Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)
Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)
Bintaro, Jakarta, February 21, 2004
Water is the source of life.
It is very flexible and can easily adapt itself to anything.
If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.
Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.
If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.
Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.
According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.
But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.
Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.
Tampilkan postingan dengan label Chikita Fawzi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chikita Fawzi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 Oktober 2012
Kamis, 23 Agustus 2012
Marissa Haque dari Dominika Dittwald: "We Learn Everything from Everybody"
Sumber: http://dominikadanmarissa.blogdetik.com/2012/08/23/marissa-haque-dari-dominika-dittwald-learn-everything-from-everybody/
Pada saat kita di luar Indonesia, tentu setiap detik adalah saat memulung ilmu, benar yang dikatakan oleh karibku Dominika Dittwald bahwa we learn everything from everybody. Kesukaan kami dalam hal membaca memang klop satu sama lainnya.
Namun karena Bahasa Inggris adalah bahasa ibu dari Dominika (selain Perancis dan Polandia), maka saya selalu tertinggal dalam hal capaian jumlah buku yang telah habis kami baca setiap minggunya. Dan saya jadi hampir selalu mentraktirnya minum susu-coklat panas di cafetaria dekat kampus kami, karena hampir selalu kalah 'taruhan'. Kami memilih minum susu-coklat atau moccacino karena Dominika faham saya Muslimah dan tidak meminum alkohol (walau saat itu saya masih on-off-on-off pakai kerudung terutama pasca kejadian September 11).

Seingatku Dominika sering mengucap nama Sir Ken Robinson yang mengatakan: "... never confuse knowledge with common sense...". Robinson adalah seorang pendidik revolusioner yang mengatakan bahwa ada fakta yang menyebutkan (tahunnya saya lupa) bahwa 98% anak di Amerika Serikat lahir dengan kemampuan "divergent thinking." Dan hal itu membuat mereka 'tidak ada matinya' di dalam mencari solusi terhadap setiap permasalahan yang mereka hadapi!
Tak heran selama kami sekolah film di School of Film, Ohio University, Athens, USA kami selalu hampir setiap hari dicekoki kalimat "...there is no room for mistakes!" Knowledege comes but wisdonm lingers. Knowledge is power, the more you know, the more powerful you become. Uang, harta, dan jabatan dapat hilang, namun melalui ilmu Allah, nalar, kasih, dan kepedulian akan remain sustainable...insya Allah...
Di dalam Bahasa Latinnya kurang-lebih adalah begini: " Tamdiu discendum est, quamdlu vivas"...
Bismillahirrahmannirrahiiim...
Pada saat kita di luar Indonesia, tentu setiap detik adalah saat memulung ilmu, benar yang dikatakan oleh karibku Dominika Dittwald bahwa we learn everything from everybody. Kesukaan kami dalam hal membaca memang klop satu sama lainnya.
Namun karena Bahasa Inggris adalah bahasa ibu dari Dominika (selain Perancis dan Polandia), maka saya selalu tertinggal dalam hal capaian jumlah buku yang telah habis kami baca setiap minggunya. Dan saya jadi hampir selalu mentraktirnya minum susu-coklat panas di cafetaria dekat kampus kami, karena hampir selalu kalah 'taruhan'. Kami memilih minum susu-coklat atau moccacino karena Dominika faham saya Muslimah dan tidak meminum alkohol (walau saat itu saya masih on-off-on-off pakai kerudung terutama pasca kejadian September 11).
Seingatku Dominika sering mengucap nama Sir Ken Robinson yang mengatakan: "... never confuse knowledge with common sense...". Robinson adalah seorang pendidik revolusioner yang mengatakan bahwa ada fakta yang menyebutkan (tahunnya saya lupa) bahwa 98% anak di Amerika Serikat lahir dengan kemampuan "divergent thinking." Dan hal itu membuat mereka 'tidak ada matinya' di dalam mencari solusi terhadap setiap permasalahan yang mereka hadapi!
Tak heran selama kami sekolah film di School of Film, Ohio University, Athens, USA kami selalu hampir setiap hari dicekoki kalimat "...there is no room for mistakes!" Knowledege comes but wisdonm lingers. Knowledge is power, the more you know, the more powerful you become. Uang, harta, dan jabatan dapat hilang, namun melalui ilmu Allah, nalar, kasih, dan kepedulian akan remain sustainable...insya Allah...
Di dalam Bahasa Latinnya kurang-lebih adalah begini: " Tamdiu discendum est, quamdlu vivas"...
Bismillahirrahmannirrahiiim...
Marissa Haque dari Dominika Dittwald: "We Learn Everything from Everybody"
Kamis, 22 Desember 2011
"Duh! Semoga Angelina Sondakh Tetap dalam Iman Islamnya: Marissa Haque Fawzi"
Sabtu, 17 Desember 2011 20:23 WIB
Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com/mobile/index.php/2011/12/17/marissa-haque-hubungan-angie-berpotensi-bocorkan-strategi-kpk
Marissa Haque: Hubungan Angie (Angelina Sondakh) Berpotensi Bocorkan Strategi KPK
JAKARTA, TRIBUN - Artis senior yang juga politisi, Marissa Haque mengatakan, hubungan asmara antara politisi Partai Demokrat, Angelina Sondakh dengan penyidik KPK, Kompol Raden Brotoseno, berpotensi kebocoran strategi internal KPK kepada partai dalam menangani kasus korupsi Wisma Atlet, seperti dituduhkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.
Marissa yang telah Doktor (S3) dari IPB dan menyelesaikan disertasi tentang Illegal Logging di Riau ini menjelaskan, dari ukuran etika, apa yang mereka lakukan sangat tidak etis. "Mengingat dari kacamata hukum, apa yang dituduhkan Nazarudin ke Angie terhadap delik pidana gratifikasinya, menuju ke arah TSK alias tersangka," jelas istri rocker Ikang Fawzi ini, Sabtu (17/12/2011).
Icha, panggilan akrab Marissa Haque, memuji kejelian mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas, dalam mengungkap hubungan asmara antara penyidik dengan Angie. Ibu dua anak yang telah menyelesaikan program MBA dari FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sekarang sedang menyelesaikan Program MH dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga ini menjelaskan, bahwa saat di dalam kelas hukum yang mahasiswa sebagian besar dari kepolisian dan kejaksaan, muncul informasi bahwa Kompol Broto kekasih Angie tersebut bukan minta pindah tapi dipindahkaan. Dari kelas hukum tersebut juga beredar kabar jika keduanya baru berkenalan selama dua bulan ini saat Angie disidik.
Saat ini Icha (Marissa Haque) sembari menghabiskan sisa tahun 2011 sedang merampungkan penulisan buku mengenai batik tandem bersama anak salah seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UGM, Meta Thereskova.
Marissa yang telah Doktor (S3) dari IPB dan menyelesaikan disertasi tentang Illegal Logging di Riau ini menjelaskan, dari ukuran etika, apa yang mereka lakukan sangat tidak etis. "Mengingat dari kacamata hukum, apa yang dituduhkan Nazarudin ke Angie terhadap delik pidana gratifikasinya, menuju ke arah TSK alias tersangka," jelas istri rocker Ikang Fawzi ini, Sabtu (17/12/2011).
Icha, panggilan akrab Marissa Haque, memuji kejelian mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas, dalam mengungkap hubungan asmara antara penyidik dengan Angie. Ibu dua anak yang telah menyelesaikan program MBA dari FEB Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sekarang sedang menyelesaikan Program MH dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga ini menjelaskan, bahwa saat di dalam kelas hukum yang mahasiswa sebagian besar dari kepolisian dan kejaksaan, muncul informasi bahwa Kompol Broto kekasih Angie tersebut bukan minta pindah tapi dipindahkaan. Dari kelas hukum tersebut juga beredar kabar jika keduanya baru berkenalan selama dua bulan ini saat Angie disidik.
Saat ini Icha (Marissa Haque) sembari menghabiskan sisa tahun 2011 sedang merampungkan penulisan buku mengenai batik tandem bersama anak salah seorang Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis UGM, Meta Thereskova.
Editor : zulham
Source : Tribunnews
"Duh! Semoga Angelina Sondakh Tetap dalam Iman Islamnya: Marissa Haque Fawzi"
Senin, 21 November 2011
Biru IPB Ku Tercinta: Marissa Haque Fawzi
Sumber: http://marissa-haque-maafkan-ikhlaskan.blogspot.com/
Ketika IPB kupilih menjadi wadah mengasah kognisi-afeksi-psikomotorik beberapa tahun silam, banyak yang tersenyum sinis padaku. Dan bahkan Prof.Dr. Jimly Assidiqi mantan Ketua MK dan Gubur Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, saat saya dan Yasmin Mumtaz sepupuku (salah seorang produser di Trans TV) bertandang ke rumahnya menyatakan, bahwa saya tidak fokus pada bidang kompetensi utama saya yaitu Ilmu Hukum. Ketika saya sedang mengagumi lukisan bulu ayam bergambarkan wajah diri beliau dan keluarga yang terpasang di ruang tengahnya, Prof.Jimly sekaligus melengkapi ekspresinya dengan mengatakan bahwa saya terlalu banyak membaca. “Ayo fokus Marissa…,” kata beliau saat itu. Hehe… saya tidak pernah melupakan konversasi saya dengan beliau di rumah dinasnya saat itu. Prof. Jimly mungkin lupa, bahwa saya bukan mahasiswanya di FH UI. Bahwa saya ke rumah beliau karena sedang jalan bersama Yasmin Mumtaz yang pernah dibimbing beliau dalam kaitan thesis MH jurusan Kenegaraan di Universitas Indonesia.
Saya tidak pernah marah pada komentar Prof.Jimly, hanya saja saat itu saya merasa kurang nyaman di hati. What’s wrong with banyak membaca? Dan kenapa saya dianggap atau terlihat ‘tidak atau kurang pantas’ untuk menyelesaikan S3 saya di IPB Bogor? Bukankah SMA saya dulu di SMA Negeri 8 Bukitduri, Tebet (Sekolah SMA terbaik se Indonesia) dari jurusan IPA? Hanya karena saya ingin jadi sarjana sembari jadi artis film top saja makanya saya memilih Fakultas Hukum yang cara belajarnya bisa mobile dan lentur. Dan disaat lulus dulupun saya masuk dalam kategori tiga besar, dan dapat pujian!
Namun, sekarang saya mulai dapat mengerti apa yang dikatakan beliau, ketika saya mulai serius mempersiapkan ini dan itu bagi cum pengabdian untuk professorship kelak, bahwa kalau tidak linier dalam sati wilayah studi yang sama, tidak akan diakui oleh Kemndikbud. Saya memang harus mampu menyarikan seluruh bidang keilmuan yang telah didapatkan dari jalur pendidikan resmi selama ini. Dan karena S1 nya dari Fakultas Hukum, maka walau S3 selesai dari IPB pun, saya kelak harus tetap sekali lagi mengambil S3 yang ke dua. Yaitu di bidang Ilmu Hukum. Entah dari FH UI atau FH Unpad, tergantung nanti bagaimana rezekiku saja mengalirnya. Lalu karena kompetensiku sekarang berada juga di wilayah ekonomi-bisnis dan hukum bisnis, maka nanti S3 Ilmu Hukum berikutnya akan berada dalam wilayah arsiran Bidang Hukum-Ekonomi. Entah berlandaskan Kenegaraan seperti Prof. Jimly Assidiqi atau Prof. Mahfud MD, atau berlandaskan Pidana seperti Prof. Romli dari FH Unpad. Lalu saya juga harus mempersiapkan jawaban kalau bertemu Prof. Jimly lagi dan beliau akan bertanya kembali, semisal “… jadi S3 kamu dari IPB buat apa?” Maka jawabanku adalah untuk “CARA BERPIKIR LOJIK-SISTEMIK.”
Saya pikir itu adalah keunggulan mahasiswa pasca sarjana dengan background Ilmu Sosial yang masuk ke dalam ranah pendidikan eksakta! KUALITATIF yang DIKUANTIFIKASI, dan hal tersebut yang selama ini tidak pernah saya temukan dalam pendidikan Ilmu Hukum dengan sebagian besar pendekatan deskriptif-analisis ataupun analisis-konten. IPB adalah KATALIS PERTAMAKU yang MAMPU ME-LEVERAGE POSISIKU pada JAJARAN INTELEKTUAL BARU INDONESIA. Terimakasih banyak IPB… walau apapun yang pernah terjadi di dalamnya, namamu tetap akan kujunjung sampai mati kelak. Malah kalau mungkin ingin semakin kuharumkan namamu sebagai sebuah institusi pendidikan respectable di Indonesia.
Lalu apa signifikansinya dengan Indonesia? Well… saya ingin menjadi seorang negarawan, walau tidak selamanya harus ‘duduk’ pada suatu posisi strategis tertentu di negeri ini. Caranya? Tentu beragam… yang penting berada dalam jalan yang diridhoi Allah Azza wa Jalla serta selalu bersyukur dengan apa yang telah di’titipkan’-Nya kepada kita. Insya Alah demikian adanya…
Biru IPB Ku Tercinta: Marissa Haque Fawzi
‘Menjujurkan keadilan dan membingkai politik dengan hukum! Kejujuran, prestasi, sopan dan santun, serta kendali diri.”
Senin, 14 November 2011
Marissa Haque: Seperti di Riau, Mengerikan Kalau Negara Tak Sanggup Menyentuh Kriminal Korupsi Birokrat Propinsi Banten (Diduga)
DUGAAN KORUPSI: Ratu Atut Chosiyah Dilaporkan ke KPK
Icha Rastika | Latief | Rabu, 28 September 2011 | 19:26 WIB
ICHA RASTIKA Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten, Ratu Atut Chosiyah ke Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Rabu (28/9/2011).
TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Aliansi Independen Peduli Publik (AIPP) melaporkan Gubernur Provinsi Banten Ratu Atut Chosiyah, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (28/9/2011). Atut dianggap bertanggung jawab atas pengelolaan dana hibah dan bantuan sosial Provinsi Banten 2011 yang diduga telah diselewengkan.
”Dalam laporan itu, disebut inisial RAC (Ratu Atut) dan EK (Engkos Kosasih),” ujar peneliti dari Divisi Politik ICW, Abdullah Dahlan, di Gedung KPK, Rabu (28/9/2011).
Pemrov Banten diketahui menyalurkan dana hibah sebesar Rp 340 miliar ke 221 organisasi, forum masyarakat, dan instansi negara, serta menyalurkan dana bansos senilai Rp 51 miliar ke 160 lembaga.
Menurut Abdullah, ada lima jenis penyimpangan dalam pengelolaan program hibah dan bansos yang totalnya Rp 391 miliar itu. Penyelewengan pertama, dana hibah itu diberikan kepada lembaga-lembaga fiktif.
”Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah yang diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar,” katanya.
Perwakilan AIPP, Uday Suhada, menambahkan, dari 18 organisasi penerima hibah, hanya lima yang terdaftar sebagai organisasi formal.
”Di luar lembaga yang bersangkutan tidak diketahui legal atau tidak. Padahal, lembaga penerima hibah harus berbadan hukum, setidaknya tiga tahun,” ungkap Uday.
Penyelewengan kedua, lanjut Abdullah, sejumlah lembaga penerima hibah memiliki alamat yang sama.
Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar.
-- Abdullah Dahlan
Pemrov Banten diketahui menyalurkan dana hibah sebesar Rp 340 miliar ke 221 organisasi, forum masyarakat, dan instansi negara, serta menyalurkan dana bansos senilai Rp 51 miliar ke 160 lembaga.
Menurut Abdullah, ada lima jenis penyimpangan dalam pengelolaan program hibah dan bansos yang totalnya Rp 391 miliar itu. Penyelewengan pertama, dana hibah itu diberikan kepada lembaga-lembaga fiktif.
”Paling tidak, ada sepuluh lembaga penerima hibah yang diduga fiktif di beberapa daerah. Total anggaran untuk lembaga fiktif tersebut sebesar Rp 4,5 miliar,” katanya.
Perwakilan AIPP, Uday Suhada, menambahkan, dari 18 organisasi penerima hibah, hanya lima yang terdaftar sebagai organisasi formal.
”Di luar lembaga yang bersangkutan tidak diketahui legal atau tidak. Padahal, lembaga penerima hibah harus berbadan hukum, setidaknya tiga tahun,” ungkap Uday.
Penyelewengan kedua, lanjut Abdullah, sejumlah lembaga penerima hibah memiliki alamat yang sama.
”Setidaknya, ada delapan penerima hibah yang memiliki alamat sama, yaitu di Jalan Bridgen Syam'un, Kota Serang, dan empat lembaga dengan alamat sama, yaitu Jalan Syekh Nawawi Albantani Palima, Serang,” paparnya.
Padahal, dana hibah itu seharusnya diterima oleh lembaga-lembaga yang jelas nama dan alamatnya.
”Alokasi dana untuk masing-masing lembaga di Jalan Bridgen KH Syam'un sebesar Rp 22,5 miliar dan yang di jalan Syekh Nawawi total Rp 6,4 juta,” kata Abdullah.
Penyelewengan ketiga, dana tersebut dialirkan ke lembaga-lembaga yang dipimpin oleh keluarga gubernur.
”Mulai dari suami, kakak, anak, menantu, dan ipar,” ucap dia.
Abdullah mencontohkan, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang dipimpin suami Ratu Atut, Hikmat Tomet.
”Total hibah yang masuk ke lembaga yang dipimpin keluarga gubernur mencapai Rp 29,5 miliar,” ujarnya.
Keempat, dana hibah ini juga diduga telah dipangkas. Jumlah dana hibah yang diterima lembaga penerima tidak sesuai dengan pagu yang ditetapkan Dinas Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Banten.
”Contohnya, Lembaga Kajian Sosial dan Politik (Laksospol) Pandeglang. Dalam daftar penerima, lembaga itu memperoleh hibah Rp 500 juta. Tapi, surat pernyataan Ketua Laksospol Ayie Erlangga, mereka hanya terima Rp 35 juta,” papar Abdullah.
Adapun kerugian dari pemotongan tersebut mencapai Rp 925 juta. Terakhir, sebagian besar penerima bantuan sosial itu tidak jelas.
”Dari 160 penerima dana bansos, pemerintah daerah hanya mencantumkan 30 nama lembaga atau kepanitiaan dan tidak didukung alamat jelas,” ujar Abdullah.
Oleh karena itu, ICW dan AIPP meminta KPK melakukan penyelidikan terhadap pemberian dana bansos dan hibah tersebut. Dikhawatirkan, lanjut Abdullah, pemerintah daerah menjadikan kebijakan publik sebagai instrumen modal politik. Terlebih, ICW melihat bahwa alokasi dana hibah dan bansos Provinsi Banten terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
”Kenaikannya fantastis, pada 2009 totalnya mencapai Rp 74 miliar, tapi pada 2011, menjelang pilkada meningkat Rp 391 miliar,” tukasnya.
Minggu, 25 September 2011
"Marissa Haque Fawzi: Kreatifitas Angelina Sondakh Teruji Tangguh (Seiring dengan Pemeriksaan Kasus Delik Pidana Gratifikasinya)"
Angelina Rilis Buku Kedua
Minggu, 25/09/2011 - 19:09
MUNADY/"PRLM"
JAKARTA, (PRLM).- Anggota DPR Angelina Sondakh Massaid kembali meluncurkan buku lagu dan bergambar yang kedua setelah buku "Bernyanyi bersama Keanu".
Buku "Jazz For Fun" sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya, karena menurut istri almarhum Adjie Massaid buku ini.untuk bisa anak anak sambil belajar dan mendengarkan musik
"Ada bebera lagu dalam album kedua karena dengan buku ini anak- anak bisa pintar, biasanya anak-anak suka dengerin musik tapi kalau sudah denger musik mereka kadang malas belajar tapi lewat buku ini yang pasti ada lagu di vcd dan buku ada gambarnya," kata Angelina ditemui di toko buku Gramedia Matraman Jakarta Timur, Minggu 25/9. (Mun/A-88)***
"Marissa Haque Fawzi: Kreatifitas Angelina Sondakh Teruji Tangguh (Seiring dengan Pemeriksaan Kasus Delik Pidana Gratifikasinya)"
Sumber:
(1) http://www.pikiran-rakyat.com/node/159668
(2) http://www.jpnn.com/read/2011/09/26/103871/Angelina-Sondakh-Libatkan-Zahwa-di-Buku-Kedua
Rabu, 27 Juli 2011
Mengelola Semangat dengan Pikiran: dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi
Kompas.com - Apa yang kita pikirkan akan mendefinisikan semangat kita. Itu mengapa sangat penting untuk selalu membuat diri termotivasi dan memanamkan dalam pikiran bahwa kita mampu memberikan hasil terbaik.
Dari hasil penelitian mereka, diketahui kesanggupan seseorang untuk terus bekerja atau bersemangat sangat ditentukan oleh seberapa besar dan sebatas apa mereka mampu melakukannya.
“Bila Anda merasa semangat itu ada batasnya, maka Anda juga akan mudah lelah jika melakukan pekerjaan yang sulit. Tapi jika Anda merasa tekad dan semangat adalah sesuatu yang tak mudah habis, Anda bisa terus dan terus,” kata Veronika Job, peneliti dari Stanford University.
Dalam penelitiannya, Job dan timnya melakukan serangkaian eksperimen untuk menguji para mahasiswa tentang kegigihan mereka. Setelah mengerjakan tugas-tugas kuliah yang melelahkan, mahasiswa yang yakin bahwa semangat itu terbatas, memiliki hasil ujian konsenstrasi yang buruk dibanding dengan mereka yang yakin bahwa semangat adalah sesuatu yang bisa dikendalikan.
“Mahasiswa yang diberikan pengaruh bahwa konsentrasi mereka ada batasnya harus mengambil jeda beberapa saat sebelum melakukan tugas berikutnya. Namun keyakinan bahwa semangat adalah sesuatu yang tidak terbatas membuat mahasiswa lainnya lebih kuat dalam menghadapi tantangan tugas sulit,” kata para peneliti.
Dalam jurnal Psychological Science, para peneliti mengatakan bahwa kuat tidaknya seseorang menghadapi godaan sangat ditentukan oleh kekuatan pikiran. Mereka mengatakan, hasil penelitian ini bisa menjadi landasan keyakinan bagi para pecandu untuk mengatasi masalahnya atau para pekerja yang sering kehilangan motivasi bekerja.
Sumber: www.KOMPAS.com
Minggu, 24 Juli 2011
Kuncinya adalah Pasangan: Keberhasilan Ikang Fawzi & Marissa Haque
Ikang Fawzi Rocker Indonesia Pertama dapat MBA dari UGM (2011)
Juga Kebaggan Melalui Lagu Preman untuk Lagu dan Penyanyi: Ikang Fawzi dan 2 Awards Musiknya yang Fenomenal, 1988 cerita istrinya Marissa HaqueYang Membanggakan, Ikang Fawzi Suami Marissa Haque, Lulus MBA dari FEB UGM dengan Nilai A Bulat, Wisuda, Yogyakarta, Januari 2011
Yang Membanggakan, Ikang Fawzi Suami Marissa Haque, Lulus MBA dari FEB UGM dengan Nilai A Bulat, Wisuda, Yogyakarta, Januari 2011.
Dan...alhamdulillah Ikang Fawzi suamiku tercatat sejarah Indonesia sebagai penyanyi rock Indonesia terkenal yang mendapatkan MBA dari UGM melalui Program Magister Manajemen dari Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB-UGM).
Allahu Akbar! Subahanallaaaah...
Sabtu, 15 Mei 2010
Bila Dapat Dipermudah Kenapa Harus Dipersulit: Marissa Haque Fawzi untuk Radar Banten (2005)
Seorang produser film animasi (kartun) transnasional pernah mengeluh kepada saya akan rendahnya produktivitas pembuat komik Indonesia dibandingkan dengan Jepang. Di negeri sakura itu, para dewi-dewi Manga – aliran komik khas Jepang yang membanjiri imajinasi anak-anak dunia, termasuk Indonesia. Para kartunis Manga ini dapat menghasilkan 750 gambar dalam satu bulan kerja. Sementara di tanah air, komikus lokal paling bisa menghasilkan antara 250-400 gambar saja. Padahal dari segi teknis menggambar, komikus kita tidak kalah bagus dlan kreatif. Hanya saja saya melihat mereka lemah etos kerja serta minim produktivitas. "Bagaimana kita bisa bersaing?" ujar mereka prihatin. "Wong nggak ada support sama sekali dari pemerintah," begitu selalu nada koor yang terdengar.
Masalah ini seolah tudengar sepele. Namun dalam kenyataannya tidaklah sesederhana demikian. Masalah buruknya kinerja para profesional di tanah air berada pada layer multi disiplin sektor pembangunan. Sudah tidak terbilang rasa `sesak nafas' alias sedih dan malu akan hal ini. Lambatnya Indonesia keluar dari multi krisis ekonomi dibanding Negara tetangga seperti Malaysia dan Korea, sebenarnya lebih dikarenakan factor mental-budaya penduduknya. Mindset problem kata para professor Amerikaku.
Semoga saja ini bukan karena kruntuhan mental dari negeri yang terjajah selama hampir tiga setengah abad. Mari kita belajar dari negeri-negeri yang memiliki kehebatan di sektor ini. Tiga puluh tahun yang lalu Korea Selatan dan Ghana, memiliki indikator ekonomi yang nyaris sama. Sekarang kita lihat negeri ginseng itu maju begitu pesat, acapkali disebut salah satu enipat macan Asia. Sementara Ghana masih terpuruk jauh, tercecer sebagai negeri miskin. Bila dilihat ternyata akarnya adalah masalah budaya dan pola pikir tadi. Di Korea Selatan etos kerja masyarakatnya begitu baik, siapa yang memiliki kompetisi yang baik dalam bekerja memiliki posisi amat terhormat didalam pergaulan masyarakatnya. Sementara di Ghana ciri tradisi masyarakat Afrika umumnya masih amat lekat.
Bagaimana dengan provinsi Banten? Terkait dengan masalah mindset tadi, bilamana kita tidak segera bebenah, maka dalam beberapa tahap pembangunan ke depan, akan tercecer dibanding puluhan provinsi lainnya. Hari ini kelambatan pembangunan gedung pemerintahan, dan segala kelengkapannya masih belum beres, dan relatif dapat dimaafkan. Namanya juga provinsi baru! Baru situ tahap saja. . "Baru lima tahun lho jadi provinsi," begitu selalu alasan klise yang lerdengar nicirmita rasa permisif.
Akan tetapi satu pelita ke depan juga pelita berikutnya akan segera terlihat, betapa akan tertinggalnya kita dibanding provinsi tetangga lainnya di Indonesia. Mengapa dapat demikian? Tentu saja banyak dari kita mengetahui bahwa bangsa kita sangat senang berhutang atau menghambur-hambuirkan APBD.
Hasilnya? Tidak kun.jung membangun ekonomi rill. Terlebih karena bangasa kita lebih mengutamakan ekonomi rente. Ini mencerminkan bubbling-ethos yang ingin cepat kaya tanpa mau kerja keras yang riel. Kemudian lihat di birokrasinya mulai dari tahap rekrutmen pamongpraja, sampai kenaikan jabatan acapkali dipenuhi suapan atau sogokan. Hal ini memperlhatkan etos yang mengutamakan jabatan demi uang dan kekuasaan daripada prestasi dan pelayanan publik.
Tak kalah menyedihkan, marakriya kasus pembelian ijazah atau gelar palsu. Hal ini juga menunjukkan indikasi kebiasaan atau etos buruk yang tidak mau berkeringat tapi ingin tampak gagah-gagahan agar terlihat lebih hebat dari kondidi aslinya. Cerminan etos buruk yang menginginkan gelar tanpa kompetensi harus dibuang jauh-jauh bila Banten ingin memilih pemimpin yang mumpuni. Bila segala sesuatu dimulai dengan kebohongan, maka yang terjadi adalah `wajah' Banten yang kita semua lihat per hari ini.
Kondisi kita ini sangat kontras bila dibandingkan dengan rakyat Jepang terkait dengan gaya hidup serta budaya berpikirnya. Mereka memiliki ciri-ciri etos samurai sebagai berikut: bersikap benar dan bertanggung jawab, berani dan ksatria, murah hati juga mencintai, bersikap santun dan hormat, bersikap tulus sungguh-sungguh, menjaga harkat¬ martabat pun kehormatan, mengabdi pada bangsa. Luar biasa hebat mereka itu, sampai sekarang saya pribadi sedang berpikir keras, bagaimana agar dapat mengadopsi semua getaran ingin maju mereka dan mengimplementasikannya bagi rakyat Banten.
Tengoklah dalam sejarah-PD II kemarin. Meski kalah / bertekuk lutut, bahkan 2 kotanya dijatuhi bom nuklir — Hiroshima dan Nagasaki – yang dasyat hingga luluh lantak. Namun, dengan mengagumkan Jepang segera bangkit kemudian menjelma menjadi salah satu pilar eknomi Asia bahkan dunia. Etos kerja yang luar biasa ini sedikit banyak ditiru oleh Korea Selatan. Dan terlihat keduanya berpartner memimpin ekonomi Asia.
Kembali ke tanah air, kita masih saja berkutat pada etos bangsa yang buruk. Seperti disinyalir Mochtar Lubis dalam bukunya "Manusia Indonesia." Dikatakan disana: Masyarakat Indonesia cenderung munafik atau hipokrit alias suka berpura-pura lain di mulut lain di hati, serta enggan bertanggung jawab. Suka mencari kambing hitam, berjiwa feodal. Gemar upacara, suka dihormati daripada menghormati. Lebih mementingkan status daripada prestasi. Percaya takhayul. Gemar hal keramat, mistis dan gaib. Berwatak lemah. Kurang kuat mempertahankan keyakinan.Plin-plan, juga teramat sangat/gampang terintimidasi. Kalaupun ada kelebiliannya hanya unsur artistik saja khususnya yang terkait / dckat dengan alam.
Duh… miris hati ini membaca petikan kata-kata Pak Mochtar Lubis tersebut. Bagaimana dapat memberikan kontribusi bagi pengubahan mental sebuah kaum di kawasan bumi Banten yang teramat luasi ni? Tidaklah semudah membalik tclapak tangan, harus ada keteladanan. Harus ada tokoh-tokoh baik yang muncul langsung memberi contoh konkrit ke permukaan. Tua atau muda tak masalah, yang penting memberi contoh perilaku yang baik sehingga memberi inspirasi bagi anak-anak mudanya untuk berubah. Mereka harus dapat memancang fondation yang kuat bagi struktur Banten yang baru. Banten yang `kinclong,' Banten yang bersinar. Perubahan itu harus dimulai dari dalam. Dari struktur qalbu terdalam seluruh insan di ranah Banten. Semua harus bersicepat, merevolusi diri bila tak ingin Banten tertinggal jauh.
Reformasi etos kerja itu sebaiknya dimulai dari lingkaran terdalam, yaitu dari kiprah kerja pamong praja pelayan rakyatnya. Semua hendaknya menyingsingkan lengan, menceburkan diri dalam pclayanan terbaik. Setiapkali bekerja, selalu mengedepankan niat mengubah pomeo lama: 'Kalau dapat dipersulit, kenapa harus dipermudah?' Nah, menyitir ucapan bijak Aa' Gym: Ubahlah sesuatu yang buruk di sekeliling kita, mulai dari diri kita, mulai hari ini, mulai dari hal yang terkecil. Semua dari kita pasti insya Allah mampu melakukannya. Selamat berjuang saudaraku sekalian.
Allahu Akbar, bersama kita merdeka!
Label:
Chikita Fawzi,
FIlm Animasi,
ikang fawzi,
Manga,
Marissa Haque
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
Flu Burung Banten Pulang dari tugas negara di Vietnam, Singapuran dan Malaysia, membaca Strait Times kemarin malam di pesawat, membuat saya ...
-
Sabtu, 17 Desember 2011 20:23 WIB Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com/mobile/index.php/2011/12/17/marissa-haque-hubungan-angie-berpoten...
-
Radar Banten 20 November 2005 Radar Banten, 20 November 2005 Kala saat mengaji tak sekedar mengucapkan kata, ketika setiap lantun ayat...
-
Serang, Banten 12 Desember, 2005 Selamat menjalankan ibadah Haji, sahabat. Semoga pulang menjadi haji dan hajah yang mabrur. Di masjid Al ...
-
RADAR BANTEN, 10 April 2006 Syahdan, Kerajaan Kalingga, Nagari di pantura (pantai utara Jawa, sekarang di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) b...
-
Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge World Paper, N...
-
15 November 2005 RADAR BANTEN Para ahli bijak mengatakan bahwa hidup itu hanya sekali, harus berarti dan setelah itu baru mati. Bahwa hi...
-
Ikang Fawzi, Marissa Haque dan Desy Ratnasari Di- endorse oleh PAN Ahmad Toriq - detikNews Sumber: http://news.detik.com/read/2013...
-
Sumber: http://marissa-haque-maafkan-ikhlaskan.blogspot.com/ Ketika IPB kupilih menjadi wadah mengasah kognisi-afeksi-psikomotorik...
-
23 Januari 2006 RADAR BANTEN Rindu Gus Dur dalam Filosofi Air Air, hari-hari belakangan ini di Nusantara tercinta termasuk Banten menjadi ...












