Like Water that Flows Constantly (by Marissa Haque Fawzi, 2004)


Reflections on the meaning of life: Marissa Haque
(Amidst the flood that hits Indonesia)

Bintaro, Jakarta, February 21, 2004


Water is the source of life.

It is very flexible and can easily adapt itself to anything.

If its course is blocked by a rock, then it will choose another one and continues flowing down towards its destination.

Water also behaves modesty, because it always flows to a lower place.

If the temperature rises, it evaporates, goes up to the sky and afterwards comes down again on the earth.

Water cleans everything; it floods the rice fields in the dry season; it cleans dust and makes the soil fertile.

According to a story, when the rain falls, thousands of angels come down with it.

But if the rains come down in torrents and continuously, like what is happening in the last few days in Indonesia, then there might be something wrong in the relations between men and water.

Water will become men’s friend if we treat it in s friendly way, but if we don’t do it, it will destroy us.In life, water is an indicator of the quality of men in the eyes of God the Almighty.

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004
FLowing Like Water (Marissa Haque Fawzi) Amids a Mild Snow in Athens, Ohio, USA, 2004

Sabtu, 15 Mei 2010

Rebranding Banten: Hijrah Menjadi Serambi Madinah (dalam Marissa Haque Fawzi)


Dalam Radar Banten, 2006 Awal


Selamat Tahun Baru Islam saudara-saudariku sekalian. Marilah kita semua tanpa terkecuali berhijrah menuju Cahaya Keselamatan Abadi di dunia maupun akhirat. Setiap tahun ummat Islam di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Hijriah berdasarkan lunar system. Sistem penanggalam ini ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khatab yang ditandai dengan dimulainya hijrah Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah ke Yatsrib yang kemudian diubah menjadi Madinah. Pengubahan nama dari Yastrib ke Madinah dalam bahasa Modern Marketing adalah Rebranding. Mengapa perlu diubah? Hal ini disebabkan karena diperlukannya semangat baru bagi turning point akan peristiwa penegakan kebenaran oleh Rasulullah kepada pengikutnya (Masjid, 1994:112).

Semenjak peristiwa hijrah ini, rebranding atas langkah dakwah Rasulullah Muhammad SAW tak semata ditargetkan hanya demi pembentukan jiwa individual, akan tetapi mulai beranjak pada pengaturan masyarakat. Rebranding menurut seorang pakar marketing - Kafi Kurnia – bukanlah semata hanya menempelkan sepotong logo/nama baru. Akan tetapi ia mengubah seluruh tatanan sistem serta sikap mental individu yang terdapat di dalam koordinasi serta administrasi internal sebuah institusi. Seperti misalnya setelah hijrah di Madinah, Rasulullah Muhammad langsung meningkatkan perjuangan dengan membentuk masyarakat politik. Politik ganti nama jelas terlihat saat sepenggal nama Yastrib diubah menjadi Madinah al-Rasul atau Madinat al-Nabi yang maknanya adalah: kola tempat peradaban, kehidupan beradab, berkesopanan, tempat dengan hukum yang dipatuhi oleh seluruh isi warga negaranya, serta seluruh warga yang beraneka ragam dapat hidup teratur toleran serta damai sejahtera.

Apakah Provinsi Banten selama lima tahun ini yang kondisi penegakan hukum, sosial, dan ekonominya belakangan ibarat air di daun talas (tidak pernah firm), mampu melakukan rebranding serta hijrah dari kegelapan menuju lebih baik seperti hijrahnya Rasulullah Muhammad dari Makkah ke Madinah? Banten yang hari ini tertinggal jauh, harus mampu memompa dirinya menuju masyarakat madani. Menurut perspektif piagam Madinah, di mana ditunjukkan masyarakat beradab seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW, adalah dengan menetapkan pembentukan sistem politik yang madani — sistem yang tertib, seluruh warga memiliki hak serta kewajiban yang sarna di dalam mengikuti tata tertib bermasyarakat serta bernegara. Langkah berikutnya adalah Rasulullah Muhammad SAW membentuk sistem sosial dengan mempersatukan seluruh warganya yang berlainan agama, sehingga walaupun berbeda mereka saling menghormati dan mampu hidup berdampingan secara damai. Kaum Islam yang mayoritas saat itu menjadi pelindung kaum minoritas.

Selain hijrah secara fisik seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW, hijrah sebenarnya menurut KUBI dan KBBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Kamus Besar Bahasa Indonesia) dapat diterjemahkan kurang lebih sebagai: pindah, migrasi, transforimasi, reformasi ke arah yang lebih egaliter dan demokratis. Langkah hijrah mejadi semacam ideologi yang bermakna vision (plus orientation) and programs. Kaitannya di Banten, kegiatan sosial, ekonomi, dan politik masyarakatnya telah memberikan tekanan-¬tekanan yang berakibat pada beberapa gejolak yang kita semua ketahui terjadi belakangan ini. Indonesia dan Banten sedang berada dalam situasi yang kritis serta kronis. Mozaik kehidupan berbangsa dan bernegara menyajikan suasana kehidupan yang penuh intrik dan konflik. Kebangkrutan moral, korupsi, manipulasi, dan politisasi merasuk sampai sendi-sendi terdalam kehidupan masyarakat. Selain itu brand atau cap/merek dari wilayah Banten yang selama ini melekat adalah dekat dengan kemiskinan, keterbelakangan serta juga premanisme, sehingga diisukan banyak investor yang enggan masuk disebabkan pertimbangan pada poin yang terakhir disebut di atas.

Ketika hari-hari terakhir ke mana pun wajah kita tolehkan yang kita saksikan adalah kepalsuan, kebohongan, kepura-puraan, kerakusan, ketamakan, kehausan akan kekuasaan dengan menanggalkan segala peradaban yang diridhoi Allah SWT. Secara pribadi kita semua wajib melakukan hijrah dengan memperbaiki segala sifat dan sikap minor kita dan mengantinya dengan situasi yang lebih positif. Contoh paling konkret adalah saat saya dan sahabat baru saya Tb Iman Aryadi meninjau wilayah rawan banjir di empat kecamatan – Sukaresmi, Pagelaran, Carita, Patia - Kabupaten Pandeglang. Setelah meminta izin kepada Bupati Pandeglang Pak Dimyati, ditemani dua OKP (Organisasi Kepemudaan) KNPI dan GMNI kami langsung ke lokasi terjadinya banjir. Bahagia hati ini saat berdialog langsung dengan masyarakat setempat serta, empat orang Camat, empat orang Kades (Kepala Desa) bahwa mereka telah mengusulkan upaya penyodetan dua buah sungai -- Cilember dan Ciliman – tapi sejauh ini belum ada realisasinya.

Inginkah kita semua melihat brand atau cap/image baru Banten agar menjadi lebih lentur dan ramah bagi siapa saja khususnya para investor agar menanamkan modal sebanyak-- banyaknya bagi Banten? Dan setelahnya dapat menambahkan embel-embel Serambi Madinah di belakang nama Banten? Duh... inginnya hati ini, semoga saja menjadi kenyataan.

Allahu Akbar, Merdeka!

Entri Populer