Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)
Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)
Bintaro, Jakarta, February 21, 2004
Water is the source of life.
It is very flexible and can easily adapt itself to anything.
If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.
Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.
If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.
Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.
According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.
But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.
Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.
Sabtu, 15 Mei 2010
Damai di Hati, Damai di Bumi: Marissa Haque Fawzi (untuk Internal Buletin PDIP/Damai di Hati, Damai di Bumi )
Damai di hati damai di bumi, kata-kata itu sering sekali aku dengar sejak kecil. Damai yang bukan hanya slogan yang terpampang di perempatan jalan, bukan hanya menempel didinding sekolah-sekolah negri diseantero Indonesia, tapi damai yang bersemayam dihati sanubari yang paling dalam pada diri seorang manusia. Sementara kata damai menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah; 1. Tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, aman, 2. Tenteram, tenang, 3. Keadaan tidak bermusuhan, rukun. Betapa indahnya makna damai ini sebenarnya, akan tetapi apakah kita semua orang Indonesia tanpa terkecuali telah mampu memaknai arti damai ini secara holistik.
Ramainya Panggung Politik Pemilu 2004 serta sistim baru yang diadopsi pemerintah yang berkuasa saat ini yang bersifat langsung, terbuka dan sangat lokal, membuat kita semua—mau tidak mau—harus mempersiapkan diri akan beberapa kejutan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kejutan yang akan muncul bisa manis romantis, namun dapat pula sebaliknya—garang, revolusioner dengan ongkos sosial yang tinggi berdarah-darah.
Bila kita merunut beragam peristiwa yang berkaitan dengan pemilihan umum selama beberapa bulan terakhir ini. Mana yang lebih menarik perhatian: munculnya calon anggota legislatif kalangan aktris, seperti Nurul Arifin (Golkar), Paquita wijaya, Dede Yusuf (PAN), Rieke Diah Pitaloka, Gusti Randa (PKB) dan Gugun Gondrong serta saya sendiri (PDIP), atau aksi protes terhadap anak cabang beberapa Partai dibeberapa Propinsi diseluruh Indonesia? Kebetulan unjuk rasa, pembakaran perlengkapan kantor anak cabang partai, disaksikan lewat televisi. Mau tidak mau lebih hidup, bergerak, bersuara, bertata warna. Orang belakangan juga tercuri perhatiannya ketika banyak media cetak menulis dengan nada minor terhadap kehadiran para selebriti ini di ranah politik—tak perduli apakah di subjek yang dituding itu mempunyai latar belakang kepedulian sosial dan politik ataupun memiliki latar belakang pendidikan yang lebih dari memadai dari rata-rata kebanyakan orang Indonesia pada umumnya.
Berbeda pendapat wajar, protes masih masuk akal. Akan tetapi protes yang disertai aksi kekerasan, perusakan benda, sangatlah kelewatan. Semua pihak agar segera mawas diri dan koreksi diri. Apalagi bilaman kejadian terjadi pada tingkat anak cabang partai. Alangkah baiknya bilamana sesama anggota saling kenal secara intens--mengenal secara pribadi pengurus dan sosok mereka. Singga mereka yang tidak aspiratif dapat dicatat namanya, kemudian dilaporkan kepada pemimpin Parpol berserta DPP masing-masing.
Perlu ditarik pelajaran bagi kita semua beberapa kejadian yang kita lihat dilayar televise belakangan ini. Perbedaan pendapat dan adu argumen tapi tidak perlu dilanjutkan dengan aksi protes, dan marah. Apalagi bila yang harus ditempuh adalah aksi turun ke jalan, karena merasa aspirasinya tidak digubris atau keberatan mereka tidak diperhatikan oleh partainya. Bilamana silaturahmi terjaga, maka suasana kasih saying akan muncul kepermukaan. Tak kenal maka tak sayang kata pepatah. Sehingga dapat dihindarinya beberapa anggota yang protes, serta unjuk rasa dan pembakaran karena pengurus yang dianggap tidak aspiratif. Apakah turun ke jalan masih sesuai dengan jalur demokrasi? Ya betul. Akan tetapi, apakah aksi kekerasan dengan membakar kantor dan perlengkapan partai belum melampaui batas, koridor, dan etika demokrasi? Rasanya kita harus mawas diri, serta melakukan evaluasi dengan melakukan koreksi. Pertama untuk para pengurusnya, kedua untuk anggota partai tanpa terkecuali.
Seharusnya kita semua belajar bersabar serta mawas diri tanpa harus keluar dari koridor kritis dan analitis. Juga kitapun harus mempunyai sifat malu yang dapat menjadi barometer untuk mengukur kualitas keimanan seseorang. Malu bahwa kita sebagai manusia terkadang belum mampu mengontrol unsur naar (api) yang merupakan innate property kita. Bahwa marah masih merupakan lokomotif didalam kehidupan kita. Semakin besar tingkat keimanan kita, akan semakin tinggi rasa malu kita pada Allah SWT. Negara kita tercinta ini tidak akan dapat dijalankan dengan kemarahan. Dimana-mana marah, dan semua umpatan kotor berterbangan. Kala iman melemah, maka unsur rasa malu kita pun menjadi rendah.
Iman, malu, dan mengurangi unsur naar dari dalam diri. Sifat malu dalam bahasa Arab disebut dengan al-haya’ adalah sifat yang mampu menjaga pemiliknya dari perbuatan-perbuatan yang dapat menghinakan dirinya baik dihadapan Allah SWT, orang lain, maupun dirinya sendiri. Orang yang mempunyai sifat malu, tidak akan membiarkan dirinya melakukan perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan dirinya pada jurang kehinaan. Sebaliknya, orang-orang yang hatinya telah mati, ia tidak akan pernah merasa malu untuk berbuat dosa. Hidup seorang manusia akan menjadi sangat bernilai saat ia mampu menumbuhkan sifat malu didalam hatinya.
Di dalam korodor rasa malu dan iman ini, saya sebagai penulis tidak melihat adanya perbedaan dari masyarakat umum biasa maupun para selebriti—yang juga adalah manusia biasa pada umumnya. Ada yang memiliki rasa malu yang tinggi disertai iman dan rasa syukur yang tak henti kepada sang Pencipta, akan tetapi juga banyak yang sebaliknya.
Di masa lalu, sudah ada artis berpolitik dan dicalonkan sebagai caleg. Keistimewaannya, untuk Pemilihan Umum 2004, jumlah artis sebagai caleg atau artis berpolitik lewat partai cukup signifikan. Orang orang pada hari-hari belakangan ini mulai memperkirakan bahwa tampilnya para selebriti ke panggung politik bukan sekadar penggembira untuk menambah dukungan suara. Juga bukan hanya sebatas meramaikan bandwagon perarakan kampanye. Tapi diharapkan mempunyai makna yang lebih daripada itu. Para selebriti diharapkan masuk ke panggung politik parlemen dan di atas panggung sana untuk tampil sebagai artis plus; sebutlah menjadi tontonan. Karena mereka adalah sosok artis yang berkiprah sebagai politisi, tapi juga mampu tetap sebagai magnit yang berdaya tarik kuat serta mampu menjadi corong aspirasi rakyat, sama sejajarnya nya dengan para ekonom, pengusaha, atau latar belakang profesi lainnya—berkiprah di panggung politik. Perkembangan ini menjadi menarik, semenarik bersamaan dengan pertumbuhan maraknya hiburan serta tontonan kedalam kehidupan sehari-hari kita secara intensif; gara-gara gejala infotainmen, edutainmen, infomersial yang dibawa oleh multimedia, kini ditambah lagi dengan politainmen. Kontribusi dan peran apa yang akan diberikan para artis atau selebriti ini kita lihat saja pada perkembangannya di masa yang akan datang.
Panggung lembaga perwakilan rakyat dikenal sebagai panggung politik (zoon politicon), panggungnya para pemain politik melalui kepiawaian beretorika, berdialog. Di Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan beberapa bulan yang lalu, ketika dibicarakan pengiriman pasukan ke Irak oleh AS, terjadi adu dorong, adu tumpuk, dan lempar-lemparan kursi. Benar-benar sebuah aksi seperti dilayar sinetron. Kehadiran para artis yang biasanya dekat dengan rasa kemanusiaan dan dipenuhi oleh empati, akan memperkuat nilai, semangat, dan warna kemanusiaan ke dalam politik Indonesia. Dan inilah demokrasi. Siapapun berhak aktif dalam politik, termasuk sebagai caleg. Lagi pula semua itu akan serba terbuka dan transparan untuk diikuti dan dikontrol. Tradisi pengabdian serius di jabatan dan tempat berbahaya bisa memperkuat komitmen untuk mengembangkan politik sebagai pelayanan dan pengabdian masih saja menyisakan semacam misteri. Disertai rasa malu dan kepatuhan pada Allah SWT, insya Allah siapapun orang yang akan mendapat kepercayaan dari rakyat, dengan berbagai macam sosok, semangat, warna, nilai, dan komitmen masuk ke kancah politik, maka ia dapat menjalaninya secara istiqomah dalam suasana hati yang damai. Politik yang lebih dalam mencakup dari lebih dari sekadar profesi. Politik yang disosokkan, dipilih, serta diperkaya sebagai panggilan pelayanan dan pengabdian bagi kepentingan rakyat banyak yang dilengkapi dengan latar belakang pengetahuan yang memadai, dan skills; keahlian praktis seperti berpidato, berunding, mencari jalan keluar bersama dalam menanggulangi segala permasalahan yang melilit tubuh negeri kita tercinta ini.
Memintal Hening: Marissa Haque Fawzi di Radar Banten (26 Desember 2005)
Pagi hari kernarin di hari Natal kaum Nasrani, saat terbangun dan selesai sholat subuh, susasana terasa amat hening, tak biasanya demikian. Bahkan suara burung Perinjak di atas pohon Melinjo yang biasanya mewarnai aktivitas pagi hariku tak terdengar kicaunya. Ke manakah perginya sang burung di pagi hari ini? Tak juga terdengar suara jajaan roti Pak Udin yang lewat di depan rumah. Atau bahkan tak juga suara mbok Nah menjajakan gerobak sayurnya. Rasanya benar-benar terasa ada yang berbeda di hari itu. Para penganut aliran Sufi biasanya menyenangi suasana nyaman seperti pagi hari tersebut untuk bersegera melepas gelombang Beta yang melekat pada dirinya (pendek-pendek karena terputus-putus oleh beberapa intevensi yang datang sekaligus) untuk bersegera rnenyelaraskan tubuh dan pikiran demi mencapai gelombang Alfa (panjang lurus tanpa intervensi) – potensi tertidur yang ada pada diri setiap manusia sesungguhnya.Dalam gelombang Alfa, walau hanya satu menit, manusia akan mampu memberikan nilai tambah bagi diri dan hidupnya. Menghasilkan karya, pemikiran, pemahaman, bahkan hafalan ayat-ayat Quran, bagi nantinya terkait dengan seratus, seribu, bahkan mungkin sejuta langkah kebajikan bagi ummat serta alam semesta di mana seseorang tersebut bertempat tinggal. Ibuku almarhumah R. Ay. Mieke Soeharjah Sajogodjojodirono binti Tjakraningrat yang berasal dari Madura mengiarkan ketiga anak putrinya agar di dalam medan gelombang Alfa untuk membaca "La illaaha illallahu wahdah, laa syariikallah, lahulmulku wa lahul hamdu wa huwa 'alaa kulli syai'in qadiir, " (Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka disadari atau t1dak, di dalam suasana terjepit, seorang hamba Allah yang terbiasa mendekat dirinya dengan Sang Maha Adil, akan memperoleh bala bantuan atau pertolongan dari arah yang tak terduga.
Pakaian keimanan, pakaian ketaqwaan, pakaian kezuhudan, duh! ... ke mana larinya dari diri kita semua? Dunia yang penuh dengan kepalsuan, panggung sandiwara yang kilau fatamorgananya menyesatkan langkah banyak manusia. Adakah dari kita yang mampu menjadi seorang Siti Hajar – berlari sebanyak enam kali dari bukit Safa ke bukit Marwah sernbari berharap datangnya para kafilah yang akan menolong dirinya beserta sang bayi anak Ibrahim AS? Ketika tak satu jua kafilah mampir menolongnya, akhirnya pada tingkat kepasrahan total `seribu persen,' di putaran ketujuh, ia sampai pada level qonaah (merasa - cukup hanya bersandar pada Allah). Yang pada akhirnya, Allah SWT rnernberikan jawaban atas kepasrahan Siti Hajar berupa sumber kehidupan yang tak pernah kering sampai hari ini dan pijakan kaki anaknya – mata air Zam-zam.
Ikhtiar, qona'ah, gelombang Alfa, dan pakaian ketakwaan. Dikatakan bahwa seorang pemeluk Islam berada di atas `Jubah Kemuliaan Islam.' Rasulullah Muhammad SAW, dalam perjalanan Isra'dan Mi'raj diberi Allah dua buah jubah – kemiskinan material (faqr) dan keyakinan pada Allah (tauhid). Dengan menggunakan metaphor 'pakaian', tidak sulit bagi kita untuk membicrakan ‘jubah kesyahidan.' Dalam Kristianiti, ketika St. Paul seorang sang Nasrani disebut dalam agamanya `diberi pakaian dalam Kristus', maka tingkat tertinggi seorang mistikus Muslim disebutkan diberikan pakaian dalam libas al-haqqaniyyah, yaitu jubah yang terkait dengan salah satu nama Allah SWT di dalam asmaul husna Al Haq atau kebenaran mutlak (Annemarie Schimmel, 2005, Mengurai Ayat-ayat Allah).
Al Quran menyebutkan 'pakaian api' bagi para pernghuni neraka, (QS 22: 19), dan pakaian syaitan sebagaimana kemurkaan Allah SWT menyertai mereka. Para orang soleh dan solehah berharap bahwa Allah SWT akan memberikan mereka pakaian pada hari kebangkitan dengan ampunan dan tindakan baik untuk menetapkan selembar pakaian di Surga al Jannah – di mana para pendosa dibiarkan telanjang, disingkirkan dari ‘jubah kesalehan.' Gambaran ini membawa kita pada aspek lain di wilayah penenunan, pemintalan dan pakaian. Dianggap bahwa seseorang memintal, menenun pakaian keabadiannya sendiri dengan pikiran serta tindakan ilahiah.
Di dalam Al Quran sendiri (QS 78: 10), Allah SWT muncul sebagai 'penenun ahli' sebagaimana la merupakan Tuan Mutlak alas segala sesuatu. Allah SWT muncul sebagai membuat malam sebagai jubah dan Dialah yang menenun seluruh sejarah alam semesta pada tenunan (bayangan) siang dan malam. Dia hanya dapat didekati di atas esensi tak terukur-Nya 70.000 tabir cahaya dan kegelapan menyembunyikan-Nya sebagaimana pakaian menyembunyikan tubuh dan sebagaimana tubuh menyembunyikan jiwa-jiwa kita, 'Kibriya”, “Keagungan”adalah Jubah-Nya sebagaimana hadist Qudsi menyatakan Baju-Nya – menurut sumber yang sama – adalah kasih sayang yang dengannya Dia akan memberikan kepada mereka yang mengharapkan-Nya. (Hal 71, Schimmel, Mengurai Ayat-ayat Allah).
Sekitar tiga-empat hari sebelum hari ini, di acara lepas-sambut berlokasi di Mapolda, kita semua melihat suasana memintal masa depan Banten dengan 'setting' suasana guyuran hujan deras. Air mengalir adalah tanda/symbol kehidupan bagi masa depan Banten, hujan yang mengguyur ibarat basuhan luka lama yang menganga di belakang, dan suara guntur yang menggelegar mewajibkan kita sepulang ke rumah membuka kitab suci Al Quranul Karim dan mem aknai tanda alam yang telah melintas nyata di depan mata saat memenuhi undangan Kapolda Banten di Mapolda. Sesuai dengan gelegar hunyi guruh di sana, kelihatannya terkait dengan QS Ar Ra'ad (Guruh) Ayat 11 yang berbunyi: "Bagi manusia ada malaikar-malaikat yang selalu mengikutinya hergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaga atas perinlah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubahnya keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. " (Al Quran dan Terjemahannya, 2000). Dan ketika beberapa polisi yang bertugas di belakang panggung menyangga backdrop panggung agar spanduk yang terpasang melekat tak runtuh di saat tiba di acara Pak Kombes Badrodin Haiti Polda yang lama memberikan kesan dan pesan selama bertugas dan mwnyambungkannya dengan Polda baru Kombes Timur Pradopo akan apa-apa tugas lama beliau yang belum tuntas dikerjakan. Di saat itulah sebenamya bagi siapa pun para Kekasih Allah yang berhati peka akan sadar, bahwa Allah SWT sedang 'berbicara' pada kita semua dengan menggunakan berbagai tanda alam yang wajib kita semua maknai cerdas serta bijak.
Kelihatannya tafsir atau makna dari kejadian yang lalu dapat diartikan: Bahwa setelah luka lama terbasuh, setelahnya akan ada seorang pimpinan polisi baru yang datang, lalu kemudian disokong oleh anggota lain di kepolisian, bersama para tokoh masyarakat yang hadir, baik dari Muspida, petinggi teras partai, pengusaha, beberapa calon Gubernur Banten, beberapa mahasiswa, dan teman-teman media, bahwa untuk memiliki 'Baju Kemuliaan' Banten, kita semua tanpa terkecuali wajib bersama-sama memintal dan menenunnya dengan segera. lbarat sekelompok burung Ababil yang turun dari surga saat menolong rumah Allah di Makkah dari serangan Gubernur Abrahah yang datang dengan ratusan tentara gajahnya, rakyat Banten tidak mungkin dapat bekerja sendirian secara sporadis di dalam membereskan Banten tercinta ini. Butuh jalinan pintal-tenun yang solid. Kita wajib bergandengan tangan erat, bahu-membahu secara bersama-sama, persis seperti burung Ababil yang datang berkelompok seperti yang diuraikan di dalam lima ayat pendek QS. Al fill (Gajah).
Sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan dan keberbangga-bangga di antara kita belaka. Berlomba-lomba meperbanyak harta dan anak. Ibarat huian yang menyuburkan dan mengagumkan petani, yang kemudian menjadi kering dan hancur. Di akhirat nanti akan ada azab yang keras, akan tapi juga ada ampunan serta keridaan Allah SWT (QS. Al Hadiid /Besi (57), Ayat 20). Bila dunia kita yang fana ini adalah ibarat tawaran kehidupan serta kesenangan yang menipu belaka, karenanya bila kita semua memintal dan menenun segala asa dan kebaikan positif, dengan mengenyahkan seluruh unsur material negatif seperti antara lain; korupsi dan manipulasi seluruh data di Banten yang selama ini merajai aktifitas di ranah kita tercinta ini. Bila kita benar-benar mendengarkan hati nurani, dan malu ke Sang Khalik, kenapa tidak kita bersegera berlari menuju jalan kebenaran-Nya, saat anda selesai membaca artikel pendek ini dengan mulai memintal-rajut bahasa kebenaran di sekitar tinggal kita? Beram bicara kebenaran, dan bersandar merasa cukup hanya pada. Allah SWT semata.
Kalau di dalam agama Nasrani, juga ada di dalam Al Quran diceritakan Siti Maryam ibunda Nabi Isa. AS sebagai the ultimate sacrifice (orang yang paling tinggi penderitaannya), maka siapapun sekarang ini, demi Banten yang lebih baik di masa depan dapat melakukan sikap yang sama. Kita mulaikan dengan nawaitu, doa dan sedekah dari sumber yang halal dan thoyib, lakukan dengan memulai langkah kanan. Kuatkan tekad hanya ingin menjadi Kekasih-Nya. Banten insya Allah pasti merdeka dari tangan-tangan manusia sejenis Gubernur Abrahah asal Yaman Sclatan. Dengan syarat tentunya bila kita sernua bersedia bersatu atas nama kebenaran dan keadilan. Allahu Akbar, Bersama Kita Merdeka!
Menjadi Burung Ababil: Marissa Haque Fawzi (20 November 2005)
Radar Banten 20 November 2005
Radar Banten, 20 November 2005
Kala saat mengaji tak sekedar mengucapkan kata, ketika setiap lantun ayat menoreh sebalut rasa perih di dada, andai AI Qur'an Surat Al Fiil ayat 1-5 benar-benar dihayati kemudian dijalani oleh para pemberi keputusan serta mengajak seluruh masyarakat di Banten, rasanya pertolongan Allah akan turun dalam kurun waktu yang tak lama lagi. QS. Al Fiil (Gajah), adalah Surat ke 105 di dalam juz ke 30 yang diturunkan di Madinah, pendek saja hanya total lima ayat. Tapi berisi filosofi yang luar biasa terlebih khususnya saat kita merenungi nasib Banten kita tercinta di kurun limat tahunan menjadi provinsi baru ini.
Pertemuan kekeluargaan yang sangat akrab bersama Komandan Kopasus Kota Serang Bapak Teddy Laksamana beserta Ibu Reny istrinya, memaksa saya untuk membuka kembali kitab suci Al Quran beserta terjemahannya. Melakukan kontemplasi dalam untuk benar-benar memaknai bahasa methaporical yang luar biasa tinggi di dalam. kitab suci kita ini. Di dalam Al Quran dan Terjemahannya (Transliterasi Model Kanan Kiri. Assalaman. Semarang: 2000), dikatakan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu lelah bertindak terhadap tentara gajah? 2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka untuk menghancurkan Ka'bah itu sia-sia? 3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. 4. Melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah yang terbakar. 5. Lalu menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat. Yang dimaksud dengan tentara bergajah adalah tentara yang dipimpin oleh Abarahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekah, tentara tersebut diserang sekelompok burung surgawi yang melemparinya dengan batu¬-batu kecil berapi yang banyak sehingga menusnahkan pasukan tersebut.
Sebelumnya saya bertanya lebih jauh di saat pertemuan tersebut di atas, terbiasa berekspresi jujur, saya mengugkapkan langsung kekaguman saya kepada kehalusan budi Pak Teddy. Juga mengenai betapa luar biasanya beliau sebagai seorang Komandan Kopasus – yang biasanya berkesan luar `angker' dan sangat dekat dengan gerakan 'malam adalah gelap' itu – terhadap hal-hal yang biasanya hanya dapat ditangkap oleh hanya para hamba Allah yang bermata hati bening saja.
Tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan sederhana saya, Pak Teddy mengeluarkan photocopy dari sepenggal puisi yang dibuat bersama oleh Neno Warisman dan Miing Bagito dan pernah, disampailkan setahun yang lalu pada acara HUT Kopasus di Kota Serang. Alhamdulillah, langkah para sahabat lama saya, para pekerja seni Kekasih Allah ini, telah terlebih dahulu singgah di hati Pak Teddy dan keluarganya di tanah Banten. Puisi mereka selain indah juga memberikan penguatan, pencerahan hati terhadap rasa frustrasi yang seakan tak kunjung selesai bagi hamba Allah lainnya yangmerindukan masa depan Banten yang lebih mempunyai harap dan martabat. Andai saja kita seluruh warga Banten mampu mengetuk hati masing-masing serta membayangkan akan hadir di hadapan Allah menjadi Kekasih-Nya, maukah kita menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah untuk membereskan Banten tercinta ini?
Burung Ababil terbang dan berkelompok, ia tidak sendirian! Mereka adalah sebuah methapor yang menunjukkan bahwa satu orang manusia saja tidak akan pernah mampu mengubah Banten. Negeri Banten butuh sepuluh, seratus, seribu, bahkan sejuta orang berhati haik, bersih serta lurus lulus untuk mengenydiwilhkan kezholiman di wilayah ini. Kehidupan material spiritual masyarakat di Banten scdang sakit akut. Pengobatan alternatif sangatlah dibutuhkan bagi perilaku korup yang sudah berurat akar terjadi dihampir setiap lini birokrasi pemerintahan. Di Jakarta, pemerintahan pusat telah mulai menggalakkan kebhinekaan institusi yang mengerucut menjadi tunggal, yang diarahkan kepada masalah korupsi. Salah satu indikator terpentingnya adalah terungkapnya sindikat peradilan di tubuh Mahkamah Agung. Penangkapan dan pemeriksaan lima pegawai MA meyakinkan bahwa aroma penyuapan yang tercium selama ini mulai terkuak membentuk bukti. Sebelumnya, di televisi rakyat menonton persembahan acara beberapa dosen dan guru besar terkenal dari universitas ternama Jakarta ditangkap dan diadili atas tuduhan korupsi dana KPU. Tanpa disadari dari sana terjadi sebuah dampak psikologis yang tidak menggembirakan, yang semakinn lama semakin nyata ketika kita sernua melihat bahwa para koruptor dapat tersenyum lepas tanpa beban didepan publik dengan rasa malu yang seakan telah terkebiri! Saya pribadi masih merasa sangat khawatir bila daya tarikan magnetic budaya korup membuat banyak warga Indonesia secara kesuluruhan merasa pesimis akan terbentuknya budaya good governance. Tak terkecuali di Banten.
Bersyukur hari ini saya berhasil menyelesaikan bacaan dari sebuah buku pengantar filsafat ringan untuk persiapan sebuah seminar semi ilmiah tenting "Pengaruh Budaya Pemikiran Nicollo Machiavelli pada Peta Perpolitikan Indonesia" di Surabaya. Sehingga langsung mendapatkan ‘Aha moment’ bagi perbandingan cara pandang para pengikut ajaran Machiavelli (Machiavelians) dan kaum spiritualis – apapun agamanya. Sehingga kurang lebihnya saya mampu membuat peta hati nurani pada masyarakat di Banten ini. Machiavelli mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu berpontensi buruk, apapun pasti akan dilakukan sejauh dapat mengantarkan kepada keberhasilan material. Bahkan sebagian dari kita tentunya tidak asing lagi dengan istilah dalam baliasa Latin homo homini lupus (manusia adalah serigala terhadap manusia lainnya). Berbeda dengan penjelasan dalam kitab suci Al Quranul Karim, dikatakan manusia sebenarnya berpotensi baik. Bilamana mereka sedang menjadi orang jahat, sebenarnya `hanya' karena mereka sedang tidak tabu atau lalai. Tercekat rasanya kerongkongan ini. Ya Allah, alangkah indahnya berislam. Alhamdulillah besar rasa yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu cinta ilahi. Kebutuhan transendental adalah kebutuhan yang tak terelakkan bagi semua hamba Allah di muka bumi ini – cepat atau lambat datangnya. Memang banyak yang cepat mendapatkan pencerahan, tapi tak kurang yang tertatih-tatih sampai tua masih mencari jalan agar selmnal di dunia maupun di akhirat.
Allahu Akbar! Ketika saya menyaksikan di banyak kesempatan bahwa pada dasarnya setiap manusia normal tak dapat meninggalkan suara hati terkait dengan pengenalan perilaku baik-buruk. Erich Fromm membagi suara hati menjadi dua bagian -- suara hati otoriter dan suara hati humanistik. Mereka yang bersuara hati humanistik melakukan perbuatan baik murni karena dorongan pribadi. Biasanya semboyan yang mereka pakai adalah 'saya melakukan apa yang seharusnya memang wajib ddilakukan.' Akan tetapi mereka yang memiliki suara hati otoriter terpaksa berbuat baik karcna tekanan/desakan dari luar. Dan kelihatannya desakan dari luar ini memang wajib kita bersama lakukan untuk menekan mereka para pembuat/pengambil keputusan yang hanya berpikir menebalkan kantong pribadi mereka.
Pada dasarnya suara hati masyarakat di dunia banyak yang otoriter termasuk juga di Indonesia dan di Banten. Karenanya untuk unsur desakan dari luar ala Erich Fromm tadi, kita wajib menyambut positif dibentuknya KPK/Komisi Pemberantasan Korupsi yang diketuai oleh Kang Ruki/Bapak Taufikurahman (panggilan akrab suami saya terhadap beliau yang ternyata masih mempunyai hubungan tali kekerabatan di Banten). KPK menjadi penting, karena pengawasan berkorelasi kuat dengan pembentukan pemerintahan yang bersih. Termasuk juga Integrity Award yang belum lama ini diberikan kepada Khairiansyah Salman dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mempunyai aura kuat bagi role model spirit besar masa depan dalam upaya pemberantasan korupsi yang lebih progresif di Indonesia secara umum dan Banten pada khususnya. Tidak ada solusi yang benar-benar 'tokcer' seribu persen pasti berhasil cepat dalam pemberantasan korupsi ini. Ada sebuah pendekatan gaya Behavioristics popular dengan pemberian contoh (modeling) melalui shock therapy yang menekankan pada pola hukuman rewards (ganjaran) and punishments (hukuman). Sehingga manusia akan menghindari aksi yang berakibatkan hukuman dan hanya menjalankan segala sesuatu yang hanya berdasarkan aturan hukum positif yang berlaku. Tapi pendekatan Behavioristics yang diimpor dari Amerika Serikat ini di banyak tempat dibelahan dunia tidaklah juga benar-benar mampu rnemangkas masalah korupsi sampai ke akar-akarnya. Kebanyakan baru sebatas rnemangkas pohon pisang besar, tapi tak lama anak-anak pisang bermunculan kembali di permukaan.
Karena itu upaya pencegahan sangatlah juga penting untuk dilakukan. Di AS tradisi spiritual antarlintas agama mulai dilaksanakan, mereka menamai ilmu tersebut sebagai Psychology Transpersonal. Di dalam ilmu ini, dimensi bawah sadar yang dipahami sebagai praktek terapi alam bawah sadar rintisan Sigmund Freud membuka salah satu jalan bagi terapi problema korupsi dapat diterapkan untuk tanah Banten. Freud menekankan, bahwa keberhasilan terapi tidak berhenti pada hanya sekedar tabu belaka, akan tetapi sebuah ekspresi yang wajib mampu ditransfer ke dalam sebuah aksi sosial! Dikaitkan dengan masalah korupsi di Banten ini, menurut Freud tak cukup kita hanya sekedar tabu bahwa korupsi di Banten itu buruk, tapi haruslah sampai pada ekspresi muak terhadap korupsi (Yohanis F LA Kahija, Kompas Oktober 2005).
Pemberdayaan dunia bawah sadar mampu menciptakan aneka perubahan penting dalam perilaku manusia. Bila benar bahwa corak masyarakat di Banten bersifat asketis, maka pendekatan sejenis ini tidaklah sulit diterapkan. Jalan yang sebenarnya kita tempuh adalah menyadarkan (awarness) atau memperluas dimensi sadar mengenai pengethuan korupsi beserta seluruh implikasinya ke dimensi bawah sadar (gudang ingatan bawah sadar dan pengalaman korupsi) menuju dimensi spiritual (kesadaran pribadi yang penuh akan keburukan korupsi). Maka sangat baik bagi kita semua saat kita mengaji di rumah atau sedang sholat sholat lima waktu bahwa kita memiliki QS Al- Fiil yang sangat pendek tapi memiliki esensi dalam bagi pengikisan budaya korupsi dari kehidupan kita dan keluarga di rumah. Ajaklah mereka semua untuk menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah yang kini wajib bersegera menyelamatkan Banten dari tangan¬-tangan manusia sejenis Abrahah Gubernur Yaman saat itu. Mari kita lindungi bersama Banten kita tercinta ini. Jadillah burung Ababil Allah...
Allahu Akbar, Merdeka!
Radar Banten, 20 November 2005
Kala saat mengaji tak sekedar mengucapkan kata, ketika setiap lantun ayat menoreh sebalut rasa perih di dada, andai AI Qur'an Surat Al Fiil ayat 1-5 benar-benar dihayati kemudian dijalani oleh para pemberi keputusan serta mengajak seluruh masyarakat di Banten, rasanya pertolongan Allah akan turun dalam kurun waktu yang tak lama lagi. QS. Al Fiil (Gajah), adalah Surat ke 105 di dalam juz ke 30 yang diturunkan di Madinah, pendek saja hanya total lima ayat. Tapi berisi filosofi yang luar biasa terlebih khususnya saat kita merenungi nasib Banten kita tercinta di kurun limat tahunan menjadi provinsi baru ini.
Pertemuan kekeluargaan yang sangat akrab bersama Komandan Kopasus Kota Serang Bapak Teddy Laksamana beserta Ibu Reny istrinya, memaksa saya untuk membuka kembali kitab suci Al Quran beserta terjemahannya. Melakukan kontemplasi dalam untuk benar-benar memaknai bahasa methaporical yang luar biasa tinggi di dalam. kitab suci kita ini. Di dalam Al Quran dan Terjemahannya (Transliterasi Model Kanan Kiri. Assalaman. Semarang: 2000), dikatakan: Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu lelah bertindak terhadap tentara gajah? 2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka untuk menghancurkan Ka'bah itu sia-sia? 3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. 4. Melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah yang terbakar. 5. Lalu menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat. Yang dimaksud dengan tentara bergajah adalah tentara yang dipimpin oleh Abarahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. Sebelum masuk ke kota Mekah, tentara tersebut diserang sekelompok burung surgawi yang melemparinya dengan batu¬-batu kecil berapi yang banyak sehingga menusnahkan pasukan tersebut.
Sebelumnya saya bertanya lebih jauh di saat pertemuan tersebut di atas, terbiasa berekspresi jujur, saya mengugkapkan langsung kekaguman saya kepada kehalusan budi Pak Teddy. Juga mengenai betapa luar biasanya beliau sebagai seorang Komandan Kopasus – yang biasanya berkesan luar `angker' dan sangat dekat dengan gerakan 'malam adalah gelap' itu – terhadap hal-hal yang biasanya hanya dapat ditangkap oleh hanya para hamba Allah yang bermata hati bening saja.
Tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan sederhana saya, Pak Teddy mengeluarkan photocopy dari sepenggal puisi yang dibuat bersama oleh Neno Warisman dan Miing Bagito dan pernah, disampailkan setahun yang lalu pada acara HUT Kopasus di Kota Serang. Alhamdulillah, langkah para sahabat lama saya, para pekerja seni Kekasih Allah ini, telah terlebih dahulu singgah di hati Pak Teddy dan keluarganya di tanah Banten. Puisi mereka selain indah juga memberikan penguatan, pencerahan hati terhadap rasa frustrasi yang seakan tak kunjung selesai bagi hamba Allah lainnya yangmerindukan masa depan Banten yang lebih mempunyai harap dan martabat. Andai saja kita seluruh warga Banten mampu mengetuk hati masing-masing serta membayangkan akan hadir di hadapan Allah menjadi Kekasih-Nya, maukah kita menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah untuk membereskan Banten tercinta ini?
Burung Ababil terbang dan berkelompok, ia tidak sendirian! Mereka adalah sebuah methapor yang menunjukkan bahwa satu orang manusia saja tidak akan pernah mampu mengubah Banten. Negeri Banten butuh sepuluh, seratus, seribu, bahkan sejuta orang berhati haik, bersih serta lurus lulus untuk mengenydiwilhkan kezholiman di wilayah ini. Kehidupan material spiritual masyarakat di Banten scdang sakit akut. Pengobatan alternatif sangatlah dibutuhkan bagi perilaku korup yang sudah berurat akar terjadi dihampir setiap lini birokrasi pemerintahan. Di Jakarta, pemerintahan pusat telah mulai menggalakkan kebhinekaan institusi yang mengerucut menjadi tunggal, yang diarahkan kepada masalah korupsi. Salah satu indikator terpentingnya adalah terungkapnya sindikat peradilan di tubuh Mahkamah Agung. Penangkapan dan pemeriksaan lima pegawai MA meyakinkan bahwa aroma penyuapan yang tercium selama ini mulai terkuak membentuk bukti. Sebelumnya, di televisi rakyat menonton persembahan acara beberapa dosen dan guru besar terkenal dari universitas ternama Jakarta ditangkap dan diadili atas tuduhan korupsi dana KPU. Tanpa disadari dari sana terjadi sebuah dampak psikologis yang tidak menggembirakan, yang semakinn lama semakin nyata ketika kita sernua melihat bahwa para koruptor dapat tersenyum lepas tanpa beban didepan publik dengan rasa malu yang seakan telah terkebiri! Saya pribadi masih merasa sangat khawatir bila daya tarikan magnetic budaya korup membuat banyak warga Indonesia secara kesuluruhan merasa pesimis akan terbentuknya budaya good governance. Tak terkecuali di Banten.
Bersyukur hari ini saya berhasil menyelesaikan bacaan dari sebuah buku pengantar filsafat ringan untuk persiapan sebuah seminar semi ilmiah tenting "Pengaruh Budaya Pemikiran Nicollo Machiavelli pada Peta Perpolitikan Indonesia" di Surabaya. Sehingga langsung mendapatkan ‘Aha moment’ bagi perbandingan cara pandang para pengikut ajaran Machiavelli (Machiavelians) dan kaum spiritualis – apapun agamanya. Sehingga kurang lebihnya saya mampu membuat peta hati nurani pada masyarakat di Banten ini. Machiavelli mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia itu berpontensi buruk, apapun pasti akan dilakukan sejauh dapat mengantarkan kepada keberhasilan material. Bahkan sebagian dari kita tentunya tidak asing lagi dengan istilah dalam baliasa Latin homo homini lupus (manusia adalah serigala terhadap manusia lainnya). Berbeda dengan penjelasan dalam kitab suci Al Quranul Karim, dikatakan manusia sebenarnya berpotensi baik. Bilamana mereka sedang menjadi orang jahat, sebenarnya `hanya' karena mereka sedang tidak tabu atau lalai. Tercekat rasanya kerongkongan ini. Ya Allah, alangkah indahnya berislam. Alhamdulillah besar rasa yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu cinta ilahi. Kebutuhan transendental adalah kebutuhan yang tak terelakkan bagi semua hamba Allah di muka bumi ini – cepat atau lambat datangnya. Memang banyak yang cepat mendapatkan pencerahan, tapi tak kurang yang tertatih-tatih sampai tua masih mencari jalan agar selmnal di dunia maupun di akhirat.
Allahu Akbar! Ketika saya menyaksikan di banyak kesempatan bahwa pada dasarnya setiap manusia normal tak dapat meninggalkan suara hati terkait dengan pengenalan perilaku baik-buruk. Erich Fromm membagi suara hati menjadi dua bagian -- suara hati otoriter dan suara hati humanistik. Mereka yang bersuara hati humanistik melakukan perbuatan baik murni karena dorongan pribadi. Biasanya semboyan yang mereka pakai adalah 'saya melakukan apa yang seharusnya memang wajib ddilakukan.' Akan tetapi mereka yang memiliki suara hati otoriter terpaksa berbuat baik karcna tekanan/desakan dari luar. Dan kelihatannya desakan dari luar ini memang wajib kita bersama lakukan untuk menekan mereka para pembuat/pengambil keputusan yang hanya berpikir menebalkan kantong pribadi mereka.
Pada dasarnya suara hati masyarakat di dunia banyak yang otoriter termasuk juga di Indonesia dan di Banten. Karenanya untuk unsur desakan dari luar ala Erich Fromm tadi, kita wajib menyambut positif dibentuknya KPK/Komisi Pemberantasan Korupsi yang diketuai oleh Kang Ruki/Bapak Taufikurahman (panggilan akrab suami saya terhadap beliau yang ternyata masih mempunyai hubungan tali kekerabatan di Banten). KPK menjadi penting, karena pengawasan berkorelasi kuat dengan pembentukan pemerintahan yang bersih. Termasuk juga Integrity Award yang belum lama ini diberikan kepada Khairiansyah Salman dari PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mempunyai aura kuat bagi role model spirit besar masa depan dalam upaya pemberantasan korupsi yang lebih progresif di Indonesia secara umum dan Banten pada khususnya. Tidak ada solusi yang benar-benar 'tokcer' seribu persen pasti berhasil cepat dalam pemberantasan korupsi ini. Ada sebuah pendekatan gaya Behavioristics popular dengan pemberian contoh (modeling) melalui shock therapy yang menekankan pada pola hukuman rewards (ganjaran) and punishments (hukuman). Sehingga manusia akan menghindari aksi yang berakibatkan hukuman dan hanya menjalankan segala sesuatu yang hanya berdasarkan aturan hukum positif yang berlaku. Tapi pendekatan Behavioristics yang diimpor dari Amerika Serikat ini di banyak tempat dibelahan dunia tidaklah juga benar-benar mampu rnemangkas masalah korupsi sampai ke akar-akarnya. Kebanyakan baru sebatas rnemangkas pohon pisang besar, tapi tak lama anak-anak pisang bermunculan kembali di permukaan.
Karena itu upaya pencegahan sangatlah juga penting untuk dilakukan. Di AS tradisi spiritual antarlintas agama mulai dilaksanakan, mereka menamai ilmu tersebut sebagai Psychology Transpersonal. Di dalam ilmu ini, dimensi bawah sadar yang dipahami sebagai praktek terapi alam bawah sadar rintisan Sigmund Freud membuka salah satu jalan bagi terapi problema korupsi dapat diterapkan untuk tanah Banten. Freud menekankan, bahwa keberhasilan terapi tidak berhenti pada hanya sekedar tabu belaka, akan tetapi sebuah ekspresi yang wajib mampu ditransfer ke dalam sebuah aksi sosial! Dikaitkan dengan masalah korupsi di Banten ini, menurut Freud tak cukup kita hanya sekedar tabu bahwa korupsi di Banten itu buruk, tapi haruslah sampai pada ekspresi muak terhadap korupsi (Yohanis F LA Kahija, Kompas Oktober 2005).
Pemberdayaan dunia bawah sadar mampu menciptakan aneka perubahan penting dalam perilaku manusia. Bila benar bahwa corak masyarakat di Banten bersifat asketis, maka pendekatan sejenis ini tidaklah sulit diterapkan. Jalan yang sebenarnya kita tempuh adalah menyadarkan (awarness) atau memperluas dimensi sadar mengenai pengethuan korupsi beserta seluruh implikasinya ke dimensi bawah sadar (gudang ingatan bawah sadar dan pengalaman korupsi) menuju dimensi spiritual (kesadaran pribadi yang penuh akan keburukan korupsi). Maka sangat baik bagi kita semua saat kita mengaji di rumah atau sedang sholat sholat lima waktu bahwa kita memiliki QS Al- Fiil yang sangat pendek tapi memiliki esensi dalam bagi pengikisan budaya korupsi dari kehidupan kita dan keluarga di rumah. Ajaklah mereka semua untuk menjadi satu dari seribu burung Ababil Allah yang kini wajib bersegera menyelamatkan Banten dari tangan¬-tangan manusia sejenis Abrahah Gubernur Yaman saat itu. Mari kita lindungi bersama Banten kita tercinta ini. Jadillah burung Ababil Allah...
Allahu Akbar, Merdeka!
Kopi dan Kenangan (dalam Marissa Haque untuk Majalah Noor/Daur Ulang)
CERMIN JIWA N-02
Jakarta, Februari 2004
Daur Ulang di Radar Banten pada Tahun 2005
Kalimat itu selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Seperti menikmati aroma kopi…
Hari ini, hari Minggu. Masih suasana liburan Lebaran. Hari-hari terakhir sebelum aku akan kembali ditenggelamkan oleh segudang target kehidupan dan masa depan. Termenung aku duduk di Mushola-ku. Semilir bau tanah basah bekas hujan semalam. Bunga Kembang Sepatu merah tua seakan menyapa selamat pagi untukku yang sedang enggan mandi pagi. Kupandangi kursi tua yang kududuki, warisan ibuku. Kuraba sarung jok di bawah kimono katun yang kupakai. Rasanya baru saja kuganti seminggu sebelum lebaran, tapi entah kenapa getaran kuno dari kursi tua ini selalu melambungkanku pada suatu masa kebersamaan yang hangat. Masa-masa yang terekam kuat di bawah sadarku. Orang-orang yang dekat di hati, yang telah pergi sebanyak satu generasi. Ayah, ibu, dan keluarga besar ibu yang kukasihi.
Masih teringat di benak saat kecil, kami berempat – Shahnaz adikku yang bungsu belum lahir- mama, papa, Soraya dan aku berlibur dari pelosok kota kecil di Plaju- Baguskuning, Palembang , tempat papa bekerja sebagai karyawan pertamina, menuju Bondowoso, Jawa Timur, kampung masa kecil almarhumah ibuku.
Sepanjang perjalanan dengan pesawat Fokker F-28 yang saat itu sudah terasa mewah, kami terbang lebih dulu ke Jakarta, transit di Surabaya, lalu diteruskan melalui perjalanan darat melewati daerah pantai Pasir Putih, dan akhirnya sampai di Bondowoso. Kami menginap di rumah besar orang Belanda, istri kedua sepupu eyang putriku. Karena tak memiliki anak dari perkawinannya, beliau menganggap mama dan semua sepupunya sebagai anak sendiri. Dan perjalanan ini menjadi istimewa, karena tak lama setelah liburan kami, Oma Belanda itu meninggal dunia.
Aroma Yang Memanggil
Ada benang merah yang membuat aku flash back kepada masa lalu. Tekstur kursi tua yang aku duduki warisan almarhumah ibuku dari rumah Belanda di Bondowoso, dan aroma kopi tubruk dari cangkir yang aku genggam. Aroma ini sangat mirip dengan rekaman masa lalu bawah sadarku. Aroma yang memanggil-manggil. Ah, … wangi kopi! Bagaimana mungkin aku mengacuhkan keberadaan kopi, karena sejak diperkenalkannya di Bondowoso saat aku kecil, aku selalu ingin tahu lebih jauh. Bukan hanya karena suka akan rasa dan aromanya, tetapi kepada hikayat cerita yang melengkapinya. Membawa aku berkelana jauh ke masa ratusan tahun lalu.
Oma Belanda ini sangat paham sejarah dunia terutama soal kopi. Beliau sangat tahu nama-nama jenis kopi yang ditanam serta dibudidayakan di sekitar rumah besarnya. Ya, beliau dan suaminya yang orang jawa Timur, adalah pemilik lahan luas perkebunan kopi di Bondowoso saat itu.
Masih teringat bagaimana aku sambil terkantuk, duduk bersandar di bahunya, mendengar dengan seksama cerita-cerita yang memikat. Oma menceritakan bahwa selain di Bondowoso, biji kopi juga bisa didapatkan dari berbagai perkebunan lain di tanah air. Antara lain dari Aceh, Medan, Toraja, Timor Timur, dan dari tetangga Bondowoso, Jember . Sedangkan kopi yang terbaik dari Bondowoso adalah yang sudah dimakan Musang dan keluar bersama kotorannya. Biji-biji kopi yang merah tua disimpan dalam karung-karung goni di gudang selama 5- 7 tahun. Setelah itu dijemur di bawah sinar matahari yang terik selama 5-7 jam, kemudian ditumbuk, disangrai, lalu digiling halus.
Wah, bahagianya aku dapat membayangkan seluruh proses produksinya. Bahan informasi awal inilah yang membuat aku hari ini bersiap-siap “pulang kampung” ke Bondowoso kembali. Bernostalgia tentang keberadaan lingkungan perkebunan kopi kini karena belasan tahun lalu terkena land-reform , serta melihat kemungkinan membuat film dokumenter tentang Kopi Arabika asal Jawa Timur.
Resep Oma
Cerita Oma semakin memikat. Apalagi setelah diperkaya hikayat perdagangan yang dilakukan orang-orang Belanda di Nusantara sebelum Oma lahir, kerjasama yang berat sebelah oleh Kompeni, orang-orang bumi putra yang merebut kembali kekuasaan atas tanah ulayat milik adat, serta percintaan “terlarangnya” dengan eyang kakung yang tidak utuh kuserap karena usiaku yang masih belia. Kuingat, Soraya sudah lama terlelap di kasur lebar, di kaki Oma Belanda bersama para sepupu lainnya.
Oma juga membagi resep mengolah kopi. Baginya usaha kopi sangat kaya seni. Karenanya seluruh proses produksi di luar pembudidayaan kebun, dipegangnya sendiri. Ia berprinsip, menjual kopi harus fresh. “Cara” baginya sangat penting, dan jumlah bukanlah bidikan pertama. “Setiap kesalahan berproses adalah proses belajar itu sendiri,” kata Oma. Kalimat itu pula yang selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Karena belajar itu asyik, kita harus proaktif mendatangi beberapa pakar, tidak malu bertanya, serta menjalin silaturahim dengan siapa saja yang bermurah hati untuk membagi ilmunya. Karena menurut beliau, di dunia ini tidak banyak orang ikhlas yang tulus mau berbagi ilmu kepada sesamanya.
Dan detik ini aku lupa, belum menyiapkan sarapan pagi untuk keluargaku. Bik Inah, pembantu yang sudah puluhan tahun ikut keluarga besarku masih pulang kampung. Saat ini sebetulnya saat yang tepat untuk mengeskpresikan rasa cinta pada keluarga melalui perut. Salah satunya dengan menuangkan kopi dalam cangkir-cangkir keramik kesayangan. Yang sedikit besar untuk Ikang, suamiku. Untuk ukuran sedang untuk mertuaku, ayah Ikang. Anak-anak menyukai rasa kopi dengan campuran Mocca Cream dalam mug besar.
Aroma Kopi, Aroma Cerdas
Aku ingin menciptakan suasana cerdas di meja makan. Sambil menikmati secangkir kopi diskusi ringan mengalir tentang apa saja. Tentang headline koran hari ini, politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Bila diskusi tidak nyambung, ya tidak apa-apa. Yang penting adalah membina kebiasaan mengutarakan pendapat dengan cara yang santun dan terasah. Mertuaku yang mantan Diplomat karir biasanya menjadi mentor informal. Jadi, bagiku kopi bukan sekedar minuman belaka, tapi juga perekat tali emosi di dalam keluarga.
Sementara di luar rumah, aku juga sering memilih Coffee House atau Coffee Lounge sebagai tempat bertemu walau sekedar social chart demi menyambung silaturrahim. Lebih serius lagi, sering pula menjadi tempat membina pertemanan dengan relasi bisnis.
Kopi memang selalu menarik. Semenarik harumnya yang selalu membuat orang mau tak mau, walau sekedar untuk menghirup aromanya, menyita minimal satu dan dua detik untuk menikmatinya.
Aroma kopi bagiku, adalah aroma cerdas dan elegan.
Jakarta, Februari 2004
Daur Ulang di Radar Banten pada Tahun 2005
Kalimat itu selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Seperti menikmati aroma kopi…
Hari ini, hari Minggu. Masih suasana liburan Lebaran. Hari-hari terakhir sebelum aku akan kembali ditenggelamkan oleh segudang target kehidupan dan masa depan. Termenung aku duduk di Mushola-ku. Semilir bau tanah basah bekas hujan semalam. Bunga Kembang Sepatu merah tua seakan menyapa selamat pagi untukku yang sedang enggan mandi pagi. Kupandangi kursi tua yang kududuki, warisan ibuku. Kuraba sarung jok di bawah kimono katun yang kupakai. Rasanya baru saja kuganti seminggu sebelum lebaran, tapi entah kenapa getaran kuno dari kursi tua ini selalu melambungkanku pada suatu masa kebersamaan yang hangat. Masa-masa yang terekam kuat di bawah sadarku. Orang-orang yang dekat di hati, yang telah pergi sebanyak satu generasi. Ayah, ibu, dan keluarga besar ibu yang kukasihi.
Masih teringat di benak saat kecil, kami berempat – Shahnaz adikku yang bungsu belum lahir- mama, papa, Soraya dan aku berlibur dari pelosok kota kecil di Plaju- Baguskuning, Palembang , tempat papa bekerja sebagai karyawan pertamina, menuju Bondowoso, Jawa Timur, kampung masa kecil almarhumah ibuku.
Sepanjang perjalanan dengan pesawat Fokker F-28 yang saat itu sudah terasa mewah, kami terbang lebih dulu ke Jakarta, transit di Surabaya, lalu diteruskan melalui perjalanan darat melewati daerah pantai Pasir Putih, dan akhirnya sampai di Bondowoso. Kami menginap di rumah besar orang Belanda, istri kedua sepupu eyang putriku. Karena tak memiliki anak dari perkawinannya, beliau menganggap mama dan semua sepupunya sebagai anak sendiri. Dan perjalanan ini menjadi istimewa, karena tak lama setelah liburan kami, Oma Belanda itu meninggal dunia.
Aroma Yang Memanggil
Ada benang merah yang membuat aku flash back kepada masa lalu. Tekstur kursi tua yang aku duduki warisan almarhumah ibuku dari rumah Belanda di Bondowoso, dan aroma kopi tubruk dari cangkir yang aku genggam. Aroma ini sangat mirip dengan rekaman masa lalu bawah sadarku. Aroma yang memanggil-manggil. Ah, … wangi kopi! Bagaimana mungkin aku mengacuhkan keberadaan kopi, karena sejak diperkenalkannya di Bondowoso saat aku kecil, aku selalu ingin tahu lebih jauh. Bukan hanya karena suka akan rasa dan aromanya, tetapi kepada hikayat cerita yang melengkapinya. Membawa aku berkelana jauh ke masa ratusan tahun lalu.
Oma Belanda ini sangat paham sejarah dunia terutama soal kopi. Beliau sangat tahu nama-nama jenis kopi yang ditanam serta dibudidayakan di sekitar rumah besarnya. Ya, beliau dan suaminya yang orang jawa Timur, adalah pemilik lahan luas perkebunan kopi di Bondowoso saat itu.
Masih teringat bagaimana aku sambil terkantuk, duduk bersandar di bahunya, mendengar dengan seksama cerita-cerita yang memikat. Oma menceritakan bahwa selain di Bondowoso, biji kopi juga bisa didapatkan dari berbagai perkebunan lain di tanah air. Antara lain dari Aceh, Medan, Toraja, Timor Timur, dan dari tetangga Bondowoso, Jember . Sedangkan kopi yang terbaik dari Bondowoso adalah yang sudah dimakan Musang dan keluar bersama kotorannya. Biji-biji kopi yang merah tua disimpan dalam karung-karung goni di gudang selama 5- 7 tahun. Setelah itu dijemur di bawah sinar matahari yang terik selama 5-7 jam, kemudian ditumbuk, disangrai, lalu digiling halus.
Wah, bahagianya aku dapat membayangkan seluruh proses produksinya. Bahan informasi awal inilah yang membuat aku hari ini bersiap-siap “pulang kampung” ke Bondowoso kembali. Bernostalgia tentang keberadaan lingkungan perkebunan kopi kini karena belasan tahun lalu terkena land-reform , serta melihat kemungkinan membuat film dokumenter tentang Kopi Arabika asal Jawa Timur.
Resep Oma
Cerita Oma semakin memikat. Apalagi setelah diperkaya hikayat perdagangan yang dilakukan orang-orang Belanda di Nusantara sebelum Oma lahir, kerjasama yang berat sebelah oleh Kompeni, orang-orang bumi putra yang merebut kembali kekuasaan atas tanah ulayat milik adat, serta percintaan “terlarangnya” dengan eyang kakung yang tidak utuh kuserap karena usiaku yang masih belia. Kuingat, Soraya sudah lama terlelap di kasur lebar, di kaki Oma Belanda bersama para sepupu lainnya.
Oma juga membagi resep mengolah kopi. Baginya usaha kopi sangat kaya seni. Karenanya seluruh proses produksi di luar pembudidayaan kebun, dipegangnya sendiri. Ia berprinsip, menjual kopi harus fresh. “Cara” baginya sangat penting, dan jumlah bukanlah bidikan pertama. “Setiap kesalahan berproses adalah proses belajar itu sendiri,” kata Oma. Kalimat itu pula yang selalu terekam di bawah sadarku, bahwa sebuah proses belajar tidak ada yang instant. Hasil akhir biarkan menjadi misteri, karena yang penting adalah menikmati proses itu berjalan. Karena belajar itu asyik, kita harus proaktif mendatangi beberapa pakar, tidak malu bertanya, serta menjalin silaturahim dengan siapa saja yang bermurah hati untuk membagi ilmunya. Karena menurut beliau, di dunia ini tidak banyak orang ikhlas yang tulus mau berbagi ilmu kepada sesamanya.
Dan detik ini aku lupa, belum menyiapkan sarapan pagi untuk keluargaku. Bik Inah, pembantu yang sudah puluhan tahun ikut keluarga besarku masih pulang kampung. Saat ini sebetulnya saat yang tepat untuk mengeskpresikan rasa cinta pada keluarga melalui perut. Salah satunya dengan menuangkan kopi dalam cangkir-cangkir keramik kesayangan. Yang sedikit besar untuk Ikang, suamiku. Untuk ukuran sedang untuk mertuaku, ayah Ikang. Anak-anak menyukai rasa kopi dengan campuran Mocca Cream dalam mug besar.
Aroma Kopi, Aroma Cerdas
Aku ingin menciptakan suasana cerdas di meja makan. Sambil menikmati secangkir kopi diskusi ringan mengalir tentang apa saja. Tentang headline koran hari ini, politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Bila diskusi tidak nyambung, ya tidak apa-apa. Yang penting adalah membina kebiasaan mengutarakan pendapat dengan cara yang santun dan terasah. Mertuaku yang mantan Diplomat karir biasanya menjadi mentor informal. Jadi, bagiku kopi bukan sekedar minuman belaka, tapi juga perekat tali emosi di dalam keluarga.
Sementara di luar rumah, aku juga sering memilih Coffee House atau Coffee Lounge sebagai tempat bertemu walau sekedar social chart demi menyambung silaturrahim. Lebih serius lagi, sering pula menjadi tempat membina pertemanan dengan relasi bisnis.
Kopi memang selalu menarik. Semenarik harumnya yang selalu membuat orang mau tak mau, walau sekedar untuk menghirup aromanya, menyita minimal satu dan dua detik untuk menikmatinya.
Aroma kopi bagiku, adalah aroma cerdas dan elegan.
Para Pesohor di Ranah Politik (dalam Marissa Haque Fawzi/Daur Ulang untuk Radar Banten, 2005)
Untuk Sinar Harapan/Daur Ulang du Radar Banten pada Tahun 2005
Jakarta, 24 Januari 2004
Pada tanggal 23-24 Januari 2004 yang lalu penulis mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara Rakernas II Kaukus Perempuan Politik Indonesia di Hotel Indonesia. Sebelum acara selesai ada sebuah kesempatan tanya jawab dengan para panelis di jajaran depan yang terdiri dari para pendiri, LSM, dan seorang moderator. Sebelum acara berakhir penulis mendapat kesempatan untuk mengajukan pernyataan—bukan pertanyaan. Sehubungan dengan beberapa pertanyaan dari beberapa caleg dengan isi dan tujuan yang sama, yaitu:”…apakah untuk menjadi caleg jadi kami harus menjadi artis seperti mbak dan teman-teman artis lainnya?” Menggelitik, tapi sekaligus membuat dada saya sesak mendengar pertanyaan ironi seperti ini. Mengingat selama acara berlangsung selalu saja kalimat sama ini muncul berulang-ulang, mereka menyebut keberadaan diri mereka yang berada dinomer sepatu sebagai jadi caleg dan bukan menjadi caleg jadi!
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) judul yang dipakai diatas mengandung makna yang masih dapat dibedah. Para mengacu kepada suatu kelompok. Pesohor asal kata sohor, mempunyai makna termashur; ternama; terkenal. Ranah bermakna elemen atau unsur yang dibatasi; bidang disiplin. Sementara Politik mempunya makna ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan).
Maka kalau sekarang banyak masyarakat yang memberikan nada minor terhadap kehadiran para “artis”—sebuah kata yang banyak disalah artikan hanya sebagai orang yang pekerjaannya muncul dimuka TV dan Film—tentu akan banyak yang maklum. Banyak yang bingung, karena mau dilihat dari sudut pandang apapun, dua kutub dunia ini “nggak nyambung”, demikian ungkap khalayak maupun komentar di beberapa acara infotainment. Karena bidang politik diyakini oleh masyarakat umum sebagai sebuah bangunan rumah yang “hanya” boleh diisi oleh para politikus saja. Sementara menurut KBBI, politikus adalah orang yang menjalankan ilmu politik tersebut diatas—tak perduli siapapun atau dengan latar belakang apapun. Artinya siapapun boleh menjadi politikus, asalkan mampu dan layak.
Mengapa kesan minor ini dapat terjadi? Kemudian faktor-faktor apa saja yang membuat peringkat kehadiran para pesohor belakangan ini sebagai calon legistatif demikian pesat, jauh melampaui kehadirannya pada periode-periode pemerintahan sebelumnya? Fenomena apa sebenarnya yang terjadi dari semua ini? Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan kehadiran mereka? Apa yang dicari oleh para pesohor pada ranah yang sama sekali berbeda dari habitat asli mereka? Sejuta pertanyaan menggantung, perlu segera diberi jawaban sebelum stigma negatif semakin menohok keberadaan mereka, karena penulis merupakan salah satu dari mereka yang sedang banyak dibicarakan itu disana.
Sadar ataupun tidak kehadiran televisi serta acara-acaranya—terutama infotainment—belakangan sudah ibarat oksigen kedua bagi kita. Ia merupakan nafas kehidupan yang masuk melalui hidung, memenuhi rongga paru-paru dan masuk melalui jalan nadi, melalui butiran-butiran darah merah kita, hingga sampai di otak. Sehingga begitu sampai diotak, ia menjadi sesuatu yang “ada” begitu saja, sebagai satu keniscayaan. Mereka menyumbang andil yang signifikan pada—lebih dari terkadang—dunia infotainment yang diproduksi dengan biaya minim itu sangat membius penontonnya. Maka jangan ditanya bila satu saja episodenya terlewatkan, pemirsa yang berada dirumah merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga. Acara-acara tersebut banyak mengusung para pesohor dari berbagai kelas, ibarat candu yang membius bahkan menagih. Ia kemudian menjadi sebuah eskapisme terhadap kondisi nyata yang terjadi di masyarakat. Lari sejenak dari kenyataan kondisi ekonomi yang baru saja sedikit membaik, tingkat pengangguran yang masih tinggi, keamanan yang jauh dari memadai, banjir, kekurangan pangan, dan lain-lain. Bermimpi, tak mengapa kata mereka, mumpung masih gratis dan tak kena pajak—khas seperti dampak negatif para pemakai candu yang lari sejenak dari kenyataan hidup.
Media betul-betul sangat berpengaruh, terutama sejak semakin berkembangnya teknologi informasi, dimana dunia seakan tanpa batas--borderless world. Pada era perkembangan pesat budaya popular (pop culture), masyarakat dunia tiba-tiba terlihat menjadi seragam. Dimana-mana kita melihat orang memakai celana jeans dengan potongan dipinggul, menindik cuping hidung, pusar kelihatan, dll. Dari mana datangnya keseragaman ini? Tak lain dari pengaruh media audio dan visual, yang belakangan mejadi semakin murah, mudah dan cepat. Teknologi internet menambah percepatan perkembangannya.
Apa pengaruhnya pada perkembangan Politik di Indonesia dalam kaitan dengan para pesohor yang sampai dengan hari ini masih ramai dibicarakan? Media menjadi alat pengintip ketika dipadankan dengan cerita rakyat dari Barat yang berjudul “The Peeping Tom". Bila disana si Tom kecil mengintip sang Raja yang ternyata tidak memakai busana, pada kenyataannnya televisi menjadi alat mengintip sekaligus alat pengkultusan masyarakat terhadap kehidupan para subjek alias pesohor tadi. Konsumerisme visual ini mempunyai nama khusus yang sering dipakai oleh para pengajar dan pelajar studi film—voyeurism—apa yang nyaman bagi mata manusia semisal wajah ganteng dan cantik, dada bidang dan penuh, kaki panjang dan mulus, dll. Dalam bahasa popular masa kini disebut “layak jual.” Dengan keingintahuan yang berubah menjadi obsesi ngintip dan ngegosip membuat masyarakat bukan saja merambah wilayah personal para subjek, akan tetapi juga yang berkaitan dengan aktifitas para subjek pada pada tatanan social lainnya. Euphoria ini tampak seperti perayaan massal. Hingga begitu ada sesuatu yang baru yang tidak biasanya dilakukan para pesohor ini, seperti pada ranah politik, masyarakat masih melakukan pendekatan dengan cara ngintip dan ngegosip seperti yang biasa mereka lakukan terhadap para subjek sebelumnya. Tak perduli bahwa para subjek ini sedang berusaha melangkah pada dunia yang tantangannya berbeda—Politik. Bagi masyarakat, para pesohor tetaplah merupakan magnet yang berkekuatan maha dahsyat daya tariknya, tak perduli sedang apa atau bidang apapun yang sedang dilakoni. Yang penting ada berita terus yang dapat diikuti, dapat menjadi bahan “diskusi” alias ngegosip bersama rekan kerja atau hanya sekedar ngerumpi dengan tetangga samping rumah.
Voyeurisme sebagai alat konsumerisme visual. Siapa sebenarnya yang diuntungkan? Tentu saja orang-orang yang berada dibelakang tersedianya program tersebut; para produser acara-acara murah meriah yang amat kurang unsur edukasinya, serta para pemilik televisi. Bagaimana tidak, ketika acara yang awal dibuatnya tanpa idealisme sama sekali tersebut mampu mendongkrak rating pada jam yang justru tidak menarik—siang dan sore hari yang biasanya hanya ditonton oleh orang-orang yang berada dijam makan siang atau “hanya” tinggal dirumah. Benar apa yang dipaparkan oleh Neil Postman didalam Amusing Ourselves to Death (1985). Akan tetapi kondisi kekinian yang terjadi adalah bahwa amusement tersebut telah longsor dari hiburan menjadi arena pengintipan seperti si Tom sang pengintip pada cerita yang disebut diatas. Lebih tepat bila kita perhatikan analisa yang dikembangkan oleh Jay Rosen (1999) bahwa jurnalisme yang selama ini kita fahami sebagai civic journalism sebagian perlahan memudar dan menghasilkan apa yang disepakati bersama masyarakat sebagai voyeuristic journalism. Dan media di Indonesia, baik itu yang cetak maupun elektronik tak luput dari gejala yang sedang medunia akibat efek globalisasi dan borderless world ini.
Gejala voyeuristic journalism ini dimulai di Amerika Serikat ketika Hugh Heffner mempunyai “ide berlian” seiring dengan frustasi nasional disana akan perang Vietnam serta perang dingin dengan Rusia, ditemukannya pil kontrasepsi, dan terjadinya women liberation, menjual libido melalui media cetak diawal tahun 1960 an. Melalui majalah yang dimulai dengan tiras sedikit dengan gambar sampul Marilyn Monroe—yang saat itu merupakan simbol seksual—Playboy Magazine. Tiras yang sedikit itu berkembang seiring dengan permintaan pasar yang membludak. Tak alang maka sukses bisnis yang dijalankan Heffner ini menjadi panutan pebisnis Amerika lainnya. Apalagi kondisi hari ini dimana Playboy berhasil memunculkan beberapa nama beken bintang papan atas AS seperti Pamela Anderson sampai Demi Moore. Tak urung gejala ini kemudian melekat pada beberapa acara televisi khusus orang dewasa dan film layar lebar produksi AS. Tanpa terasa, dibawah sadar, kita semua tentu mengenal tiga resep lakunya film dengan pendekatan ala Hollywood; exitment, crazyness, dan visual sexuality. Nah yang terakhir ini, setelah bergabung dengan kebebasan berekspresi ala demokrasi AS, merupakan salah satu buah dari perjalanan sejarah majalah Palyboy dalam pengaruhnya terhadap perkembangan budaya pop (pop culture) di AS dan dunia.
Politik, excitement, pesohor, dan pop culture merupakan empat rangkai hal-hal yang tak terpisahkan bila kita kaitkan dengan isu-isu politik yang menjadi santapan pembicaraan kita belakangan ini. Memang, Indonesia yang masih menjunjung tinggi etika moral dengan penduduk mayoritas Muslim, tidak akan per-iah memperkenankan seorang bintang film porno dan penari bilgil menjadi anggota legislatif seperti yang terjadi di Italia beberapa tahun yang lalu. Bahkan seorang Inul pun—sebagai salah satu buah dari pop culture—cukup "tabu diri" dengan hanya ingin meramaikan Pemilu nanti sebagai vote getter dari tiga partai besar; PDI-P, GOLKAR, dan PKB. Sehingga unsur visual sexuality tidak banyak berpengaruh di tatanan moral mayoritas pemilik Pemilu di Indonesia. Tapi siapa tabu bila tidak diwaspadai bersama, kejadian seperti di Italia juga dapat terjadi di negeri kita tercinta ini.
Indonesia dengan Pemilunya di tahun 2004 ini, menjadi titik balik bagi penyiapan masa depannya. Untuk, demi dan dari rakyat adalah isu besar yang dijunjung oleh semua kontestan. Rakyat adalah peran utamanya, yang dimaknai dengan bertemunya orang-orang yang memiliki ide, perasaan, aspirasi, yang dikernbangkan menjadi komitmen yang sama bagi penyadaran besar akan persoalan bangsa Indonesia. Menurut Nurcholis Majid (Indonesia Kita, 2003), target ideal pada tahun 2015-2025, Indonesia akan memasuki the golden era dalam bentuk demographic bonus, di mana satu orang produktif akan menanggung satu atau dua orang yang tidak produktif lainnya. Masa ini adalah masa yang biasanya tidak terjadi dua kali dalam sejarah dunia. Mengingat pentingnya masa ini, maka tidak dibenarkan kekuasaan dikejar demi kekuasaan tersebut semata. Kekuasaan harus dikejar demi mewujudkan cita-cita besar bangsa. Kita semua harus berfikir dari berusaha menyelamatkan dan membangun Indonesia. Harus jeli melihat potensi dan peluang yang ada. Jika kita lemah dan gagal. maka kita akan terpuiuk serta tercecer menjadi bangsa yang selamanya terbelakang. Dan keterlibatan para pesohor tentunya tidak lepas dari koridor ini—membangun masa depan bangsa dan negara Indonesia dengan segala kesadaran serta kemampuan yang ada pada mereka.
Jatuh cinta pada si ganteng gagah dan si cantik yang pintar dan terkenal. Alangkah idealnya mimpi tersebut. Di Barat, kita tabu minimal ada tiga nama aktris dan model perempuan serta beberapa aktor yarf& sampai usia gaeknyapun masih dikejar para penggemarnya di seluruh dunia. Beberapa yang dapat disebut, di antaranya; Christy Turlington, Elizabeth Hurley, Angelina Jolley, serta Richard Gere dan Arnold Swezeneiger. Christy Turlington adalah salah seorang dari generasi supermodel dunia, bersama Naomi Campbell dan Linda Evangelista. Ia terkenal menjadi bagian dari The Trinity (tiga model dengan bayaran tertinggi pada saatnya). Ketika era supermodel berakhir, dan ketika para model lainnya menghilang atau turun reputasinya, Christy Turlington justru kembali kebangku sekolah. la pun menamatkan pasca sarjananya dari NYU (New York University) pada tahun 1999. Memang sejak 'ditemukannya' pada usia tiga belas tahun, Christy berkeras untuk tidak memulai karimya sebelum ia lulus dari bangku SMA. Ia kemudian bekerjasama dengan merek Puma untuk mengembangkan sebuah bidang usaha produk peralatan dan busana untuk yoga dengan label Nuala. Christy memegang penuh kontrol terhadap label yang dimulainya sejak tahun 2000 itu. Kecintaannya pada budaya Hindu dan India meneruskan langkah bisnisnya mencintakan produksi perawatan kulit dengan bahan dasar tumbuhan ayurveda berlabel Sundari (Yang berarti cantik di dalam bahasa Sansekerta). Citra yang terpanear pada dirinya selain cantik adalah pintar dan piawai dalam bisnis, sehingga tak heran bial ia mampu bertahan sebagai model Kelvin Klein selama hampir lima belas tahun belakangan ini. Begitu juga nama-nama yang tersebut setelah Christy, Angelina Jolley. Walaupun lahir dari keluarga yang broken home—begitu juga perkawinannya. Akan tetapi kecintaannya terhadap kelompok marginal, anak-anak korban di pengungsian, membuatnya bukan hanya semakin bersinar sebagai aktris papan atas, tetapi juga membuat sebuah organisasi dunia PBB melirik memakainya menjadi duta UNICEF untuk anak-anak korban pengungsi dari Cambodia. Siapa yang tak jatuh cinta pada pandangan pertama pada si ganteng Richard Gere? Aktor yang sudah mulai memutih rambutnya—tapi masih menyisakan kegantengannya—adalah aktifis yang menyokong kedaulatan masyarakat Tibet. Kedekatannya pada Dalai Lama, memberinya pencerahan dengan memeluk agama Budha. Dan yang terakhir masih hangat dibicarakan, sang Gubernur baru. California, bintang laga Arnold Schwarzeneger. Walaupun hanya berselisih sedikit, ia toh mampu memenangkan pemilihan disana. Mengacu kepada beberpa referensi diatas, teramat sangat jelas terlihat bahwa pada dasarnya setiap manusia itu punya potensi untuk menjadi positif, baik, serta bern-lanfaat bagi kelangsungan hidup manusia lain. Mereka ibarat medan magnet yang luar biasa bagi para pemburu berita—wartawan serta aneka macam media.
Bagaimana di Indonesia? Kurang lebih demikian yang kelihatan. Bisa jadi juga karena pengaruh globalisasi media dengan pengaruh pop culture nya. Jadi budaya popular yang umumnya berkembang melalui acara hiburan, pakaian, makanan, gaga hidup dan musik, bila yang terekspos di Barat seperti itu, kelihatannya akan menjadi inspirasi kepada penduduk negara ketiga lainnya—Indonesia salah satunya. Di Indonesia dalam kaitarinya dengan Politik, kita melihat beberapa Hama yang muncul kepermukaan; Nurul Arifin dan Luhut Sitompul dari partai Golar, Dede Yusuf dan Paquita Wijaya dari PAN, Rieke Dyah Pitaloka dan Gusti Randa dari partai PKB, Emilia Contessa dan Mieke Wijaya dari partai PPP, Angelina Sondakh dan Roy Marten dari partai Demokrat, Neno Warisman, HeIvy Tiana Rosa dan Pepeng (Jari-jari) dari partai PKS, serta penulis sendiri dari partai PDIP. Alasan dan latar belakang pemilihan kendaraan politik masing-masing, jelas berbeda satu sama lainnya. Walau penulis yakin bahwa tujuan kita semua sama—kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia. Kalau mereka ingin merebut hati rakyat, artinya selain popularitas yang telah dimiliki, mereka juga harus berkecimpung di bidang apapun dan harus mengetahui persis apa yang dekat dan sedang menjadi aspirasi masyarakat luas. Ini pun lagi-lagi adalah produk dari perayaan massal budaya popular (pop culture). Frasa "disukai pasar" mempunyai makna disukai banyak orang—populis—menjadi kata kunci dari kesuksesan. Salah satunya adalah dua contoh yang populis tapi sangat bertolak belakang; fenomena Inul Daratista dan Aa' Gym. Yang pertama disukai oleh karena visual sexuality-nya, sementara yang kedua karena ajaran moralitas yang menjadi innate (kodrat dasar) masyarakat luas Indonesia. Inul disukai karena dapat membangkitkan gairah hormon testosterone para pria pemujanya, bahasa membuminya yang sangat sederhana disukai para wanita, kebersahajaan pribadinya menimbulkan empati yang mewakili mimpi wong cilik Jawa Timuran. Di sisi satunya Aa' Gym menggunakan kalimat-kalimat poluler yang mudah dicerna, serta pendekatan--pendekatan yang mirip buku yang ditulis oleh Norman Vincent Peale "The Powerful Way to Change Your life "(2000) dan"Positif Imaging" (1998), serta Napoleon Hill pada "Think and Grow Rich" (2002). Siapapun manusia didunia perlu motivasi serta role model dalam melangkahi kehidupannya- Dan Aa' Gym sangat tabu akan hal itu. Ia pun menggunakan kekuatan media sebagai kendaraan dakwahnya. Walhasil, dengan segala perbedaan mencolok yang ada, keduanya mampu menyedot perhatian masyarakat serta penggemarnya masing¬-masing. Siapakah yang diuntungkan sekali lagi dari kehadiran dua superstar itu?—selain kedua pribadi yang bersangkutan—tentu saja media dan semua masyarakat industri media kapitalis yang terlibat di dalamnya.
Bilamana semua kemungkinan dapat muncul ke permukaan dikaitkan dengan suasana politik yang terjadi belakangan ini, apakah masyarakat Indonesia dapat mempercayai kemampuan para pesohor yang sekarang sedang berjajar sebagai calon legislatif? Probabilitinya lima puluh persen-lima puluh persen. Sebagian di dalam beberapa polling menyatakan setuju, sebagian lagi merasa patch arang dan curiga. Dilain pihak, penulis membaca kondisi masyarakat yang juga terbagi dua. Pertama masyarakat yang berpikir dengan cara Machiavelli, dan kedua adalah masyarakat yang berfikir secara spiritual. Machiavelli adalah seorang tokoh yang terkenal dengan keyakinan bahwa dalam berpolitik, cara yang paling "baik" adalah cara yang paling efektif dan efisien untuk mendapatkan kekuasaan. Jadi pada dasarnya setiap manusia itu berpotensi buruk! Manusia mempunyai kepentingan-kepentingan yang mampu membuatnya melakukan apa saja demi memenuhi kepentingannya. Hanya melalui sistim yang baik, kecenderungan buruk manusia itu dapat ditekan. Berseberangan dengan Machiavelli, para spiritualis yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik. Yang membuatnya menjadi buruk adalah jika hak-hak asasinya—terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan bidup—tidak diperoleh secara memadai. Dalam bahasa yang sangat Islami, kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Jadi secara innate manusia itu sebenarnya baik, hanya lemah! Diperlukan sebuah tatanan atau sistim yang qjeg yang dapat mengontrol semua langkah usaha dalam mencapai kebajikan yang dicita-citakan. Tentunya bersama-sama dan saling bahu-membahu diantara seluruh masyarakat Indonesia. Kehidupan bangsa ini harus terus melaju, karena la bukanlah sesuatu yang hampa, is bermakna. Makna hidup ini bermula dari sebuah visi kehidupan, harapan, dan wujud alasan kenapa seseorang hares tetap bertahan hidup. Dengan energi ini seseorang akan mampu mengatasi segala kesulitan yang hadir di depan mata. Tak perduli seseorang itu pesohor atau masyarakat umum biasa.Yang penting tentunya jujur dan selalu berprasangka baik. Dengan kejujuran, kita dapat saling mengenal dengan baik, mencari titik temu, walau pada akhirnya ada yang harus kita sepakati untuk tidak sepakat.
Beberapa aksi positif program nyata dari para caleg asal pesohor ini banyak yang sudah jelas didepan mata. Mereka menggiring program yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Seperti misalnya Nurul Arifin dengan aksi isu HIV AIDS, Quota 30% wanita pada parlemen, dan kekerasan dalam rumah tangga, Rieke Dyah Pitaloka dengan aksi isu penegakan hukum, pendidikan yang membuka pikiran, serta kesetaraan gender. Sementara penulis sendiri akan mengusung isu pemberdayaan seni dan budaya lebih optimal sebagai ujung tombak diplomasi dunia, mengurangi dampak kerusakan lingkungan terhadap kekerasan gender, pemberdayaan sumber daya perempuan dan anak secara umum khususnya mendorong pendidikan anak perempuan yang masih terasa sangat dianak-tirikan, ditambah percepatan pengembangan teknologi informasi bagi para keluarga yang memliki anak usia sekolah. Beberapa pesohor lainnya mengusung isu yang kurang lebih mirip, karena pada dasarnya kita semua memang mengingiiikan sesuatu yang juga mirip kalau tidak dapat dikatakan sama—Indonesia yang bangkit!
Penulis pun tiba-tiba teringat akan sebuah buku yang barn saja beredar di toko buku karangan Victor E. Frankl, "Logoteraphy" (2003). Pemikiran Frankl ini sangat menarik karena sangat berseberangan dengan pemikiran Sigmund Freud dengan Psikoanalisanya, serta cocok untuk melengkapi analisa isu didalam tulisan ini. Frankl yang hadir pada masa setelah Freud, mereka berdua mempunyai kesamaan tertank pada alam dan pengobatan neurosis. Bila Freud menemukan akan penyakir neurosis yang menyedihkan itu dalam kegelisahan yang disebabkan oleh konflik internal dan motivasi bawah sadar, sementara. Frankl melihat berbagai bentuk neurosis yang muncul pada pasien yang menderita kegagalan dalam mendapatkan makna dan rasa tanggung jawab dalam eksistensinya. Logoterapi yang ditawarkan oleh Frankl lebih mendekati teori aktualisasi diri dari Abraham Maslow—teori kebutuhan—dicintai dan mencintai, sandang, pangan, papan, dan aktualisasi diri.
Para pesohor adalah manusia biasa dengan segala permasalahannya. Mungkin juga dari kami ada yang menderita neurosis, dan butuh pemenuhan dasar sesuai teori kebutuhannya Maslow. Bahkan pada sebuah acara Angin Malam di RCTI yang menghadirkan Nurul Arifin dan Wanda Hamidah mantan pendukung partai PAN, di dalam kata-kata pembuka yang diucapkan oleh sang pembawa acara dengan nada menghafal sehingga tidak lancar dikatakan:"... konon dikatakan, para artis ini pada saat mulai kehilangan pekerjaannya, mereka mulai melirik pekerjaan politik." Penulis protes dan tidak setuju! Karena sesuai dengan apa yang disinyalir oleh Hegel sang filsuf, dikatakan bahwa pada pada puncak pemenuhan hidup seseorang, maka segala sesuatunya akan dikembalikan lagi kemasyarakat. Para pesohor yang, sekarang sedang berjejer menjadi caleg, penulis yakim masih memiliki penghasilan memadai yang melebihi dari sekedar gaji pokok serta tunjangan yang akan diterima sebagai legislatif dari negara—sebagai imbal balik menjadi wakil rakyat di kantor Senayan.
Dari beberapa nama yang sering muncul di media. rata-rata berusia tiga puluh lima tahun keatas, di mana sudah mulai mendapatkan tingkatan terakhir dari lima peringkat teori kebutuhannya Maslow—artinya kebutuhan dicintai dan mencintai. sandanp– pangan, clan papan telah selesai. Masalah aktualisasi juga sudah bukan masalah lagi, karena pernah dan masih populer sampai hari ini. Di atas sana masih ada kebutuhan transendental (kerinduan akan Ilahi) yang bersentuhan dengan kepekaan sosial yang tinggi. Hingga apa yang diucapkan oleh Hegel sangat masuk di akal. pada tahapan itu semua yang telah didapatkan oleh seorang pesohor/individu akan dikembalikan kepada masyarakat melalui pengabdian yang bersentuhan dengan kesalehan sosial. Berbarengan dengan sistim Pemilu yang terbuka sekarang ini, membuat kemungkinan partisipasi bagi siapapun di ranah politik menjadi terbuka. Kompetisinya bebas, langsung, sangat lokal yang berarti; siapa yang paling populer dan dikenal masyarakat di tempat pemilihannya maka ia akan kelihatan lebih dahulu. Memang sangat mungkin para pesohor ini akan menang dan melenggang secara leluasa lebih dulu dibanding para kandidat umum lainnya.
Jadi sebenarnya menjadi caleg "biasa", tidak perlu berkecil hati. Pada era budaya popular seperti sekarang ini, setiap orang mempunyai potensi menjadi terkenal. Ada dua pihak ekstrim yang terbuka—menjadi penyebar segala kebaikan sesuai ajaran moral spiritual, atau membuka busana atau menggoyang-goyangkan aurat di depan publik. Tentunya kita keberatan dengan pilihan yang kedua. Dari ruang diskusi Kaukus Perempuan Politik Indonesia kemarin, disimpulkan untuk menjalani pilihan pertama yang penulis sarankan ditambah dengan terjun langsung kemasyarakat bawah—tatap wajah, datang ke pasar yang banyak manusianya, dan melakukan usaha kissing the babies. Cara-cara yang di Amerika Serikat sudah dianggap klise ini sesungguhnya masih sangat efektif di belahan mana pun di dunia ini. Orang masih sangat terpana dengan sentuhan salaman, senyuman yang hangat, tatapan mata yang talus dan berangkat dari hati, serta ucapan-ucapan salam yang personal. Dengan pandangan mata ramah dan tatapan langsung, perkenalkan diri kita dengan menyebut: "Nama saya adalah..., saya caleg lho, nanti kalau saya terpilih saya akan membantu kesulitan ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian di DPR atau DPRD, dll." Sesungguhnya, sebagai caleg yang bukan pesohor yang menapak karir dari bawah, tidak juga perlu khawatir, karena ada BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Pemilu dengan cara langsung, terbuka, dan sangat lokal ini sebenarnya menguntungkan bagi kita semua orang-orang yang serius dan mau kerja keras. Karena bila suara atau dukungan pada saat pemilihan nanti banyak, siapapun dapat "membawa kursinya sendiri" dari rumah. Maksudnya sudah punya investasi dan bargaining position yang baik pada partainya masing-masing untuk masuk ke dalam urutan peci (di atas) pada Pemilu 2009 yang akan datang. Insya Allah demikian adanya.
Oleh: Marissa Haque Fawzi
Jakarta, 24 Januari 2004.
Jakarta, 24 Januari 2004
Pada tanggal 23-24 Januari 2004 yang lalu penulis mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara Rakernas II Kaukus Perempuan Politik Indonesia di Hotel Indonesia. Sebelum acara selesai ada sebuah kesempatan tanya jawab dengan para panelis di jajaran depan yang terdiri dari para pendiri, LSM, dan seorang moderator. Sebelum acara berakhir penulis mendapat kesempatan untuk mengajukan pernyataan—bukan pertanyaan. Sehubungan dengan beberapa pertanyaan dari beberapa caleg dengan isi dan tujuan yang sama, yaitu:”…apakah untuk menjadi caleg jadi kami harus menjadi artis seperti mbak dan teman-teman artis lainnya?” Menggelitik, tapi sekaligus membuat dada saya sesak mendengar pertanyaan ironi seperti ini. Mengingat selama acara berlangsung selalu saja kalimat sama ini muncul berulang-ulang, mereka menyebut keberadaan diri mereka yang berada dinomer sepatu sebagai jadi caleg dan bukan menjadi caleg jadi!
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) judul yang dipakai diatas mengandung makna yang masih dapat dibedah. Para mengacu kepada suatu kelompok. Pesohor asal kata sohor, mempunyai makna termashur; ternama; terkenal. Ranah bermakna elemen atau unsur yang dibatasi; bidang disiplin. Sementara Politik mempunya makna ilmu pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti sistem pemerintahan, dasar-dasar pemerintahan).
Maka kalau sekarang banyak masyarakat yang memberikan nada minor terhadap kehadiran para “artis”—sebuah kata yang banyak disalah artikan hanya sebagai orang yang pekerjaannya muncul dimuka TV dan Film—tentu akan banyak yang maklum. Banyak yang bingung, karena mau dilihat dari sudut pandang apapun, dua kutub dunia ini “nggak nyambung”, demikian ungkap khalayak maupun komentar di beberapa acara infotainment. Karena bidang politik diyakini oleh masyarakat umum sebagai sebuah bangunan rumah yang “hanya” boleh diisi oleh para politikus saja. Sementara menurut KBBI, politikus adalah orang yang menjalankan ilmu politik tersebut diatas—tak perduli siapapun atau dengan latar belakang apapun. Artinya siapapun boleh menjadi politikus, asalkan mampu dan layak.
Mengapa kesan minor ini dapat terjadi? Kemudian faktor-faktor apa saja yang membuat peringkat kehadiran para pesohor belakangan ini sebagai calon legistatif demikian pesat, jauh melampaui kehadirannya pada periode-periode pemerintahan sebelumnya? Fenomena apa sebenarnya yang terjadi dari semua ini? Siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan kehadiran mereka? Apa yang dicari oleh para pesohor pada ranah yang sama sekali berbeda dari habitat asli mereka? Sejuta pertanyaan menggantung, perlu segera diberi jawaban sebelum stigma negatif semakin menohok keberadaan mereka, karena penulis merupakan salah satu dari mereka yang sedang banyak dibicarakan itu disana.
Sadar ataupun tidak kehadiran televisi serta acara-acaranya—terutama infotainment—belakangan sudah ibarat oksigen kedua bagi kita. Ia merupakan nafas kehidupan yang masuk melalui hidung, memenuhi rongga paru-paru dan masuk melalui jalan nadi, melalui butiran-butiran darah merah kita, hingga sampai di otak. Sehingga begitu sampai diotak, ia menjadi sesuatu yang “ada” begitu saja, sebagai satu keniscayaan. Mereka menyumbang andil yang signifikan pada—lebih dari terkadang—dunia infotainment yang diproduksi dengan biaya minim itu sangat membius penontonnya. Maka jangan ditanya bila satu saja episodenya terlewatkan, pemirsa yang berada dirumah merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga. Acara-acara tersebut banyak mengusung para pesohor dari berbagai kelas, ibarat candu yang membius bahkan menagih. Ia kemudian menjadi sebuah eskapisme terhadap kondisi nyata yang terjadi di masyarakat. Lari sejenak dari kenyataan kondisi ekonomi yang baru saja sedikit membaik, tingkat pengangguran yang masih tinggi, keamanan yang jauh dari memadai, banjir, kekurangan pangan, dan lain-lain. Bermimpi, tak mengapa kata mereka, mumpung masih gratis dan tak kena pajak—khas seperti dampak negatif para pemakai candu yang lari sejenak dari kenyataan hidup.
Media betul-betul sangat berpengaruh, terutama sejak semakin berkembangnya teknologi informasi, dimana dunia seakan tanpa batas--borderless world. Pada era perkembangan pesat budaya popular (pop culture), masyarakat dunia tiba-tiba terlihat menjadi seragam. Dimana-mana kita melihat orang memakai celana jeans dengan potongan dipinggul, menindik cuping hidung, pusar kelihatan, dll. Dari mana datangnya keseragaman ini? Tak lain dari pengaruh media audio dan visual, yang belakangan mejadi semakin murah, mudah dan cepat. Teknologi internet menambah percepatan perkembangannya.
Apa pengaruhnya pada perkembangan Politik di Indonesia dalam kaitan dengan para pesohor yang sampai dengan hari ini masih ramai dibicarakan? Media menjadi alat pengintip ketika dipadankan dengan cerita rakyat dari Barat yang berjudul “The Peeping Tom". Bila disana si Tom kecil mengintip sang Raja yang ternyata tidak memakai busana, pada kenyataannnya televisi menjadi alat mengintip sekaligus alat pengkultusan masyarakat terhadap kehidupan para subjek alias pesohor tadi. Konsumerisme visual ini mempunyai nama khusus yang sering dipakai oleh para pengajar dan pelajar studi film—voyeurism—apa yang nyaman bagi mata manusia semisal wajah ganteng dan cantik, dada bidang dan penuh, kaki panjang dan mulus, dll. Dalam bahasa popular masa kini disebut “layak jual.” Dengan keingintahuan yang berubah menjadi obsesi ngintip dan ngegosip membuat masyarakat bukan saja merambah wilayah personal para subjek, akan tetapi juga yang berkaitan dengan aktifitas para subjek pada pada tatanan social lainnya. Euphoria ini tampak seperti perayaan massal. Hingga begitu ada sesuatu yang baru yang tidak biasanya dilakukan para pesohor ini, seperti pada ranah politik, masyarakat masih melakukan pendekatan dengan cara ngintip dan ngegosip seperti yang biasa mereka lakukan terhadap para subjek sebelumnya. Tak perduli bahwa para subjek ini sedang berusaha melangkah pada dunia yang tantangannya berbeda—Politik. Bagi masyarakat, para pesohor tetaplah merupakan magnet yang berkekuatan maha dahsyat daya tariknya, tak perduli sedang apa atau bidang apapun yang sedang dilakoni. Yang penting ada berita terus yang dapat diikuti, dapat menjadi bahan “diskusi” alias ngegosip bersama rekan kerja atau hanya sekedar ngerumpi dengan tetangga samping rumah.
Voyeurisme sebagai alat konsumerisme visual. Siapa sebenarnya yang diuntungkan? Tentu saja orang-orang yang berada dibelakang tersedianya program tersebut; para produser acara-acara murah meriah yang amat kurang unsur edukasinya, serta para pemilik televisi. Bagaimana tidak, ketika acara yang awal dibuatnya tanpa idealisme sama sekali tersebut mampu mendongkrak rating pada jam yang justru tidak menarik—siang dan sore hari yang biasanya hanya ditonton oleh orang-orang yang berada dijam makan siang atau “hanya” tinggal dirumah. Benar apa yang dipaparkan oleh Neil Postman didalam Amusing Ourselves to Death (1985). Akan tetapi kondisi kekinian yang terjadi adalah bahwa amusement tersebut telah longsor dari hiburan menjadi arena pengintipan seperti si Tom sang pengintip pada cerita yang disebut diatas. Lebih tepat bila kita perhatikan analisa yang dikembangkan oleh Jay Rosen (1999) bahwa jurnalisme yang selama ini kita fahami sebagai civic journalism sebagian perlahan memudar dan menghasilkan apa yang disepakati bersama masyarakat sebagai voyeuristic journalism. Dan media di Indonesia, baik itu yang cetak maupun elektronik tak luput dari gejala yang sedang medunia akibat efek globalisasi dan borderless world ini.
Gejala voyeuristic journalism ini dimulai di Amerika Serikat ketika Hugh Heffner mempunyai “ide berlian” seiring dengan frustasi nasional disana akan perang Vietnam serta perang dingin dengan Rusia, ditemukannya pil kontrasepsi, dan terjadinya women liberation, menjual libido melalui media cetak diawal tahun 1960 an. Melalui majalah yang dimulai dengan tiras sedikit dengan gambar sampul Marilyn Monroe—yang saat itu merupakan simbol seksual—Playboy Magazine. Tiras yang sedikit itu berkembang seiring dengan permintaan pasar yang membludak. Tak alang maka sukses bisnis yang dijalankan Heffner ini menjadi panutan pebisnis Amerika lainnya. Apalagi kondisi hari ini dimana Playboy berhasil memunculkan beberapa nama beken bintang papan atas AS seperti Pamela Anderson sampai Demi Moore. Tak urung gejala ini kemudian melekat pada beberapa acara televisi khusus orang dewasa dan film layar lebar produksi AS. Tanpa terasa, dibawah sadar, kita semua tentu mengenal tiga resep lakunya film dengan pendekatan ala Hollywood; exitment, crazyness, dan visual sexuality. Nah yang terakhir ini, setelah bergabung dengan kebebasan berekspresi ala demokrasi AS, merupakan salah satu buah dari perjalanan sejarah majalah Palyboy dalam pengaruhnya terhadap perkembangan budaya pop (pop culture) di AS dan dunia.
Politik, excitement, pesohor, dan pop culture merupakan empat rangkai hal-hal yang tak terpisahkan bila kita kaitkan dengan isu-isu politik yang menjadi santapan pembicaraan kita belakangan ini. Memang, Indonesia yang masih menjunjung tinggi etika moral dengan penduduk mayoritas Muslim, tidak akan per-iah memperkenankan seorang bintang film porno dan penari bilgil menjadi anggota legislatif seperti yang terjadi di Italia beberapa tahun yang lalu. Bahkan seorang Inul pun—sebagai salah satu buah dari pop culture—cukup "tabu diri" dengan hanya ingin meramaikan Pemilu nanti sebagai vote getter dari tiga partai besar; PDI-P, GOLKAR, dan PKB. Sehingga unsur visual sexuality tidak banyak berpengaruh di tatanan moral mayoritas pemilik Pemilu di Indonesia. Tapi siapa tabu bila tidak diwaspadai bersama, kejadian seperti di Italia juga dapat terjadi di negeri kita tercinta ini.
Indonesia dengan Pemilunya di tahun 2004 ini, menjadi titik balik bagi penyiapan masa depannya. Untuk, demi dan dari rakyat adalah isu besar yang dijunjung oleh semua kontestan. Rakyat adalah peran utamanya, yang dimaknai dengan bertemunya orang-orang yang memiliki ide, perasaan, aspirasi, yang dikernbangkan menjadi komitmen yang sama bagi penyadaran besar akan persoalan bangsa Indonesia. Menurut Nurcholis Majid (Indonesia Kita, 2003), target ideal pada tahun 2015-2025, Indonesia akan memasuki the golden era dalam bentuk demographic bonus, di mana satu orang produktif akan menanggung satu atau dua orang yang tidak produktif lainnya. Masa ini adalah masa yang biasanya tidak terjadi dua kali dalam sejarah dunia. Mengingat pentingnya masa ini, maka tidak dibenarkan kekuasaan dikejar demi kekuasaan tersebut semata. Kekuasaan harus dikejar demi mewujudkan cita-cita besar bangsa. Kita semua harus berfikir dari berusaha menyelamatkan dan membangun Indonesia. Harus jeli melihat potensi dan peluang yang ada. Jika kita lemah dan gagal. maka kita akan terpuiuk serta tercecer menjadi bangsa yang selamanya terbelakang. Dan keterlibatan para pesohor tentunya tidak lepas dari koridor ini—membangun masa depan bangsa dan negara Indonesia dengan segala kesadaran serta kemampuan yang ada pada mereka.
Jatuh cinta pada si ganteng gagah dan si cantik yang pintar dan terkenal. Alangkah idealnya mimpi tersebut. Di Barat, kita tabu minimal ada tiga nama aktris dan model perempuan serta beberapa aktor yarf& sampai usia gaeknyapun masih dikejar para penggemarnya di seluruh dunia. Beberapa yang dapat disebut, di antaranya; Christy Turlington, Elizabeth Hurley, Angelina Jolley, serta Richard Gere dan Arnold Swezeneiger. Christy Turlington adalah salah seorang dari generasi supermodel dunia, bersama Naomi Campbell dan Linda Evangelista. Ia terkenal menjadi bagian dari The Trinity (tiga model dengan bayaran tertinggi pada saatnya). Ketika era supermodel berakhir, dan ketika para model lainnya menghilang atau turun reputasinya, Christy Turlington justru kembali kebangku sekolah. la pun menamatkan pasca sarjananya dari NYU (New York University) pada tahun 1999. Memang sejak 'ditemukannya' pada usia tiga belas tahun, Christy berkeras untuk tidak memulai karimya sebelum ia lulus dari bangku SMA. Ia kemudian bekerjasama dengan merek Puma untuk mengembangkan sebuah bidang usaha produk peralatan dan busana untuk yoga dengan label Nuala. Christy memegang penuh kontrol terhadap label yang dimulainya sejak tahun 2000 itu. Kecintaannya pada budaya Hindu dan India meneruskan langkah bisnisnya mencintakan produksi perawatan kulit dengan bahan dasar tumbuhan ayurveda berlabel Sundari (Yang berarti cantik di dalam bahasa Sansekerta). Citra yang terpanear pada dirinya selain cantik adalah pintar dan piawai dalam bisnis, sehingga tak heran bial ia mampu bertahan sebagai model Kelvin Klein selama hampir lima belas tahun belakangan ini. Begitu juga nama-nama yang tersebut setelah Christy, Angelina Jolley. Walaupun lahir dari keluarga yang broken home—begitu juga perkawinannya. Akan tetapi kecintaannya terhadap kelompok marginal, anak-anak korban di pengungsian, membuatnya bukan hanya semakin bersinar sebagai aktris papan atas, tetapi juga membuat sebuah organisasi dunia PBB melirik memakainya menjadi duta UNICEF untuk anak-anak korban pengungsi dari Cambodia. Siapa yang tak jatuh cinta pada pandangan pertama pada si ganteng Richard Gere? Aktor yang sudah mulai memutih rambutnya—tapi masih menyisakan kegantengannya—adalah aktifis yang menyokong kedaulatan masyarakat Tibet. Kedekatannya pada Dalai Lama, memberinya pencerahan dengan memeluk agama Budha. Dan yang terakhir masih hangat dibicarakan, sang Gubernur baru. California, bintang laga Arnold Schwarzeneger. Walaupun hanya berselisih sedikit, ia toh mampu memenangkan pemilihan disana. Mengacu kepada beberpa referensi diatas, teramat sangat jelas terlihat bahwa pada dasarnya setiap manusia itu punya potensi untuk menjadi positif, baik, serta bern-lanfaat bagi kelangsungan hidup manusia lain. Mereka ibarat medan magnet yang luar biasa bagi para pemburu berita—wartawan serta aneka macam media.
Bagaimana di Indonesia? Kurang lebih demikian yang kelihatan. Bisa jadi juga karena pengaruh globalisasi media dengan pengaruh pop culture nya. Jadi budaya popular yang umumnya berkembang melalui acara hiburan, pakaian, makanan, gaga hidup dan musik, bila yang terekspos di Barat seperti itu, kelihatannya akan menjadi inspirasi kepada penduduk negara ketiga lainnya—Indonesia salah satunya. Di Indonesia dalam kaitarinya dengan Politik, kita melihat beberapa Hama yang muncul kepermukaan; Nurul Arifin dan Luhut Sitompul dari partai Golar, Dede Yusuf dan Paquita Wijaya dari PAN, Rieke Dyah Pitaloka dan Gusti Randa dari partai PKB, Emilia Contessa dan Mieke Wijaya dari partai PPP, Angelina Sondakh dan Roy Marten dari partai Demokrat, Neno Warisman, HeIvy Tiana Rosa dan Pepeng (Jari-jari) dari partai PKS, serta penulis sendiri dari partai PDIP. Alasan dan latar belakang pemilihan kendaraan politik masing-masing, jelas berbeda satu sama lainnya. Walau penulis yakin bahwa tujuan kita semua sama—kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia. Kalau mereka ingin merebut hati rakyat, artinya selain popularitas yang telah dimiliki, mereka juga harus berkecimpung di bidang apapun dan harus mengetahui persis apa yang dekat dan sedang menjadi aspirasi masyarakat luas. Ini pun lagi-lagi adalah produk dari perayaan massal budaya popular (pop culture). Frasa "disukai pasar" mempunyai makna disukai banyak orang—populis—menjadi kata kunci dari kesuksesan. Salah satunya adalah dua contoh yang populis tapi sangat bertolak belakang; fenomena Inul Daratista dan Aa' Gym. Yang pertama disukai oleh karena visual sexuality-nya, sementara yang kedua karena ajaran moralitas yang menjadi innate (kodrat dasar) masyarakat luas Indonesia. Inul disukai karena dapat membangkitkan gairah hormon testosterone para pria pemujanya, bahasa membuminya yang sangat sederhana disukai para wanita, kebersahajaan pribadinya menimbulkan empati yang mewakili mimpi wong cilik Jawa Timuran. Di sisi satunya Aa' Gym menggunakan kalimat-kalimat poluler yang mudah dicerna, serta pendekatan--pendekatan yang mirip buku yang ditulis oleh Norman Vincent Peale "The Powerful Way to Change Your life "(2000) dan"Positif Imaging" (1998), serta Napoleon Hill pada "Think and Grow Rich" (2002). Siapapun manusia didunia perlu motivasi serta role model dalam melangkahi kehidupannya- Dan Aa' Gym sangat tabu akan hal itu. Ia pun menggunakan kekuatan media sebagai kendaraan dakwahnya. Walhasil, dengan segala perbedaan mencolok yang ada, keduanya mampu menyedot perhatian masyarakat serta penggemarnya masing¬-masing. Siapakah yang diuntungkan sekali lagi dari kehadiran dua superstar itu?—selain kedua pribadi yang bersangkutan—tentu saja media dan semua masyarakat industri media kapitalis yang terlibat di dalamnya.
Bilamana semua kemungkinan dapat muncul ke permukaan dikaitkan dengan suasana politik yang terjadi belakangan ini, apakah masyarakat Indonesia dapat mempercayai kemampuan para pesohor yang sekarang sedang berjajar sebagai calon legislatif? Probabilitinya lima puluh persen-lima puluh persen. Sebagian di dalam beberapa polling menyatakan setuju, sebagian lagi merasa patch arang dan curiga. Dilain pihak, penulis membaca kondisi masyarakat yang juga terbagi dua. Pertama masyarakat yang berpikir dengan cara Machiavelli, dan kedua adalah masyarakat yang berfikir secara spiritual. Machiavelli adalah seorang tokoh yang terkenal dengan keyakinan bahwa dalam berpolitik, cara yang paling "baik" adalah cara yang paling efektif dan efisien untuk mendapatkan kekuasaan. Jadi pada dasarnya setiap manusia itu berpotensi buruk! Manusia mempunyai kepentingan-kepentingan yang mampu membuatnya melakukan apa saja demi memenuhi kepentingannya. Hanya melalui sistim yang baik, kecenderungan buruk manusia itu dapat ditekan. Berseberangan dengan Machiavelli, para spiritualis yakin bahwa pada dasarnya setiap manusia itu baik. Yang membuatnya menjadi buruk adalah jika hak-hak asasinya—terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan bidup—tidak diperoleh secara memadai. Dalam bahasa yang sangat Islami, kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Jadi secara innate manusia itu sebenarnya baik, hanya lemah! Diperlukan sebuah tatanan atau sistim yang qjeg yang dapat mengontrol semua langkah usaha dalam mencapai kebajikan yang dicita-citakan. Tentunya bersama-sama dan saling bahu-membahu diantara seluruh masyarakat Indonesia. Kehidupan bangsa ini harus terus melaju, karena la bukanlah sesuatu yang hampa, is bermakna. Makna hidup ini bermula dari sebuah visi kehidupan, harapan, dan wujud alasan kenapa seseorang hares tetap bertahan hidup. Dengan energi ini seseorang akan mampu mengatasi segala kesulitan yang hadir di depan mata. Tak perduli seseorang itu pesohor atau masyarakat umum biasa.Yang penting tentunya jujur dan selalu berprasangka baik. Dengan kejujuran, kita dapat saling mengenal dengan baik, mencari titik temu, walau pada akhirnya ada yang harus kita sepakati untuk tidak sepakat.
Beberapa aksi positif program nyata dari para caleg asal pesohor ini banyak yang sudah jelas didepan mata. Mereka menggiring program yang dibutuhkan oleh masyarakat luas. Seperti misalnya Nurul Arifin dengan aksi isu HIV AIDS, Quota 30% wanita pada parlemen, dan kekerasan dalam rumah tangga, Rieke Dyah Pitaloka dengan aksi isu penegakan hukum, pendidikan yang membuka pikiran, serta kesetaraan gender. Sementara penulis sendiri akan mengusung isu pemberdayaan seni dan budaya lebih optimal sebagai ujung tombak diplomasi dunia, mengurangi dampak kerusakan lingkungan terhadap kekerasan gender, pemberdayaan sumber daya perempuan dan anak secara umum khususnya mendorong pendidikan anak perempuan yang masih terasa sangat dianak-tirikan, ditambah percepatan pengembangan teknologi informasi bagi para keluarga yang memliki anak usia sekolah. Beberapa pesohor lainnya mengusung isu yang kurang lebih mirip, karena pada dasarnya kita semua memang mengingiiikan sesuatu yang juga mirip kalau tidak dapat dikatakan sama—Indonesia yang bangkit!
Penulis pun tiba-tiba teringat akan sebuah buku yang barn saja beredar di toko buku karangan Victor E. Frankl, "Logoteraphy" (2003). Pemikiran Frankl ini sangat menarik karena sangat berseberangan dengan pemikiran Sigmund Freud dengan Psikoanalisanya, serta cocok untuk melengkapi analisa isu didalam tulisan ini. Frankl yang hadir pada masa setelah Freud, mereka berdua mempunyai kesamaan tertank pada alam dan pengobatan neurosis. Bila Freud menemukan akan penyakir neurosis yang menyedihkan itu dalam kegelisahan yang disebabkan oleh konflik internal dan motivasi bawah sadar, sementara. Frankl melihat berbagai bentuk neurosis yang muncul pada pasien yang menderita kegagalan dalam mendapatkan makna dan rasa tanggung jawab dalam eksistensinya. Logoterapi yang ditawarkan oleh Frankl lebih mendekati teori aktualisasi diri dari Abraham Maslow—teori kebutuhan—dicintai dan mencintai, sandang, pangan, papan, dan aktualisasi diri.
Para pesohor adalah manusia biasa dengan segala permasalahannya. Mungkin juga dari kami ada yang menderita neurosis, dan butuh pemenuhan dasar sesuai teori kebutuhannya Maslow. Bahkan pada sebuah acara Angin Malam di RCTI yang menghadirkan Nurul Arifin dan Wanda Hamidah mantan pendukung partai PAN, di dalam kata-kata pembuka yang diucapkan oleh sang pembawa acara dengan nada menghafal sehingga tidak lancar dikatakan:"... konon dikatakan, para artis ini pada saat mulai kehilangan pekerjaannya, mereka mulai melirik pekerjaan politik." Penulis protes dan tidak setuju! Karena sesuai dengan apa yang disinyalir oleh Hegel sang filsuf, dikatakan bahwa pada pada puncak pemenuhan hidup seseorang, maka segala sesuatunya akan dikembalikan lagi kemasyarakat. Para pesohor yang, sekarang sedang berjejer menjadi caleg, penulis yakim masih memiliki penghasilan memadai yang melebihi dari sekedar gaji pokok serta tunjangan yang akan diterima sebagai legislatif dari negara—sebagai imbal balik menjadi wakil rakyat di kantor Senayan.
Dari beberapa nama yang sering muncul di media. rata-rata berusia tiga puluh lima tahun keatas, di mana sudah mulai mendapatkan tingkatan terakhir dari lima peringkat teori kebutuhannya Maslow—artinya kebutuhan dicintai dan mencintai. sandanp– pangan, clan papan telah selesai. Masalah aktualisasi juga sudah bukan masalah lagi, karena pernah dan masih populer sampai hari ini. Di atas sana masih ada kebutuhan transendental (kerinduan akan Ilahi) yang bersentuhan dengan kepekaan sosial yang tinggi. Hingga apa yang diucapkan oleh Hegel sangat masuk di akal. pada tahapan itu semua yang telah didapatkan oleh seorang pesohor/individu akan dikembalikan kepada masyarakat melalui pengabdian yang bersentuhan dengan kesalehan sosial. Berbarengan dengan sistim Pemilu yang terbuka sekarang ini, membuat kemungkinan partisipasi bagi siapapun di ranah politik menjadi terbuka. Kompetisinya bebas, langsung, sangat lokal yang berarti; siapa yang paling populer dan dikenal masyarakat di tempat pemilihannya maka ia akan kelihatan lebih dahulu. Memang sangat mungkin para pesohor ini akan menang dan melenggang secara leluasa lebih dulu dibanding para kandidat umum lainnya.
Jadi sebenarnya menjadi caleg "biasa", tidak perlu berkecil hati. Pada era budaya popular seperti sekarang ini, setiap orang mempunyai potensi menjadi terkenal. Ada dua pihak ekstrim yang terbuka—menjadi penyebar segala kebaikan sesuai ajaran moral spiritual, atau membuka busana atau menggoyang-goyangkan aurat di depan publik. Tentunya kita keberatan dengan pilihan yang kedua. Dari ruang diskusi Kaukus Perempuan Politik Indonesia kemarin, disimpulkan untuk menjalani pilihan pertama yang penulis sarankan ditambah dengan terjun langsung kemasyarakat bawah—tatap wajah, datang ke pasar yang banyak manusianya, dan melakukan usaha kissing the babies. Cara-cara yang di Amerika Serikat sudah dianggap klise ini sesungguhnya masih sangat efektif di belahan mana pun di dunia ini. Orang masih sangat terpana dengan sentuhan salaman, senyuman yang hangat, tatapan mata yang talus dan berangkat dari hati, serta ucapan-ucapan salam yang personal. Dengan pandangan mata ramah dan tatapan langsung, perkenalkan diri kita dengan menyebut: "Nama saya adalah..., saya caleg lho, nanti kalau saya terpilih saya akan membantu kesulitan ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian di DPR atau DPRD, dll." Sesungguhnya, sebagai caleg yang bukan pesohor yang menapak karir dari bawah, tidak juga perlu khawatir, karena ada BPP (Bilangan Pembagi Pemilih). Pemilu dengan cara langsung, terbuka, dan sangat lokal ini sebenarnya menguntungkan bagi kita semua orang-orang yang serius dan mau kerja keras. Karena bila suara atau dukungan pada saat pemilihan nanti banyak, siapapun dapat "membawa kursinya sendiri" dari rumah. Maksudnya sudah punya investasi dan bargaining position yang baik pada partainya masing-masing untuk masuk ke dalam urutan peci (di atas) pada Pemilu 2009 yang akan datang. Insya Allah demikian adanya.
Oleh: Marissa Haque Fawzi
Jakarta, 24 Januari 2004.
Label:
DPR RI,
Kader,
Megawati Soekarnoputri,
PDIP,
Politik,
Radar Banten
The Flowing Water (in Marissa Haque Fawzi for Her Blog at the Ohio University School of Films)
Like Water that Flows Constantly
Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
Bintaro, Jakarta, February 21, 2004
It is very flexible and can easily adapt itself to anything.
If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.
Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.
If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.
Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.
According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.
But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.
Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.
In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.
Label:
Marissa Haque,
Ohio University,
Rano Karno,
Slamet Rahardjo Djarot,
USA,
Water
Wanita di Perpolitikan Indonesia (dalam Marissa Haque untuk Harian Republika, Suplemen Jawa Barat/Daur Ulang di Radar Banten)
Harian Republika, Suplemen Jawa Barat
Jakarta, 14 February 2004
Oleh: Marissa Haque Fawzi
Sewaktu saya berada di Ohio University, Athens, USA, April 2002 yang lalu, di tengah udara segar awal musim semi dan mekarnya bunga Cherry Blossom, di tengah rasa sedih yang berkecamuk karena rasa rindu yang sangat menggigit pada suami dan anak-anak serta kesendirian yang membeku, melalui internet saya membaca sebuah tulisan kutipan dari speech Ibu presiden RI Megawati Soekarnoputri mengenai kaum perempuan yang tidak boleh cengeng untuk meminta quota 30% dan sebaiknya harus terus menerus mengasah dirinya demi kemajuan agar siap bersaing dan merebut peluang yang ada. Saat itu hati nuraniku berteriak di antara setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa kesempatan untuk maju bukan dengan mengemis berikut kecengengan yang biasanya menjadi stigma pada sifat kaum perempuan, akan tetapi dengan merebutnya.
Namun di lain pihak saya tidak setuju dengan pernyataan beliau tersebut di atas, karena jumlah 30% suara adalah merupakan jumlah minimal yang harus didapatkan bila kaum perempuan akan memperjuangkan sesuatu. Saat itu saya merasakan adanya getaran “amarah” dari teman-teman aktivis perempuan di Indonesia dari tempat tinggalku di kota kecil Athens, AS yang berjarak setengah belahan bumi dari Jakarta sehubungan dengan pernyataan tersebut di atas. Akan tetapi sebagi seorang mahasiswa pasca sarjana, saya berusaha memahami latar belakang alasan yang membuat Ibu Megawati mengeluarkan pernyataan demikian.
Saya kemudian meneliti serta menelusuri jejak langkah sejarah Ibu Megawati dari kecil hingga kemudian mulai berpolitik saat usianya berkepala empat. Saya memperoleh beberapa catatan dan membuat sejumlah hipotesa, bahwa dengan garis hidup yang tidak terlalu “ramah” padanya, beliau dengan berjuta upaya berusaha mengarungi kendala “melenyapkan” hambatan the glass ceiling (May Ling Oei Gardiner, 1997). Ibu Mega saya lihat sangat sabar serta mampu menahan diri sampai dengan keberadaan di posisi sesungguhnya — yang memang merupakan takdirnya — sebagai orang nomor satu di Indonesia saat ini. Kehadirannya sebagai politisi muda dimulainya atas dorongan Taufik Kiemas sang suami—sesuai wawancara yang saya lakukan dengan Pak Taufik — saat Ibu Mega memasuki usia matang empat puluh tahun. Dari orang yang tersingkirkan sebagai korban dunia politik, beliau, sang suami, serta beberapa teman yang dekat dihati berhasil melalui berjuta rintangan yang menghadang. Ada sebuah babak yang tanpa terasa melukai rasa gender sensitive saya ketika pada tahun 1999, PDI Perjuangan, partai yang dipimpin Ibu Mega ketika berhasil menjadi the ruling party ternyata tidak mampu menghantarkan beliau menjadi Presiden Republik Indonesia saat itu karena dianggap menyalahi kaidah agama yang melarang seorang perempuan menjadi Presiden. Yang menggelitik adalah, ketika belum genap dua tahun saat presiden yang berkuasa saat itu dianggap harus turun jabatan. Dengan kelompok yang sama, mereka kemudian mencari-cari ayat yang berbeda dari kitab suci yang sama, mencoba meyakinkan masyarakat bahwa perempuan sebenarnya ”layak juga” sebagai pemimpin nomor satu sebuah negri. Saya melihatnya ibarat sebuah komedi panggung zaman Dardanela. Saya yang ketika itu masih teramat sangat apolitik, kemudian merasa terketuk untuk turut serta meyumbangkan sesuatu bagi negeri tercinta Indonesia dan Presiden perempuan pertama negeri ini—Megawati Soekarnoputri.
Maka ketika setelah kembali lagi ke Indonesia untuk mengambil cuti kuliah—sebagai seorang istri dan ibu dari dua gadis remaja saya berusaha menyeimbangkan waktu antara kuliah di Amerika Serikat dan mengurus keluarga di Indonesia—dan kembali lagi ke Athens, Ohio guna menyerahkan studi independen membuat beberapa film iklan dan dokumenter, begitu mendengar bahwa rombongan Presiden RI akan datang ke New York untuk mengikuti KTT disana, tanpa berpikir panjang dengan dana saku yang pas-pasan khas layaknya seorang mahasiswa sayapun langsung terbang dari Columbus, Ohio menuju New York. Targetku hanya satu; mengusung obsesi lama membuat film dokumenter mengenai tiga orang pemimpin negara perempuan ditengah pro dan kontra. Mereka bertiga yang saya agendakan untuk diliput adalah; Megawati Soekarnoputri, Aung San Su Kyi, serta Gloria Macapagal Aroyo. Tentu yang pertama-tama aku akan kejar adalah Presidenku lebih dulu!
Sesampainya di kota New York yang memiliki biaya hidup sangat termahal untuk ukuran AS, saya tinggal dirumah beberapa keluarga Indonesia yang menerima saya dengan tangan terbuka. Beberapa yang dapat disebut adalah; keluarga Andy Rahmianto (PTRI-DEPLU) beserta Ismi istrinya, Mas Inil dan Windy istrinya di Pocono, Ustad Samsi Ali beserta istri dan keluarga besar Masjid Indonesia NY, mbak Mimi Louis (KJRI-NY), dan mbak Aisha di New Jearsy. Tak lupa tentunya sahabat setiaku di Columbus dan Athens yang sering menemani disaat suka dan duka; Mas Syarif dan Ira istrinya, serta Rinalda Radjab dan Ziad Akir sang suami yang asal Palestina. Ada sesuatu yang sampai hari ini aku sesalkan, yaitu tidak sempat singgah dan menginap dirumah kakak kandung mas Riri Riza, sutradara muda terkenal Indonesia pembuat film Sherina—Bang Mamat dan Heather istrinya.
New York dengan sejuta pesonanya tidak mampu membuat aku bergeming dari tujuan awalku—menemui Presiden perempuanku. Aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri penampilan beliau di PBB, aku ingin mengabadikankannya melalui camera DVCam Sony PD 150 ku, aku ingin membuat beberapa still photos dari kehadiran beliau ditengah para pria pemimpin dunia asal negeri maju.
Singkat kata, aku berhasil melihat penampilan Ibu Megawati di Asembly Hall-UN. Juga turut menyaksikan beliau duduk dan bercakap-cakap dalam sebuah meja bulat bersama George Bush, Koffi Anan, Jaques Chirac, dan beberapa pemimpin dunia lainnya—beliau satu-satunya perempuan saat itu. Ibu Mega memakai kebaya warna ungu tua dengan kain dan selendang batik sutra warna coklat dengan motif yang ada unsur ungunya. Rasanya saat itu aku bangga sekali mempunyai seorang Presiden perempuan. Dan entah datang dorongan darimana, saat itu juga aku langsung mengatakan didalam hati, “… I’ve got to support this lady anyway". Dari niat akan mengusung protes akan ungkapan beliau tentang quota 30% yang tidak didukung sejak aku membaca berita tersebut melalui internet di Athens, Ohio, sampai pada akhirnya aku jadi berniat mendukung program beliau pada penghujung masa sisa jabatan dengan membantu turut berkampanye untuk PDI Perjuangan di tahun 2004 ini. Siapa yang menyangka pucuk dicinta ulam tiba, ketika tanpa diduga keesokan harinya, ketika aku sedang meliput di depan The American-Indonesian Chamber of Commerce aku dihampiri oleh Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang menyampaikan salam dari Bu Mega dan mengajak untuk bergabung dengan partai PDI Perjuangan. Kelihatannya beliau terkesan dengan sejumlah pertanyaan yang aku utarakan saat tatap wajah bersama beberapa wakil mahasiswa Indonesia di AS (PERMIAS) dari seluruh penjuru AS—berisi tentang perlunya film dan seni budaya sebagai ujung tombak diplomasi Indonesia yang sangat lentur.
Kalau sekarang gaung 30% caleg perempuan sangat keras gemanya, belakangan aku sadari seribu persen bahwa itu adalah buah dari upaya perjuangan Megawati Soekarniputri sebagai Presiden RI perempuan pertama melalui salah seorang pembantunya—Ibu Sri Rejeki sang Menteri Muda Urusan Peranan Wanita didukung partisipasi beberapa LSM, KPU (Ibu Nurul Mar’iyah) dan masyarakat Indonesia secara luas. Tak menutup mata andil yang maha dahsyat dari peran media cetak, televisi serta radio dalam proses pensosialisasiannya.
Belakangan kita semua sedang menghitung mundur hari H pemilu 2004 yang sudah didepan mata. Sebagai salah seorang caleg perempuan dari PDI Perjuangan, saya merasa betapa amat pentingnya kita semua membantu kaum perempuan—melaui nantinya—kebijakan-kebijakan yang “ramah” bagi perempuan, anak dan keluarga secara menyeluruh. Wanita diharapkan lebih mampu untuk lebih berperan dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan isu-isu yang berpengaruh pada kehidupan mereka. Saya meyakini bahwa Ibu Megawati hari ini masih sangat menjadi sumber inspirasi bagi banyak kaum perempuan untuk segera berprestasi dan mengambil posisi kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing laki-laki, apalagi bermusuhan. Karena kita perempuan Indonesia bukanlah seperti mereka di Barat. Disini, kami para perempuan saya yakini hanya ingin mendapatkan kesempatan yang memang merupakan haknya, ingin menjadi mitra sejajar para pria yang juga dekat dihati mereka. Siapapun perempuan itu, saya, anda semua, lintas suku, agama dan ras. Karena itu saya memilih PDI Perjuangan yang saya yakini dapat mengakomodir Indonesia yang multikultural dan kepentingan perempuan pada khususnya. Insya Allah demikian adanya.
Jakarta, 14 February 2004
Oleh: Marissa Haque Fawzi
Sewaktu saya berada di Ohio University, Athens, USA, April 2002 yang lalu, di tengah udara segar awal musim semi dan mekarnya bunga Cherry Blossom, di tengah rasa sedih yang berkecamuk karena rasa rindu yang sangat menggigit pada suami dan anak-anak serta kesendirian yang membeku, melalui internet saya membaca sebuah tulisan kutipan dari speech Ibu presiden RI Megawati Soekarnoputri mengenai kaum perempuan yang tidak boleh cengeng untuk meminta quota 30% dan sebaiknya harus terus menerus mengasah dirinya demi kemajuan agar siap bersaing dan merebut peluang yang ada. Saat itu hati nuraniku berteriak di antara setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa kesempatan untuk maju bukan dengan mengemis berikut kecengengan yang biasanya menjadi stigma pada sifat kaum perempuan, akan tetapi dengan merebutnya.
Namun di lain pihak saya tidak setuju dengan pernyataan beliau tersebut di atas, karena jumlah 30% suara adalah merupakan jumlah minimal yang harus didapatkan bila kaum perempuan akan memperjuangkan sesuatu. Saat itu saya merasakan adanya getaran “amarah” dari teman-teman aktivis perempuan di Indonesia dari tempat tinggalku di kota kecil Athens, AS yang berjarak setengah belahan bumi dari Jakarta sehubungan dengan pernyataan tersebut di atas. Akan tetapi sebagi seorang mahasiswa pasca sarjana, saya berusaha memahami latar belakang alasan yang membuat Ibu Megawati mengeluarkan pernyataan demikian.
Saya kemudian meneliti serta menelusuri jejak langkah sejarah Ibu Megawati dari kecil hingga kemudian mulai berpolitik saat usianya berkepala empat. Saya memperoleh beberapa catatan dan membuat sejumlah hipotesa, bahwa dengan garis hidup yang tidak terlalu “ramah” padanya, beliau dengan berjuta upaya berusaha mengarungi kendala “melenyapkan” hambatan the glass ceiling (May Ling Oei Gardiner, 1997). Ibu Mega saya lihat sangat sabar serta mampu menahan diri sampai dengan keberadaan di posisi sesungguhnya — yang memang merupakan takdirnya — sebagai orang nomor satu di Indonesia saat ini. Kehadirannya sebagai politisi muda dimulainya atas dorongan Taufik Kiemas sang suami—sesuai wawancara yang saya lakukan dengan Pak Taufik — saat Ibu Mega memasuki usia matang empat puluh tahun. Dari orang yang tersingkirkan sebagai korban dunia politik, beliau, sang suami, serta beberapa teman yang dekat dihati berhasil melalui berjuta rintangan yang menghadang. Ada sebuah babak yang tanpa terasa melukai rasa gender sensitive saya ketika pada tahun 1999, PDI Perjuangan, partai yang dipimpin Ibu Mega ketika berhasil menjadi the ruling party ternyata tidak mampu menghantarkan beliau menjadi Presiden Republik Indonesia saat itu karena dianggap menyalahi kaidah agama yang melarang seorang perempuan menjadi Presiden. Yang menggelitik adalah, ketika belum genap dua tahun saat presiden yang berkuasa saat itu dianggap harus turun jabatan. Dengan kelompok yang sama, mereka kemudian mencari-cari ayat yang berbeda dari kitab suci yang sama, mencoba meyakinkan masyarakat bahwa perempuan sebenarnya ”layak juga” sebagai pemimpin nomor satu sebuah negri. Saya melihatnya ibarat sebuah komedi panggung zaman Dardanela. Saya yang ketika itu masih teramat sangat apolitik, kemudian merasa terketuk untuk turut serta meyumbangkan sesuatu bagi negeri tercinta Indonesia dan Presiden perempuan pertama negeri ini—Megawati Soekarnoputri.
Maka ketika setelah kembali lagi ke Indonesia untuk mengambil cuti kuliah—sebagai seorang istri dan ibu dari dua gadis remaja saya berusaha menyeimbangkan waktu antara kuliah di Amerika Serikat dan mengurus keluarga di Indonesia—dan kembali lagi ke Athens, Ohio guna menyerahkan studi independen membuat beberapa film iklan dan dokumenter, begitu mendengar bahwa rombongan Presiden RI akan datang ke New York untuk mengikuti KTT disana, tanpa berpikir panjang dengan dana saku yang pas-pasan khas layaknya seorang mahasiswa sayapun langsung terbang dari Columbus, Ohio menuju New York. Targetku hanya satu; mengusung obsesi lama membuat film dokumenter mengenai tiga orang pemimpin negara perempuan ditengah pro dan kontra. Mereka bertiga yang saya agendakan untuk diliput adalah; Megawati Soekarnoputri, Aung San Su Kyi, serta Gloria Macapagal Aroyo. Tentu yang pertama-tama aku akan kejar adalah Presidenku lebih dulu!
Sesampainya di kota New York yang memiliki biaya hidup sangat termahal untuk ukuran AS, saya tinggal dirumah beberapa keluarga Indonesia yang menerima saya dengan tangan terbuka. Beberapa yang dapat disebut adalah; keluarga Andy Rahmianto (PTRI-DEPLU) beserta Ismi istrinya, Mas Inil dan Windy istrinya di Pocono, Ustad Samsi Ali beserta istri dan keluarga besar Masjid Indonesia NY, mbak Mimi Louis (KJRI-NY), dan mbak Aisha di New Jearsy. Tak lupa tentunya sahabat setiaku di Columbus dan Athens yang sering menemani disaat suka dan duka; Mas Syarif dan Ira istrinya, serta Rinalda Radjab dan Ziad Akir sang suami yang asal Palestina. Ada sesuatu yang sampai hari ini aku sesalkan, yaitu tidak sempat singgah dan menginap dirumah kakak kandung mas Riri Riza, sutradara muda terkenal Indonesia pembuat film Sherina—Bang Mamat dan Heather istrinya.
New York dengan sejuta pesonanya tidak mampu membuat aku bergeming dari tujuan awalku—menemui Presiden perempuanku. Aku ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri penampilan beliau di PBB, aku ingin mengabadikankannya melalui camera DVCam Sony PD 150 ku, aku ingin membuat beberapa still photos dari kehadiran beliau ditengah para pria pemimpin dunia asal negeri maju.
Singkat kata, aku berhasil melihat penampilan Ibu Megawati di Asembly Hall-UN. Juga turut menyaksikan beliau duduk dan bercakap-cakap dalam sebuah meja bulat bersama George Bush, Koffi Anan, Jaques Chirac, dan beberapa pemimpin dunia lainnya—beliau satu-satunya perempuan saat itu. Ibu Mega memakai kebaya warna ungu tua dengan kain dan selendang batik sutra warna coklat dengan motif yang ada unsur ungunya. Rasanya saat itu aku bangga sekali mempunyai seorang Presiden perempuan. Dan entah datang dorongan darimana, saat itu juga aku langsung mengatakan didalam hati, “… I’ve got to support this lady anyway". Dari niat akan mengusung protes akan ungkapan beliau tentang quota 30% yang tidak didukung sejak aku membaca berita tersebut melalui internet di Athens, Ohio, sampai pada akhirnya aku jadi berniat mendukung program beliau pada penghujung masa sisa jabatan dengan membantu turut berkampanye untuk PDI Perjuangan di tahun 2004 ini. Siapa yang menyangka pucuk dicinta ulam tiba, ketika tanpa diduga keesokan harinya, ketika aku sedang meliput di depan The American-Indonesian Chamber of Commerce aku dihampiri oleh Bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang menyampaikan salam dari Bu Mega dan mengajak untuk bergabung dengan partai PDI Perjuangan. Kelihatannya beliau terkesan dengan sejumlah pertanyaan yang aku utarakan saat tatap wajah bersama beberapa wakil mahasiswa Indonesia di AS (PERMIAS) dari seluruh penjuru AS—berisi tentang perlunya film dan seni budaya sebagai ujung tombak diplomasi Indonesia yang sangat lentur.
Kalau sekarang gaung 30% caleg perempuan sangat keras gemanya, belakangan aku sadari seribu persen bahwa itu adalah buah dari upaya perjuangan Megawati Soekarniputri sebagai Presiden RI perempuan pertama melalui salah seorang pembantunya—Ibu Sri Rejeki sang Menteri Muda Urusan Peranan Wanita didukung partisipasi beberapa LSM, KPU (Ibu Nurul Mar’iyah) dan masyarakat Indonesia secara luas. Tak menutup mata andil yang maha dahsyat dari peran media cetak, televisi serta radio dalam proses pensosialisasiannya.
Belakangan kita semua sedang menghitung mundur hari H pemilu 2004 yang sudah didepan mata. Sebagai salah seorang caleg perempuan dari PDI Perjuangan, saya merasa betapa amat pentingnya kita semua membantu kaum perempuan—melaui nantinya—kebijakan-kebijakan yang “ramah” bagi perempuan, anak dan keluarga secara menyeluruh. Wanita diharapkan lebih mampu untuk lebih berperan dalam proses pengambilan keputusan berkaitan dengan isu-isu yang berpengaruh pada kehidupan mereka. Saya meyakini bahwa Ibu Megawati hari ini masih sangat menjadi sumber inspirasi bagi banyak kaum perempuan untuk segera berprestasi dan mengambil posisi kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing laki-laki, apalagi bermusuhan. Karena kita perempuan Indonesia bukanlah seperti mereka di Barat. Disini, kami para perempuan saya yakini hanya ingin mendapatkan kesempatan yang memang merupakan haknya, ingin menjadi mitra sejajar para pria yang juga dekat dihati mereka. Siapapun perempuan itu, saya, anda semua, lintas suku, agama dan ras. Karena itu saya memilih PDI Perjuangan yang saya yakini dapat mengakomodir Indonesia yang multikultural dan kepentingan perempuan pada khususnya. Insya Allah demikian adanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
Flu Burung Banten Pulang dari tugas negara di Vietnam, Singapuran dan Malaysia, membaca Strait Times kemarin malam di pesawat, membuat saya ...
-
Sabtu, 17 Desember 2011 20:23 WIB Sumber: http://pekanbaru.tribunnews.com/mobile/index.php/2011/12/17/marissa-haque-hubungan-angie-berpoten...
-
Radar Banten 20 November 2005 Radar Banten, 20 November 2005 Kala saat mengaji tak sekedar mengucapkan kata, ketika setiap lantun ayat...
-
Serang, Banten 12 Desember, 2005 Selamat menjalankan ibadah Haji, sahabat. Semoga pulang menjadi haji dan hajah yang mabrur. Di masjid Al ...
-
RADAR BANTEN, 10 April 2006 Syahdan, Kerajaan Kalingga, Nagari di pantura (pantai utara Jawa, sekarang di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) b...
-
Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge World Paper, N...
-
15 November 2005 RADAR BANTEN Para ahli bijak mengatakan bahwa hidup itu hanya sekali, harus berarti dan setelah itu baru mati. Bahwa hi...
-
Ikang Fawzi, Marissa Haque dan Desy Ratnasari Di- endorse oleh PAN Ahmad Toriq - detikNews Sumber: http://news.detik.com/read/2013...
-
Sumber: http://marissa-haque-maafkan-ikhlaskan.blogspot.com/ Ketika IPB kupilih menjadi wadah mengasah kognisi-afeksi-psikomotorik...
-
23 Januari 2006 RADAR BANTEN Rindu Gus Dur dalam Filosofi Air Air, hari-hari belakangan ini di Nusantara tercinta termasuk Banten menjadi ...





