yang lerdengar nicirmita rasa permisif.

Akan tetapi satu pelita ke depan juga pelita berikutnya akan segera terlihat, betapa akan tertinggalnya kita dibanding provinsi tetangga lainnya di Indonesia. Mengapa dapat demikian? Tentu saja banyak dari kita mengetahui bahwa bangsa kita sangat senang berhutang atau menghambur-hambuirkan APBD.

Hasilnya? Tidak kun.jung membangun ekonomi rill. Terlebih karena bangasa kita lebih mengutamakan ekonomi rente. Ini mencerminkan bubbling-ethos yang ingin cepat kaya tanpa mau kerja keras yang riel. Kemudian lihat di birokrasinya mulai dari tahap rekrutmen pamongpraja, sampai kenaikan jabatan acapkali dipenuhi suapan atau sogokan. Hal ini memperlhatkan etos yang mengutamakan jabatan demi uang dan kekuasaan daripada prestasi dan pelayanan publik.

Tak kalah menyedihkan, marakriya kasus pembelian ijazah atau gelar palsu. Hal ini juga menunjukkan indikasi kebiasaan atau etos buruk yang tidak mau berkeringat tapi ingin tampak gagah-gagahan agar terlihat lebih hebat dari kondidi aslinya. Cerminan etos buruk yang menginginkan gelar tanpa kompetensi harus dibuang jauh-jauh bila Banten ingin memilih pemimpin yang mumpuni. Bila segala sesuatu dimulai dengan kebohongan, maka yang terjadi adalah `wajah' Banten yang kita semua lihat per hari ini.

Kondisi kita ini sangat kontras bila dibandingkan dengan rakyat Jepang terkait dengan gaya hidup serta budaya berpikirnya. Mereka memiliki ciri-ciri etos samurai sebagai berikut: bersikap benar dan bertanggung jawab, berani dan ksatria, murah hati juga mencintai, bersikap santun dan hormat, bersikap tulus sungguh-sungguh, menjaga harkat¬ martabat pun kehormatan, mengabdi pada bangsa. Luar biasa hebat mereka itu, sampai sekarang saya pribadi sedang berpikir keras, bagaimana agar dapat mengadopsi semua getaran ingin maju mereka dan mengimplementasikannya bagi rakyat Banten.

Tengoklah dalam sejarah-PD II kemarin. Meski kalah / bertekuk lutut, bahkan 2 kotanya dijatuhi bom nuklir — Hiroshima dan Nagasaki – yang dasyat hingga luluh lantak. Namun, dengan mengagumkan Jepang segera bangkit kemudian menjelma menjadi salah satu pilar eknomi Asia bahkan dunia. Etos kerja yang luar biasa ini sedikit banyak ditiru oleh Korea Selatan. Dan terlihat keduanya berpartner memimpin ekonomi Asia.

Kembali ke tanah air, kita masih saja berkutat pada etos bangsa yang buruk. Seperti disinyalir Mochtar Lubis dalam bukunya "Manusia Indonesia." Dikatakan disana: Masyarakat Indonesia cenderung munafik atau hipokrit alias suka berpura-pura lain di mulut lain di hati, serta enggan bertanggung jawab. Suka mencari kambing hitam, berjiwa feodal. Gemar upacara, suka dihormati daripada menghormati. Lebih mementingkan status daripada prestasi. Percaya takhayul. Gemar hal keramat, mistis dan gaib. Berwatak lemah. Kurang kuat mempertahankan keyakinan.Plin-plan, juga teramat sangat/gampang terintimidasi. Kalaupun ada kelebiliannya hanya unsur artistik saja khususnya yang terkait / dckat dengan alam.

Duh… miris hati ini membaca petikan kata-kata Pak Mochtar Lubis tersebut. Bagaimana dapat memberikan kontribusi bagi pengubahan mental sebuah kaum di kawasan bumi Banten yang teramat luasi ni? Tidaklah semudah membalik tclapak tangan, harus ada keteladanan. Harus ada tokoh-tokoh baik yang muncul langsung memberi contoh konkrit ke permukaan. Tua atau muda tak masalah, yang penting memberi contoh perilaku yang baik sehingga memberi inspirasi bagi anak-anak mudanya untuk berubah. Mereka harus dapat memancang fondation yang kuat bagi struktur Banten yang baru. Banten yang `kinclong,' Banten yang bersinar. Perubahan itu harus dimulai dari dalam. Dari struktur qalbu terdalam seluruh insan di ranah Banten. Semua harus bersicepat, merevolusi diri bila tak ingin Banten tertinggal jauh.

Reformasi etos kerja itu sebaiknya dimulai dari lingkaran terdalam, yaitu dari kiprah kerja pamong praja pelayan rakyatnya. Semua hendaknya menyingsingkan lengan, menceburkan diri dalam pclayanan terbaik. Setiapkali bekerja, selalu mengedepankan niat mengubah pomeo lama: 'Kalau dapat dipersulit, kenapa harus dipermudah?' Nah, menyitir ucapan bijak Aa' Gym: Ubahlah sesuatu yang buruk di sekeliling kita, mulai dari diri kita, mulai hari ini, mulai dari hal yang terkecil. Semua dari kita pasti insya Allah mampu melakukannya. Selamat berjuang saudaraku sekalian.

Allahu Akbar, bersama kita merdeka!

Radar Banten 2006 dalam Marissa Haque: Dari Eceng Gondok ke Pentas Dunia

Tak kenal maka tak sayang. Nah, bunga liar eceng gondok kerapkali dipandang sebelah mata. Cuma layak jadi pengisi rawa atau sungai yang tak terurus saja. Lihat saja sungai-sungai yang ada, lalu rawa seperti rawa Cipondoh, Tangerang, Banten, penuh disemaki eceng gondok yang banyaknya tidak ketulungan. Akibatnya air tidak bergerak, kadar oksigennya rendah, kualitas airnya menurun. Namun pesona Ungu, kembang eceng gondok di masa lalu telah mampu memukau Raja Thailand yang saat itu sedang bermuhibah ke Jawadwipa, bersilaturahmi dengan raja-raja di Pulau Surga ini. Mengambil benih belimbing, durian, jambe, dan aneka buah yang ditemui di pinggir hutan. Tak lupa jemari kukuh sang Raja, memetik bunga ungu eceng gondok. Keindahan bunga liar itu rupanya akan dipersembahkan kepada permaisuri di kaputren sana.

Namun eceng gondok punya hasrat lain. Daya hidupnya begitu kuat. Daya sebarnya luar biasa. Begitu disemai bumbuh di taman Keputren, eceng gondok segera menyebar ke sungai-sungai dan rawa sekitar istana, jadi momok hama yang sulit dibasmi. Rakyat pun kebingungan, karena keberadaannya yang begitu banyak, menghambat irigasi dan merepotkan pertanian warga Thailand. Namun, sang Raja tidak berdiam diri, segera dikirimnya tim ahli istana, untuk mempelajari tumbuhan baru eceng gondok yang begitu perkasa, juga bibit-bibit tanaman yang dibawa dari bumi jawa, termasuk Banten. Lambat laun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Maka didapatlah, tumbuhan unggul, seperti belimbing, jambu, pepaya, durian, berlabel “Bangkok”, yang memiliki rasa di atas rata-rata, bentuk besar, menarik, istimewa dan gampang dibudidayakan serta memiliki keseragaman rasa yang cukup terjaga. Di masa kini, Thailand dikenal sebagai pengekspor buah-buahan yang dominan. Demikian pun ‘hantu’ eceng gondok yang mengesalkan banyak warga di sana, justru sekarang jadi komoditas ramah ekspor. Menjadi bahan baku kerajinan tangan, souvenir yang tak terlupakan, tas, tikar, bantalan, alas, hiasan dinding, dan aneka macam kreativitas tangan yang memukau penduduk manca negara. Batang dan daun eceng gondok yang telah dikeringkan dan diproses demikian rupa, menjadi bahan mode yang laris manis.

Di Banten pun perkembangan liar eceng gondok, hadir di mana-mana. Bahkan di rawa Cipondoh, Tangerang. Rawa itu telah menjelma menjadi kerajaan eceng gondok. Seolah tak ada tangan yang mampu menyentuh dan mengarahkan arah tumbuhnya bagi kesejahteraan rakyat sekitarnya. Padahal tinggal dijemur, dikeringkan, diproses sedemikian rupa dengan tangan dan rasas yang memuja keindahan. Maka akan didapat tas tangan, alas piring, atau hiasan dinding yang berkelas dunia. Tentu harganya mahal. Rakyat untung, pemerintah mendapat devisa, dan lingkungan mendapat air yang hernih mengalir bebas eceng gondok.

Di luar kita berkaca pada Thailand yang sangat menghormati alam dan mengarahkan seluas-¬luasnya demi kemakmuran rakyat. Kita harus banyak belajar dari mereka, jika Banten ingin maju. Di dalam negeri kita bisa berkaca juga pada Jogja, yang dengan kesederhanaannya, minimnya sumber daya alam, padatnya penduduk. Menjadi surmber dari semacam 'pabrik' handycraft atau kerajinan tangan yang hasilnya diekspor kemana-mana, ke Bali, dan banyak ke luar negeri. Perekonomian Jogja, didorong oleh banyak hal, arus utamanya pariwisata. Landasan utamanya yang amat kuat dan fenomenal adalah 'pabrik rakyat' kerajinan tangan. Selain eceng gondok, ada akar bambu, batang bambu, ranting bambu, dan segala hal yang dimata kita hanya sekedar sampah, atau pohon pengisi semak saja. ternyata oleh tangan-tangan berbasis kerakyatan. Rakyat dimotivasi dengan alih teknologi. Pelatihan. Pengiriman misi-misi pengiriman ke Jogja, syukur ke Thailand sana. Belajar membuat produk yang bercita rasa dunia. Juga membuat pola desain produk terbaru. Dikembangkan dengan dengan balk. Maka akan didapat sinergi yang baik. Ketika pulang. Masing-masing kelompok pengrajin memiliki kewajiban untuk mengembangkan kerajinan tangan di daerahnya. Dengan supervisi yang baik dari Disperindagkopar, rasanya pertumbuhan itu akan cepat dicapai.

Segera saja, kita akan merasakan banyak keuntungan, dengan banyaknya angka penduduk, jumlah pengangguran yang tinggi, energinya bisa diarahkan untuk mcembuat kerajinan tangan, memenuhi pasar lokal sekaligus berorientasi ekspor. Apalagi bandara juga ada di Banten, jadi tidak ada alasan, orang Banten tidak mengkepsor hasil kerajinan tangannya. Ke negeri manca sana. Membentuk persahabatan abadi melalui kreativitas seni kecil yang bermutu tinggi. Agar kita segera merdeka dari kemiskinan dun keterbelakangan.

Merdeka!

Rindu Gus Dur dalam Filosofi Air: Marissa Haque Fawzi untuk Radar banten 2006

23 Januari 2006
RADAR BANTEN

Rindu Gus Dur dalam Filosofi Air

Air, hari-hari belakangan ini di Nusantara tercinta termasuk Banten menjadi momok yang tidak ramah bagi siapapun di mana banjir melanda rumah, pekarangan, serta lingkungan tempat tinggalnya. Siapapun yang berhadapan pasti sekarang sedang berdoa agar air yang berlebihan ini segera enyah dari pandangan serta hidup hidup mereka. Padahal hidup bersama air sangat mirip dengan hidup bersama api – saat masih kecil ia menjadi teman akan tetapi saat semakin besar serta tak mampu lagi dikendalikan ia akan menjadi musuh bersama.

Dan ketika pikiran ini flash back pada kejadian sekitar tiga tahun yang lalu, dalam sebuah perjalanan dari Jakarta melalui Detroit menuju Columbus, Ohio, AS di saat transit airport dan membuka internet gratis di sana. Ketika mencari berita terakhir dari tanah air, saat itu saya membaca berita banjir besar di tanah air. Persis seperti kejadian yang sekarang ini menimpa ranah Banten. Sedih hati saat itu, menginspirasi hati membuat sebuah puisi tentang air. Puisi itu menjadi semacam `mantra' selama tiga tahun belakangan ini yang kemudian tak terasa menjadi filosofi hidup. Terutama saat saya melangkah memasuki dunia politik setelahnya. Puisi tersebut bahkan sampai hari ini dapat dibaca secara mudah oleh umum di www,marissahaque.net --salah satu situs pribadi milikku.

Orang Minang mengatakan dalam sebuah pepatah "Alam terkembang menjadi guru." Lihatlah saudaraku sekalian di alam kita. Amati segala penjuru jagat raya ini, dari galaksi raksasa di angkasa hingga seluruh makhluk hidup di alam. Dari makhluk kehidupan bersel satu sampai yang berkomposisi rumit. Dari seluruh bagian alam biotik maupun abiotik. Kalau kita peka, sebenarnya kita akan melihat suatu tatanan keteraturan dari sebuah grand design prima buatan Sang Maha Sempurna – Allah SWT. Kemana pun kepala kita arahkan di sana akan kita lihat `Wajah-Nya' di mana-mana.

Maka jika hari-hari belakangan ini dirumah Bintaro hampir setiap hari mulai dimasuki berbagai macam serangga serta berbagai satwa lainnya – seperti tikus, kelelawar, kalajengking, kecoa, kadal, dan hewan-hewan kecil aneh yang terkadang saya pun tak tahu apa namanya – saya mulai merasakan bahwa di alam Banten tercinta ini akan terjadi sesuatu yang tidak biasanya. Tapi dengan segala kerendahan hati, mohon jangan samakan saya dengan para kelompok abangan yang dekat dengan aliran klenik, seperti yang kita telah ketahui bersama selama ini. Karena dalam konteks kejadian. yang belakangan saya alami – juga banyak warga di Indonesia belakangan ini persis seperti apa yang saya fahami yang keseluruhnya ada di dalam Al Quranul Karim. Dinyatakan di dalam Q.S. Yunus ayat 6: "Dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya, bagi orang-orang yang bertakwa." Maka kehadiran beragam satwa yang saya saksikan dalam beberapa hari belakangan di rumah ibaratnya adalah signal awal dari Allah SWT ibaratkan sebuah `kompas mini'/'GPS'/ atau bahkan sejenis `antena alarm' yang memberikan early warning system' yang sangat mungkin anda sekalian pun di rumah belakangan mengalaminya akan tetapi mengabaikan kehadirannya. Tulisan ini adalah tema tulisan ketiga saya di kolom Radar Banten yang mengulas mengenai gejala alam dalam kaitan pengaruh perubahan iklim global (Global Climate Change).

Dalam kaitan GCC ini, minggu lalu ketika sedang melaksanakan tugas DPR RI sebagai salah seorang delegasi APPF (Asia Pacific Parliament Forum) ke-14 di Lagoon Hilton Hotel dari tanggal 16-20 Januari ini, di hari kedua di lift saat jeda makan siang dan akan sholat dzuhur menuju kamar, tak -sengaja saya berjumpa Gus Dur. Asisten beliau Mas Sulaeman adalah kawan baik saya. Setelah bertegur sapa sejenak di depan lift saya mohon izin diluangkan waktu sejenak buat curhat pribadi dengan beliau. Di ruangan beliau saya menceritakan mimpi saya dengan pesan metaphor sama berulang terus beberapa kali. Saya melihat air ... air... air ... dlan terakhir api yang menyala-nyala. Sebagai seorang anak Indonesia yang mempunyai seorang ibu (alm) dengan latar belakang budaya NU kental, setiap tanda yang hadir dalam kilasan mimpi hampir tidak pernah menjadi sia-sia, lewat begitu saja tanpa makna. Gus Dur faham dan menjawab beberapa pertanyaan pribadi saya dengan beberapa pentakwilan. Juga sedikit gambaran bahwa setelah air yang datang bak bah yang melimpah ruah akan terjadi kemarahan yang disimbolkan oleh api tersebut. Rakyat banyak yang tak puas dan melakukan banyak aksi-aksi menuntut kebenaran dan hak mereka yang selama ini ditutupi oleh oknum yang berkepentingan. Dan per hari ini dengan dibarengi curah hujan yang deras, debit air tinggi, permukaan air naik melampaui garis normal, membuat saya semakin sadar bahwa tanda dari dalam mimpi tersebut tak sekedar bunga tidur.

Terbukti bahwa Kepala Pusat Sistem Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika Warsito Hadi menyatakan bahwa pertengahan Januari sampai dengan pertengahan Februari 2006 wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi juga sebagian besar Jawa Tengah mendapatkan curah hujan yang sangat deras. Penyebabnya adalah daerah pertumbuhan awan di Laut Jawa telah bergeser ke Selatan. Curah hujan di atas standar (lebih dari 300 mm) terjadi juga di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bahkan di beberapa wilayah seperti di Cirebon, Magelang, dan sebagian besar Sulawesi Selatan juga sekitar Manado, mendapatkan curah hujan lebih diatas 500 mm. Ditambah lingkungan hidup yang semakin buruk – menurut data dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) – membuat daya dukung terhadap antisipasi hujan deras sementara ini tak mungkin diandalkan. Terutama ketika kepulangan para haji dan hajah mabrur asal Pandeglang serta Lebak disambut oleh banjir di kampung halamannya, hati ini terasa teriris pedih serta mulut tak mampu lagi mengucap kata.

Saat bantuan awal obat-obatan serta makanan diturunkan kemarin, terlihat semua itu bagus-bagus saja. Tapi sesungguhnya, apakah sebelumnya tidak ada koordinasi antisipasi serta persiapan awal antara pemerintah setempat dengan BMG (Badan Metorologi Geofisika)? Kalau sesungguhnya kejadian ini setiap tahun berulang terus dengan kecenderungan setiap tahun berikutnya menjadi lebih buruk, tentunya sebelum bencana banjir ini datang, sudah dapat diprediksi serta diantisipasi terlebih dahulu persiapan apa saja yang wajib dijadikan skala prioritas. Bantuan langsung untuk para korban yang telah dilaksanakan selama ini lumayan bagus, akan tetapi penanganan serta penanggulangan agar bericana tidak terns berulang setiap tahun jauh lebih penting. Penangannanya harus terpadu di beberapa tempat banjir serta Iongsor.

Berdasarkan pantauan, permukaan air beberapa sungai yang mengalir di Lebak sudah meluap melebihi tanggul. Sungai-sungai yang meluap itu di antaranya Kali Ciujung, induk sungai yang mengalir di kota Rangkasbitung, Ciliman, Cisimeut, Cibadak, dan anak sungai lainnya. Bahkan per hari ini sebagian warga desa Bojongjuruh kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak terpaksa menggunakan rakit bagi anak-an ak dan orang tua untuk bepergian. Karena akses jalan menuju keluar wilayah tersebut terendam babjir setinggi 1-1,5 meter. Di samping itu, sebanyak delapan puluh lima warga Bojongmeong, desa Bojongjuruh terisolasi. Di Kabupaten Pandeglang banjir terjadi di Desan Cibitung, Kecamatan Munjul dengan jumlah rumah terendam sebanyak seratus buah. Kabupaten Tangerang terjadi di Desa Tanjong Burung Kecamatan Teluk Naga, sebanyak dun ratus rumah terendam. Banjir juga terjadi di Serang dan Cilegon, namun tidak separah seperti di wilayah¬-wilayah yang telah disebut di atas.

Duh... Allahu Robbi... adakah jalan keluar segera bagi kita semua khususnya bagi mereka yang sedans menderita ini? Cukuplah tempat-tempat itu saja yang terendam banjir, jangan tambah lagi ya Allah. Karena bilamana bald bantuan sangat terbatas dan tidak dapat mengejar jumlah yang dibutuhkan, berbagai penyakit akan segera menyergap warga. Korban-korban yang sakit bahkan akan dapat membawa mereka pada kematian. Bila Pemprov committed dengan peningkatan pelayanan publik selama ini seperti apa yang digaung-gaungkan, maka rakyat harus segera memintanya di dalam penanggulangan banjir ini dengan tidak sekedar mengecek lokasi dengan perahu karet keliling lokasi. Kalau memang dana Bansos sudah turun dari Depsos, mohon melakukan langkah kerja sama dengan pihak luar negeri yang paham masalah dam, seperti misalnya Belanda. Dari alam ciptaa Allah sebenarnya menghendaki kita agar man dan mampu berpikir tentang semua kejadian yang terkait dengannya serta incilgarnbil pcla,laran dari padanya.

Dalam QS. Al Ankabuut ayat 20 dikatakan: "Katakanlah berjalanlah di (maka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Belajarlah dari para serangga yang memasuki rumah kita di saat-saat musim penghujan ini, dan perhatikan bagaimana mereka survive dengan segala keterbatasan dirinya. Lihatlah laba-laba, lebah, capung, lalat, semut, dan bahkan kupu-kupu. Mereka mampu membuat 'tanggul' pertahanan kehidupannya dengan harmoni dan seimbang. Bagaimana dengan manusia yang menganggap dirinya modern selama ini? Mampukah kita menambal kembali kebocoran ekosistem yang dengan atau tanpa sengaja telah kita rusak dan mencurinya dari anak-cucu kita? Lihatlah apa yang telah dikembalikan o1eh alam kepada kita per hari ini. Semoga saja kita tidak ditenggelamkan sang air bersarma jalannya sang waktu.

Allahu Akbar, Merdeka!

Homo Educandus di IPB: Marissa Haque dalam Radar Banten 2006

Flu Burung Banten
Pulang dari tugas negara di Vietnam, Singapuran dan Malaysia, membaca Strait Times kemarin malam di pesawat, membuat saya mengelus dada. Duh Gusti Allah, apalagi yang harus kami hadapi di hari-hari ke depan ini. Urusan korupsi di ranah Banten belum rampung, demonstrasi buruh belum lagi ada jalan keluar, masyarakat memakan nasi aking belum mampu memastikan tak lagi akan manakin makanan bekas/daur ulang itu. Sekarang Banten diberi stigma/label sebagai wilayah penyandang "Benang Merah" flu burung oleh Pak Menteri Pertanian kita. Memang suka atau tidak suka demikianlah keadaannya. Bahkan hari ini Selasa tanggal 29 Februari 2006, dijadwalkan di Komisi IV DPR Rl Rapat Dengar Pendapat bersama tiga Gubernur Banten, Jabar dan DKI terkait dengan langkah cepat penanganan masalah flu burung ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, bahwa burung telah menyebar ke lebih dari 30 negara dan teritori sejak 2003. Dan sebanyak 170 orang positif terinfeksi oelh virus yang mematikan ini, 92 di antaranya meninggal dunia. Sementara itu juru bicara WHO Dick Thomson mengatakan, bahwa hingga kini flu burung telah menyebar ke 30 negara di seluruh dunia. Akan tetapi belum ada catatan penyebarannya dari manusia ke manusia lainnya.

Kepanikan akan flu burung yang diakibatkan oleh virus dengan nama kimia H5NI, terasa juga sampai di gedung DPR RI. Barusan saat memasuki ruang kerja, saya mendapatkan surat keterangan dari negara Hongaria — di mana saya duduk sebagi Wakil Ketua Bidang Kerjasama Bilateral Indonesia-Hongaria — bahwa virus flu burung juga ditemukan di negara mereka. Masyarakat di sana sempat dibuat panik oleh matinya burung-burung dara liar di lapangan taman-taman kota. Saya mengamati baik Malaysia maupun Hongaria semakin mengetatkan kewaspadaan terhadap virus flu burung ini.

Gerakan cepat yang mereka lakukan adalah dengan memusnahkan unggas-unggas yang telah dicurigai, mcmberikan suntikan vaksin pada beberapa yang masih sehat, serta mengirim para petugas kesehatan untuk memeriksa apakah sudah ada manusia yang terinfeksi virus H5N1 ini. Menteri Kesehatan Malaysia Chua Soi Lek Chua mengatakan melalui siaran televisi swasta kemarin: "Untungnya belum ada inveksi dari manusia ke manusia." Walau sebenarnya, sepekan sebelumnya keganasan virus H5N1 ini telah menewaskan 40 ekor ayam, sehingga Singapura pun minggu lalu terpaksa menghentikan sementara impor ayam dari Selangor, Malaysia.

Di luar itu di Banten, pemerintah pusat Republik Indonesia menetapkan bahwa Provnsi ini sebagai daerah "Benang Merah" flu burung yang harus memberikan perhatian khusus disebabkan karena ditemukannya 7 warga Banten yang meninggal dan ribuan unggas mati karena terinfeksi flu burung. Hal ini diungkapkan olch Menteri Pertanian Anton Apriantono saat melakukan Gerakan Tumpas Avian Influenza (AI)/Genta di Pendopo Gubernuran. Pencegahan penyebaran Virus AI ini, perlu melibatkan seluruh stake holders – pemerintah pusat, pemerintah provinsi, masyarakat bisnis, akademik, maupun masyarakat umum tanpa terkecuali. Pendidikan serta informasi wajib diberikan kepada semuanya. Merasa prihatin sah-sah saja akan tetapi itu saja tidaklah cukup, disamping itu sebaiknya kita semua tak boleh terjebak o1ch rasa panik /paranoia.

Untuk mengurangi rasa panik masyarakat o1eh karena pendidikan formal kita alokasi anggarannya behim mencapai angka 20% maka – menyangkut masalah flu burung untuk penyebaran informasi antisipasi flu burung dapat melalui kegiatan ibu-ibu PKK serta Puskesmas yang telah ada di seluruh Banten. Jangan dilupakan juga fungsi guru-guru di sekolah plus LSM lokal maupun internasional. Karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik (Homo Edukandus), sehingga dengan perhatian yang tersederhana sekalipun learning process sesungguhnya akan terjadi. Pendidikan sesungguhnya adalah sarana untuk memfasilitasi, mengarahkan serta mengembangkan fitrah/potensi manusia – learn to think, to do, to act, dan to be. Pada akhirnya tujuan akhir atau outputnya adalah learn to live together in harmony.

Di dalam pemberantasan virus AI ini, harmonisasi adalah faktor utama di dalam urusan kebersihan serta pengelolaan lingkungan hidup yang dapat diformulasikan. Kalau anak-anak serta keluarga kita di rumah dapat menjadi trainers di dalam kegiatan sejenis TOT (Training of Traineers) di dalam proses ajar mengajar masalah penanganan virus AI ini, maka kedua pemerintahan – baik di pusat maupun di provinsi akan lebih ringan beban tanggung jawab moralnya di dalam menyukseskan penanganan kasus flu burung ini. Sellingga outcome atau manfaat darinya – masyarakat yang bahagia serta tenang, lingkungan hidup yang sehat dapat segera terkendali. Sehingga virus AI tadi yang enggan mampir di Banten, karena kandang-kandang ayam yang tersebar di pelosok Banten sudah bersih, tertata, aman bagi bisnis harian para peternak unggas yang semoga pada akhirnya nanti dapat memberikan kontribusi PAD yang mcningkat dari hari ke hari di ranah Banten kita tercinta ini.

Karenanya kasus flu burung yang belakangan ini terjadi, bilamana kita memandangnya dengan kaca mata arif-bijaksana adalah sebagai unsur pemicu, di mana kita sadari atau tidak bahwa menjadi manusia pembelajar di Banten adalah suatu keharusan – it is a strong must. Sehingga mampu menguasai rasa panik yang tak perlu, apabila terjadi sesuatu kejadian luar biasa yang mampu menggoncangkan tatanan harmonisasi tadi. Rakyat di seantero wilayah tak harus dibuat paranoia yang akan menciptakan instabilitas nasional. Semoga rekam-jejak Banten nantinya bersama penumpasan virus H5N1 ini di dalamnya dapat menjadi awal dari lompatan ke depan warga Banten yang tertata sebagai upaya optimal, dari ingin bangkitnya masyarakat dari keterpurukan selama lima tahun ini dan sebagai upaya pernicu langkah di dalam turut serta menggapai impian masa depan yang lebih terhormat dari hari ini. Semoga saja ya Rabbi, kabulkanlah doa kami semua di Banten ini.

Allahu Akbar, Merdeka!
 

Kisah jas Merah Ratu Shima: Marissa Haque Fawzi (Radar Banten 10 April 2006)

RADAR BANTEN, 10 April 2006

Syahdan, Kerajaan Kalingga, Nagari di pantura (pantai utara Jawa, sekarang di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) beratus masa berlampau, bersinar terang emas, penuh kejayaan. Bersimaharatulah, Ratu Shima nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangi di antero nagari nusantara. Sungguh, meski jargon kesetaraan gender belum jadi wacana saat itu. Namun pamor Ratu Shima memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan. Kebijakannya mewangi kesturi, membuat gentar para perompak laut. Alkisah tak ada nagari yang berani berhadap muka dengan Kerajaan Kalingga, apalagi menantang Ratu Shima nan perkasa. bak Srikandi, sang Ratu Panah.

Konon, Ratu Shima, justru amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pcjabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri, hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, pun segenap pimpinan divisi kerajaan sampai tukang istal kuda, alias pengganti tapal kuda, kuda-kuda tunggang kesayangannya, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya.

Sekali waktu, Rata Shinma menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan memutasi, dan me-nonjob-kan pejabat penting di lingkungan Istana. Namun puluhan pejabat yang mendapat mutasi di tempat yang tak diharap, maupun yang di-nonjob-kan, tak ada yang mengeluh barang sepatah kata. Semua bersyukur, kebijakan Ratu Shima sebetapapun memojokkannya, dianggap memberi barokah, tuah titisan Hyang Maha Wenang.

Tak puns dengan sikap ‘setia’ lingkaran dalamnya, Ratu Shima, sekali lagi menguji kesetiaan wong cilik, pemilik sah Kerajaan Kalingga dengan menghamparkan emas permata, perhiasan yang tak ternilai harganya di perempatan alun-alun dekat Istana tanpa penjagaan sama sekali. Kata Ratu Shima,"Segala macam perhiasan persembahan bagi Dewata agung ini jangan ada yang berani mencuri, siapa berani mencuri akan memanggil bala kutuk bagi Nagari Kalingga, karenanya, siapapun pencuri itu akan dipotong tangannya tanpa ampun!". Sontak Wong cilik dan lingkungan elit Istana, bergetar hatinya, mereka benar-benar takut. Tak ada yang berani menjamah, hingga hari ke-40. Ratu Shima sempat bahagia.

Namun malang tak dapat ditolak. Esok harinya semua perhiasan itu lenyap tanpa bekas. Amarah menggejolak di hati sang penguasa Kalingga. Segera dititahkan para telik Sandi mengusut wong cilik yang mungkin saja jadi maling di sekitar lokasi persembahan, sementara di Istana dibentuk Pansus, Panitia Khusus yang menguji para pejabat istana yang mendapat mutasi apes, atau yang nonjob diperiksa tuntas. Namun setelah diperiksa dengan seksama, berpuluh laksa wong cilik tak ada yang pantas dicurigai sebagai pelaku, sementara pejabat istana pun berbondong, bersembah sujud, bersumpah setia kepada Ratu Shima. Mereka menyerahkan jiwanya apabila terbukti mencuri. Rata Shima kehabisan akal.

Saat itu, tukan istal kuda, takut-takut menghadap, badamiya gemetar, matanya jelalatan melihat kiri kamm, amat ketakutan. "Maaf Tuanku Yang Mulia Ratu Agung Shima, perkenankan hamba memberi kesaksian, hamba bersedia mati untuk menyampaikan kebenaran ini. Hamba adalah saksi mata tunggal. Malam itu hamba menyaksikan Putra Mahkota mengambil diam-diam seluruh perhiasan persembahan itu. Maaf...," sujud sang tukang istal muda belia ,mukanya seperti terbenam di lantai istana. "Apa? Putra Mahkota mencuri?!" Ratu Shima terperanjat bukan kepalang. Mukanya merah padam. "Putraku, jawab dengan jujur, pakai nuranimu, benar apa yang dikatakan wong cilik dari kandang kuda ini?", tanya sang ibu menahan getar. Sang Putra Mahkota tiada menjawab, ia hanya mengangguk., lalu menunduk teramat malu. la mengharap belas kasih sang ibu yang membesarkannya dari kecil.

Sejenak istana teramat sunyi, hanya bunyi nafas yang terdengar, dan daun-daun jati emas yang jatuh luruh ke tanah. "Prajurit! Demi tegaknya hukum, dan menjauhkan nagari Kalingga dari kutukan dewata, potong tangan Putra Mahkotaku, sekarang juga...,"perintah Sang Ratu Shima dengan muka keras. Seluruh penghuni istana dan rakyat jelata yang berlutut hingga alun-alun merintih memohon ampun, namun Sang Rata tiada bergeming dari keputusannya. Hukuman tetap dilaksanakan. Hal itu dituliskan dengan jelas di Prasasti Kalingga, yang masih bisa dilihat hingga kini

Intisari kisah ini adalah; 'Jas Merah!' (Jangan Sekali-sekali melupakan Sejarah), salah satu judul pidato Bung Karno, perlu diingat bersama.

Ketegasan Ratu Shima, relevan dengan situasi Banten terkini, betapa rancangan Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) 2006, situ koma sekian trilyun rupiah nyaris saja jadi reriungan yang tidak nelas penggunaan dan fungsinya, melulu belanja modal saja. Membangun gedung, membeli alat, menjauhkan diri dari focus menyejahterakan wong cilik. Sementara angka kemiskinan, standar kesehatan amat rendah dan keterpurukan pendidikan, membuat Banten tidak punya sisi kebanggaan dalam percaturan bangsa. Beda dengan Kalingga yang begitu sohor, akan tegak tegasnya hukum tanpa pandang bulu. Bahkan ratusan tahun berlampau kisah itu masih terasa ideal.

Semoga saja, mutasi yang memutar seluruh orbit kekuasaan di Banten tidak ada maksud khusus kecuali penyegaran saja. Namun bila ada agenda politis di balik rancangan anggaran belanja yang amburadul dan di-nonjob-kannya para pamong praja yang berjasa bagi pembangunan Banten kemarin tanpa alasan jelas. Rasanya sudah waktunya burung-burung Ababil dari pelosok nagari Banten hadir, berteriak riuh, menyeru keadilan di bumi yang dahulu diperjuangkan para pejuang kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa raga. Sejarah telah mengajarkan, apabila hukum dipakai tanpa tedeng aling-aling, tanpa pandang bulu, kesejahteraan-kejayaan nagari sudah di depan mata. Apabila mekanisme dan aturan hanya jadi alat legitimasi kekuasaan, maka tunggu saja waktunya wong cilik yang tertindas, beristiqhosah akbar. Meminta bebas dari belenggu azab!.

Merdeka!

Perempuan Melawan Sampah: Marissa Haque Fawzi untuk Radar Banten 2005

15 November 2005

RADAR BANTEN

Para ahli bijak mengatakan bahwa hidup itu hanya sekali, harus berarti dan setelah itu baru mati. Bahwa hidup hanya sekali saya setuju, pasti mati saya pun setuju, akan tetapi bagaimana caranya supaya hidup hanya sekali itu dapat menjadi berarti? Sangat relatif jawabannya. Ada yang mengatakan hidup menjadi berarti artinya menciptakan karya yang diakui masayrakat setempat bahkan dunia, sebagian lain menyatakan masa tua yang jaya dan makmur adalah ukuran menjadi berarti, sementara yang terakhir mengatakan bahwa mati masuk surgalah yang paling mempunyai makna terdalam. Melihat manusia Indonesia hari ini, bila ditinjau dari kacamat Teori Kebutuhan dari Abraham Maslow, sandang-pangan-papan, mencintai dan dicintai, aktualisasi diri, dan yang terakhir yang sangat jarang dimunculkan di banyak kajian yaitu kebutuhan transcendental (cinta Ilahi). Nah sedang pada lini manakah kita semua sekarang berada?

Belakangan setelah bertubi-tubi ketahanan diri dan nasional Indonesia diserang oleh SARS, sapi gila, flu burung, lumpuh layu polio, busung lapar, dan yang terakhir sedang menggejala kembali yaitu demam berdarah, membuat kita termenung menyaksikan semua itu. Ada yang mengatakan Allah sedang bercanda dengan cara-Nya, sebagian merasa lebih setuju menganggap Allah SWT sedang menguji kita. Bila sedang diuji untuk naik kelas, berarti jawabannya adalah lulus atau tidak lulus.Jika kita tidak lulus berarti ada yang tidak benar dalam proses belajar dari kehidupan ini. Ada proses ketidakpedulian yang tanpa kita sadari kita jalani sebagai suatu kebiasaan yang dianggap memang seharusnya demikian. Akan tetapi bila jawabannya lulus, maka rida Allah SWT sedang bersama kita semua. Siapa yang tidak mau hidup nyaman di bawah paying rida Allah?

Hari ini kita sedang dihantui dengan demam berdarah, setiap hari di televisi kita melihat korban bergeletakkan di berbagai rumah sakit. Barangkali awalanya kita hanya mampu berempati terhadap para korban yang terlihat di televise, atau kit abaca di Koran. Hingga pada titik tertentu akhirnya – semoga tidak terjadi pada keluarga kita di Banten – satu per satu tetangga atau orang yang dekat di hati kita turut menjadi korban.

Banten sebagai provinsi bayi, khususnya Kabupaten Tangerang di mana saya bertempat tinggal, sudah sangat penuh sesek dengan penduduk dan sampahnya. Janganlah sampai wilayah ini diidentikkan sudut wilayah/kota sampah. Tentu sampah dalam pengertian di sini tidak hanya sekadar dalam bentuk kata benda semata, akan tetapi sekaligus dalam bingkai methapora mental spiritual. Di wilayah dekat tempat tinggal saya hari ini, setiap hari saya saksikan di hampir setiap parit, kali, dan sungai berwarna hitam, dangkal serta bau. Masyarakat yang tak pedulian membuat kondisi yang sudah parah, menjadi semakin parah. Mungkin hal ini dianggap memang sudah menjadi sebuah keniscayaan yang sudah tak perlu untuk diapa-apakan lagi. Masayarakat yang sudah mengalami bertubi-tubi masalah hidup menjadi sangat apatik dan skeptical. Kelihatannya bagi banyak keluarga di lingkungan ini adalah, bagaimana mendapatkan uang untuk makan per hari ini. Kenytaaan pahit di depan mata mereka ibarat sebuhan lingkaran setan yang tak berujung. Setiap insane yang terketuk hatinya termasuk saya pribadi sering bertanya pada diri sendiri, harus mulai dari manakah bila ingin berkontribusi untuk mengubah semua ini. Sebagai seorang yang sedang belajar menjadi seorang negarawan (anggota Komisi IV DPR-RI, dari Fraksi PDI Perjuangan) yang sekaligus juga seorang ibu rumah tangga, keprihatinan saya dimulai dengan mengamati sampah yang dihasilkan oleh rumah-rumah tangga sekaligus para perempuannya sebagai inu rumah tangganya.

Tiba-tiba saya teringat pada sebuah kejadian lucu bebrapa lama berselang. Ketika sedang menyetir mobil sendirian, saya disalip dari sebelah kanan bahu jalan, tentu saya menginjak rem supaya tidak terjadi tabrakan. Tak lama kemudian saya melihat sang pengendara – yang ternyata perempuan berkerudung – membuka jendela sambil membuang sampah bekas bungkusan kue. Timbul rasa jengkel, maka setelah istighfar saya memencet klakson tiga kali sebagai peringatan jangan menyalip dan buang sampah sembarangan! Saya mencoba menyusulnya sembari membuka kaca jendela sebelah kiri untuk memberitahukannya. Tahukah kemudian apa yang terjadi? Sang pengendara mobil bermerek mahal tersebut hanya terkejut sejenak dan tak lama setelahnya malah melambaikan tangannya dengan sangat ramah ke arahku karena merasa mengenali diriku sebagai public figure. Ups! Astaga… kejadian di atas tadi membuat saya tertegun dan merenung bingung beberapa saat tentang harus bagaimana memberi pengertian pada masayrakat Indonesia bahwa kita tinggal dan hidup di bumi yang sama. Perempuan sesungguhnya sangat identik dengan kecantikan, keluhuran budi, keindahan, serta tentu saja kebersihan. Akan tetapi bilamana ternyata si perempuan cantik itu tidak terbiasa dengan kebersihan dan tidak sadar akan lingkungan yang bersih, teratur serta nyaman, maka apa sebenarnya yang telah terjadi? Apa yang harus dikoreksi? Dan siapakah sebenarnya yang harus disalahkan?

Banyak yang mengatakan belum teralokasikannya dana sebesar 20% dari APBN untuk dunia pendidikan sebagai kambing hitamnya. Karena kurang terdidik, maka manusia Indonesia pada umumnya jadi sangat cuek terhadap lingkungannya. Sebagian lagi mengatakan karena terlalu lamanya kita dijajah oleh Belanda, maka terjadilah pembunuhan karakter secara besar-besaran sehingga kualitas manusia Indonesia menjadi seperti hari ini, termasuk urusan kebersihan lingkungan dan sampai yang berserak di mana-mana. Mendidik perempuan sebagai ujung tombak menjaga kelestarian lingkungan bukanlah sekadar utopia (angan-angan) belaka. Karena menjadi seorang perempuan adalah juga berarti menjadi seorang ibu. Maka bila sebuah Negara/pemerintah/pemerintah daerah mendidik seorang perempuan adalah juga berarti mendidik seluruh anggota keluarganya. Mendidik sebuah keluarga berarti mendidik unsure ini dari sebuah bentuk lain ketahanan nasional Indonesia sebagai sebuah bangsa besar bernegara.

Seorang ibu tanpa disadari adalah seorang manager alamiah yang mengatur semua urusan domestic beserta seluruh isinya, maka sang ibu yang telah mendapatkan pemahaman baik biasanya dapat diandalkan menjadi role model yang mampu menularkan pengetahuannya pda selruuh anggota rumah tangganya. Pemerinta pusat dalam waktu dekat akan bekerjasama dengan pribadi-pribadi anggota DPR RI untuk menggalakkan kampanye mengenai pentingnya memberikan ruang lebih bagi perempuan untuk mengembangkan potensi diri yang selam ini sedang ‘tidur’ serta mencetuskannya menjadi sebuah gerakan “Perempuan Ibu Rumah Tangga Wajib Belajar Kelestarian Lingkungan.”

Melalui pendidikan yang terus menerus – formal maupun informal – membuat aspek kognitif seorang perempuan akan terbuka, intelektual mereka akan terasah, sehingga mereka mampu berpikir lebih rasional serta kreatif. Yang pada akhirnya nanti insya Allah dapat mewujudkannya menjadi sebuah potensi positif yang arif dan bijaksana, yang di ujungnya akan menjadi energi penggerak bagi gerakan kesadaran Banten bersih lingkungan dan bebas sampah.

Bila kita semua ingin bangkit, dan bangsa Indonesia ingin punya hgarga diri di mata dunia, tak ada tawar menawar, perbaiki dulu kualitas hidup yang berkatian dengan lingkungan kita. Dalam hal ini posisi strategis para perempuan – tentunya secara bersama-sama bergandengan tangan serta berkesinambungan – dapat menghasilkan generasi muda Indonesia yang mempunya kedisiplinan tinggi serta kepahaman lingkungan yang lebih baik. Dalam hal ini tentunya tidak lengkap rasanya bilamana peran para ayah atau rekan pria tidak diikutsertakan di dalam , tanpa melepaskan diri dari kenyataan bawah sebuah rumah tangga adalah tanggung jawab bersama antara suami istri tanpa terkecuali.

Hari ini dalam kenyataan tatanan dunia politik praktis, perempuan Indonesia sedang serius berjuang untuk merebut kesempatan memperjuangkan rakyat dalam Pilakada maupun Pemilu 2009 yang akan dating. Sebuah upaya tanpa henti di tengah pengakuan yang tidak pernah turun begitu saja dari langit. Bila perjuangan ini berhasil maka kemenangna ini akan membuka kesempatan lebih luas lagi bagi para wanita unuk masuk ke dalam system yang dapat mempengaruhi kebijakan lingkungan dengan bahasa kasih keibuan. Mereka para perempuan yang telah berpartisipasi di DPR-RI, DPRD, dan DPD-RI, bertugas bahu membahu bersama rekan prianya untuk menjalankan tiga fungsi utama. Yaitu: 1. legislasi (membuat undang-undang), 2. menyusun anggaran, dan 3. melakukan pengawasan akan jalannya pemerintahan pusat maupun daerah Banten, serta tambahan tugas menyerap aspirasi dari bawah. Bagi para perempuan yang memilih berada di luar system semisal aktif di beberapa LSM, dapat memainkan perannya pula dengan terus menerus memberikan informasi serta peringatan kepada seluruh anggota keluarga di komunitas tertentu untuk menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya. Tak kalah penting juga adalah peran kepemimpinan dan ketokohan yang dapat dimainkan para ibu rumah tangga di masyarakatnya melalui kegiatan bersama PKK pada tingkat RT, RW, kelurahan maupun kecamatan.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Diawali dengan bismillahirrahmanirrahim serta langakah kanan, asal masih memiliki mimpi yang dilengkapi dengan keyakinan, kerja keras serta kesungguhan yang pantang menyerah, insya Allah pasti berhasil. Mengutip sebuah kalimat tausiyah Aa Gym: “Bukanlah soal banyak atau sedikit yang kita hasilkan, keberhasilan adalah pada saat kita memaknai apa yang kita rasakan adalah amanah dari Allah bagi kita para khalifahnya di muka bumi ini.” Jadi tunggu apa lagi? Lingkungan hidup kita sudah terlalu penuh dengan sampah, banyak korban telah berjatuhan karena demam berdarah. Ayo, keluar rumah, pegang sapu, siram got di depan rumah, timbun semua sampah yang bertebaran, dan jangan lupa untuk menyemprot rumah kita. Agar Indonesia kembali dapat tersenyum, dan warganya dapat menjadi masayrakat yang bahagia serta selamat di dunia dan akhirat.

Allahu Akbar, Merdeka!

Damai di Hati, Damai di Bumi: Marissa Haque Fawzi (untuk Internal Buletin PDIP/Damai di Hati, Damai di Bumi )


Damai di hati damai di bumi, kata-kata itu sering sekali aku dengar sejak kecil. Damai yang bukan hanya slogan yang terpampang di perempatan jalan, bukan hanya menempel didinding sekolah-sekolah negri diseantero Indonesia, tapi damai yang bersemayam dihati sanubari yang paling dalam pada diri seorang manusia. Sementara kata damai menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah; 1. Tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, 2. Tenteram, tenang, 3. Keadaan tidak bermusuhan, rukun. Betapa indahnya makna damai ini sebenarnya, akan tetapi apakah kita semua orang Indonesia tanpa terkecuali telah mampu memaknai arti damai ini secara holistik.

Ramainya Panggung Politik Pemilu 2004 serta sistim baru yang diadopsi pemerintah yang berkuasa saat ini yang bersifat langsung, terbuka dan sangat lokal, membuat kita semua—mau tidak mau—harus mempersiapkan diri akan beberapa kejutan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kejutan yang akan muncul bisa manis romantis, namun dapat pula sebaliknya—garang, revolusioner dengan ongkos sosial yang tinggi berdarah-darah.

Bila kita merunut beragam peristiwa yang berkaitan dengan pemilihan umum selama beberapa bulan terakhir ini. Mana yang lebih menarik perhatian: munculnya calon anggota legislatif kalangan aktris, seperti Nurul Arifin (Golkar), Paquita wijaya, Dede Yusuf (PAN), Rieke Diah Pitaloka, Gusti Randa (PKB) dan Gugun Gondrong serta saya sendiri (PDIP), atau aksi protes terhadap anak cabang beberapa Partai dibeberapa Propinsi diseluruh Indonesia? Kebetulan unjuk rasa, pembakaran perlengkapan kantor anak cabang partai, disaksikan lewat televisi. Mau tidak mau lebih hidup, bergerak, bersuara, bertata warna. Orang belakangan juga tercuri perhatiannya ketika banyak media cetak menulis dengan nada minor terhadap kehadiran para selebriti ini di ranah politik—tak perduli apakah di subjek yang dituding itu mempunyai latar belakang kepedulian sosial dan politik ataupun memiliki latar belakang pendidikan yang lebih dari memadai dari rata-rata kebanyakan orang Indonesia pada umumnya.

Berbeda pendapat wajar, protes masih masuk akal. Akan tetapi protes yang disertai aksi kekerasan, perusakan benda, sangatlah kelewatan. Semua pihak agar segera mawas diri dan koreksi diri. Apalagi bilaman kejadian terjadi pada tingkat anak cabang partai. Alangkah baiknya bilamana sesama anggota saling kenal secara intens--mengenal secara pribadi pengurus dan sosok mereka. Singga mereka yang tidak aspiratif dapat dicatat namanya, kemudian dilaporkan kepada pemimpin Parpol berserta DPP masing-masing.

Perlu ditarik pelajaran bagi kita semua beberapa kejadian yang kita lihat dilayar televise belakangan ini. Perbedaan pendapat dan adu argumen tapi tidak perlu dilanjutkan dengan aksi protes, dan marah. Apalagi bila yang harus ditempuh adalah aksi turun ke jalan, karena merasa aspirasinya tidak digubris atau keberatan mereka tidak diperhatikan oleh partainya. Bilamana silaturahmi terjaga, maka suasana kasih saying akan muncul kepermukaan. Tak kenal maka tak sayang kata pepatah. Sehingga dapat dihindarinya beberapa anggota yang protes, serta unjuk rasa dan pembakaran karena pengurus yang dianggap tidak aspiratif. Apakah turun ke jalan masih sesuai dengan jalur demokrasi? Ya betul. Akan tetapi, apakah aksi kekerasan dengan membakar kantor dan perlengkapan partai belum melampaui batas, koridor, dan etika demokrasi? Rasanya kita harus mawas diri, serta melakukan evaluasi dengan melakukan koreksi. Pertama untuk para pengurusnya, kedua untuk anggota partai tanpa terkecuali.

Seharusnya kita semua belajar bersabar serta mawas diri tanpa harus keluar dari koridor kritis dan analitis. Juga kitapun harus mempunyai sifat malu yang dapat menjadi barometer untuk mengukur kualitas keimanan seseorang. Malu bahwa kita sebagai manusia terkadang belum mampu mengontrol unsur naar (api) yang merupakan innate property kita. Bahwa marah masih merupakan lokomotif didalam kehidupan kita. Semakin besar tingkat keimanan kita, akan semakin tinggi rasa malu kita pada Allah SWT. Negara kita tercinta ini tidak akan dapat dijalankan dengan kemarahan. Dimana-mana marah, dan semua umpatan kotor berterbangan. Kala iman melemah, maka unsur rasa malu kita pun menjadi rendah.

Iman, malu, dan mengurangi unsur naar dari dalam diri. Sifat malu dalam bahasa Arab disebut dengan al-haya’ adalah sifat yang mampu menjaga pemiliknya dari perbuatan-perbuatan yang dapat menghinakan dirinya baik dihadapan Allah SWT, orang lain, maupun dirinya sendiri. Orang yang mempunyai sifat malu, tidak akan membiarkan dirinya melakukan perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan dirinya pada jurang kehinaan. Sebaliknya, orang-orang yang hatinya telah mati, ia tidak akan pernah merasa malu untuk berbuat dosa. Hidup seorang manusia akan menjadi sangat bernilai saat ia mampu menumbuhkan sifat malu didalam hatinya.

Di dalam korodor rasa malu dan iman ini, saya sebagai penulis tidak melihat adanya perbedaan dari masyarakat umum biasa maupun para selebriti—yang juga adalah manusia biasa pada umumnya. Ada yang memiliki rasa malu yang tinggi disertai iman dan rasa syukur yang tak henti kepada sang Pencipta, akan tetapi juga banyak yang sebaliknya.

Di masa lalu, sudah ada artis berpolitik dan dicalonkan sebagai caleg. Keistimewaannya, untuk Pemilihan Umum 2004, jumlah artis sebagai caleg atau artis berpolitik lewat partai cukup signifikan. Orang orang pada hari-hari belakangan ini mulai memperkirakan bahwa tampilnya para selebriti ke panggung politik bukan sekadar penggembira untuk menambah dukungan suara. Juga bukan hanya sebatas meramaikan bandwagon perarakan kampanye. Tapi diharapkan mempunyai makna yang lebih daripada itu. Para selebriti diharapkan masuk ke panggung politik parlemen dan di atas panggung sana untuk tampil sebagai artis plus; sebutlah menjadi tontonan. Karena mereka adalah sosok artis yang berkiprah sebagai politisi, tapi juga mampu tetap sebagai magnit yang berdaya tarik kuat serta mampu menjadi corong aspirasi rakyat, sama sejajarnya nya dengan para ekonom, pengusaha, atau latar belakang profesi lainnya—berkiprah di panggung politik. Perkembangan ini menjadi menarik, semenarik bersamaan dengan pertumbuhan maraknya hiburan serta tontonan kedalam kehidupan sehari-hari kita secara intensif; gara-gara gejala infotainmen, edutainmen, infomersial yang dibawa oleh multimedia, kini ditambah lagi dengan politainmen. Kontribusi dan peran apa yang akan diberikan para artis atau selebriti ini kita lihat saja pada perkembangannya di masa yang akan datang.

Panggung lembaga perwakilan rakyat dikenal sebagai panggung politik (zoon politicon), panggungnya para pemain politik melalui kepiawaian beretorika, berdialog. Di Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan beberapa bulan yang lalu, ketika dibicarakan pengiriman pasukan ke Irak oleh AS, terjadi adu dorong, adu tumpuk, dan lempar-lemparan kursi. Benar-benar sebuah aksi seperti dilayar sinetron. Kehadiran para artis yang biasanya dekat dengan rasa kemanusiaan dan dipenuhi oleh empati, akan memperkuat nilai, semangat, dan warna kemanusiaan ke dalam politik Indonesia. Dan inilah demokrasi. Siapapun berhak aktif dalam politik, termasuk sebagai caleg. Lagi pula semua itu akan serba terbuka dan transparan untuk diikuti dan dikontrol. Tradisi pengabdian serius di jabatan dan tempat berbahaya bisa memperkuat komitmen untuk mengembangkan politik sebagai pelayanan dan pengabdian masih saja menyisakan semacam misteri. Disertai rasa malu dan kepatuhan pada Allah SWT, insya Allah siapapun orang yang akan mendapat kepercayaan dari rakyat, dengan berbagai macam sosok, semangat, warna, nilai, dan komitmen masuk ke kancah politik, maka ia dapat menjalaninya secara istiqomah dalam suasana hati yang damai. Politik yang lebih dalam mencakup dari lebih dari sekadar profesi. Politik yang disosokkan, dipilih, serta diperkaya sebagai panggilan pelayanan dan pengabdian bagi kepentingan rakyat banyak yang dilengkapi dengan latar belakang pengetahuan yang memadai, dan skills; keahlian praktis seperti berpidato, berunding, mencari jalan keluar bersama dalam menanggulangi segala permasalahan yang melilit tubuh negeri kita tercinta ini.

Entri Populer